Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambil Cuti
Reflek aku memandang ke arahnya. Kulihat lagi postur laki-laki di depanku ini. Aku ingin tahu apa ada yang salah. Walau pun aku tahu kalau perselingkuhan tidak didasari dengan penampilan fisik seseorang, tapi secara manusiawi aku menilai sosoknya.
Dia tampan, indo, dengan tatapan matanya yang sayu dan lembut, hidung mancungnya yang lurus, matanya yang berwarna abu-abu khas eropa. Postur tubuhnya sedikit kurus namun proporsional. Tidak terlalu berotot, dengan kaki jenjang, dan jemari yang panjang. Kulitnya bahkan lebih putih dariku. Urat hijau bersembulan di sepanjang lengannya. Rambutnya yang kecoklatan makin menambah daya tariknya.
Posisi pria tertampan di kantorku memang masih dipegang Pak Dimas untuk saat ini, haha. Tapi yang namanya tampilan fisik, sifatnya subjektif, ditentukan selera orang masing-masing.
Aku pribadi lebih suka yang perangainya agak sombong dan misterius seperti Pak Felix ini, dibandingkan yang supel dan ceria seperti Pak Dimas. Kalau masalah kecerdasan, mereka sama-sama pintar dan kerjasama mereka dapat bersinergi satu dengan yang lain untuk kepentingan perusahaan.
Jelas saja… Pak Felix dan Pak Dimas sama-sama pekerja keras. Setidaknya mereka mau berusaha menghidupi keluarga mereka. Mereka inilah pria sejati yang sebenarnya. Jelas jauh nilainya kalau dibandingkan dengan laki-laki yang kerjanya main game di rumah, dimanjakan istri, tapi malah selingkuh.
Pak Felix kalau dilahirkan dalam keadaan miskin pun, kupikir juga akan cepat kaya. Lihat saja otak bisnisnya jalan terus begini.
Kalau Tommy adalah pengguna game, setiap hari ia main game perang yang tujuannya adalah kerjasama menuju kemenangan. Sambil berkhayal suatu saat akan menjadi pria hebat menyandang senjata menembaki musuh seperti tokoh dalam game, kalau mati bisa direwind lagi.
Kalau jenis seperti Pak Felix ini…
Coba kutanya, "Pak Felix, pernah main game online?"
"Saya Direktur Beaufort, Jelas pernah,"
Ah iya aku lupa. Beaufort kan memiliki perusahaan gaming.
"Bapak suka main game?"
"Kalau memainkan saya kurang suka. Tapi kalau mencari celah dalam game, itu pekerjaan saya. Kritikus, hehe,"
Iya, itu bedanya dia dan Tommy. Tommy tipikal pengguna, Pak Felix tipikal penyedia jasa. Lagi-lagi bisnis.
"Game Beaufort lebih banyak battle royale (game perang) karena tuntutan pasar. Mungkin makin banyak orang yang merasa stress dengan dunia real jadi mereka mengalihkan pikiran dengan adrenalin," desis Pak Felix sambil menyangga dagunya.
Aku mengangguk membenarkan teori itu. Karena memang itulah yang terjadi. Mau perang di dunia nyata takut. Mau hidup santai tak bisa karena banyak aturan. Ya dunia halu menjadi jalan untuk lari.
"Mirisnya, semakin sadis metode perangnya, dengan grafik yang detail, malah semakin laku. Sisi gelap manusia," Pak Felix tersenyum sinis.
"Kegemaran mantan saya tuh," desisku.
"Coba dia tenang–tenang saja di rumah, masih bisa main game itu. Sekarang kan malah terancam hukuman penjara. Saya minta pengacara mengajukan tuntutan kurungan minimal lima tahun loh untuk mantan kamu. Kalau si pelakor karena dia adalah pelaku ya 10 tahun lah,"
Aku menarik nafas.
Ada perasaan tidak tega dalam hatiku. Bagaimanapun dia pernah mengisi relung hidupku. Bohong kalau kubilang aku sudah tidak sayang lagi padanya. Rasa itu jelas masih tersisa.
Kejadian kemarin itu tidak pernah kusangka. Teganya dia berbuat begitu. Bagaimana kalau aku terkena air keras itu? Inikah pembalasan yang kudapat karena-
"Chintya,"
Pak Felix memanggilku. Aku agak tersentak karena tangannya sudah berada di atas tanganku. Aku seketika tersadar kembali ke realita. Kejadian kemarin ternyata sangat berbekas di hatiku.
Aku tak salah dengar kan? Dia memanggil namaku, bukan Bu Cin lagi?
"Penjahat ya penjahat, jangan ada rasa tidak tega. Mereka yang berbuat duluan, kamu hanya membela diri,"
Kenapa…
Kenapa ia tahu isi hatiku?
