NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8 : KEPUTUSAN DI BALIK CERMIN DAN KARTU NAMA HITAM-EMAS

Brak!

Kalea Azzahra Putri menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras yang menggema ke seluruh sudut ruangan. Tangan kanannya yang bergetar langsung memutar anak kunci dua kali hingga terdengar suara klik yang mengunci dirinya dari dunia luar. Punggung mungilnya bersandar pada daun pintu kayu jati yang kokoh. Napasnya memburu naik-turun dengan cepat. Dada wanitanya bergemuruh hebat, menahan gelombang amarah, sakit hati, dan kebencian yang sudah menumpuk hingga ke ubun-ubun kepala.

Dengan langkah yang terasa sangat berat, Kalea berjalan mendekati meja rias di sudut kamar. Ia berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai perak. Perlahan, ia mendongakkan wajah cantiknya yang pucat. Manik mata berwarna biru jernih miliknya menatap lurus ke arah pantulan dirinya sendiri di dalam kaca.

Pemandangan di dalam cermin itu seketika membuat air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya lolos membasahi pipi. Wajahnya yang putih kini kotor berlumuran sisa cairan jus jeruk pekat yang lengket dan berwarna kekuningan. Noda jus itu merembes ke sela-sela perban kasa steril di dahinya, membuat luka bekas tiga jahitan dari Dokter Radit tadi kembali berdenyut perih luar biasa. Tidak hanya di wajah, jilbab voal premium biru pastel dan blazer kasual kebanggaannya yang biasa ia pakai dengan penuh wibawa sebagai General Manager hotel bintang lima, kini tampak sangat kotor, basah, dan mengenaskan.

"Biadab... Kalian semua benar-benar biadab!" bisik Kalea dengan suara serak yang bergetar hebat menahan tangis. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja rias marmer hingga jemarinya memutih.

"Apa salahku pada kalian, hah?!" teriak Kalea lirih pada pantulannya sendiri, suaranya pecah dipenuhi rasa pilu yang teramat dalam. "Nyonya Sarah... kamu ibu yang melahirkanku, tapi kenapa kamu tega memfitnahku sebagai pembantu di depan teman-teman sosialitamu? Dan kamu, Shinta... adik kandung macam apa yang tega menginjak-injak harga diri kakaknya sendiri demi kesenangan sesaat?"

Kalea menyeka air mata dan noda jus di pipinya dengan punggung tangan secara kasar. Sisi tangguh dan keras kepalanya menolak untuk terus terpuruk dalam kesedihan. "Menangis tidak ada gunanya, Kalea. Menangis hanya akan membuat mereka tertawa puas di bawah sana. Kamu tidak boleh terlihat hancur!"

Kalea mengalihkan pandangannya ke bawah. Tangan kanannya merogoh saku blazer birunya yang basah. Jemarinya menyentuh sebuah benda persegi panjang berbahan kertas tebal yang kaku. Ia menarik benda itu keluar. Itu adalah kartu nama mewah berwarna hitam dengan cetakan tulisan emas yang diberikan oleh Raditya Evan Baskara di ruang tindakan rumah sakit tadi siang.

Kalea mengangkat kartu nama itu ke depan matanya, membaca baris demi baris tulisan emas yang tertera di sana dengan saksama.

"Raditya Evan Baskara, Sp.B(T). Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Harapan Medika," gumam Kalea membaca nama lengkap pria arogan tersebut dengan suara rendah. "Jadi nama laki-laki sombong bertubuh raksasa itu Raditya Evan Baskara..."

Kalea mendengus sinis, mengingat kembali bagaimana wajah tampan berlesung pipi milik Radit saat menyentil dahinya dengan gemas di parkiran dan ruang tindakan. "Dokter bedah sekaligus Direktur Utama muda... Ck, pantas saja keangkuhannya setinggi langit ke tujuh. Sifatnya benar-benar menyebalkan."

Namun, sedetik kemudian, bayangan nominal biaya ganti rugi kaca mobil Mercedes-Benz yang disebutkan Radit langsung berputar-putar di dalam otak Kalea bagaikan hantu yang mengerikan.

"Seratus delapan puluh juta rupiah..." Kalea mendesah pasrah, kepalanya mendadak terasa kembali pening bergandengan dengan denyutan di dahinya. Ia berjalan lunglai lalu menjatuhkan tubuh mungilnya ke atas kasur berukuran besar miliknya.

Kalea menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, sementara tangan kirinya masih meremas kartu nama hitam-emas tersebut. "Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu? Gila! Meskipun jabatanku General Manager di Hotel Grand Luminance dan gajiku cukup besar untuk ukuran wanita berusia dua puluh empat tahun, uang tabunganku saat ini benar-benar menipis karena habis dipakai untuk keperluan pribadi. Rumah terkutuk ini tidak pernah memberiku sepeser pun uang saku sejak aku kuliah!"

