NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garam yang Menjadi Batu

Bunker Kaliadem bergetar hebat, seolah-olah seluruh bangunan beton ini sedang dikocok di dalam toples raksasa. Debu semen berjatuhan dari langit-langit, menciptakan kabut putih yang menyesakkan napas. Namun, suara yang paling mengerikan bukanlah gemuruh tanah, melainkan suara bip-bip-bip pelan dari alat pengukur tekanan digital di tangan Dr. Hardi.

"Tekanan magma 800 persen di atas normal," gumam Dr. Hardi, matanya terkunci pada layar dengan kekaguman yang sakit. Ia tidak peduli pada Sekar yang tergeletak lumpuh di dekat pintu. Baginya, gadis itu hanyalah serangga yang kebetulan masuk ke laboratorium. "Dua menit lagi, katup pengaman alami gunung ini akan jebol. Dan... bum."

Sekar mencoba menggerakkan kakinya, tapi sia-sia. Racun dari ekor kepiting tadi sudah menjalar sampai ke pinggang. Tubuhnya bagian bawah terasa mati rasa, berat seperti batu kali.

"Kenapa..." suara Sekar parau, kering kerontang. "Kenapa orang Jawa... mau menghancurkan tanahnya sendiri?"

Dr. Hardi menoleh sekilas, menyeringai sinis. "Tanah sendiri? Jangan naif, Nona. Sains tidak punya kewarganegaraan. Selama puluhan tahun aku memperingatkan pemerintah soal potensi energi hidrolik di bawah Merapi, tapi aku ditertawakan. Dibilang klenik. Dibilang gila."

Ia berjalan memutari mesin tulang paus itu, mengusap permukaannya yang licin dan berlendir.

"Tuan Poseidon berbeda. Dia memberiku cetak biru teknologi Atlantis. Dia memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa air bisa mengalahkan api. Setelah letusan ini, Yogyakarta akan rata dengan tanah, dan di atas abunya, kita akan membangun kota baru. Kota maritim di tengah pegunungan."

"Kota mayat," desis Sekar.

Ia menyeret tubuhnya dengan siku. Sakitnya luar biasa, tapi kemarahan di dadanya lebih panas daripada racun itu. Ingatan tentang anak sapi yang mati, tentang petani yang menangis di sawah garam, tentang Eyang Sumi yang muntah darah... semuanya berkumpul menjadi bola api di ulu hatinya.

Kamu butuh wadah,kata Kyai Rajawali.

Sekar menatap kristal biru di tengah mesin itu. Kristal itu berdenyut seirama dengan pompa jantung. Itu wadahnya. Wadah energi laut yang dipaksakan masuk ke gunung.

Jika wadah itu retak...

"Jangan bergerak," Dr. Hardi tiba-tiba berbalik, mengacukan sebuah alat berbentuk pistol suar ke arah Sekar. "Aku tidak suka kekerasan, tapi aku tidak akan ragu menembakkan flare ini ke wajahmu."

Sekar berhenti merangkak. Jaraknya masih lima meter dari mesin. Terlalu jauh.

"Bapak bilang... air bisa mengalahkan api?" tanya Sekar pelan, mencoba mengulur waktu. Tangannya yang tersembunyi di balik tubuhnya meraba lantai beton yang dingin. Cincin di jarinya bergetar lemah.

"Itu fakta fisika dasar, Nona. Volume air laut yang dipompa mesin ini cukup untuk memadamkan inti magma dan mengubahnya menjadi uap eksplosif," jawab Dr. Hardi sombong.

"Tapi Bapak lupa satu hal," Sekar memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa kesadarannya ke telapak tangan yang menempel di lantai. Ia tidak mencoba memanggil kekuatan cincin. Ia mencoba memanggil apa yang ada di bawah lantai itu.

"Apa?" tanya Hardi meremehkan.

"Bapak sedang bertamu di rumah orang tua yang gampang tersinggung."

Sekar membisikkan satu kata ke lantai beton itu. Bukan mantra, bukan doa bahasa Arab atau Sansekerta. Hanya sebuah pengaduan anak kecil kepada bapaknya.

"Bapak... gatel."

Cincin batu hijau di jari Sekar menyala. Bukan terang benderang, tapi gelap dan pekat seperti lumut hutan tua. Sinyal itu merambat turun, menembus beton bunker setebal dua meter, menembus lapisan tanah, menembus batuan cadas, langsung menuju dapur magma yang sedang "diperkosa" oleh air laut.

Gunung Merapi mendengar.

Selama ini Merapi diam karena bingung. Ada benda asing yang menyuntikkan air, tapi ia tidak tahu di mana lokasinya karena mesin itu menggunakan teknologi Atlantis yang menyamarkan jejak. Tapi sinyal dari Sekar memberinya koordinat pasti.

Di sini.

Tiba-tiba, getaran di dalam bunker berhenti total.

Hening.

Dr. Hardi mengerutkan kening. Ia mengetuk-ngetuk alat pengukurnya. "Lho? Kok tekanannya turun drastis? Rusak?"

Sekar tersenyum tipis, meski darah mulai menetes dari hidungnya. "Bukan turun, Pak. Dia lagi ngambil napas."

BLAARRR!

Lantai beton tepat di bawah mesin tulang paus itu merekah. Bukan meledak keluar, tapi mencengkeram ke atas. Sebuah tangan raksasa yang terbuat dari magma cair menembus beton, langsung menggenggam kristal biru itu.

Panasnya instan. Suhu ruangan melonjak drastis. Jas lab Dr. Hardi mulai berasap.

"TIDAK!" teriak Hardi. Ia berlari ke arah mesin, mencoba menyelamatkan kristal itu. "Jangan! Itu mahakarya!"

"Jangan sentuh!" teriak Sekar.

Tapi kegilaan sudah menguasai ilmuwan itu. Dr. Hardi nekat mengulurkan tangannya ke dalam genggaman magma itu untuk menarik kristal biru tersebut.

Saat kulit manusia bertemu dengan konflik dua energi purba (Api Merapi dan Air Poseidon), reaksinya mengerikan.

Kristal itu retak. Energi laut yang terkompresi di dalamnya meledak keluar, tapi terperangkap dalam genggaman magma.

Terjadilah flash-petrification.

Cahaya putih menyilaukan memenuhi ruangan. Sekar menutupi wajahnya dengan lengan. Terdengar suara jeritan Dr. Hardi yang terpotong mendadak, digantikan oleh suara desis uap yang nyaring.

Saat cahaya itu pudar, Sekar memberanikan diri membuka mata.

Mesin tulang paus itu hancur lebur. Pipa-pipa organiknya layu seperti tanaman mati. Kristal birunya sudah menjadi debu.

Dan Dr. Hardi...

Dia masih berdiri di sana. Tangannya masih terulur ke depan. Tapi dia bukan lagi manusia daging dan darah.

Seluruh tubuhnya telah berubah menjadi patung garam batu yang keras. Wajahnya membeku dalam ekspresi ketakutan abadi. Dia telah menjadi monumen keserakahannya sendiri, diawetkan oleh campuran uap garam dan panas vulkanik.

Lantai bunker kembali tertutup, menyisakan bekas hangus hitam. Merapi sudah "menggaruk" rasa gatalnya, dan sekarang kembali tenang.

Sekar menghela napas panjang, lalu terbatuk hebat. Darah segar menyembur dari mulutnya.

Adrenalin habis. Rasa sakit akibat racun kini menyerang dengan kekuatan penuh. Pandangannya mulai menyempit. Gelap.

Ia sendirian di dalam bunker bersama patung mayat. Misinya selesai. Letusan berhasil digagalkan. Tapi ia tidak punya tenaga untuk keluar.

"Eyang..." bisik Sekar lirih. "Sekar ngantuk..."

Ia terkulai di lantai dingin. Kesadarannya melayang.

Samar-samar, di ambang batas antara sadar dan pingsan, Sekar mendengar suara langkah kaki. Bukan langkah kaki manusia, bukan pula monster. Langkah kaki itu ringan, disertai bunyi kelinting lonceng kecil yang manis.

Sebuah tangan yang halus dan dingin menyentuh keningnya.

"Anak bodoh," suara wanita itu terdengar lembut tapi berwibawa. "Siapa suruh kamu main api sendirian?"

Sekar ingin membuka mata, ingin melihat siapa penolongnya, tapi kelopak matanya terlalu berat. Hal terakhir yang ia rasakan adalah sensasi sejuk yang menjalar dari kening ke seluruh tubuhnya, menetralkan rasa panas racun di kakinya.

Bau di ruangan itu berubah. Bau belerang dan garam hilang, digantikan oleh wangi bunga sedap malam yang sangat kuat.

Wangi Ratu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!