“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Sorot Mata
Malam perayaan ulang tahun itu seharusnya menjadi malam yang penuh kegembiraan bagi keluarga besar Pak Wijaya. Namun, di sudut ruangan yang dihias lampu gantung kristal yang megah, sebuah ketegangan tak kasatmata mulai merayap di antara tiga anak manusia.
Aditya berdiri dengan tegak, memancarkan aura wibawa yang sulit diabaikan. Di hadapannya, dua gadis menunjukkan reaksi yang bertolak belakang. Lidia, dengan gaun malamnya yang mewah, tampak terperangah. Matanya berbinar-binar, memuja setiap jengkal ketampanan Aditya seolah pria itu adalah mahakarya yang turun dari langit. Di sisi lain, Kinanti justru tampak seperti seekor merpati yang terjebak di sarang elang. Ia gelisah, jemarinya meremas pinggiran dress sederhananya, sementara matanya sesekali melirik ke arah Aditya dengan rasa tidak nyaman yang kentara.
"Aditya, apa kabarmu, Nak? Tante dan Om sudah lama sekali tidak melihatmu berkunjung ke rumah," suara lembut Bu Effi memecah keheningan yang kaku itu.
Aditya mengalihkan pandangannya sejenak dari Kinanti. Ia mengangguk sopan, menampilkan senyum tipis yang terlatih. "Kabar saya baik, Tante. Belakangan ini pekerjaan di perkebunan memang sedang menyita banyak waktu," jawabnya dengan nada santai namun tetap berkelas.
Pak Tyo, ayah Lidia, ikut menimpali dengan tawa kecil, mencoba mencairkan suasana basa-basi khas kalangan mereka. Namun, perhatian utama tetap tertuju pada sang juragan muda.
"Kamu terlihat semakin gagah saja, Adi. Lihat itu, putri Tante sampai kesemsem dibuatnya," goda Bu Effi terang-terangan sembari menyenggol lengan Lidia.
Lidia hanya bisa tersenyum malu-malu kucing, wajahnya bersemu merah. Ia merasa sangat percaya diri malam ini. Gaun yang ia kenakan memiliki potongan yang cukup berani, memperlihatkan bahu putih dan lekuk lehernya yang sengaja dihiasi kalung berlian. Ia yakin, pria normal mana pun akan terpana melihatnya.
Aditya melirik pakaian Lidia sesaat. Bukannya terpesona, ia justru mengernyitkan dahi. Di tengah udara malam yang cukup menusuk karena angin dari perbukitan, penampilan Lidia terasa sangat tidak tepat pada tempatnya.
*Gadis ini apa tidak kedinginan? Demi sebuah penampilan, dia rela menyiksa diri sendiri,* batin Aditya merasa aneh.
Detik berikutnya, sepasang mata tajam milik Aditya kembali berlabuh pada sosok gadis yang sejak tadi berdiri diam di samping ibunya. Kinanti. Gadis itu seolah berusaha mengecilkan eksistensinya, tidak ingin terlihat, namun justru kesederhanaannya itulah yang membuat mata Aditya enggan berpindah.
Bu Sarasvati, yang sejak tadi mengamati gerak-gerik putranya, hanya bisa mengulum senyum rahasia. Ia tahu persis bahwa radar ketertarikan Aditya telah terkunci pada sasaran yang tak terduga.
"Ehem, Effi, kebetulan sekali kamu di sini. Aku punya koleksi cangkir porselen dan teko baru di ruang tengah. Kamu mau melihatnya?" ajak Bu Sarasvati dengan nada ceria, sebuah taktik untuk menarik para orang tua agar menjauh dari sana.
Bu Effi yang memang pecinta barang pecah belah mewah langsung mengangguk semangat. "Oh ya? Tentu saja! Ayo kita lihat."
Sebelum melangkah pergi, Bu Sarasvati memberikan kode halus pada suaminya melalui tatapan mata. Pak Wijaya, yang mengerti maksud sang istri, segera merangkul pundak Pak Tyo. "Ayo Tyo, kita juga punya pembicaraan bisnis yang belum selesai di balkon sambil menikmati cerutu."
Kini, tinggallah mereka bertiga di tengah keramaian tamu yang mulai membaur. Kecanggungan semakin terasa tebal, seperti kabut di pagi hari. Kinanti, yang memang sangat membenci situasi seperti ini, merasa dadanya sesak. Ia merasa seperti pengganggu di antara Aditya dan Lidia.
Tanpa berkata apa-apa, Kinanti berbalik. Ia memutuskan untuk menghampiri meja hidangan, mengambil sepotong kue kecil sebagai alasan agar bisa menjauh. Ia berniat menyusul ayahnya yang sedang berbincang dengan rekan sejawatnya di pojok ruangan. Baginya, menyantap kue di samping sang ayah jauh lebih menenangkan daripada harus berdiri di bawah tatapan mengintimidasi pria tampan itu.
"Mas Adi, malam ini penampilan Mas benar-benar berbeda," suara Lidia terdengar berayun, sengaja dibuat selembut mungkin untuk menarik perhatian.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Aditya, mencoba masuk ke dalam ruang personal pria itu. "Mas Adi, bagaimana penampilanku menurutmu? Cantik tidak? Aku sengaja mempersiapkan diri berjam-jam demi acara ini... dan agar Mas Adi terkesan," lanjutnya dengan nada menggoda yang sangat kentara.
