NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27.Penyergapan.

Malam itu, langit di atas kota diselimuti awan kelabu yang tebal, seolah turut menahan napas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu tiba di halaman markas besar kepolisian, Rian langsung memberi perintah tegas kepada seluruh anggota tim yang sudah bersiap lengkap dengan perlengkapan tempur. Suasana berubah menjadi sangat serius dan tegang, tak ada lagi canda tawa atau percakapan santai seperti sebelumnya. Nyawa banyak orang bergantung pada kecepatan dan ketepatan tindakan mereka malam ini.

Sebelum melangkah masuk ke dalam mobil patroli yang sudah menunggu, Rian menoleh ke arah Salsa yang berdiri di sampingnya. Wajah istrinya tampak cemas, matanya menatap Rian dengan pandangan yang memohon agar suaminya itu berhati-hati. Rian tahu, meskipun Salsa memiliki kepekaan yang luar biasa dan sering kali menjadi penunjuk jalan bagi mereka, situasi yang akan mereka hadapi nanti penuh risiko dan bahaya nyata yang bukan lagi urusan dunia gaib. Ini adalah medan pertempuran antara keadilan dan kejahatan yang kejam.

Rian meraih kedua bahu Salsa dengan lembut namun tegas, menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu. “Dengar aku baik-baik, Sal. Kamu tidak boleh ikut bersama kami ke lokasi. Tempatnya sangat berbahaya, penuh dengan orang-orang yang tidak segan-segan melukai atau bahkan membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Aku tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu, mengerti?”

Salsa mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa berat dan ingin sekali ikut memastikan keselamatan para korban yang masih tertahan di sana. “Aku mengerti, Kak. Tapi tolong... selamatkan mereka semua, dan bawa Melati pulang dengan selamat juga. Aku akan menunggumu di kantormu, aku janji tidak akan pergi ke mana-mana.”

“Bagus. Tunggulah aku di sana, jangan membuka pintu untuk siapa pun selain aku atau anggota tim yang aku percayai. Aku akan segera kembali secepat mungkin,” ucap Rian, lalu ia mencium kening Salsa sekilas, sebuah sentuhan hangat yang membuat jantung gadis itu berdebar kencang sekaligus menenangkan kegelisahannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rian segera melompat masuk ke dalam mobil Jeep miliknya, diikuti oleh beberapa anggota tim lainnya, dan konvoi kendaraan pun segera melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi, menuju ke arah utara tempat lokasi gudang tua itu berada.

Salsa menghela napas panjang, menatap hilangnya deretan kendaraan itu di tikungan jalan, sebelum akhirnya ia berbalik arah dan melangkah masuk ke dalam gedung markas kepolisian. Ia berjalan menuju lantai dua, tepatnya ke ruangan kantor milik Rian yang sudah pernah ia kunjungi beberapa kali sebelumnya. Ruangan itu cukup luas, beraroma campuran antara bau kertas, tinta, dan wangi sabun yang khas milik Rian. Di sudut ruangan, terdapat sebuah sofa kulit berwarna cokelat tua yang terlihat empuk dan nyaman, tempat yang sering kali digunakan Rian untuk beristirahat sejenak saat lelah menyelesaikan berkas-berkas kasus.

Salsa duduk di sana, bersandar santai pada sandaran sofa, namun matanya terus menatap jarum jam dinding yang bergerak perlahan. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berganti menjadi jam. Setiap kali ada suara kendaraan atau langkah kaki berat yang terdengar dari luar ruangan, hatinya selalu berdesir kencang, berharap itu adalah Rian yang sudah kembali. Namun setiap kali ia menengok ke pintu, harapannya selalu pupus sementara waktu. Rasa cemas perlahan mulai menjalar di seluruh tubuhnya, pikirannya terus melayang membayangkan apa yang sedang terjadi di lokasi penggerebekan saat ini.333 Apakah mereka baik-baik saja? Apakah para penjahat itu menyerah dengan tenang atau justru melawan dengan sengit?

Sementara itu, di lokasi yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari kota, suasana jauh lebih mencekam. Gudang tua yang berdiri kokoh di tengah tanah kosong yang dipenuhi semak belukar itu tampak sunyi dan gelap, seolah tak ada kehidupan di dalamnya. Namun, mata Rian yang tajam sudah menangkap tanda-tanda adanya pengawasan ketat dari pihak yang menjaga tempat itu. Dengan isyarat tangan yang terlatih, ia memerintahkan seluruh anggotanya untuk menyebar dan mengelilingi bangunan tersebut, memblokir semua jalan keluar yang mungkin digunakan oleh para pelaku untuk melarikan diri.

