NovelToon NovelToon
FAKE LOVE MISSION

FAKE LOVE MISSION

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xylona

Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.

Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.

Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.

Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 9.

Mereka sudah sampai di sekolah seperti dugaan Aurora murid-murid belum sampai di sekolah.

"Kita ke kantin."

Aurora menghentikan tangannya untuk membuka pintu mobil menengok kearah Gama."Hah?."

"Enggak akan murid yang tau ini masih pagi banget."

Aurora akhirnya mengangguk kecil menyetujui, mereka berjalan beriringan tidak ada percakapan selama mereka melangkah ke kantin.

Gama memilih di belakang kantin paling pojok sebelah kiri dan Aurora mengikuti kemana langkah Gama membawanya.

Mereka duduk sampingan, Aurora membuka bekal yang di siapkan oleh ibunya termasuk Gama juga membukanya, mereka dengan khidmat menikmati sarapan sederhana hanya nasi dengan lauk tempe orek dan perkedel kentang.

"Kak maaf kalau makanannya nggak sesuai sama selera kakak." Ucap Aurora.

"Ini enak kok."

"Gue bahkan nggak pernah ngerasain masakan rumahan."

"Loh kenapa?."

"Nyokap bokap gue cuman mentingin kerjaan aja."

Aurora merasa menyesal kenapa ia harus menanyakan hal tersebut.

"M—maaf kak."

Gama tersenyum kecil."Gapapa."

"Gue juga seneng bisa kenal sama orang tua lo, gue bisa ngerasain hangatnya sebuah keluarga itu seperti apa, dan sekarang gue ngerasain itu berkat lo." Gama memandang Aurora tulus.

Aurora terenyuh mendengar penuturan Gama yang menyentuh hati, entah kenapa matanya tiba-tiba berkaca kaca sekali kedip mungkin akan keluar air matanya.

Gama terkekeh pelan melihat Aurora yang berkaca kaca sambil bibirnya melengkung kebawah."Kenapa nangis?."

Aurora cemberut."Sedih aku pikir kakak hidupnya enak karna kakak kaya, tapi ternyata di balik itu ada kesunyian."

Gama tersenyum geli."Gue emang kaya, tapi gue kaya karna uang, bukan kaya akan kasih sayang keluarga atau bahkan nyokap bokap gue."

"Keluarga gue bukan keluarga cemara, bisa di bilang gue broken home meskipun ortu gue masih sama-sama juga."

Tanpa sadar Aurora menitikkan air matanya ya Aurora menangis mendengar penuturan Gama barusan, sekarang Aurora paham di balik sikapnya yang dingin, datar, sulit di dekati, irit bicara, ada hal yang Gama sembunyikan dari semua orang meskipun Gama dari keluarga berada tapi Gama kekurangan kasih sayang dari keluarga terutama dari kedua orang tuanya, banyak uang tidak menjamin kebahagiaan meskipun ada kebahagiaan itu hanya semu.

Aurora paham Gama sulit mengekspresikan emosi atau bisa di sebut dalam psikolog Alexithymia seseorang yang kesulitan mengenali/mengekspresikan emosi atau Emotional Detachment, itu bisa karna broken home yang terjadi di keluarga Gama orang tua yang sibuk dan menelantarkan anaknya, bukan menelantarkan jadi gembel tapi, menelantarkan anak tanpa peran kasih sayang kedua orang tuanya, meskipun hidup dengan bergelimang harta tapi percuma tanpa kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua.

"Kakak boleh kok tiap hari ke rumah aku, nanti aku bilangin sama ibu buat masakin kakak masakan rumahan." Ujar Aurora.

Gama tertawa tangannya bergerak menghapus jejak air mata Aurora dengan lembut."Emang boleh?." Entah kenapa setelah mengenal Aurora Gama banyak tersenyum dan tertawa tapi hanya bersama Aurora.

"BOLEH." Ucap Aurora tanpa sadar menaikan nada suaranya.

Gama mengusak rambut Aurora gemas."Iya iya."

"Ih...kakak jadi berantakan rambut aku." Aurora ngedumel.

Gama merapikan rambut Aurora dengan tangannya hati hati, menepuk pelan kepala Aurora."Gih sana."

Aurora mengerutkan kening."Ngusir?."

"Mau di sini sampai masuk emangnya?." Tanya Gama.

"Gue sih nggak masalah."

Aurora buru buru melihat jam berapa sekarang dan ya ternyata murid-murid mulai berdatangan di sekolah, Aurora cepat cepat berdiri membereskan tempat makannya dan memasukannya ke dalam kantong takut keburu siswi sekolah tahu keberadaan Aurora bersama dengan Gama.

