Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 KETAKUTAN RENA
SELAMAT MEMBACA !!!
Luna membawa Rena untuk ke kamar mandi dan membangunkan Runa yang masih tidur.
"Sayang, yuk bangun. Kita mau pulang ke Jakarta ke rumahnya Kakak. Runa tinggal di sini atau may ikut Kakak ke Jakarta!" seru Luna membangunkan Runa.
Tanpa menunggu lama, Runa mengerjapkan matanya bergerak pelan-pelan dan membuka mata. Tangannya mengusap-usap matanya.
"Jangan diusap nanti sakit matanya! Yuk mandi sama Kakak. Kak Rena juga sedang mandi, yuk ikut masuk ke kamar mandi!" seru Luna menurunkan Runa dari ranjang. Menggandeng membawanya ke kamar mandi .
"Sudah sabunan, Sayang?" tanya Luna kepada Rena yang sudah memakai handuknya.
"Sudah Kakak, aku juga keramas pakai sampoo itu," jawab Rena sambil menunjukan sampoo milik Mommy Freya.
Luna menyisir rambut mereka berdua dan mengikat rambutnya biar terlihat rapi.
"Ayo karena sudah cantik dan wangi, kita sarapan dulu. Baru pamit kepada Kakek dan yang lain. Kita pulang ke Jakarta!" ajak Luna ke depan dan disana sudah di tunggu keluarga Kakeknya.
Suasana sangat hangat dengan melihat keluarga kakeknya berkumpul untuk sarapan bersama.
"Ayo Nak Rena dan Nak Runa makan dulu, nanti ikut Kakak pulang ke Jakarta ya, ketemu Mommy Freya," ucap Nenek Halimah.
Mereka mulai sarapannya dengan menu yang spesial di buat oleh Melinda. Luna dan Sindy membantu mengambilkan makanan untuk Rena dan Runa. Bu Halimah sangat bahagia sekali, diusianya yang sudah nggak muda lagi dia bisa melihat cucu-cucunya tumbuh menjadi dewasa dan berbudi luhur.
"Kakek, Nenek, Pakdhe, Budhe, Uncle, Onty! Maafkan kami yang main ke sini hanya sebentar. Lain waktu kami akan kesini lagi," ucap Luna dengan tulus sambil mencium tangan orang dewasa. Di belakangnya juga Yana, Sindy, Rena dan Runa juga ikut mencium tangan mereka.
"Ya nggak apa-apa, Sayang. Lain waktu kan bisa ke kesini lagi bersama yang lain. Kalian hati-hati bawa mobilnya, sampaikan salam kami untuk kedua orang tua kalian dan Abang kalian. Jangan lupa kalau sampai rumah beritahu kami ya, Nak," jawab Kakek Ilham kepada cucu-cucunya.
"Siap, Kek. Assalamualaikum semua."
"Walaikumsalam."
Luna dan yang lain langsung masuk ke dalam mobil. Kali ini Luna yang mengendarai mobilnya di sebelahnya ada Sindy dan di kursi tengah ada Yana, Runa dan Rena.
Luna mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal, yang penting mereka selamat sampai rumah.
"Maaf! Ya Sin. Liburannya gagal dan kita belum pergi ke tempat Mbak Dini buka toko kuenya," ucap Luna yang merasa nggak enak kepada sahabatnya, yang antusias ikut liburan eh ada saja kendalanya.
"Santai Lun, aku nggak apa-apa. Aku sudah bisa menikmati masakannya Budhe Linda. Jos banget masakannya," jawab Sindy dengan tersenyum.
Sindy memang nggak apa-apa dan dia malah semakin kagum dengan Luna dan keluarganya. Mereka nggak mempermasalahkan Luna membawa dua anak yang nggak dikenal oleh mereka. Benar-benar keluarga yang sangat baik dan perlu ditiru hehehe.
Dalam perjalanan Rena dan Runa ketiduran. Yana membantu menurunkan kursi mobilnya.
"Sin! Besok senin bantu aku membawa Rena ke Psikiater ya, aku takut dia trauma dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat Runa yang disiksa pamannya sendiri, karena menginginkan dua anak itu pergi dari rumahnya sendiri. Dia semalam mengigau ketakutan melihat Runa dianiaya pamannya mungkin!"
