Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.
Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.
Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.
Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?
Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang menuntun
Malam itu, suasana di sekitar mereka terasa seperti di dalam mimpi. Hanum merasa seperti sedang tenggelam dalam kehangatan yang tidak bisa dia jelaskan.
Lebih tepatnya seperti sedang dituntun oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, Hanum bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi, karena semuanya terjadi dengan begitu cepat.
"Selamat datang, bu Elis." Ucap pak Haris saat menyambut kedatangan mereka, "ayo masuk, Bi."
"Terimakasih, pak Haris." Ucap Abi dan bu Elis secara bersamaan.
Bu Elis mulai membuka obrolan saat mereka telah duduk berkumpul di rumah Hanum. "Pak Haris, bu Risa, sebenarnya saya masih belum bisa percaya sama ucapan Abi kemarin malam." Katanya sambil tertawa kecil, mereka sudah saling mengenal sehingga tidak ada kesan canggung saat berbicara.
"Iya, bu Elis." Jawab bu Risa, "saya juga nggak nyangka kalau kita akan jadi besan."
"Mungkin ini yang dinamakan jodoh di tangan Tuhan," imbuh pak Haris. "Yang ditakdirkan akan menemukan jalannya, yang tidak ditakdirkan akan pergi dengan sendirinya." Kata pak Haris yang dibalas tawa dari semuanya.
Nadia yang baru beberapa menit sampai di rumahnya, masih belum paham maksud dari kedatangan Abi dan bu Elis ke rumahnya, karena yang dia tahu kakaknya sudah di lamar oleh Rendra, anaknya pak Karto, kemarin malam saat ia merayakanya bersama Reza.
"Emm, ini maksudnya bagaimana ya, ayah?" tanya Nadia.
Bu Elis kembali tertawa, "Nadia kenapa bingung gitu? Abi sama Hanum akan segera menikah." Kata bu Elis yang membuat Nadia semakin kebingungan.
"Ayah—"
Ucapan Nadia langsung dipotong ayahnya. "Eh, maaf bu Elis. Kebetulan Nadia kemarin malam sedang tidak di rumah, makanya dia tidak tahu saat Abi datang." Kata pak Haris yang dijawab anggukan kepala oleh bu Elis.
"Ooh, begitu?" Katanya.
Bu Risa menekan pundak Nadia, memberi isyarat agar Nadia tidak perlu berkata apa-apa dulu, ia akan menjelaskannya nanti, setelah Abi dan bu Elis pulang.
"Kalau pak Haris dan bu Risa tidak keberatan, bagaimana jika acara pernikahan mereka langsung dilaksanakan besok saja?" Kata bu Elis yang dibalas senyum dan anggukan setuju dari mereka, "eh, belajar dari pengalaman yang telah berlalu, saya tidak ingin menunda niat baik ini, pak Haris." Sambungnya.
"Tunggu, ibu. Kita perlu bertanya sama yang bersangkutan dulu," ucap Abi sambil tersenyum, memandang Hanum yang sedari tadi belum memberi tanggapan.
"Eh, iya. Saking bahagianya, ibu sampai lupa." Kata bu Elis sambil terus tertawa kecil.
"Bagaimana menurut kamu, Num?" tanya Abi yang membuat semua menatap Hanum, menunggu jawaban darinya.
"Jujur, aku belum menyukai kamu, Bi. Tapi aku juga nggak bisa nolak." Ia menghela napas, lalu tersenyum, "entahlah, aku rasa ini bukan sekedar dari janji yang aku buat, tapi seperti ada takdir yang menuntun, dan Insya Allah aku siap." Katanya, yang membuat semua jadi bahagia.
"Berarti aku harus berjuang keras biar kamu suka sama aku?" gurau Abi sambil menatap Hanum.
"Iya." Jawab Hanum yang kembali memicu gelak tawa semua orang yang berada di sana.
"Yang penting kamu ikhlas kan, Num, kalau menikah sama Abi?" tanya bu Elis.
"Insya Allah, ibu." Jawabnya.
"Alhamdulillah...." Ucap semuanya.
Dua jam membicarakan detail hari pernikahan Abi dan Hanum, kedua keluarga mereka akhirnya selesai membahas semua yang perlu dibicarakan. Sebelum Abi dan ibunya pulang, mereka semua saling berpelukan, merasa bahagia setelah mencapai sebuah kesepakatan itu.
* *
Sebulan menikah, Davin dan Nesa masih tidur terpisah dalam satu ruangan, Nesa di kasur sementara Davin di sofa. Sebagai laki-laki normal tentu Davin tak bisa sesabar itu.
"Aku belum siap!" ucap Nesa saat Davin hendak menyentuhnya.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" Tanya Davin, masih sabar.
