seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 8
Setelah meninggalkan Toko Emas 'Sinar Jaya' yang masih geger, Kevin memarkirkan NMAX-nya di sebuah gang teduh yang sepi. Dia duduk di atas jok motor, dadanya masih naik turun karena sisa adrenalin.
Namun, rasa lelah itu menguap seketika begitu dia membuka aplikasi Sistem di ponselnya.
Ding!
[Selamat! Proses Balik Nama Aset Telah Selesai.]
[Aset: Ruko Tiga Lantai (Ex-Distro Pakaian), Nomor 88, Jalan Raya Margonda, Depok.]
[Status: Kepemilikan Mutlak atas nama Kevin Wijaya. Kunci fisik dan berkas asli berada di dalam tas ransel Pengguna.]
Kevin buru-buru meraba tas ransel hitam yang sejak tadi digendongnya.
Benar saja! Di dalam tas yang tadinya kosong, kini terdapat sebuah map kulit tebal berwarna biru tua.
Ketika dibuka, sebuah sertifikat tanah dengan Garuda Emas mengkilap terpampang nyata: Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama Kevin Wijaya. Di bawahnya ada kunci gerbang ruko yang terasa berat dan dingin.
"Gila... Gue gak mimpi kan?"
Kevin menampar pipinya sendiri agak keras.
"Aduh! Sakit.
Ini nyata. Mantan beban keluarga nomor satu di kompleknya kini punya properti miliaran rupiah di jantung Kota Depok.
Sore harinya, Kevin memutuskan untuk pulang.
Dia sengaja memarkirkan NMAX-nya agak jauh dari rumah agar tidak memancing kecurigaan tetangga yang hobi memantau.
Dengan langkah ringan, Kevin melangkah masuk ke rumah tipe 36 milik keluarganya.
Di meja makan kayu yang sudah agak miring kakinya, Bu Sri sedang sibuk menghitung uang recehan hasil jualan kue keringnya.
Wajah ibunya terlihat lelah, gurat-gurat usia tidak bisa berbohong.
Kevin merasakan sebersit rasa bersalah yang mendalam. Selama ini dia hanya bisa meminta tanpa pernah memberi.
"Baru pulang, Vin? Gimana narik ojeknya? Dapet buat beli bensin?"
tanya Bu Sri tanpa menoleh, tangannya masih sibuk menyusun uang logam lima ratusan.
Kevin tidak menjawab.
Dia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan perlahan namun mantap, dia meletakkan map kulit biru tua dan segepok uang lima juta rupiah dari Ibu Lidya tepat di atas meja makan, di samping tumpukan recehan ibunya.
BRAK.
Bu Sri tersentak.
Matanya yang tadinya sayu langsung membelalak menatap tumpukan uang merah seratus ribuan yang masih kaku, lalu beralih ke map kulit mewah di sampingnya.
"Kevin... Kamu... Kamu gak melihara babi ngepet kan, Vin?!"
Suara Bu Sri gemetaran, wajahnya mendadak pucat.
"Atau kamu ikutan pinjol ilegal?! Ibu gak mau ya digedor-gedor penagih utang!"
Kevin tertawa renyah, dia menarik kursi lalu duduk di hadapan ibunya.
"Astagfirullah, Ibu."
"Nuduh anak sendiri kok ekstrem banget."
"Ini uang halal, Bu. Tip dari penumpang kaya yang tadi saya tolongin dari begal di GDC."
"Terus... ini map apa?"
Tangan Bu Sri yang gemetar membuka map tersebut.
Begitu matanya membaca tulisan Sertifikat Hak Milik dan melihat nama anaknya tertera di sana sebagai pemilik ruko di Margonda, napas Bu Sri seolah berhenti.
"Ini... ini ruko di Margonda? Yang bener kamu, Vin?!"
"Bener, Bu. Alhamdulillah, Kevin dapet rezeki nomplok."
"Ada investor yang suka sama kinerja Kevin, terus Kevin dikasih kepercayaan buat kelola ruko itu."
"Surat-suratnya udah sah balik nama Kevin,"
bohong Kevin, menggunakan alibi 'investor misterius' yang sudah dia siapkan di jalan tadi.
Air mata Bu Sri mendadak tumpah. Dia langsung memeluk anak laki lakinya itu dengan erat.
"Ibu bangga sama kamu, Vin... Ibu kira kamu bakal jadi pengangguran seumur hidup."
"Maafin omelan Ibu tadi pagi ya..."
Kevin membalas pelukan ibunya dengan erat.
Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang digital tak terbatas sekalipun.
Status bebannya resmi luntur malam ini.
Namun, ketenangan momen haru itu tidak bertahan lama.
Di dalam kepala Kevin, suara mekanis yang dingin itu kembali menggema, merusak suasana romantis bin haru di rumahnya.
Ding!
[Misi Minggu 1: Ojek Online dinyatakan Selesai Lebih Awal karena Pengguna menunjukkan efisiensi tingkat tinggi dalam menumpas kriminalitas.]
[Mempersiapkan Pergantian Karir Otomatis...]
[Pukul 00:01 Hari Senin Depan, Profesi Minggu 2 akan diaktifkan: Guru Honorer Karismatik di SMA Garuda Depok.]
[Fasilitas Minggu 2 yang akan diberikan:]
Kemampuan: Otak Ensilopedia Dewa (Menguasai seluruh mata pelajaran, psikologi remaja, dan seni bela diri praktis).
Aura Karisma 'Husbandu' Tingkat Maksimal (Membuat seluruh siswi dan guru wanita di sekolah mengalami peningkatan detak jantung saat Pengguna lewat).
Kevin langsung melepaskan pelukan ibunya, matanya melotot menatap langit-langit rumah.
"Hah? Guru Honorer?! Di SMA Garuda?! Itu kan sekolahnya si Viola?!"
#NOTE
Bagaimana nasib Kevin saat takdir mempertemukannya kembali dengan Viola di sekolah, bukan sebagai driver ojol, melainkan sebagai guru barunya?