Apa karena ia lebih dulu mengalami kejadian yang sama persis?
"Kalau kamu tidak tega dan lebih sayang dia daripada dirimu, mereka tidak akan baik padamu kok. Justru mereka jadi semakin jahat. Mereka akan lagi dan lagi berkhianat," kata Pak Felix, "Semua tindakanmu akan jadi salah di mata mereka walau pun niat kamu baik, sekalian saja kamu bikin peran antagonis biar mereka minta ampun!"
"Hehe…" aku lagi-lagi tak tahan untuk tidak tertawa. Aku entah kenapa suka kalau mendengarnya menggebu-gebu seperti ini.
"Atau… Ada urusan yang masih menggantung di antara kalian?" tanyanya lagi.
Aku menggigit bibirku.
Sebenarnya bukan itu masalahnya. Semua urusan sudah selesai bagiku.
Tapi sekarang timbul masalah baru.
"Saya kesepian. Tidak ada teman untuk berkeluh kesah setiap malam. Kalau pulang kerja, saya sendirian. Hidup saya seakan tanpa tujuan. Menangis Juga sendirian, tidak ada lagi bahu untuk bersandar. Kalau malam saya mimpi buruk, saya semakin ketakutan," aku menjeda kalimatku untuk menarik nafas. Kurasakan nada suaraku gemetar.
"Apakah… seharusnya Saya pelihara kucing aja Pak, buat curhat?" tanyaku selanjutnya. Aku memang kepikiran ini dari dulu karena aku Pet Lovers tapi takut anjing.
"Hah?"
"Ya biar ada yang dipeluk gitu,"
"Ngapain sih pelihara kucing? Kan ada saya,"
"Bapak kan nggak bisa dipeluk,"
"Siapa bilang?"
Sepertinya obrolan ini jadi semakin gawat.
"Mulai sekarang kamu bebas curhat apa pun dengan saya. Saya janji nggak akan sakit hati. Saya juga akan begitu terhadap kamu. Kita apa adanya saja. Mulai sekarang kita teman," begitu katanya.
"Teman peluk-pelukan," tanyaku memancing.
"... Eum… Tapi mesra." sambungnya.
"Hilih." balasku. “Apa sih untungnya temenan dengan saya Pak? Saya bukan jenis wanita yang membawa cuan loh Pak, malah saya bisa jadi cenderung menyusahkan. Ini saja belum jadi teman saya malah sudah menggerus dompet bapak,”
“Yah, masalahnya...” ia mengelus belakang lehernya dengan jengah, “Kamu itu bikin saya kepikiran terus,”
“Kepikiran bagaimana Pak?”
“Setiap malam sejak kita ketemu di pengadilan agama itu, yang saya ingat kalau saya lagi kerja, lagi makan, lagi nonton, lagi mandi, bahkan pas lagi tidur, cuma bayangan kalau kamu itu lagi menderita di tempat lain, lagi diteror sama pelakor, atau lagi dimintain duit sama mantan. Otomatis saya memosisikan diri saya yang dulu, saat saya mengalami hal itu, ke kamu.”
“Ih, bapak ini... saya tidak selemah itu loh,”
“Ya kan waktu itu saya belum tahu kalau kamu setegar ini,”
Aku menyeringai.
Tapi sekali lagi dia sebenarnya betul.
Aku sebenarnya tidak setegar ini, tidak semandiri yang sering kutunjukkan di depan orang.
Aku juga ingin merajuk, manja, nangis sepuasnya, sedikit egois.
Aku hanya wanita yang ingin dimengerti. Seperti lagu jadul yang sarat makna itu.
“Pak Felix,”
“Yak?” tanyanya.
“Saya besok cuti ya,”
“Mau ngapain cuti segala? Besok kan Akad kredit,”
“Besokkan gajian Pak, saya mau habisin gaji saya untuk makan sepuasnya. Selama ini dalam seminggu, saya puasa 5 hari untuk berhemat. Pingin aja gitu makan sepuasnya-“
“Saya temani ya, biar Akad diwakili Dimas aja.” Begitu potongnya.
“Jemput saya ya, tapi saya pinginnya pergi naik motor, hehe,”
“Hah? Kenapa kamu pingin naik motor?!”
“Saya kurang suka AC mobil Pak,”
“Polusi Jakarta udah balik lagi ke mode parah loh,”
“Jakarta macet Pak, Naik motor kan bisa nyalip-nyalip,”
“Motor saya Royal Enfield, nggak bisa nyalip-nyalip,”
“Ya udah kita ketemuan aja di Mall,”
“Saya jemput, nanti saya pinjam matic ke... entah siapa lah. Shareloc ya.”
“Heheheheh,” segitunya dia keukeuh mengantarku jalan-jalan. Coba kita lihat besok.
**
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor