Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaivan
Kaivan Aldric Harvey seorang remaja yang akrab di panggil Kaivan. Terkenal dengan sifat dingin, datar, tegas dan tatapan tajamnya yang mampu membuat orang lain tunduk ke padanya. Kaivan sendiri adalah blasteran Prancis-Indonesia dari pasangan Davino Azra Harvey dan Vinara Selva Harvey. Keluarga Harvey termasuk jajaran keluarga ke 2 terkaya di dunia dengan bisnisnya dimana-mana, cabang perusahaannya di berbagai negara yang bergerak di bidang pertambangan, property dan masih banyak lagi.
Kaivan menjabat sebagai Leader sekaligus Ketua Mafia terkuat ke 2 yang bernama Black Wolf. Mafia Black Wolf yang Kaivan dirikan 4 tahun belakangan ini dan berhasil menduduki posisi ke 2 di dunia. Siapa yang tidak tau dengan Black Wolf mafia yang terkenal dengan kekejamannya yang mereka semua tau.
_o0o_
Selandia,,,
Di sebuah perusahaan raksasa tepatnya negara Selandia seorang remaja laki-laki tengah menghadap ke arah jendela menatap bangunan-bangunan besar yang ada di depannya dengan pandang yang lurus ke depan tak lupa juga tetapan tajamnya yang selalu mengintimidasi orang yang menjadi lawan bicaranya.
Remaja itu adalah Kaivan. setelah mendapatkan pesan yang terakhir dari sepupunya yaitu Navarez mendadak suasana hati Kaivan menjadi murung dan gelisah, walaupun ia tahu adik sepupunya hanya bercanda tapi memang dasarnya hati Kaivan yang begitu sensitif jika menyangkut gadis kecilnya jadilah ia baper dengan adik sepupunya dan menganggap itu beneran.
Saat ini Kaivan tengah memikirkan cara agar dirinya cepat-cepat menyelesaikan urusannya di sini dan secepatnya akan kembali ke Indonesia untuk menemui dan menjaga gadis kecilnya itu.
Kaivan menatap layar ponselnya dengan malas mendengus kesal membaca pesan yang terakhir di kirim Navarez.
Navarez
{Baiklah cepat selesaikan urusan Abang dalam waktu dekat ini, jika tidak Aretta akan menjadi milik gue.}
{Gue serius bang, gue rasa...gue udah mulai suka sama dia:)}
{Eitssss jangan salahin gue dan perasaan gue tapi salahin diri lo sendiri siapa suruh lo minta tolong ke gue untuk jagain Aretta. perasaan gak bisa di atur untuk menentukan di mana ia akan berlabuh. maka dari itu cepatlah kembali Kaivan Aldric Harvey kalo lama gue bakalan ambil star duluan.}
Begitulah pesan terakhir yang di kirim oleh Navarez yang berhasil membuat Kaivan resah dan takut. Ya Kaivan sangat takut jika ucapan Navarez menjadi kenyataan, sungguh dia tidak mau kehilangan gadis kecilnya lagi untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup Kaivan merelakan gadisnya di siksa bak binatang dengan keluarga biadabnya itu walaupun Kaivan berada di luar negri tapi Kaivan tetap mengawasi Aretta selama ini dari kejauhan.
Sebenarnya beberapa hari Kaivan kembali ke Indonesia hanya untuk pekerjaan dan ia melihat Aretta di sebuah restoran yang berada di di Jakarta bahkan mereka sempat saling bertatapan, tapi Kaivan tidak ingin menghampiri Aretta karena ia merasa waktunya tidak pas maka dari itu Kaivan memutuskan untuk melihatnya dari kejauhan.
"Pokoknya gue harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. gue gak mau kalo bocah nakal itu ngerebut gadis kecil gue. awas aja lo Varez." Geram Kaivan menggenggam ponselnya kuat.
Lalu Kaivan mencari nomor asistennya dan langsung menghubunginya.
"Hallo." Ucap seseorang yang ada di sebrang sana.
"Hallo Rendy bagaimana dengan urusan di sini apa sudah selesai?" Tanya Kaivan to the poin.
"Sudah beres tuan. ini hanya tinggal sedikit dan saya sedang mengerjakannya sebentar lagi selesai." Ucap Rendy.
Kaivan memanggut² mengerti. "Kira² kapan selesainya? saya ingin segera kembali ke Indonesia."
"Baru saja saya sudah menyelesaikannya tuan." memang benar Rendy baru saja menyelesaikan tugasnya, jangan pikir Rendy betah berada di Selandia sejujurnya Rendy juga ingin segera kembali ke Indonesia dirinya sudah sangat rindu dengan istrinya yang sudah 4 bulan ia tinggal ke luar negeri untuk mengurus perusahaan Kaivan yang hampir saja bangkrut karena si pengkhianat.
"Bagus selesaikan hari ini, nanti malam kita akan terbang ke Indonesia." Titah Kaivan.
"Baik Tuan saya akan menyelesaikannya dengan baik." Ucapnya. lalu Kaivan mematikan panggilannya secara sepihak di sebrang sana dan Rendy tidak merasa tersinggung akan hal itu. bagi Rendy itu sudah biasa karena Rendy sudah puluhan tahun mengabdi kepada keluarga Harvey dari masa ayahnya yang mengabdi pada opahnya Kaivan.
Kaivan berbicara banyak hanya kepada Rendi dan keluarga Kaivan saja walaupun begitu tapi Rendi dan keluarga Harvey masih merasa terintimidasi dengan tatapan Kaivan yang seperti ingin menerkam hidup-hidup. Rendy juga tahu perjalanan seorang Kaivan yang mendirikan kelompok mafia Black Wolf dan perjalanan mengejar cinta gadis kecilnya itu.
Rendy berjalan ke arah meja yang berada di samping jendela mengambil bingkai foto yang di sana foto dua orang remaja tengah merangkul dan tersenyum manis. "gue harap dia akan menerima lo setelah ini Van, walaupun kehadiran lo selalu dia tolak tapi lo tetap memperjuangkan dia padahal lo tau dia udah punya tunangan." Gumam Rendy lirih.
Ya foto itu adalah Randy dan Kaivan, mereka gak cuma hanya sebatas atasan dan bawahan tapi Kaivan menganggap Randy sebagai Abangnya. walaupun umur Randy lebih tua 3 tahun dari Kaivan tapi Randy tetep manggil Kaivan tuan muda, padahal Kaivan sudah menyuruh Randy untuk memanggil nama saja tapi Randy menolak halus karena Randy merasa tidak enak.
"Aretta Gabriela Wilson semoga kebahagiaan selalu menghampirimu gadis kecil, dan semoga kamu bisa menerima tuan muda." Ucapnya penuh harap, entah kepada siapa Rendy berbicara yang pasti Rendy berharap Kaivan dan Aretta akan segera bersatu.
_o0o_
Indonesia
Di kantin sekolah SMA Alexander siswa-siswi berbondong-bondong menuju stand makanan untuk mengantri, begitupun dengan Aretta dkk yang ikut mengantri di belakang.
"Gue aja yang pesen deh lo berdua cari tempat aja." Usul Rosa.
Aretta dan Vira mengangguk. "Yaudah kita cari tempat deh lo hati-hati ya." Ucap Vira.
Aretta dan Vira pergi meninggalkan Rosa untuk mencari meja gak butuh waktu lama mereka berdua menemukan meja kosong yang dekat dengan pohon.
"Eh kita di situ aja tu ta." Ucap Vira menarik tangan Aretta menuju meja itu.
Aretta hanya menurut merelakan tangannya ditarik oleh Vira. "Di sini aja enak Ta kena angin sepoy² jadi sejuk." Ucapnya tersenyum senang.
Aretta mengangguk membenarkan ucapan Vira memang di meja itu terasa adem karena di bawah pohon yang rindang. Aretta mendudukan pantatnya di bangku yang mengarah ke arah kantin, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah sampai akhirnya ia melihat seseorang yang begitu ia kenali dan ia rindukan selama ini.
Deg
Aretta mematung melihat remaja laki-laki itu yang seumuran dengannya. "Abang." Ucap Aretta lirih menatap sendu ke arahnya.
Aretta masih memandang remaja itu dengan tatapan, kangen, sedih dan penyesalan. "Abang maaf." Gumam yang di dengar oleh Vira tapi tidak terlalu jelas.
"Lo ngomong apa Ta?" Tanya Vira.
Aretta tersadar lalu menoleh ke arah Vira. "Eh apa? gue ngomong apa?" Ucapnya pura pura tidak tau.
"Tadi Lo kek ngomong apa gitu tapi gue gak begitu jelas sih dengernya makanya gue nanya lo ngomong apa." Jelas Vira. Aretta mengangguk²an kepalanya.
"Hehehe gue lupa tadi ngomong apa." Ucapnya cengengesan sedangkan Vira mendengus kesal.
Tak lama Rosa datang dengan nampan yang berada di tangannya. "Makanan datang." Ucapnya heboh, siswa-siswi yang mendengar teriakan heboh Rosa sudah biasa dan mereka mengabaikan saja tidak menegurnya.
"Berisik bego." Kesal Vira.
Rosa mendengus ke arah Vira. "Siapa lo kita gak kenal monmaaf ye." Ucapnya julid sambil memberikan pesanan Aretta dan Vira ke mereka ber dua.
"Makan dulu baru gosip lagi." Ucap Aretta. mereka mengangguk dan memakan makanannya tapi pandangan Aretta tetap saja masih tertuju ke orang yang ia sebut Abang yang terlihat berantakan.
Rosa menyadari ke mana arah pandangan Aretta mengalihkan pandangannya ke orang itu. "Lo kenapa liatin dia kek gitu banget?" Tanya Rosa penasaran. masalahnya Aretta menatap orang itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Vira menoleh ke arah Aretta lalu mengalihkan pandangannya ke objek yang Aretta lihat dan mengalihkan pandangannya ke Aretta lagi. "Lo suka sama dia?" Tanya Vira memicingkan matanya.
Aretta membelalakkan matanya. "Mulut lo pengen gue sumpel." Ucapnya geram.
"Ya abisnya lo liatin dia kek gitu banget jangan-jangan lo naksir lagi." Tuduh Rosa.
Aretta mendengus kesal memang sahabat ini sangat jauh sekali beriknya ya kali ya suka sama abang kembarannya sendiri mana mungkin. Eh tapi mungkin aja sih soalnya abangnya itu ganteng pol siapapun pasti suka sama abangnya itu kalo bukan Abang kembarannya mungkin saja ia akan jadiin abangnya pacar hihihi.
"Lo mau tentang dia?" Tanya Vira. Aretta menatap Vira lalu mengangguk.