NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Malam itu akhirnya benar-benar sunyi setelah perdebatan panjang yang menguras emosi. Tapi di balik kesunyian itu, tidak ada ketenangan yang benar-benar hadir, setiap hari ia harus menghadapi orang-orang rumah yang selalu menghakimi dirinya seolah pelaku, padahal sudah jelas ia adalah korban.

Adinda terbaring di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang terasa begitu asing, meski selama ini menjadi tempat paling nyaman baginya. Matanya memang terpejam, tapi pikirannya masih terjaga, berputar pada semua kejadian yang menyesakkan.

Hingga tanpa ia sadari… tubuhnya perlahan terlelap. Namun tidur itu tidak membawa ketenangan, seolah kegelapan mencoba untuk mengungkap sebuah tabir yang selama ini tersembunyi.

Lalu perlahan… cahaya putih menyilaukan muncul, menusuk kedua matanya. Adinda mengernyit, berusaha melihat. Tubuhnya terasa berat, sulit digerakkan. Ia ingin bangkit… tapi tidak bisa.

Dingin.

Sangat dingin. Ia seperti terbaring di atas sesuatu yang keras. Napasnya terasa sesak. Suara samar mulai terdengar di sekelilingnya.

Bip… bip… bip…

Suara alat medis.

Langkah kaki. Bisikan-bisikan yang tidak jelas, semuanya terekam dalam mimpinya itu.

“Cepat… tekan di sini!”

“Tekanannya turun—”

“Dokter, bagaimana dengan bayinya?”

Deg.

Jantung Adinda berdegup kencang, tubuhnya bergetar begitu saja saat mendengar kata yang terdengar samar itu.

Bayi?

Alisnya berkerut. Ia ingin bertanya, ingin melihat, tapi tubuhnya seperti terkunci. Suara-suara itu semakin jelas, semakin dekat, semakin nyata.

“Fokus dulu ke ibunya!”

“Tidak, kita harus selamatkan keduanya!”

Keduanya?

Napas Adinda mulai memburu. Ada rasa panik yang tiba-tiba menyeruak tanpa ia mengerti asalnya.

Ia mencoba menggerakkan tangan… tapi tetap tidak bisa.

Lalu, tangisan itu terdengar, tangisan seorang bayi yang nyaring. Pecah. Menembus segala suara di ruangan itu.

Jantungnya seperti diremas. Air mata tiba-tiba mengalir dari sudut matanya, tanpa ia tahu kenapa. Dadanya sesak. Ada perasaan asing… tapi begitu kuat.

Seolah ia kehilangan sesuatu yang benar-benar ia miliki.

“Ba… bayi…” lirihnya, hampir tak terdengar.

Namun tiba-tiba— Semua suara itu menghilang, cahaya putih itu kembali padam dan dalam hitungan detik Adinda terbangun.

“Hah—!”

Napasnya memburu. Tubuhnya langsung bangkit dari tempat tidur. Keringat dingin membasahi pelipis hingga lehernya. Tangannya gemetar saat refleks memegang dadanya yang berdegup tidak karuan.

Kamar itu kembali gelap, sunyi tidak siapa pun, bahkan syara akat medis yang terdengar seperti nyata tadi menghilang, begitu pula dengan suara tangisan bayi semua seolah hilang bersamaan saat matanya terbuka.

Tapi… rasa itu masih tertinggal. "Kenapa mimpi tadi serasa nyata," gumamnya pelan.

Adinda mengedarkan pandangannya, mencoba memastikan semuanya hanya mimpi. Namun entah kenapa… hatinya tidak benar-benar percaya.

Perlahan tangannya naik ke perutnya sendiri, cukup lama tatapannya mulai kosong, tapi pikirannya penuh.

“Apa… itu tadi?” bisiknya lirih.

Napasnya masih belum stabil. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tapi bayangan itu terus terulang di kepalanya.

Apa mimpi itu ada kaitannya dengan masalalu yang tak pernah ia ingat sama sekali, atau mimpi itu ada hubungannya dengan tangisan Axel semalam? Entahlah Adinda mencoba menepis semua dugaan itu, tapi entah kenapa. Untuk beberapa alasan yang tidak bisa ia jelaskan.

 Mimpi itu terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi dan yang lebih aneh dadanya terasa sakit. Seperti… pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Tanpa sadar, air matanya kembali jatuh, tapi kali ini. Ia tidak tahu kenapa ia menangis.

  "Ya Allah kenapa ini? Aku tidak bisa mengingat semuanya," ucap Adinda sambil memegangi dadanya yang masih sakit.

🍀🍀🍀🍀

Pagi itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Adinda memutuskan untuk singgah sebentar ke sebuah kafe kecil yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Ia butuh waktu sendiri, sekadar menenangkan pikirannya yang terasa sesak sejak mimpi semalam.

Namun langkahnya terhenti begitu saja saat matanya menangkap sosok yang tidak asing. Seorang pria.Dan di sampingnya… anak kecil itu lagi.

Deg.

Jantung Adinda langsung berdegup kencang. Ia berdiri terpaku beberapa detik, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak itu sedang duduk di kursi kecil, memainkan sesuatu di tangannya, sementara pria itu tampak memperhatikan dengan tatapan lembut.

Sama seperti kemarin. Dan yang berbeda, kali ini anak itu tidak menangis.

Adinda sempat ragu untuk mendekat. Tapi entah dorongan apa yang membuat kakinya melangkah perlahan ke arah mereka. Belum sempat ia benar-benar mendekat, anak itu mengangkat wajahnya.

