Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Matahari siang ini amat terik seolah terasa membakar kulit.
Di depan gedung Fakultas Bisnis Universitas Pelita Bakti, para mahasiswa dan mahasiswi baru saja keluar dari ruang kelas Digital Marketing.
Melina melangkahkan kakinya keluar kelas dan mempersiapkan ada kelas nanti sore---Komunikasi bisnis.
Napasnya berat memikirkan tugas digital marketing tentang analisis yang baru saja di berikan dosennya.
"Haduh mesti ke panti nih, ngasih undangan ama ngemas barang."
Melina bergumam di bibirnya, seolah hari ini dirinya amat sibuk----membawa baju-bajunya untuk di pindahkan ke rumah Ganendra atas keinginan Adisti.
Namun, Melina tak akan pernah lupa pada panti asuhan itu---sesering mungkin dirinya akan berkunjung dan mengajarkan anak-anak panti.
Nampak, gadis berusia yang genap 19 tahun ini---mengenakan celana kulot jeans warna gelap yang dipadukan dengan kaos lengan pendek garis-garis hitam putih.
Tangannya mendekap erat beberapa buku tebal, sementara ransel warna coklat menggantung di punggungnya.
Baginya kuliah adalah impiannya, setelah kuliah nanti Melina akan mencoba membuat bisnis online.
Mengingat dirinya hanya seorang gadis yang tumbuh di panti asuhan.
"Hadeh sibuk banget gua hari ini, mesti ke panti dulu nih. Buat kemas-kemas, sekalian minta izin ama Bunda Pipin."
Bunda Pipin adalah ibu bagi anak-anak panti, mereka sangat menghormatinya, bahkan menganggapnya ibu sekaligus orangtua.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti secara mendadak saat sebuah suara melengking memecah keramaian.
"Oh, jadi ini orangnya? Yang jadi calon istri Ishan?!" suara melengking membuat para mahasiswa dan mahasiswi menatap ke arah Melina.
Melina mendongak matanya menatap bingung, saat seorang wanita berwajah Latino melabraknya.
Livia Kumara.
Wanita ini tampak seperti baru saja keluar dari sampul majalah high-fasion.
Livia adalah model makeup kelas atas yang namanya sedang trending, berdiri dengan wajah marah sambil menunjuk ke arah Melina.
Wanita yang mengenakan atasan tanpa lengan warna ungu tua, di padukan dengan rok hitam formal yang membalut tubuh tinggi semampainya.
Tak lupa di padukan dengan kalung mutiara choker yang melingkar manis di lehernya, menambah kesan mewah sekaligus kuasa.
"Maaf Mbak...Mbak siapa ya?" tanya Melina dengan polos.
Nampak kening Melina sudah berkerut tanda heran, dan siapa wanita di depannya ini? kenapa datang tiba-tiba marah-marah padanya.
Jujur Melina merasa malu, karena seolah dirinya seperti sudah merebut suami wanita ini atau di sebut pelakor.
Padahal dirinya sama sekali tak terlibat masalah apapun pada wanita di depannya ini.
Livia haya tertawa sinis, dengan twa penuh penghinaan.
"Gua?" tunjuk Livia ke dirinya sendiri.
"Gue calon istri Ishan yang sebenarnya! Bukan cewek miskin yang tumbuh di panti asuhan kayak lo!" tunjuk Livia ke arah Melina.
Livia melangkah maju, terlihat jari dengan kutek merah menyala menunjuk tepat ke wajah Melina.
Beberapa Mahasiswa berhenti, menyaksikan pertengkaran antara keduanya.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Eh itu 'kan si Melina?"
"Iya gua denger-denger dia mau nikah ya, ama Ihsan Ganendra."
"Iyakah?"
"Tapi itu cewek bukannya Livia Kumara model makeup itu."
"Iya ngapain dia nunjuk-nunjuk ke arah si Melina?"
"Shuttt, udah kita nonton aja mumpung ada pertunjukan gratis."
Livia terus nyerocos mulutnya selayaknya bebek yang tak mau berhenti, dengan dirinya berteriak-teriak menghina Melina---bisa di lihat bagaimana lebih elegan Melina dibanding Livia.
"Gila ya, kok bisa seorang Ishan Ganendra aktor papan atas, nyokapnya mau nikahin cewek kaya lu!" tunjuk Livia ke arah Melina.
Livia memutari tubuh Melina, sementara gadis yang mengenakan kaos lengan pendek garis-gari hitam putih hanya bisa memegang bukunya dengan erat.
"Lo pake pelet apa, hah? Tante Adisti lo pake pelet apa? atau lo cuma mau morotin hartanya doang ya? Iya kaan!!" lanjut Livia dengan menunjuk ke arah Melina.
Melina tak merasa apapun, hanya menahan senyum bagaimana Livia secara sukarela merendahkan martabatnya sendiri di depan para mahasiswa.
"Pelet yaa? aku ini mahasiswa biasanya anda loh yang pakai susuk! Model pake susuk!" balik Melina bicara dengan nada tenang.
"Sekarang gini, Mbak Livia. Saya juga nggak mau menikah dengan Mas Ishan tapi Allah izinkan saya jadi jodohnya," ujar Melina dengan tersenyum.
Livia yang mendengar itu langsung marah bukan main, napasnya kembang kempis seolah ada amarah yang di tahan.
"Berani lo manggil cowok gua Mas! Jangan berlagak sok suci deh lo! Lo itu anak buangan tumbuh di panti asuhan entah sundal mana nyokap lu!" umpat Livia secara kasar.
Mendengar itu hati Melina sangat sakit saat nama ibunya di bawa-bawa, Melina merasa di kerumunan orang banyak dirinya seperti tontonan sirkus.
Melina memang tak tahu siapa ibu kandungnya sejak kecil, dan sudah melupakan orangtua kandungnya.
Tapi bukan berarti orangtuanya di hina seperti itu, hatinya terasa sakit.
"Gila yaa manjur juga pelet lo, rekomendasi dukun dong!" ucap Livia melipat kedua tangannya di depan dada.
Tak lama ada suara bariton yang datang untuk melerai keduanya.
"Mbak Livia Kumara! Cukup!" suara seorang pria dari belakangnya.
Seorang pemuda dengan sorot mata tajam berjalan di belakang Livia lalu berdiri di samping Melina.
Alvaro Von Hessen.
Pria itu mengenakan atasan biru tua dengan garis metalik yang modis, celana jeans navy, dan ransel hitam di punggungnya.
Alvaro menatap Livia dengan tatapan tajam namun merendah, lalu menunjuk ke hadapan wajah Livia.
"Jaga mulut anda, karena anda seorang model dan anda publik figur! saya harap anda menjaga batasan!" ucap Alvaro dengan penuh penekanan.
"Siapa anda jangan mentang-mentang model bisa punya hak menginjak-ngijak orang lain di lingkungan kampus ini, ini kampus tempat pendidikan."
Alvaro mengatakan itu menunjuk ke hadapan Livia, dan menyembunyikan Melina di belakang tubuhnya.
Livia terperangah melihat itu semua.
"Wah! hebat lu punya selingkuhan!" teriak Livia.
"Jaga mulut lo ya! gua ini temennya Melina! Gua tahu persis cewek kaya apa dia! kagak kaya lu video bokaps lo di perjual belikan!" ucap Alvaro.
Livia mendengus, lalu para mahasiswa ada yang nyeletup.
"Iya anjirr gua juga udah pernah liat video nih orang!" teriaknya dengan lantang.
"Gua juga pernah liat, mau di apus gimana pun jejak digital akan terus ada!" teriak mahasiswa yang lain.
Livia mendengus, wajahnya memerah menahan malu dan marah.
Livia menyambar tas mahalnya, menatap Melina dan Alvaro bergantian dengan benci dan emosi.
"Urusan gua ama lo belum selesai!" ancam Livia kepada Melina.
Wanita itu pergi dengan sorakan satu kampus dari para mahasiswa dengan harga diri yang sudah jatuh.
"Huhuhuhu, sundal teriak sundal!" sorak mahasiswa seolah menghina Livia.
*
*
*
*
*
*