Namun, harapan Lidia hancur berkeping-keping. Perhatian Aditya sama sekali tidak tertuju padanya. Tatapan pria itu justru terkunci pada punggung Kinanti yang menjauh. Ia memperhatikan bagaimana Kinanti dengan anggun mengambil kue, lalu berbisik meminta izin pada ayahnya untuk pergi ke kamar mandi.
Tanpa memedulikan Lidia yang masih menanti jawaban, Aditya langsung melangkah tegas mengekor ke arah perginya Kinanti.
"Mas! Mas Adi! Mau ke mana?!" seru Lidia dengan nada tinggi.
Aditya tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan dengan langkah panjang, meninggalkan Lidia yang berdiri mematung dengan wajah memerah karena menahan amarah dan malu. Tujuannya untuk menggoda Aditya malam ini harus ia telan mentah-mentah.
Di sisi lain, Kinanti baru saja akan melangkah masuk ke lorong menuju kamar mandi saat tiba-tiba sebuah tangan kekar mencekal lengannya. Tubuhnya terputar seketika, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya menabrak dada bidang yang keras seperti batu.
"Mau ke mana?" tanya suara berat yang bergetar rendah itu.
Kinanti memejamkan matanya sesaat. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sampai ke tenggorokan. *Apa lagi sekarang?! Kenapa dia tidak membiarkanku tenang barang semenit saja?* batinnya menjerit jengah.
Kinanti mendongak, menatap mata hitam pekat milik sang Juragan. Karena gugup, ia tanpa sadar membasahi bibirnya yang dipulas lip gloss merah muda tipis. Gerakan sederhana itu membuat jakun Aditya naik turun dengan cepat. Di bawah cahaya lampu lorong yang agak temaram, bibir ranum Kinanti tampak begitu mengundang, membuat Aditya harus mati-matian menahan dorongan insting liarnya.
"Emm, aku mau... aku..." suara Kinanti terdengar gagap, napasnya tidak beraturan karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Ikut saya," ujar Aditya tanpa meminta persetujuan. Ia mulai menarik lembut lengan Kinanti.
Kinanti tersentak. Ia menahan langkahnya, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan yang hangat namun kuat itu. "Ju-Juragan, maaf... aku sungguh ingin ke kamar mandi dulu," cicitnya dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.
Aditya tertegun sejenak. Ia melihat gurat kegelisahan di wajah gadis itu dan menyadari bahwa ia mungkin terlalu agresif. Perlahan, ia mengendurkan cengkeramannya lalu melepaskannya.
"Baiklah. Masuklah. Saya tunggu di sini," ujar Aditya singkat dengan nada perintah yang tidak menerima penolakan.
Kinanti tidak berani membantah. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintu, dan bersandar di baliknya sambil mencoba mengatur napas. *Kenapa Juragan Adi bersikap seperti itu? Kenapa dia terus mengejarku padahal ada gadis lain yang jauh lebih cantik dariku?*
Setelah beberapa menit menenangkan diri dan menyelesaikan urusannya, Kinanti keluar dengan ragu. Benar saja, Aditya masih berdiri di sana, bersandar pada dinding dengan tangan masuk ke dalam saku celana kainnya yang mahal.
"Sudah selesai?" tanya Aditya, suaranya kini terdengar sedikit lebih lembut.
Kinanti hanya mengangguk pelan, kepalanya tertunduk begitu dalam hingga ia hanya bisa melihat ujung sepatu kulit Aditya yang mengkilap. Tanpa banyak bicara lagi, Aditya kembali meraih tangan Kinanti. Kali ini tidak dengan cengkeraman kasar, melainkan genggaman mantap yang membawa gadis itu menjauh dari kerumunan tamu menuju arah tempat yang lebih sepi.
Perlakuan Aditya itu tak luput dari pandangan mata Pak Wisnu di kejauhan. Ayah Kinanti itu menghentikan obrolannya sejenak, menatap punggung putrinya dengan perasaan campur aduk.
*Mau dibawa ke mana putriku? Apa Juragan Adi ingin membicarakan tentang rencana lamaran itu secara pribadi* batin Pak Wisnu penuh kecemasan dan harapan yang membuncah.
Namun, Pak Wisnu bukan satu-satunya yang mengamati. Di tengah kerumunan, Lidia berdiri dengan napas memburu. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pria yang ia dambakan menggandeng tangan seorang gadis desa dengan begitu protektif.
"Siapa sebenarnya gadis itu? Ada hubungan apa dia dengan Mas Adi? Kenapa Mas Adi lebih memilih menggandengnya daripada aku?!" gumam Lidia dengan nada penuh racun kecemburuan.
Rasa bangga yang tadi ia rasakan saat mengenakan gaun mahalnya kini hancur lebur. *Seharusnya aku yang berada di sampingnya! Kenapa harus gadis kampung itu!* teriaknya dalam hati sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.
Lidia memicingkan matanya, menatap arah kepergian mereka dengan tatapan tajam. *Aku tidak akan tinggal diam. Aku harus mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya, dan menyingkirkannya dari sisi Mas Adi.*
Di bawah naungan rembulan malam itu, sebuah drama baru saja dimulai, dan Kinanti sama sekali tidak menyadari bahwa ia kini berada tepat di tengah pusaran badai yang diciptakan oleh seorang Aditya.
Bersambung__
___
GAUN LIDIA