Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya prihatin, bukan cinta
"Permisi dokter!" Sekretarisnya di rumah sakit masuk ke ruangan Elgard yang baru saja menyelesaikan operasinya sejak empat jam yang lalu.
"Ada apa?" Elgard masih bersandar dengan kepela menengadah karena tengkuknya terasa begitu lelah.
"Baru saja Nona Bianca datang memberikan ini!" Sekretarisnya yang bernama Willy itu meletakkan amplop berwarna putih di meja Elgard.
Sontak saja Elgard langsung duduk tegak menatap amplop di hadapannya.
"Apa ini?"
"Nona Bianca Bilang itu adalah uang untuk mencicil hutangnya. Tadi saya sudah meminta Nona Bianca untuk menyerahkan sendiri pada dokter Elgard, tapi dia tidak mau!"
"Sudah dari tadi?"
"Baru saja dok, mungkin sekarang masih ada di depan!"
Elgard menyambar amplop tadi kemudian berlari keluar ruangan untuk mencari Bianca. Entah apa yang akan dia lakukan. Tapi rasanya, mendapatkan uang yang tak seberapa dari Bianca itu membuatnya kesal, dia kecewa sama seperti saat Bianca malah membuang makanan pemberiannya beberapa hari yang lalu.
Dokter tampan dengan tubuh tinggi itu melihat ke seluruh lobi dan tempat parkir, namun dia sama sekali tak melihat keberadaan Bianca.
Amplop putih yang ada di tangannya saat ini terlihat tak berbentuk karena diremas dengan begitu kuat oleh Elgard.
Dengan perasaan yang begitu kesal, dia mencoba menghubungi nomor ponsel Bianca yang sebenarnya sudah ia dapatkan sejak penyelidikannya waktu itu.
Panggilannya tersambung, namun tak kunjung diangat oleh Bianca. Elgard menunggu beberapa saat sembari terus melihat ke sekitarnya siapa tau bisa menemukan Bianca.
"Halo, maaf ini dengan siapa?"
Elgard sangat mengenali suara itu adalah milik Bianca.
"Kau dimana Bee?!" Tanya Elgard dengan terus terang, namun Bianca tak kunjung menjawab.
"Kalau kau mau mengembalikan uangmu, minimal kau harus bertemu dengan orangnya secara langsung! Bukan seperti ini!"
"Yang penting uangnya sudah sampai ke tangan anda Tuan. Maaf hanya bisa mencicil dengan jumlah sekecil itu. Lain kali saya akan menambahnya lagi!"
"Persetan dengan uang ini Bee. Aku tidak pernah memintamu mengembalikannya! Aku tulus membantumu!"
"Jaman sekarang kata tulus di dunia ini Tuan!"
"Tapi aku.."
Tutt....
"Halo? Bee!!"
"Sial!!" Umpat Elgard karena Bianca menutup teleponnya begitu saja, dan yang membuat Elgard semakin marah adalah, Bianca langsung memblokir nomor ponselnya.
🌻🌻🌻
"Kenapa wajahmu kusut seperti itu?" Kevin melihat sahabatnya yang baru datang justru langsung menyuguhkan wajahnya yang tidak mengenakkan.
"Kau tau tentang kabar Bianca selama ini?"
"Bianca mantan tunanganmu itu?"
"Siapa lagi?"
Elgard meneguk minuman yang baru saja dituangkan oleh Kevin.
"Tidak tau. Dulu setelah kasus korupsi yang dilakukan Ayahnya, dia dikeluarkan dari Universitas. Setelah itu aku tidak tau lagi!"
"Apa? Jadi dia dikeluarkan?" Satu lagi informasi yang tidak lengkap dari orang suruhannya untuk menyelidiki tentang Bianca waktu itu.
Kalau seperti itu, pantas saja Bianca bekerja serabutan karena dia tidak menyelesaikan kuliahnya.
"Oh pantas kau tidak tau, waktu itu kau sudah telanjur pergi ke luar negeri. Malang sekali nasibnya, semua orang di sekolah membullynya. Dia yang jadi sasaran kemarahan semua orang atas kesalahan yang dilakukan Ayahnya! Dia bahkan sampai dilempari telur busuk waktu itu!"
"Kalau begitu kenapa kau tidak membantunya hah?!!" Tiba-tiba dada Elgard terasa begitu perih saat mendengar Bianca mendapatkan perlakuan seperti itu dari teman-temannya.