Dan mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik dunia terasa berhenti. Lalu, tanpa peringatan, anak itu langsung berdiri dari kursinya dan berlari kecil ke arah Adinda.

“Mama!”

Suara itu kembali menggema, kali ini lebih jelas, lebih kuat, tanpa tangisan, hanya penuh keyakinan.

Tubuh Adinda kaku. Ia tidak sempat bereaksi saat tubuh kecil itu langsung memeluk kakinya erat, seolah tidak ingin dilepaskan lagi, entah kenapa saat tubuh kecil itu memeluk ia langsung teringat dengan mimpinya semalam.

“Adek…” lirih Adinda, suaranya bergetar.

Pria itu langsung berdiri, wajahnya terlihat kaget sekaligus tidak nyaman dengan situasi yang kembali terulang.

“Maaf… saya—” ucapnya hendak menjelaskan, tapi kata-katanya terhenti saat melihat ekspresi anaknya yang begitu berbeda.

Kali ini anak itu tidak mengeluarkan air mata juga tidak panik. Yang ada hanya… rasa nyaman, saat memeluk kaki wanita dewasa disampingnya itu.

Anak itu menengadah, menatap Adinda dengan mata berbinar. “Mama… Mama pulang?”

Kalimat itu seperti menghantam sesuatu di dalam dada Adinda. Ada rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan, seperti kehilangan yang tiba-tiba muncul tanpa sebab.

“Adek…” Adinda berusaha melepaskan pelukan itu dengan perlahan, tapi anak itu justru semakin erat memeluknya.

Pria itu akhirnya mendekat, kali ini langkahnya lebih pelan, tidak lagi penuh tuduhan seperti kemarin. “Nak… sini sama Papa,” ucapnya lembut, mencoba menarik anak itu.

Namun anak itu menggeleng kuat. “Enggak! Mau sama Mama!”

Suasana di sekitar mereka mulai menarik perhatian beberapa orang. Adinda mulai merasa tidak nyaman, tapi di saat yang sama, ia juga tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang muncul setiap kali anak itu menyentuhnya.

Pria itu menghela napas panjang, lalu menatap Adinda dengan sorot mata yang kini jauh lebih tenang, meski masih menyimpan banyak pertanyaan. “Maaf… sepertinya dia benar-benar salah mengenali.”

Adinda mengangguk pelan, meski hatinya tidak sepenuhnya setuju. “Tidak apa-apa,” jawabnya singkat.

Dan entah kenapa saat pertemuan yang kedua kalinya ini, hati Adinda benar-benar merasakan ketenangan meskipun ujiannya di dalam rumah sangat-sangat luar biasa.

Bersambung....

1
Nar Sih
semoga semua sgra berahir dan dinda sgra tau di mna ank nya
Sugiharti Rusli
memang dia memiliki kartu As apa sampai bilang begitu, apa dia tahu tentang keberadaan anak kandung si Dinda,,,
Sugiharti Rusli
percaya diri sekali yah si Tiara itu menantang Adinda kalo ini baru permulaaan katanya,,,
Sugiharti Rusli
ko yah dulu Dinda menurut apa kata ibu mertuanya agar dirahasiakan dulu dari si Arya dan ga menaruh curiga sama sekali yah,,,
Ayumarhumah: karena buat kejutan untuk suaminya. makanya dia mau
total 1 replies
Sugiharti Rusli
apa periode Dinda hamil dan melahirkan dulu si Arya nemang masih di luar yah dia
Sugiharti Rusli
berarti si Arya memang sudah dibohongi oleh ibunya sendiri selama ini yah,,,
Suanti
tiara dan sintia jeblos kan ke penjara 🤭
Soraya
mampir thor
Ayumarhumah: iya kak
total 1 replies
Sugiharti Rusli
semoga apapun itu, tidak akan merubah apa yang Dinda miliki dari ayahnya, dan ga mungkin ayahnya tidak tahu siapa Tiara dan ibunya itu,,,
Sugiharti Rusli
apa itu hanya ucapan provokatif atau memang ada rahasia yang Dinda tidak ketahui,,,
Sugiharti Rusli
apa maksud ucapan si Tiara tentang ucapannya siapa dia sebenarnya yah,,,
Sugiharti Rusli
memang ga mungkin Dinda bergerak tanpa persiapan matang sih, meski dia belum tahu akan berhadapan dengan berapa banyak di depan,,,
Sugiharti Rusli
Dinda dan Naya menyiapkan siapa yah di belakang mereka🤔🤔🤔
Yuni Ngsih
Authoooor ceritramu bgs banget bikin yg baca menitikkan air mata karena Adinda tersakiti sm si Arya ,blm tentu Anaknya si Luna itu anaknya si klw menurut keterangan Adinda ....nanti lama" akan muncul karma buat si Arya klw dah di periksa ....Adinda yg sabar ya setelah badai pasti akan muncul pelangi ...semangat
Nar Sih
lanjutt kakk👍
Dew666
🍎🍎🍎
Sugiharti Rusli
kira" apa yang akan Adinda lakukan demi menyelamatkan pak Arbani agar tidak terluka yah, karena baik dia dan Naya mungkin tidak memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Sintia yang tidak ada pertalian darah sama sekali sama Adinda dan keluarganya juga menuntut hak yang sama
Sugiharti Rusli
entah siapa adik tiri si Adinda itu yang sudah sangat jumawa merasa memiliki hak yang terdapat dalam dokumen yang ada pada pak Arbani,,,
Sugiharti Rusli
bahkan dia sudah bisa meraba di mana pak Arbani akan di sekap hanya dengan melihat arus keluar-masuk yang dia cari yah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!