Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Sekte Pedang Langit
Debur ombak terdengar pelan, bergulung perlahan menyentuh bibir pantai yang luas dan sunyi. Di tepi laut itu, dua sosok duduk berdampingan, menghadap cakrawala yang membentang tanpa batas, di mana langit dan laut seolah menyatu dalam satu garis yang tenang.
Dongfang menatap jauh ke depan, matanya mengikuti warna langit yang perlahan berubah, memantulkan cahaya lembut di permukaan air. “Langitnya… cukup indah, ya, Feng,” ucapnya pelan, suaranya ringan namun membawa ketenangan yang jarang ia rasakan.
Di sampingnya, Yuwen Feng tersenyum tipis, tatapannya juga tertuju pada cakrawala yang sama. Untuk sesaat, tidak ada bayangan kegelapan, tidak ada dendam, hanya keheningan yang damai. “Iya… sangat indah,” jawabnya, nadanya lembut, jauh dari sosok yang pernah tenggelam dalam kebencian.
Angin laut berhembus perlahan, membawa aroma asin yang segar, menyapu rambut dan pakaian mereka dengan lembut. Suasana itu terasa begitu berbeda dari dunia kultivasi yang penuh pertarungan dan tekanan, seolah tempat ini adalah satu-satunya ruang di mana mereka bisa duduk tanpa memikirkan kekuatan, musuh, atau takdir yang berat.
Dongfang sedikit menundukkan kepala, tatapannya tetap tertuju pada garis cakrawala yang tenang, seolah ingin mengabadikan momen itu di dalam ingatannya. “Aku harap… kita akan selalu seperti ini,” ucapnya pelan, suaranya membawa harapan yang tulus, sesuatu yang jarang ia ungkapkan.
Yuwen Feng tertawa kecil, nada tawanya ringan dan tanpa beban, sangat berbeda dari tawa dingin yang kelak akan muncul di masa depan. “Tentu saja,” jawabnya santai, seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah pasti.
Ia sedikit menoleh ke arah Dongfang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, “Kita sudah bersama sejak kecil, berada di aliran yang sama, sekte yang sama, dan melewati begitu banyak hal bersama.”
Tatapannya berubah, kini dipenuhi keyakinan yang kuat.
“Kita akan selalu bersama, karena kita sudah melewati berbagai tragedi di masa lalu kita, dan tidak ada yang bisa memisahkan itu.”
Tangannya perlahan mengepal, semangat dalam dirinya terasa jelas.
“Kita adalah puncak kekuatan dunia ini,” lanjutnya, nada suaranya semakin tegas.
“Kitalah yang terkuat.”
Dongfang tersenyum tipis, tidak membantah, hanya menerima keyakinan itu dengan tenang. “Iya… kau benar,” jawabnya, suaranya lembut namun penuh arti.
Tanpa banyak kata, mereka saling menepuk tangan.
Gerakan sederhana.
Namun di dalamnya tersimpan kepercayaan, persahabatan, dan janji yang terasa seolah tidak akan pernah runtuh.
Bayangan itu tiba-tiba berubah, ketenangan yang tadi menyelimuti perlahan retak dan tergantikan oleh gambaran yang jauh lebih gelap. Sosok pria itu muncul di dalam ingatannya, sosok yang pernah ia panggil sebagai guru, berdiri di tengah kehancuran dengan aura yang menekan. Api menyala di mana-mana, membakar rumah-rumah tanpa ampun, sementara darah mengalir di tanah yang dulu ia kenal sebagai tempat tinggalnya.
Jeritan memenuhi udara.
Satu demi satu bayangan muncul, saling bertabrakan di dalam pikirannya. Desa yang hancur, tubuh-tubuh yang tak lagi bergerak, dan di antara semua itu, wajah ayah dan ibunya yang tergeletak tanpa kehidupan kembali terpatri dengan begitu jelas, seolah semua itu terjadi lagi di hadapannya.
Rasa sakit itu kembali.
Lebih kuat.
Lebih nyata.
Dan tanpa sadar, ia berteriak di dalam mimpi itu, suaranya pecah oleh emosi yang tak terbendung. “BERHENTI!!”
Namun bayangan itu tidak menghilang.
Justru semakin dalam menelannya.
Dan akhirnya ia terbangun dari mimpi itu dengan napas terengah, seolah baru saja ditarik keluar dari jurang yang dalam. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara keringat dingin membasahi dahinya.
Matanya terbuka perlahan.
Langit-langit yang terlihat di atasnya terasa asing, bukan atap rumah yang selama ini ia kenal, melainkan ruangan yang sederhana namun rapi, dipenuhi aroma obat-obatan yang samar.
Kesadarannya mulai kembali sedikit demi sedikit.
Ia menggerakkan pandangannya ke sekeliling, dan langsung melihat tiga sosok yang sangat familiar berdiri di dekatnya.
Xiao Yan, Ye Fan, dan Han Li.
Wajah mereka dipenuhi kekhawatiran, jelas telah menunggu momen ini sejak lama.