"Kak bawa aja itu kantong bekalnya nanti pulang baru aku ambil, aku duluan takut siswi lain liat kita berdua bisa berabe." Ujar Aurora cepat langsung saja ngacir keluar dari kantin menuju ke kelasnya.

"Woho, kayaknya lo udah sampe dari tadi ya." ujar Zara.

Aurora diam apa Zara tahu kalau ia datang bersama Gama."Hem."

"Tumben amat kesambet apa lo?."

"Kesambet petir." Jawab Aurora asal.

"Serius anjir." Zara yang jengah dari kemarin Aurora menguji kesabarannya.

"Dua rius gue malahan."

Zara yang lama lama kesal mengetok kepala Aurora pakai penggaris.

"Aduh sakit anjir." Rintih Aurora.

"Makanya kalau jawab itu yang bener Markonah."

"Ya emangnya gue nggak boleh apa sampai sekolah pagi banget." Sewot Aurora.

"Kagak biasanya juga lo berangkat pagi buta begini." Ujar Khanza.

"Gue mau jadi anak rajin."

"Lagak lo mau jadi anak rajin pr matematika aja masih nyontek lo." caci Zara.

"Ya gapapa yang penting ngerjain."

Guru matematika masuk namanya bu Risa termasuk guru killer, ini kalau Aurora telat saja ngerjain tugas pasti Bu Risa akan menghukumnya.

"Selamat pagi semua."

"PAGI BU." Jawab serempak.

"Karna kemarin lalu ibu kasih kalian tugas mana sini kumpulkan."

Semua murid berbondong-bondong mengumpulkan tugasnya masing-masing, termasuk dengan Aurora.

Bu Risa sedang memeriksa tugas mereka satu persatu.

"Aurora, Zara, sama Khanza." Panggil bu Risa.

Aurora saling tatap dengan kedua temannya heran kenapa mereka di panggil perasaan mereka mengerjakan tugas darinya, entah kenapa firasat Aurora jadi tidak enak ini pasti akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.

BRAK...

Bu Risa membanting buku Aurora agak kencang."Kalian kalau mau nyontek yang pinter juga kali, kenapa kalian mau bilang ini nggak nyontek gitu hah!!! ibu juga tau kamu suka nyontek."

Aurora diam termasuk kedua temannya tidak ada yang berani bersuara.

"Sekarang kalian hadap bendera sampai ibu selesai kelas ini." Bu Risa memerintahkan mereka bertiga untuk menjalani hukuman.

"Tidak ada bantahan dari siapa pun." Tegas Bu Risa.

mereka mengangguk lesu berjalan keluar kelas untuk menuju ke tiang bendera, Aurora hormat dengan benar tapi berbeda dengan mereka berdua malah mengomel sepanjang masa hukuman berlanjut.

Terik matahari sedang menyengat sekali Aurora menyeka keringatnya yang mengalir di dahi turun ke pipi, panas sekali ini kalau tidak pakai sunscreen pasti kulit Aurora akan gelap.

"Emang kurang ajar tuh guru." Cerca Zara kesal.

"Iya padahal udah ngerjain juga kenapa di hukum segala lagi."

Aurora tidak mendengarkan obrolan mereka, Aurora merasa pusing sekali kalian tahu seperti kepala yang berputar tapi mencoba bertahan, Aurora agak sempoyongan tidak bisa menjaga keseimbangan, Zara yang menyadari Aurora akan Jatuh panik dan memanggil manggil nama Aurora tapi Aurora tidak bisa mendengarkan suara Zara, ya Aurora pingsan.

"Woi, Ra bangun anjir kenapa malah pingsan." Panik Zara.

Khanza celingak celinguk mencari bantuan tapi tidak bisa menemukan seseorang yang bisa membantunya, mereka berdua tidak akan kuat menggotong Aurora.

Khanza berbalik melihat Sesosok Gama berlari tergesa di arah rooftop ekpresinya panik, ini pertama kalinya khanza melihat ekspresi Gama selain dingin dan datar, tapi kenapa Gama panik apa yang membuatnya panik dan khawatir seperti itu.

tanpa di sangka Gama berlari ke arah Khanza lebih tepatnya kearah Aurora yang sedang terbaring pingsan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Gama menggendong Aurora sendiri dan berlari kecil menuju UKS, Zara dan Khanza cengo di tempat menyaksikan adegan mendadak dari Gama, saling pandang dengan bingung dan penuh rasa syok tidak percaya apa yang barusan terjadi.

1
Davina Aurora
bagus ka ceritanya😍
aurora: terima kasih☺
total 1 replies
T28J
hadiir kk🙏
aurora: terimakasih😊☺😍
total 1 replies
Wawan
Semangat ✍️
aurora: terimakasih 🤗🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!