Zoya menikah bukan atas dasar cinta. Ia menerima perjodohan yang dilangsungkan orang tuanya.
Namun pria yang akan menjadi suaminya selingkuh tepat di hari pernikahannya yang telah sah secara agama dan hukum, ia melihat seorang wanita cantik dan seksi sedang bercumbu mesra dengan suaminya di gedung pernikahannya, tepat bawah pohon Sakura, Jepang
Meski belum ada ikatan cinta namun hatinya terasa perih merasa pernikahannya dikhianati.
Akankah Zoya dapat merebut hati suaminya, atau mereka harus bercerai saat itu juga ataukan mereka akan berbagi suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bingung Judul
Aku membuka mataku saat ku merasa pandangan ku terang. Artinya sudah pagi atau siang aku tak tahu. Tempat tidur itu tidak langsung mengenai sinar matahari, sehingga mataku tidak terlalu sakit saat membuka mata.
Pergelangan tanganku perih, sedikit tergores akibat kabel ties, namun lebih perih sesuatu dibawah sana.
Pria semalam, manusia yang tidak memiliki otak ini masih memelukku, membuat badanku tertindih dan terasa pegal.
Ku singkirkan tangan besarnya, dan mencoba beranjak bangun. Ahh sakitnya luar biasa namun ku tetap berdiri secara perlahan dan berjalan dengan melebarkan paha ku, sedikit memberinya ruang. Sudah seperti jalannya monkey, mungkin.
Ku ambil pakaianku yang bercecer dilantai hanya ku bawa, tidak kupakai. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Tapi dimana letak kamar mandi itu? Semalam ku lihat Edgar keluar dari sudut ini, tapi tak ada pintu.
"Kau mau kemana?" tanya Edgar mengejutkan diriku. Pria itu tiba-tiba sudah berada di belakang ku
Sontak saja aku langsung menghindari dirinya sembari menutupi tubuhku. Edgar memperhatikan ekpresi ku yang takut menghadapinya.
Tanpa permisi, ia langsung menggendong ku. Hampir saja aku terjatuh karena tidak berpegangan.
"Kau mau bawa aku kemana? Turunkan aku!" pintaku sembari memukuli bidang dadanya yang kekar.
"Mandi,"
"Aku bisa jalan sendiri," ucap ku
Tetapi Edgar diam dan tidak mendengarkan ucapanku. Dia terus berjalan menuju kamar mandi. Rupanya pintu kamar mandi itu seperti dinding dan hanya di geser.
Bath up sudah terisi air hangat. Entah kapan air ini sudah tersedia, ataukah Edgar yang menyiapkannya lalu dia berpura-pura tidur?
Dia menurunkan pelan ke dalam bath up dan meninggalkan ku sendiri tanpa ku suruh pergi.
Kenapa dia tiba-tiba jadi baik dan lembut. Apa dia tidak ingin aku mengatakan perbuatannya kepada dengan keluarganya?
Ku ambil sabun, membersihkan diriku lalu bersandar pada bath up. Menangisi kisah ku yang tidak ku ketahui apa salahku. Ku tenggelamkan diriku sendiri berharap semua masalah yang bertumpu selama dua hari ini dapat pergi selamanya bersamaan dengan jiwaku.
Seketika tenggorokanku tercekat, aku kekurangan oksigen. Tubuhku keram tak mampu ku angkat. Sebuah tangan meraih lenganku dan mengangkat ku.
"Zoya, Kenapa kau menenggelamkan dirimu, kau ingin mati?" tanya Edgar
"Iya," jawab ku lugas, sejujurnya tidak hanya saja aku benci dengannya.
"Cepatlah, setelah ini kita pulang," ucap Edgar
"Aku tidak ingin pulang denganmu," bantahku
"Jangan seperti anak kecil," dia mulai protes, harusnya akulah yang protes
"Untuk apa aku pulang denganmu, kau mau menyiksaku lagi hah?" tanyaku mulai emosi
"Terserah kau, yang jelas orang tuaku ada di Mansion sekarang," ucapnya kemudian pergi setelah meninggalkan paperbag bertuliskan Louis Vuitton.
Rupanya dia takut dengan orang tuanya, pantas saja sikapnya baik. Dan agar aku tidak cemberut dia juga memberiku pakaian merek LV.
Sorry Edgar, aku tidak bisa disogok dengan sebuah merek.
Setelah itu aku beranjak dan mengeringkan tubuhku. Mata ku terus tersorot pada paperbag itu. Penasaran dengan apa yang dia berikan.
Wow
Seketika mataku berbentuk hati, lalu aku mengerjapkan mata dan menyadarkan diriku sendiri. Jangan termakan rayuannya Zoya, cukup pakai saja tetapi jangan luluh dengan sogokan yang dia berikan.
Aku keluar dengan rambut yang masih setengah basah, tidak ada sisir di kamar mandi itu jadi aku berencana mengambil sisir di tas ku. Tetapi ada banyak orang berseragam medis di sana.
"Nyonya, silahkan rebahkan tubuhnya disana. Kami akan memeriksa kondisi Nyonya," ucap seorang wanita Jepang dengan jas Dokternya.