Namun tidak hanya mereka.
Di sisi lain ruangan, berdiri seorang pria dewasa berjubah putih, sikapnya tenang dan tegap, dengan sebuah pedang tersandar di punggungnya. Auranya berbeda, tenang namun dalam, seolah menyimpan kekuatan yang jauh melampaui apa yang pernah Long Chen rasakan sebelumnya.
“Chen, kau sudah bangun,” seru Han Li dengan nada lega yang tak bisa ia sembunyikan.
Long Chen terdiam sejenak, napasnya masih belum sepenuhnya stabil, sementara bayangan mimpi itu terasa begitu nyata seolah belum benar-benar pergi. Ia menatap kosong ke depan sebelum perlahan mengalihkan pandangannya ke sekeliling, mencoba memahami di mana dirinya berada sekarang.
Ruangan itu luas dan tenang, dipenuhi aura yang damai namun dalam, sangat berbeda dari kehancuran yang terakhir ia lihat.
“Ini… di mana?” tanyanya pelan.
Pria berjubah putih itu melangkah maju dengan sikap tenang. “Aku Lin Feng,” ucapnya, lalu sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
Ekspresinya berubah serius, dan nada suaranya menjadi lebih berat. “…Maaf. Jika saja aku datang lebih cepat, mungkin semua ini tidak akan terjadi,” lanjutnya, jelas menyimpan penyesalan yang dalam.
Keempat anak itu terdiam, suasana di ruangan seketika menjadi sunyi.
Xiao Yan segera menggeleng pelan. “Ini bukan salahmu,” katanya tegas. “Ini… takdir.”
Ye Fan mengangguk, menyetujui kata-kata itu tanpa ragu. “Benar.”
Lin Feng menarik napas pelan, lalu menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berbicara kembali.
“Kalian sekarang berada di Sekte Pedang Langit,” ujarnya.
Tatapan mereka langsung berubah.
“Ini adalah sekte aliran kebenaran, berdiri di puncak gunung yang menembus awan, dikenal karena keadilan dan teknik pedang sucinya,” lanjutnya dengan nada tenang namun penuh wibawa, seolah setiap kata yang ia ucapkan membawa makna yang jauh lebih besar daripada sekadar penjelasan.
Long Chen bergumam pelan, seolah mengulang nama itu untuk memastikan dirinya tidak salah dengar. “Sekte Pedang Langit…” suaranya lirih, namun ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalamnya, antara harapan dan beban yang belum hilang.
Ia lalu mengangkat pandangannya dan menatap Lin Feng dengan serius, matanya masih menyimpan luka yang belum sembuh. “Paman… apakah kau tahu siapa yang menghancurkan desa kami?” tanyanya, nada suaranya tenang namun menyimpan emosi yang dalam.
Ruangan itu langsung hening.
Lin Feng tidak segera menjawab. Tatapannya sedikit menunduk, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat, sebelum akhirnya ia berbicara perlahan.
“Pelakunya… sangat mungkin berasal dari aliran iblis,” ujarnya dengan suara berat.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan lebih tegas. “Kami menduga mereka berasal dari Sekte Darah Merah.”
Nama itu terasa dingin saat diucapkan.
“Namun untuk saat ini, itu masih sebatas dugaan. Kami belum memiliki bukti yang cukup untuk memastikan,” tambahnya, menunjukkan bahwa meskipun ia memiliki keyakinan, ia tidak ingin memberi harapan palsu atau kesimpulan yang terburu-buru.
Mata Long Chen langsung berubah, sorotnya yang semula dipenuhi kebingungan kini mengeras menjadi dingin dan tajam. Tangannya perlahan mengepal di atas selimut, begitu kuat hingga jemarinya memutih, sementara udara di sekitarnya seakan ikut menegang oleh perubahan yang tiba-tiba itu.
Aura dingin mulai terpancar dari tubuhnya, halus namun cukup jelas untuk dirasakan oleh semua orang di dalam ruangan.
“Kalau begitu… sekte ini harus segera menemukannya,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan berat, tidak lagi seperti anak kecil yang kehilangan, melainkan seseorang yang telah menetapkan arah hidupnya.
Ia menatap lurus ke depan, tanpa ragu sedikit pun.
“Kalau tidak…” lanjutnya, napasnya tertahan sejenak, seolah menahan sesuatu yang jauh lebih besar di dalam dirinya.
“Aku sendiri yang akan mencarinya.”
Tatapannya semakin dalam, dipenuhi tekad yang tidak tergoyahkan.
“Dan membunuhnya pakai tanganku sendiri.”
Kata-kata itu jatuh dengan tenang, namun membawa beban yang sangat berat.
Di dalam ruangan, suasana langsung berubah.
Xiao Yan, Ye Fan, dan Han Li saling bertukar pandang, merasakan sesuatu yang berbeda dari Long Chen saat ini. Sementara Lin Feng hanya menatapnya dalam diam, menyadari bahwa di balik anak yang berdiri di hadapannya… sedang lahir sesuatu yang tidak biasa.
End Chapter 9