Luna menceritakan soal kejadian semalam. Dan Sindy berjanji akan membantu yang dia bisa bantu. Baru saja Luna selesai bercerita. Mereka mendengar gumaman Rena yang mengigau lagi. "Jangan Paman!! Jangan sakiti adik. Kami akan pergi, Paman. Hik, hik, hik tangis Rena dalam mimpinya.
Luna menatap Sindy dengan tatapan kasian kepada Rena. Sedangkan Yana di belakang mengusap kepalanya Rena untuk menenangkan Rena.
"Besok kita bawa ke Bang Fahri dulu Lun, minta direkomendasikan psikiater yang baik untuk Rena. Mereka sangat kejam sekali. Ya Allah berikan kekuatan kepada anak ini ya Allah," jawab Sindy kasih pendapat ke Luna dan mendoakan Rena.
Tanpa terasa mobilnya Luna sudah sampai di pintu gerbang rumah keluarganya. Pak satpam hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ketika melihat mobil siapa yang masuk ke dalam halaman rumah majikannya. Karena pintu gerbang sudah dilengkapi sensor, jika mobil yang sudah dikenali pintu gerbang akan terbuka sendiri.
Luna menoleh ke belakang Rena dan Runa masih tertidur pulas. Kalau dibangunin kasian tapi nggak dibangunin sampai kapan bangunnya.
"Coba dibangunin pelan-pelan, Dek!" perintah Luna kepada adiknya.
"Dek Rena, Dek Runa bangun yuk! Kita sudah sampai di rumahnya Kakak lho," ucap Yana dengan pelan. Kedua tubuh kecil itu perlahan-lahan bergerak dan mereka membuka matanya melihat di sekitarnya. Luna dan Yana tersenyum.
"Ayo turun dulu, nanti kalian bisa tidur lagi di kamar. Tuh Mommy dan Daddy sudah menunggu kita di teras rumah!" ajak Yana sambil menunjuk dua orang paruh baya yang berdiri di teras rumah. Tapi badan Rena seketika bergetar ketakutan.
Yana yang melihat itu kaget dan langsung menoleh ke arah Luna. "Dek Rena! Tenang ya jangan takut, kedua orang tuanya Kakak itu orangnya sangat baik. Mereka ada di teras rumah karena ingin menyambut kedatangan kalian berdua. Jadi jangan takut kan ada Kak Luna, Kak Yana dan Kak Sindy, kalian berdua mengerti!" seru Luna menenangkan Rena.
"Kasian sekali kamu, Dek. Semoga dengan kamu di sini bisa menghilangkan rasa trauma kamu," batin Luna.
Mereka berlima akhirnya turun, Luna menggandeng tangannya Rena dan Runa menggandeng tangannya Yana. Mereke berjalan menuju ke teras rumah yang sudah ditunggu kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum, Mom, Dad," sapa mereka sambil mencium tangannya Freya dan Vindra, Rena masih bergetar tubuhnya belum mau bersalaman dengan mereka.
"Kenapa, Sayang. Sini salim sama Mommy dulu," ucap Freya dengan melihat kasian melihat tubuh Rena bergetar ketakutan.
"Sini, Sayang sama Mommy! Ini Daddynya Kak Luna kok, kalian juga boleh memanggilnya Daddy. Yuk masuk dulu, mau sama Mommy?" tanya Freya kepada Rena dan anak kecil itu mendongakan kepalanya menatap Luna.
Luna yang ditatap Rena menganggukan kepalanya tersenyum, sambil mengusap kepalanya Rena.
Akhirnya Rena berjalan dan menggandeng tangannya Freya, masuk ke dalam rumah. Vindra yang melihat anak sekecil itu diusir dari rumahnya sendiri, mengepalkan tangannya menahan emosi supaya tidak meledak. Bagaimana bisa mereka nggak punya hati kepada keponakannya sendiri, ya Allah.
Yana bergelayut manja di tangan ayahnya. mereka ikut masuk ke dalam rumah. Yana berbisik kepada ayahnya, memberitahukan bahwa Rena ada trauma, dia tadi pas tidur di mobil juga sempat mengigau dan ketakutan. Vindra wajahnya sudah memerah hampir saja emosinya meledak, kalau Yana mengusap tangan ayahnya dan menggeleng-gelengkan kepala, Yana takut mereka berdua malah tambah trauma saat melihat ayahnya marah marah.