Hebat sekali Edgar, setelah menyakitiku, dia mengobati ku. Lihat saja nanti setelah ini dia pasti akan menyakitiku lagi. Aku pun menurut dan melakukan apa kata dokter.
Telepon ku berdering beberapa kali. Ada di dalam tas, namun ku biarkan karena dokter sedang memeriksa ku, memberikan sesuatu di bawah sana yang terasa dingin.
Lukanya membengkak, dokter mengira kami melakukannya dengan sangat bergairah. Padahal yang terjadi, aku tidak menikmati apapun.
Ngilu mendengarnya, apalagi merasakan yang ku alami.
Setelah itu dokter pamit pulang, tak lupa ia juga memberikan obat untuk ku minum, bukan resep sepertinya dia telah tahu kondisi ku saat di telepon Edgar.
Ku ambil tas ku, pakaian kotorku dan ku masukkan dalam paperbag yang tadi diberikan oleh Edgar. Setelah itu aku melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, ruang penyiksaan. Sembari membuka ponselku dan membaca pesan yang dikirimkan adikku.
"Apa? Ayah masuk rumah sakit serangan jantung! Bagaimana bisa?" Ucapku sembari menelepon kembali nomer adikku.
Tak di angkat
Bukannya saat itu Ayah telah pamit pulang ke Perancis. Lalu kenapa masih di Jepang? Hufff kemana Edgar?
Aku berlari kecil meski masih sakit tapi aku ingin segera ke rumah sakit. Mata ku mencari keberadaan Edgar. Hingga ku keluar dan tidak juga mendapati sosoknya.
Tin.
Sebuah klakson mengundang perhatianku, dari arah seberang terlihat Edgar sudah berada di mobilnya.
Ku langkahkan kakiku dengan sedikit berlari. Sakit yang ku rasakan sudah lumayan membaik karena obat yang diberikan sang dokter.
"Edgar, tolong antarkan aku ke rumah sakit. Ayahku masuk rumah sakit. Ku pikir mereka telah pulang ke Perancis,"
"Ck kau pikir aku sopirmu?" ucap Edgar yang membuatku kesal
Aku langsung turun dan mencari taksi yang lewat meski susah, karena jalanan ini jalan kecil dan ramai kalau malam hari. Kudengar Edgar memanggilku, Fakyu Edgar!
Beberapa meter di depanku. Ada seorang pria yang baru saja akan menaiki mobilnya. Aku pun mendekat dan meminta pertolongan padanya. Beruntung pria itu langsung membantuku.
Aku tidak punya pilihan, meski ku tahu pria ini mungkin habis bermain dengan wanita penghibur karena ini masih lokasi dimana kau bisa membeli wanita dan tidur dengannya sesuka hati selama punya uang.
Edgar mengikuti mobil yang ku tumpangi, ku biarkan saja. Salahnya sendiri tidak mengantarku.
Selama perjalanan aku bercengkrama dengan pemilik mobil yang ku tumpangi. Namanya Daisuke, yang memiliki arti menolong secara sukarela. Semoga dia benar-benar menolongku dan tidak mengharapkan apapun.
Beberapa meter didepan sudah terlihat nama rumah sakit yang terpasang di atas gedung. Pria itu menurunkan ku di depan rumah sakit karena dia sebenarnya terburu-buru.
Aku langsung masuk dan mencari letak ruangan Ayah dirawat. Oscar di sana sedang main game, pantas saja nomernya susah di hubungi karena dia sibuk bermain game. Sedangkan Ayah sedang berbaring sambil menonton televisi.
"Ayah... Bagaimana kondisimu?" tanyaku yang langsung menaruh barang ku di kursi sofa dekat Oscar duduk.
"Zoya, kondisi ku sudah membaik," sahut Ayah tersenyum
"Sebetulnya sebelum naik pesawat, Ayah terserang jantung kak. Tapi aku dilarang menghubungimu karena Ayah tidak ingin merusak malam pertamamu," jelas Oscar
"Astaga, Ayah... lain kali kau harus memberi tahu ku apapun yang terjadi. Kenapa bisa jantungan? Memangnya selama ini Ayah punya penyakit jantung?" tanyaku menelisik
"Iya, sudah lama Zoya hanya saja kemarin Ayah dengar Tante Megan dan Dalton, bercerai. Langsung saat itu juga dada Ayah sakit, seperti ditusuk dan juga Ayah susah bernapas," jelas Ayah membuatku langsung teringat akan diriku sendiri
Bagaimana jika aku mengatakan apa yang dilakukan Edgar lalu memutuskan bercerai dengannya. Oh Tuhan? Apakah ini jawaban Mu, agar aku harus bersabar dengan kondisi ku sekarang dan mempertahankan rumah tangga ku?
Tak berapa lama orang tua Edgar datang, dan orang yang paling belakang masuk adalah manusia yang tidak memiliki hati dan otak siapa lagi kalau bukan suami tampanku yang kejam.
banyak typo di novel ini. dan aku merasa novel ini ditamatkan dengan sangat terburu buru.
terima kasih banyak, kk author.