"Aku tidak tahu." Jawab Nesa datar.
"Tidak tahu? Bagaimana bisa, kamu bilang tidak tahu?" ucap Davin mulai kasar. "Pastinya berapa lama? Enam bulan kah, satu tahun kah, dua, atau selamanya kamu akan tetap begini?"
"Aku sudah bilang, ceraikan saja aku, mas!" kata Nesa dengan suara tenang.
Ucapan Nesa membuat Davin naik pitam. Ia tak dapat menahan diri lagi, seperti api yang membara telah membakar dadanya, ia menoleh ke arah Nesa, lalu tanganya bergerak otomatis mendarat di pipi Nesa. "Begitu mudahnya kamu bermain-main dengan pernikahan?!" ucapnya dengan rahang yang mengeras.
Seketika Nesa menghunus tatapan penuh kebencian terhadap sang suami. "Aku akan mengadu pada ayah," ucapnya seraya memegang pipinya yang terasa panas.
"Iya, silahkan!" Kata Davin dengan tangan mengarah ke pintu, "ceritakan juga, kalau kamu masih belum memberikan kewajibanmu sebagai seorang istri!" teriaknya yang membuat Nesa terdiam.
Davin yang tadinya berhati lembut, tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Davin merasa telah menghancurkan sesuatu yang sangat berharga dari hidupnya, namun ia tak dapat menahan diri, saat mendengar ucapan Nesa yang sudah berulang kali dia katakan selama satu bulan terakhir.
"Aku minta maaf!" ucapnya lalu keluar dari kamar sambil menutup pintu dengan sangat kencang.
Tidak ada yang bisa Nesa lakukan setelah Davin keluar dari kamar dalam keadaan marah, dia hanya menangis pilu meratapi kegagalan hubungannya dengan Abi.
"Abi....! Kenapa kamu nggak berusaha mempertahankan aku?" teriaknya sekuat tenaga. "Apa aku tidak ada artinya buat kamu?" Ia kembali menangis, hingga rasa kantuk membawanya ke alam mimpi.
* *
Fajar tetap menyapa, meski hati yang bersedih masih terjebak dalam kenangan bersama Abi. Saat itu, Nesa bangun dalam keadaan mata yang masih sembab.
Nesa mulai merasa apa salahnya jika dia bersikap baik pada suaminya. ia membersihkan diri, lalu pergi ke dapur untuk memasak.
"Mas, maafkan sikap aku semalam." Ucapnya saat melihat Davin sedang membuat kopi sendiri di dapur, lalu ia mengambil sendok dari tangan Davin, "biar aku yang buat, ya?" ucapnya lembut.
Davin tak menyaut, ia memberikan sendok itu, lalu pergi tanpa mengucap sepatah katapun padanya.
Nesa menyadari, semua itu memang berasal dari kesalahannya sendiri. Nesa berusaha tersenyum meski sebenarnya sulit.
"Kopinya, mas." Katanya yang dibalas diam oleh Davin, "aku ke dapur dulu, ya?"
Ponselnya berdering membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara, lalu Davin kembali acuh.
Mengetahui Yufi yang meneleponnya, Nesa segera ke belakang untuk mengangkat telepon darinya, karena dia tahu Yufi pasti membawa kabar mengenai Abi.
"Hallo!" Lirihnya sambil celingukan, memastikan Davin tidak mendengarnya.
"Gawat, Nes!" kata Yufi dari ujung telepon.
"Gawat kenapa? Emang ada yang lebih gawat dari mahar yang disumbangkan ke panti?" jawabnya.
"Ada!" tegas Yufi, tetangganya Abi yang diperintahkan oleh Nesa, agar memberi informasi tentang Abi setelah ia menikah dengan Davin.
"Apa? Cepat ngomong!"
"Pagi ini juga Abi akan menikah," katanya.
Dunianya terasa berhenti sejenak kala mendengar kabar itu. "Menikah? Sama siapa, Yuf?" tanpa sadar, butiran kristal meleleh ke pipinya, Nesa merasa sudah tidak memiliki kesempatan untuk kembali pada Abi lagi.
"Sama teman sekolahnya, Hanum namanya." Kata Yufi yang membuat Nesa menjatuhkan ponselnya tanpa sadar.
Ia lantas mengambil tasnya di kamar, lalu terburu-buru pamit pada Davin untuk pergi karena ada urusan penting.
"Sebagai seorang suami, aku tidak mengijinkan!" tegas Davin.
Langkahnya terhenti di depan pintu, lalu berbalik arah seraya mengunus tatapan tajam. "Dengan atau tanpa ijin dari mu, aku tetap akan pergi!" kekeh Nesa yang memicu kemarahan Davin lebih dahsyat dari semalam.
...****************...