"Aku sudah membantunya, bahkan aku menawarkan padanya untuk pindah ke Universitas lain dan aku akan membantunya masuk, tapi dia yang tidak mau sama sekali. Aku justru hilang kontak dengannya sampai saat ini. Tapi ngomong-ngomong kenapa kau tiba-tiba bertanya tentangnya? Kau merindukannya?" Kevin menatap Elgard penuh curiga.
"Tapi memang wajar saja kalau kau merindukannya. Meski kau dulu tidak mencintainya, tapi jujur dia itu wanita yang cantik dan menyenangkan. Andai saja dia dulu bukan tunanganmu, pasti aku akan mengejarnya!" Lanjut Kevin sembari membayangkan wajah Bianca yang masih ada dalam ingatannya.
"Kau!!!" Elgard mendelik tak terima.
"Kenapa? Ada yang salah?" Kevin tak takut sama sekali, dia malah heran dengan sikap Elgard yang seolah tak terima itu.
"Huhhh..." Elgard membuang napasnya kasar sembari menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Aku bertemu Bianca beberapa waktu yang lalu!"
"Apa? Lalu bagaimana kabarnya?" Kevin begitu penasaran.
"Dia hampir mengakhiri hidupnya saat pertama kali aku bertemu dengannya!"
"K-kenapa bisa?" Kevin terkejut bukan main. Pasalnya dulu Bianca adalah wanita yang begitu ceria.
Elgard menceritakan semuanya pada Kevin tentang masalah yang dialami Bianca, keadaan keluarganya, Ibunya yang baru saja meninggal, juga pekerjaan Bianca selama ini.
"Aku tidak menyangka kalau seorang putri bisa jadi mengenaskan seperti itu!" Kevin lemas sendiri mendengar semua cerita tentang Bianca.
"Jadi, wajahmu masam seperti itu karena sekarang Bianca tidak mau berhubungan lagi denganmu dalam hal apapun?"
"Hmm, dia benar-benar menjaga jarak denganku. Kalau bukan karena terpaksa untuk mengkremasikan Ibunya, dia tidak akan menerima bantuanku. Bahkan dia menganggap bantuan dariku adalah hutang dan dia benar-benar mencicilnya!" Elgard melempar amplop dari Bianca tadi ke atas meja.
Kevin memungutnya dan melihat isi dari dalam amplop itu yang benar-benar tak seberapa. Bahkan harga minuman yang baru saja ia dan Elgard minum itu lebih mahal dari pada isi amplop itu.
"Lalu kenapa kalau dia menang tidak mau berhubungan denganmu lagi? Perjodohan kalian sudah berakhir, kalian juga awalnya tidak berteman, untuk apa juga dia dekat denganmu? Mungkin dia juga sakit hari karena dulu kau meninggalkannya di saat dia sedang terpuruk, makanya dia enggan berhubungan denganmu dalam hal apapun!"
Elgard sangat tidak puas dengan jawaban Kevin. Sebagai sahabat, harusnya Kevin mendukung atau minimal memberikan jawaban yang bisa memuaskan hatinya.
"Jangan bilang kau menyukainya?!" Selidik Kevin.
"Jangan asal bicara!" Elgard memalingkan wajahnya.
"Tapi, aku merasa kau seperti tidak terima kalau Bianca menjaga jarak darimu. Sikapmu itu seperti orang yang jatuh cinta tapi tidak sadar dengan perasaannya sendiri!"
"Aku hanya prihatin dengan keadaannya saat ini!" Bantah Elgard yang meyakini perasaannya sendiri.
"Benar juga. Mungkin kau memang iba saja padanya. Lagi pula kau juga sudah punya Meriana. Jadi masalah Bianca biar aku yang menanganinya!"
"Maksudmu?" Elgard mencium niat terselubung dari ucapan Kevin tadi.
"Bisa kau beri tau dimana Bianca tinggal saat ini, atau nomor ponselnya kalau ada, aku berniat mengejarnya karena sekarang dia bukan siapa-siapamu lagi!"
"Kau...!!" Elgard sudah mencarik kemeja yang dikenakan Kevin.
"Permisi Tuan!"
Tapi setelah mendengar suara itu, tangan Elgard langsung terlepas. Kedua pria itu langsung menatap ke arah wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Bianca!" Gumam Elgard dan Kevin bersamaan.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur