" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.
ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Kemarahan Ana
Dering telfon membelah keheningan malam , Ana menatap kosong layar handphone- nya. Nama suami dengan emoticon love seolah menjadi momok paling menakutkan untuknya saat ini. Entah mengapa hanya melihat kontak nomornya saja jantung Ana seolah ingin pecah.
Ana menarik nafas berat sebelum layar hanphone nya kembali menampilkan panggilan untuk kedua kali, sedikit ragu ia menggeser tombol hijau di layar handphone sebelum menempelkannya ke telinga kiri.
Belum sempat ia menyapa hardikan dari sebrang telefon nyaris memecahkan gendang
Telinganya.
'' Kamu kemana saja !. suara Roy yang lantang bak petasan menyambar keras gendang telinga .
Ana menjauhkan sedikit handphonenya dari telinga kiri sebelum menjawab dengan
Suara sedikit terbata, '' Mm ..maaf mas, tadi sibuk ngurus nenek.''
'' Halah alasan aja kamu ini, ''nenek .... nenek ....!! bilang aja kamu malas angkat telefon ku ! "Iya kan!. Hardik Roy.
Ana kembali menjauhkan handphone nya dari telinga, suara Roy tidak hanya menyakiti
telinga nya tapi juga hatinya.
''Aku kan di sini kerja mas bukan main.'' sahut Ana dengan suara tegas. hati nya sudah benar-benar lelah kali ini.
Roy nampak mendengus kesal di sebrang sana,'' MAKSUT MU APA !. KAU MENYINDIR KU !.
''Kalau mas merasa begitu ya terserah saja.'' jawab Ana spontan.
Terdengar tawa remeh dari Roy, ''Jadi sekarang kamu sudah berani ya, An mentang-mentang kamu sudah bisa cari duit sudah mulai berani ngelawan kamu!.
Ana menghela nafas berat, '' heh. sudahlah mas, kalo mas telfon cuma mau ngajak ribut mending nggak usah telfon dulu. aku capek mau istirahat.''
''Oh ! Jadi gini mau kamu sekarang An. beberapa hari ini kamu alasan ini itu, jadi cuma mau menghindar dari aku !. hardik Roy
''Bukan menghindar mas, tapi ....''
''TAPI APA !. sahut Roy. "Cuma gara-gara aku minta bantuan 1 juta per bulan aja, kamu
langsung menghindari aku kaya gini An. Gitu waktu awal mau berangkat kamu bilang gaji aku yang pegang, nyesel aku sudah kasih izin kamu!. lanjut Roy masih dengan suaranya yang sekeras petasan.
Ana hanya menghela nafas berat, dia sudah tidak ada kekuatan untuk menjawab semua umpatan Roy.
"Sekarang aku mau tanya, An! lanjut Roy , suara nya sudah sedikit memelan meski kilat amarah masih jelas terdengar. "Kemana hasil kerja mu selama beberapa bulan ini !.
"Ya untuk kebutuhan anak-anak mas, untuk sekolah Danu dan Raka, susu dan diapers,
Belum lagi bulan kemarin aku bantu mas bayar utang tempat bulek Ratih 5 juta. Masak mas masih tanya duit hasil kemana."
''Apa yaa habis semua!. Sentak Roy kembali .
Ana kembali menghela nafas panjang, kepala nya benar-benar pening saat ini.
''Mas kebutuhan anak-anak to nggak sedikit, belu ...m'.
"YA KALO SEKIRANYA DUIT NGGAK CUKUP NGGAK USAH NGASIH ANAK-ANAK !. bentak Roy.
Ana tersulut emosi, ia tidak bisa kalau sudah menyangkut tentang anak-anak.
Dengan suara tinggi Ana menjawab," Terus kalo aku nggak ngasih anak-anak, buat makan mereka apa! " buat sekolah !. Buat beli susu!. Teriak Ana dengan nafas tersengal.
"Nggak usah sekolah ! . " makan sama susu biar minta tempat bude nya yang sok kaya itu!. Jawab Roy terdengar santai tapi menusuk di hati Ana.
"Aneh kamu mas!.
"Kok aku yang aneh. Kamu itu yang aneh, tau nggak mampu ngapain di paksa!. sela Roy.
Ucapan Roy kali ini sudah benar-benar di luar batas kesabaran Ana .
Ia mati-matian berjuang untuk anak-anaknya, Roy dengan seenak jidat bicara begitu, hanya karena keinginannya tidak terpenuhi.
"Enak bener kamu ngomong nya mas! Aku mati-matian kerja buat anak, kamu bilang aku nggak mampu!"
Roy kembali tertawa remeh, ''Oh, jadi bener kan selama ini,niat kamu kerja itu cuma buat anak-anak kamu, bukan buat kita!. Pantes selama ini aku tanya tentang duit kamu selalu berkelit, ternyata begini kamu di belakang aku!. Oceh Roy.
"Sudah lah mas, aku capek ngomong sama kamu!. '' ucap Ana seraya memutus panggilan secara sepihak.
Kepala nya sudah benar-benar pening sekarang. Ana masih dalam masa potongan, jadi gaji yang ia terima belum seutuhnya, tapi Roy selalu mengira gaji Ana sudah full 10 juta, seperti kebanyakan orang menilai gaji Taiwan. Kenyataannya gaji full setelah potongan pun tak sampai 10 juta belum lagi untuk kebutuhan pribadinya.
Ana sudah menjelaskan perihal gaji nya, tapi Roy tidak pernah mau dengar, yang di pikirannya hanya Ana punya gaji dan dia punya hak atas gaji itu. Egois sekali.
Handphone Ana kembali berdering tanpa henti, dan masih nama yang sama.
Ana sengaja mengabaikan sebelum puluhan pesan masuk menyerbu.
''ANGKAT TELEPON NYA !!!!
''MAU KAMU APA !!!!!!!
''SUDAH BERANI KAMU YA !!!!
''ANGKAT !!!!!!
''KALO KAMU NGGAK ANGKAT AIDAR AKU BAWA PERGI MALAM INI JUGA !!!!
''ANGKATTTTTT !!!!!!!!
Jantung Ana berdetak hebat begitu membaca nama Aidar dalam pesan kemarahan Roy. Laki-laki itu tidak pernah main-main kalau sedang marah.
bayangan si kecil Aidar menari di otak, Ana tidak Aidar terkena imbas atas emosi nya. ragu dia kembali menggeser tombol yang sudah menyala entah yang keberapa.
''KAMU SUDAH BERANI YA, AN. MEMATIKAN TELEPON KU ! Sambut Roy masih dengan suara keras bak petasan.
Ana hanya diam , tidak ada keinginan untuk menjawab atau merespon laki-laki itu, membuat laki-laki itu semakian marah karena merasa di sepelekan .
''MAU KAMU APA!.
''JAWAB !.
''Mau aku kamu ngerti in aku, aku di sini juga capek. kamu setiap telfon selalu bahas uang uang dan uang, nggak pernah tanya keadaan ku.'' oceh Ana kemudian. Bodoh.
''Apa aku kurang ngerti kamu selama ini An, kamu biang uang mu udah habis buat ini itu aku diam. Aku cuma minta bantu 1 juta aja tiap bulan apa berat lo, dengan gaji kamu yang 10 juta itu.'' cerca Roy.
Ana menghela nafas berat, '' Mas, aku itu masih potongan PT gaji ku belum full semua,
aku udah ngomong berkali-kali sama kamu.'' jelas Ana kembali, berharap laki-laki itu mengerti. tapi jawaban Roy berikut nya semakin membuat pening.
''Sekarang aku tanya, An misal gaji mu sudah full apa kamu masih keberatan ngasih aku 1 juta perbulan. Cuma 1 juta aku nggak minta banyak, sisa nya terserah kamu mau buat apa.'' ucap Roy ringan.
Ana tertawa masam, ''cuma 1 juta" ucapan singkat itu menari di otak Ana, seolah meledek tanpa dosa. '' Nggak bisa!. jawab Ana tegas. ''Kalau kamu mau aku bantu 500ribu.''
Roy berbalik tertawa,'' 500 ribu dapat apa !. ''Belum untuk kontrakan, untuk makan , rokok, kalau cuma 500 ribu mending nggak usah!.
''Ya sudah!. tegas Ana kembali . ''Sekarang aku ganti tanya sama kamu, mas. Motor kemana! Terus kenapa kamu pindah rumah, bukannya kontrakan waktu aku mau berangkat sudah aku bayar setahun !. tanya Ana beruntun .
''Ngapa kamu tanya-tanya! jawab Roy mencoba berkelit dari kesalahan nya.
''Ya aku mau tau lah. Itu motor aku yang beli sebelum nikah sama kamu. kontrakan juga aku yang bayar pake duit ku . masa aku nggak boleh tau !. ucap Ana ketus.
''Oh. Kamu sekarang udah mulai perhitungan ya, An sama aku!. kelit Roy kembali mencoba berbalik menyalahkan Ana.
Ana sudah ingin menyerah, pembicaraan yang hanya lewat kabel itu seolah bom yang siap meledak di telinganya. Tapi Ana ingin menuntaskan nya malam ini. Biar saja jika bom itu benar-benar meledak, setidak nya ia sudah mendapat jawaban pasti untuk alasan nya, mengambil langkah berikut nya.
''Bukan perhitungan. Aku cuma mau tau yang penting motor, kemana motor ku !.
tegas Ana .
'' Sudah aku jual. waktu pertama kamu tinggal aku kesepian, aku judi buat cari hiburan.
ngapa !.sahut Roy santai.
Ana mengelus dadanya yang nyaris pecah, '' Motor itu mau buat sekolah Danu mas !.
Kok bisa seenaknya kamu jual." Protes Ana.
''Halah. Yang kamu pikirin cuma anak kamu aja meraka bisa minta sama bapak kandung nya!. '' Bapak kandung nya suruh tanggung jawab , jangan kita aja yang
di susahkan kaya gini !. Bentak Roy
''Mas! itu anak aku ...."
Roy kembali menaikan suara nya,'' TERUS NGAPA KALO ITU ANAK KAMU. KAMU PIKIR SELAMA INI AKU UDAH BISA NERIMA. AKU MASIH MUDA ANA, NIKAH LANGSUNG DAPAT ANAK 2 . KAMU PIKIR OTAK KU MAMPU !.
Ana habis kesabaran, ternyata selama ini Roy hanya pura-pura menerima Danu dan Raka. dia tidak pernah menutupi perihal status nya saat awal akan menikah. serta tanggung jawab besar yang harus mereka pikul bersama. Tapi Roy pada saat itu menyanggupi, malah dengan terang-terangan mengambil hati anak-anak nya agar Ana mau menerima dia.
Tapi malam ini semua terbuka hanya karena uang 1 juta. Ana sudah tidak mampu menahan di tutup nya kembali panggilan itu secara sepihak. Tak diindahkan nya panggilan-panggilan susulan serta pesan-pesan ancaman lain nya.
Ana sudah meyakin kan hati menutup semua nya malam ini. Menutup semua kepedihan yang selama ini ia pendam . keputusan besar yang selama ini di pertimbangkan dia yakinkan malam ini tidak perduli apa yang terjadi esok hari, keputusan nya akan tetap sama .
Melepas Roy untuk selama-lamanya,
____Bersambung.
Jauh kan hamba dari laki-laki model Roy yaa tuhannn .......
__IbuAnna.