Saat mereka sudah berada di posisi yang tepat, Rian memberikan aba-aba serangan. Serentak, para aparat kepolisian menerobos masuk ke dalam gudang sambil meneriakkan perintah menyerah. Namun dugaan mereka ternyata benar, kelompok penjahat yang mengelola jaringan penculikan dan perdagangan manusia ini sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Begitu melihat kedatangan polisi, mereka langsung melepaskan tembakan peluru ke arah pasukan Rian. Suara ledakan senjata api bergema keras di seisi gudang, bau mesiu segera memenuhi udara yang lembab dan pengap itu. Terjadilah baku tembak yang sengit dan menegangkan antara kedua belah pihak.

Rian dan rekan-rekannya bertindak dengan cekatan dan berani. Mereka berlindung di balik tumpukan peti kayu atau dinding tembok yang kokoh, sambil membalas tembakan dengan akurasi yang terukur. Rian menggerakkan pasukannya dengan strategi yang matang, mendesak musuh agar semakin terdesak dan kehilangan ruang gerak. Meski jumlah anggota kelompok penjahat itu cukup banyak dan senjata yang mereka miliki pun cukup lengkap, mereka tidak mampu mengimbangi ketangkasan dan kedisiplinan pasukan kepolisian yang dipimpin langsung oleh Rian. Selama hampir satu jam pertempuran berlangsung, perlahan namun pasti posisi para penjahat mulai runtuh satu per satu. Ada yang tertembak jatuh, ada yang mencoba melarikan diri namun langsung ditangkap di pintu keluar oleh anggota yang sudah berjaga, dan ada pula yang akhirnya memilih untuk menyerah karena sadar bahwa perlawanan mereka sudah sia-sia.

Begitu suasana mulai tenang dan aman, Rian segera bergegas menuju bagian paling dalam dari gudang itu, tempat di mana terdengar suara isak tangis dan rintihan yang samar. Di sana, terlihatlah ruangan yang tertutup rapat dengan jeruji besi tebal, persis seperti apa yang pernah diceritakan oleh arwah Riza Amalia sebelumnya. Di dalamnya, terkurung belasan wanita muda yang tampak kurus, lemas, dan penuh ketakutan. Wajah mereka pucat, pakaian mereka kotor dan kusam, namun mata mereka langsung berbinar penuh harapan saat melihat seragam polisi yang masuk ke sana.

Dan di sudut ruangan itu, Rian melihat sosok wanita yang sedang mencoba menenangkan korban lainnya meskipun dirinya sendiri juga tampak lemah dan terluka sedikit di bagian lengan. Itu adalah Melati Anggraini, rekan mereka yang sudah hilang kontak selama tiga hari lamanya. Wajah Melati terkejut saat melihat kedatangan Rian dan timnya, namun segera air mata haru mengalir deras di pipinya.

“Pak Rian... Akhirnya kalian datang juga...” ucap Melati dengan suara parau namun penuh lega.

Rian mengangguk, senyum bangga dan lega terukir di wajahnya. “Kami datang menjemputmu, Melati. Tugasmu sudah selesai dengan sangat baik. Kamu hebat sekali berhasil bertahan selama ini dan memberikan petunjuk yang sangat berharga bagi kami.”

Segera tim medis yang ikut serta dalam operasi itu masuk ke dalam untuk memberikan pertolongan pertama kepada seluruh korban yang selamat, termasuk Melati. Mereka semua kemudian dibawa keluar dari tempat yang mengerikan itu untuk dievakuasi ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih lanjut serta pemulihan fisik dan mental. Sementara itu, Bobby dan beberapa anggota lainnya bertugas untuk mengamankan seluruh penjahat yang berhasil ditangkap, mengumpulkan barang bukti, dan menyelesaikan segala urusan administrasi serta pengambilan data di lokasi kejadian.

Melihat situasi sudah terkendali dan semuanya berjalan sesuai rencana hingga tuntas, hati Rian terasa sangat ringan dan puas. Namun di tengah rasa bangga karena berhasil menuntaskan kasus besar yang sudah lama mengganggu ketenangan masyarakat, ada satu hal lain yang kini menjadi prioritas utamanya. Pikiran Rian langsung terbang kembali ke kantornya, mengingat ada sosok gadis muda yang sedang menunggunya di sana dengan penuh kesabaran dan kekhawatiran. Kini hidupnya tidak lagi hanya dipenuhi dengan urusan tugas, kasus, dan keadilan semata. Ada tanggung jawab baru yang jauh lebih berharga dan berarti baginya, yaitu menjadi suami bagi Salsa, menjaga dan melindungi wanita yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Rian segera menepuk bahu Bobby dengan erat sebelum berbalik menuju mobilnya. “Bob, urusan di sini serahkan sepenuhnya kepadamu ya. Pastikan semuanya rapi dan tidak ada celah sedikit pun. Aku harus segera pergi sekarang.”

Bobby tersenyum mengerti, menatap punggung atasannya dengan pandangan penuh pengertian. “Siap, Pak! Tenang saja, saya akan bereskan semuanya sampai tuntas.”

Tanpa membuang waktu lagi, Rian langsung masuk ke dalam mobil Jeep miliknya dan menyalakan mesin dengan cepat. Kendaraan itu pun melaju membelah jalanan yang kini semakin sepi, membawa Rian kembali ke arah kota, menuju tempat di mana separuh hatinya berada. Perasaan yang dirasakannya saat mengemudi pun berbeda dari biasanya. Dulu, saat pulang dari operasi atau penyelidikan, yang ada di benaknya hanyalah rasa lelah dan keinginan untuk segera beristirahat saja. Namun kali ini, ada rasa rindu yang hangat dan dorongan semangat yang kuat untuk segera sampai di tujuan.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Rian akhirnya memasuki halaman markas kepolisian. Ia memarkirkan kendaraannya di tempat biasa, lalu melangkah cepat menuju gedung dan naik ke lantai dua menuju ruang kantornya. Saat ia sampai di depan pintu ruangan yang sedikit terbuka itu, langkahnya perlahan melambat dan ia berusaha berjalan dengan sangat pelan, seakan sedang mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, cahaya lampu jalan dari luar jendela menerangi sebagian ruangan, jatuh tepat ke arah sofa tempat Salsa duduk menunggu tadi. Di sana, terlihatlah sosok istrinya yang sudah terlelap tidur. Tubuh Salsa berbaring miring di atas sofa, kepalanya bersandar pada salah satu bantal empuk yang ada di sana. Tangan mungilnya terlipat rapat di dekat dada, napasnya terdengar tenang dan teratur, seolah rasa cemas yang dirasakannya tadi akhirnya tergantikan oleh rasa lelah yang mendalam setelah menunggu terlalu lama.

Rian pun berjongkok perlahan tepat di sisi sofa, di hadapan wajah Salsa yang sedang tertidur pulas. Cahaya lampu yang lembut membuat wajah gadis itu tampak semakin halus dan bersih, kulitnya terlihat lembut, dan rambut hitamnya terurai indah menyebar di atas kain bantal. Rian menatap wajah itu lekat-lekat, matanya meneliti setiap lekuk dan garis di wajah istrinya yang masih sangat muda dan mungil itu. Selama ini ia jarang sekali memiliki kesempatan untuk mengamati Salsa sedetail ini, apalagi dalam keadaan yang begitu tenang dan damai tanpa ada beban pikiran atau rasa khawatir.

Ada rasa yang aneh namun sangat menyenangkan menjalar di dalam dada Rian saat itu. Ia mengingat kembali awal mula pernikahan mereka yang begitu mendadak dan penuh keraguan. Ia tidak pernah membayangkan sama sekali bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis yang jauh lebih muda darinya, dengan latar belakang dan kemampuan yang begitu berbeda jauh dari apa yang biasa ia kenal dan pahami selama ini. Dulu ia menganggap pernikahan ini hanyalah sebuah kewajiban untuk memenuhi wasiat seorang sahabat orang tuanya, namun sekarang, saat melihat wajah damai ini di hadapannya, Rian sadar sepenuhnya bahwa Salsa bukan sekadar kewajiban atau sekadar istilah pasangan hidup di atas kertas saja.

Gadis di hadapannya ini adalah istrinya, orang yang kini berbagi hidup dengannya, orang yang mampu melengkapi sisi lain dari dirinya yang selama ini terasa kosong dan kaku.

Meski banyak hal yang berbeda di antara mereka, meski jalan pikiran dan cara pandang mereka sering kali bertolak belakang, justru perbedaan itulah yang kini membuat hubungan mereka menjadi begitu istimewa dan kuat.

Rian tersenyum lembut, senyum yang tulus dan penuh kasih sayang, senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya saat sedang berhadapan dengan dunia luar yang keras dan kejam. Ia menyadari satu hal yang pasti yaitu apa pun yang terjadi ke depannya, ia akan selalu berusaha sekuat tenaganya untuk menjaga, melindungi, dan membahagiakan wanita yang kini sedang terlelap damai di hadapannya ini.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!