Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
Saat Arla berada di rumah, ia tidak membuang waktu untuk bermalas-malasan. Sebagai seorang wanita yang telah ‘dibeli’ dan dilatih dengan sangat baik di rumah lelang, ia memang dibekali berbagai keterampilan untuk melayani dan membuat orang yang bersamanya merasa puas. Salah satu kemampuan utama selain melayani kebutuhan pasangan adalah memasak.
Karena itu, Arla segera menyiapkan berbagai bahan makanan untuk diolah menjadi hidangan yang enak dan bergizi. Apalagi Abimana adalah seorang dokter, jadi ia pasti akan lebih memperhatikan aspek kesehatan. Kini ia tidak lagi menggantungkan harapan pada orang tuanya, sehingga ia memutuskan untuk memberikan yang terbaik bagi Abimana sebagai bentuk dedikasinya.
Saat semua lauk-pauk yang ia masak sudah tertata rapi di atas meja, suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya.
Arla melihat Abimana masuk dengan penampilan yang sedikit berantakan dan wajah yang tampak lelah. Jelas bahwa laki-laki itu baru saja melewati hari kerja yang panjang. Ia segera mendekat dan tersenyum lembut.
“Selamat datang di rumah,” ucap Arla pelan.
Abimana terdiam sejenak. Ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kehadiran Arla di apartemennya, tetapi sapaan sederhana itu justru membuat dadanya terasa lebih hangat.
Ia selalu ingat saat pulang ke rumah keluarganya dulu—pertanyaan yang sama berulang kali muncul: kapan menikah, kapan punya pacar. Tidak pernah ada yang bertanya apakah ia lelah, atau bagaimana harinya. Karena itu, sapaan sederhana dari Arla ini terasa seperti sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari ia butuhkan.
“Bau apartemenku hari ini harum sekali. Kamu memasak sesuatu?” tanya Abimana.
“Iya, aku memasak makanan spesial untukmu,” jawab Arla sambil mengambil tas suaminya yang cukup berat.
Ia membawa tas itu ke sofa, lalu kembali dan mempersilakan Abimana duduk di meja makan.
“Kamu mau minum teh atau kopi?”
“Air putih saja.”
Abimana duduk dan memperhatikan hidangan yang tersaji di depannya. Ia sedikit terkejut karena semua menu yang disiapkan adalah makanan kesukaannya.
“Bagaimana kamu tahu ini adalah makanan kesukaanku?”
“Aku melihatnya saat makan malam di rumah nenek. Kamu beberapa kali mengambil lauk yang sama, jadi aku menyimpulkan kamu menyukainya.”
Abimana mulai makan. Awalnya ia tidak berekspektasi banyak, tetapi ternyata rasa makanan itu jauh lebih enak dari yang ia bayangkan.
“Ini sangat enak. Kamu bahkan bisa membuka restoran dengan kemampuan memasak seperti ini.”
Arla tersenyum kecil mendengar pujian itu.
“Aku lebih suka memasak untuk suamiku sendiri. Lagi pula, uang bulanan dari suamiku sebagai istri jauh lebih besar daripada jadi koki di restoran.”
Abimana tertawa pelan.
Istrinya ini selalu tahu cara menghargai uang.
Mereka melanjutkan makan dalam suasana tenang. Abimana benar-benar menghabiskan semua masakan yang disiapkan Arla—bukan hanya karena menghargai usaha istrinya, tetapi juga karena memang rasanya sangat enak.
Setelah selesai, ia menepuk perutnya yang terasa kenyang lalu berdiri.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Arla.
“Mencuci piring. Apa lagi?”
Arla terdiam. Dalam pemahamannya dari rumah lelang, laki-laki selalu diperlakukan seperti raja. Mereka adalah pihak yang membeli, yang memiliki uang, yang tidak seharusnya menyentuh pekerjaan kotor. Itu adalah tugas perempuan.
“Laki-laki tidak perlu mencuci,” ucap Arla pelan.
Abimana tersenyum kecil.
“Sejak kapan laki-laki tidak boleh mencuci? Di keluargaku, laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja dan sama-sama lelah. Tidak ada pembagian seperti itu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung membawa piring-piring itu ke dapur.
Arla hanya menatapnya dengan ekspresi heran dan kagum. Ini pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki mencuci piring sepanjang hidupnya. Bahkan ayahnya dulu—meskipun mereka hidup miskin—tidak pernah melakukan hal seperti itu.
“Apa kamu tidak butuh bantuan?” tanya Arla akhirnya.
“Ya, aku butuh sedikit bantuan. Coba kamu ke balkon dan hitung bintang di luar.”
“Kamu bercanda?” Arla mengerutkan kening.
“Tidak. Aku serius.”
Dengan ragu, Arla berjalan ke balkon.
Namun ketika ia melihat langit, tidak ada satu pun bintang yang tampak. Hanya langit gelap yang tertutup polusi cahaya kota. Ia menghela napas kesal dan kembali masuk.
“Tidak ada bintang. Semuanya gelap dan penuh polusi,” katanya.
“Benarkah? Coba lihat lebih teliti,” jawab Abimana santai dari dapur.
Arla kembali ke balkon, mencoba lagi dengan lebih fokus.
Saat itulah Abimana selesai mencuci piring. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya, lalu berjalan menyusul Arla ke balkon.
Ketika Arla masih menatap langit yang kosong, tiba-tiba sesuatu muncul di depan wajahnya.
Sebuah cincin.
“Lihat… bukankah bintang malam ini terlihat sangat indah?”
Arla terdiam. Tubuhnya menegang. Ia melihat cincin itu berkilau di bawah cahaya lampu balkon, seperti sesuatu yang memecah kegelapan malam.
“Cincin…?” gumamnya pelan.
Tanpa menjawab, Abimana menggenggam tangan Arla dengan lembut dan menyelipkan cincin itu ke jari manisnya.
Pas. Sempurna.
Cincin itu terlihat sangat serasi di jari kecil dan putih milik Arla.
“Aku belum memberimu pernikahan yang layak. Aku bahkan lupa bahwa suami istri membutuhkan cincin sebagai simbol ikatan mereka,” ucap Abimana pelan. “Jadi aku membelinya hari ini. Aku memilih bintang sebagai simbolmu… bahwa kamu adalah bintang kecil yang bersinar di langit yang gelap dan penuh polusi. Terlihat sederhana, tapi justru itu yang membuatmu berkilau di hidupku yang biasa saja.”
Arla menatap cincin itu lama.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti barang.
Ia merasa… dipilih.
Dan di tengah malam yang sunyi itu, sesuatu di dalam dirinya yang lama kosong mulai terasa terisi kembali—bukan oleh harapan kepada masa lalu, tetapi oleh sesuatu yang baru, yang tidak ia mengerti sepenuhnya, namun terasa hangat dan nyata.