NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Serangan yang Tertunda

​"Kerja bagus, Riana," ucap Bramantyo, suaranya memecah ketegangan yang mengunci seluruh oksigen di ruangan itu. Pria raksasa itu membuang tisu kotor berbau amis darah tersebut tepat ke atas punggung Siska yang masih meringkuk gemetar di lantai.

​Bramantyo merapikan jas abu-abunya dengan gerakan sangat pelan dan penuh perhitungan. "Bereskan kekacauan ini. Aku mau semua laporan kedisiplinan dan evaluasi staf siap di mejaku secepatnya. Tidak boleh ada cacat sedikitpun."

​"Baik, Pak," jawab Riana datar.

​Bramantyo berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan HRD tanpa memedulikan nasib Siska sama sekali. Barisan pengawal berjas hitam mengekor rapat di belakangnya. Pintu kaca kembali terbuka dan tertutup, mengisolasi ruangan itu lagi dari dunia luar.

​Keheningan yang luar biasa mencekam masih menyelimuti seluruh area kerja. Tidak ada satupun staf yang berani bergerak, batuk, apalagi menolong Siska. Semuanya terlalu sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing dengan menunduk menatap layar monitor.

​Riana menatap Siska dengan tatapan kosong dan sangat dingin.

​"Bangun," perintah Riana tanpa nada belas kasihan. "Pergi ke klinik kantor sekarang. Obati lukamu. Lalu pel karpet ini sampai bersih tidak tersisa noda merah sedikit pun. Darahmu melanggar aturan kebersihan ruang kerja tingkat dua."

​Siska mengangguk patah-patah. Gadis muda itu berdiri dengan susah payah sambil menutupi hidungnya yang patah, lalu berjalan gontai keluar ruangan sambil menangis tanpa suara. Riana kembali duduk santai dan menarik keyboard komputernya. Ketukan jarinya berbunyi konstan seolah tamparan brutal sang bos mafia barusan hanyalah insiden kecil yang tidak penting.

***

​Di lantai dasar bawah tanah tempat garasi operasional khusus Aegis Corp berada, suasana tidak kalah tegang dan mencekam.

​Boni, komandan pasukan tempur elit Aegis, mencengkeram kerah seragam petugas parkir hingga kaki pria kurus itu melayang tidak menyentuh lantai beton.

​"Lo bilang apa barusan? Ulangi sekali lagi!" bentak Boni sangat buas layaknya binatang kelaparan. Wajahnya yang dipenuhi bekas luka sayatan pertempuran terlihat mengerikan. Matanya merah menyala menahan amarah tingkat tinggi.

​"A-ampun, Komandan Boni!" rintih petugas parkir itu tercekik, wajahnya membiru kekurangan napas. "Kunci enam mobil van hitam operasional yang biasa tim elit pakai... kuncinya ditarik semua sama Manajer HRD tadi siang."

​"Ditarik HRD?!" Boni membanting petugas parkir malang itu ke kap mobil sedan terdekat hingga terdengar bunyi hantaman keras. "Gue butuh enam van itu detik ini juga! Pasukan gue harus ratakan pelabuhan kargo milik Diwantara Group! Anak buah gue sudah siap tempur pakai peluru tajam dan rompi anti peluru, lalu lo bilang kuncinya ditahan sama orang kantoran?!"

​"Itu aturan baru dari pusat, Komandan. Semua aset kendaraan ditarik ke departemen administrasi. Manajer HRD yang baru memegang kendali penuh. Aku cuma jalankan tugas," jawab petugas parkir itu sambil memegangi dadanya yang sesak.

​Boni mengumpat dengan kata-kata paling kasar yang ada di dunia bawah tanah. Dia meludah ke lantai beton, lalu menendang tong sampah besi di dekatnya hingga penyok parah dan isinya berhamburan.

​"Ayo ikut gue semua!" teriak Boni kepada sepuluh anak buahnya yang sudah berdiri gagah menenteng tas ransel berisi senapan serbu dan bahan peledak. "Kita serbu lantai lima belas! Biar gue ajari HRD culun itu cara menghormati pasukan garis depan yang cari uang pakai darah!"

​Pintu kaca utama ruang HRD didobrak paksa dari luar. Kaca tebal anti peluru itu bergetar hebat.

​Boni melangkah masuk dengan gaya sangat angkuh dan brutal, membawa aura membunuh yang langsung membuat bulu kuduk berdiri. Sepuluh anak buahnya menyebar ke seluruh ruangan, menendang kursi-kursi staf dan mengacak-acak tumpukan map di atas meja kosong. Staf tata usaha yang sedang bekerja menjerit tertahan dan langsung merunduk sembunyi di bawah meja masing-masing karena ketakutan setengah mati.

​Langkah berat sepatu bot Boni berhenti tepat di depan meja Riana.

​Hebatnya, Riana sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Jari-jarinya masih mengetik dengan cepat, mengabaikan serombongan monster bersenjata yang baru saja menginvasi daerah kekuasaannya.

​"Serahkan kunci enam mobil van hitam itu sekarang juga," ancam Boni dengan nada menggeram yang sangat dalam. Tangannya menggebrak meja kerja Riana hingga cangkir kopi kosong bergeser jatuh ke lantai.

​Riana berhenti mengetik pelan-pelan. Dia mendongak, menatap wajah beringas Boni dari balik lensa kacamata tebalnya dengan ekspresi super datar.

​"Formulir peminjaman aset kendaraan operasional lo mana?" Riana balik bertanya. Suaranya sangat tenang dan jernih, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kekacauan yang Boni buat di ruangannya.

​"Lo buta atau sengaja pura-pura bodoh?!" bentak Boni memukul meja lagi. "Pasukan gue mau perang memperebutkan wilayah, bukan mau piknik perusahaan! Kita butuh kendaraan buat serbu pelabuhan Diwantara Group. Bos besar sudah kasih izin operasi ini sejak bulan lalu. Serahkan kunci van itu atau gue hancurkan ruangan lo berkeping-keping!"

​"Bos besar memang kasih izin operasi," potong Riana mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun di nadanya. Tangannya bergerak membuka laci meja kerja, mengeluarkan buku pedoman karyawan bersampul biru andalannya. "Tapi bos besar juga menegaskan bahwa prosedur persiapan audit pajak negara adalah prioritas utama bulan ini. Tidak ada satupun barang perusahaan yang boleh keluar tanpa dokumen sah."

​Riana mendorong buku tebal itu tepat ke depan perut Boni. Boni mendengus jijik dan menepis buku itu dengan keras hingga terlempar menghantam dinding ruangan.

​"Gue nggak peduli sama aturan kertas sampah lo, cewek culun!" Boni mencondongkan tubuh raksasanya, berusaha mengintimidasi Riana lewat postur. "Jangan sampai gue seret rambut lo dari kursi itu dan gue geledah ruangan ini buat ambil paksa kuncinya."

​Riana sama sekali tidak mundur. Dia justru melipat tangannya di atas meja, menatap lurus menembus mata pembunuh milik Boni.

​"Peminjaman aset kendaraan operasional wajib diajukan minimal tiga hari kerja sebelum hari pemakaian. Formulir H min tiga." Riana mengucapkan aturan itu dengan suara lantang. "Lo baru melempar formulir coret-coretan lo ke meja staf gue dua jam yang lalu. Administrasi butuh waktu buat mengecek pajak kendaraan, asuransi mobil, dan daftar nama pengemudi resmi."

​"Ini operasi darurat bawah tanah! Kita selalu pakai mobil itu kapan saja kita mau!" balas Boni ngotot setengah mati.

​"Aturan lama sudah tidak berlaku," jawab Riana dingin. "Kalau enam mobil van itu terekam kamera CCTV jalan tol saat dipakai operasi gelap tanpa surat jalan resmi, lalu kalian meledakkan pelabuhan, polisi lalu lintas dan agen pajak akan datang ke gedung ini esok hari mencari CEO kita. Lo mau tanggung jawab kalau aset triliunan perusahaan ini dibekukan total gara-gara lo tidak sabar menunggu tiga hari?"

​Boni terdiam sejenak. Rahangnya bergemeretak keras. Kata-kata Riana memang masuk akal dalam situasi genting pra-audit ini. Gideon dan Frans juga sudah memperingatkannya soal betapa menjengkelkannya Manajer HRD baru ini.

​"Kita ganti pelat nomor mobilnya pakai pelat palsu, bodoh!" bantah Boni menolak kalah.

​"Tidak ada pengecualian," tolak Riana mutlak. "Silakan ajukan formulir yang baru dengan tanda tangan lengkap dari Direktur Operasional. Tiga hari lagi kuncinya baru turun ke tangan lo. Untuk hari ini, semua operasi lapangan batal. Mobil van hitam tetap diam di garasi."

​Mendengar kata batal, darah Boni mendidih sampai ke batas maksimal. Otot lehernya menegang parah. Sebagai komandan pasukan elit yang terbiasa memenggal kepala musuh, ditolak oleh prosedur kaku dari staf HRD adalah penghinaan absolut. Anak buahnya sedang menonton kejadian ini. Reputasinya dipertaruhkan.

​Boni memutar tangan kanannya cepat ke belakang pinggang. Dengan kecepatan kilat, dia mencabut pisau lipat taktis militer berbahan baja hitam legam.

​Trang!

​Boni menancapkan pisau tajam itu dengan sangat keras ke atas meja kerja Riana. Ujung pisau itu menembus lapisan kayu mahoni hingga tertancap sangat dalam. Gagang pisaunya bergetar hebat memantulkan cahaya lampu ruangan.

​Riana sama sekali tidak berkedip melihat bilah pisau mematikan yang hanya berjarak lima sentimeter dari jari telunjuk tangannya.

​"Dengar baik-baik, Nona Kacamata," desis Boni mencondongkan wajahnya sangat dekat hingga hidungnya nyaris menyentuh wajah Riana. Napas kasarnya menerpa kacamata tebal perempuan itu. "Berikan kunci sialan itu sekarang juga, atau wajah culun lo ini yang gue toreh pakai pisau ini tanpa ampun."

1
Muft Smoker
duuuh deg2an deeh liat mereka berdua ,,
semoga aj mereka Selamat ,,
FHR
Ya ampuuun...kok aku yang tegang siiih..😥
FHR
Good luck 👍
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
Susilawati
mantap Riana 👍👍👍
Susilawati
hati2 Riana, kayaknya si Gideon sengaja mau menjebak
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Savana Liora: makasih kk
total 9 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!