Kalea menggigit bibir bawahnya yang sobek dengan kuat, meratapi posisinya yang benar-benar terjepit. "Kalau aku tidak bisa membayar lunas minggu ini, dokter sombong itu pasti benar-benar akan melaporkan aku ke polisi. Reputasiku sebagai manajer hotel bintang lima bisa hancur berantakan kalau sampai tersangkut kasus hukum perusakan barang! Kenapa takdirku harus seburuk ini?"

Kalea memejamkan matanya yang biru jernih selama beberapa menit, mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya. Kalimat terakhir Radit di ruang tindakan tadi kembali terngiang dengan sangat jelas di telinganya: 'Datang ke ruangan kerja saya di lantai lima besok jam tujuh malam. Sendiri. Saya punya sebuah penawaran kesepakatan yang bisa menghapus seluruh utang seratus delapan puluh juta rupiahmu itu dalam sekejap.'

"Penawaran kesepakatan apa yang dia maksud?" pikir Kalea dengan kening berkerut penuh kecurigaan. "Jangan-jangan dokter arogan itu punya niat mesum atau mau menjebakku ke dalam hal yang tidak-tidak? Tapi... kalau aku tidak datang, taruhannya adalah masa depanku sendiri di hotel."

Kalea akhirnya mengembuskan napas berat yang sangat panjang, mencoba mengusir segala pikiran rumit yang membuat kepalanya serasa ingin pecah. Ia bangkit berdiri dari kasurnya, meletakkan kartu nama milik Raditya Evan Baskara di atas nakas tempat tidur dengan posisi tulisan emas yang menghadap ke atas.

"Ah, sudahlah! Masalah ganti rugi kaca mobil dan tawaran gila dokter sombong itu biar kupikirkan nanti malam saja! Sekarang tubuhku rasanya sangat kotor dan lengket karena jus jeruk sialan ini," gerutu Kalea dengan nada kesal pada dirinya sendiri.

Kalea melangkah kembali ke depan meja rias. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati agar tidak menyenggol perban di dahinya, ia melepaskan lilitan jilbab voal birunya yang sudah ternoda. Rambut hitamnya yang panjang, tebal, dan bergelombang langsung terurai bebas jatuh melewati bahu dan punggungnya. Ia kemudian membuka kancing blazer birunya satu demi satu, menanggalkannya bersama dengan pakaian kerjanya yang kotor, menyisakan tubuh mungilnya yang berkulit putih bersih di bawah temaram lampu kamar.

Sambil membawa selembar handuk bersih, Kalea melangkah tegap menuju kamar mandi pribadi yang terletak di sudut kamarnya. Ia membuka pintu kaca buram tersebut, melangkah masuk, dan menyalakan pancuran air hangat (shower). Di bawah siraman air hangat yang mulai membasahi tubuh dan rambut panjangnya, Kalea memejamkan mata, membiarkan air menghapus seluruh noda jus dan rasa sakit fisik serta batinnya sore itu. Di dalam keheningan kamar mandi, ia memantapkan hatinya bahwa apa pun penawaran yang akan diberikan oleh Raditya Evan Baskara besok malam, ia akan menghadapinya dengan kepala tegak sebagai seorang Kalea Azzahra Putri yang pantang diinjak-injak oleh siapa pun.

...****************...

Sore telah sepenuhnya berganti malam, dan jarum jam di dinding ruang tengah kediaman megah keluarga Baskara telah menunjukkan pukul 19.15 WIB. Suasana di dalam rumah mewah itu terasa hangat namun diselimuti oleh aura ketegangan yang tertahan. Di ruang tamu utama, Ambarwati Baskara duduk bersama Larasati Murni Mahendra dan Natasha Olivia Renata. Mereka rupanya masih bertahan di sana sejak siang, sengaja menunggu kepulangan sang putra sulung, Raditya Evan Baskara, yang hingga jam segitu belum juga menampakkan batang hidungnya.

Sore tadi, sekitar pukul lima, Dimas Narendra Baskara dan Amanda Khanza Baskara sudah pulang dari aktivitas mereka masing-masing. Amanda yang baru saja kembali dari butik desainer terkenalnya, langsung menyambut Natasha dan Jeng Larasati dengan sangat ramah dan hangat. Sebagai sesama pekerja di dunia fesyen, Amanda dan Natasha sempat berbincang akrab tentang tren busana terbaru. Begitu pula dengan Dimas, sang rektor muda yang cerdas, yang ikut menemani mengobrol di ruang tengah demi menjaga nama baik keluarga di hadapan tamu. Namun, fokus utama semua orang di ruangan itu tetap satu: menantikan kedatangan Radit.

Pip-pip!

Suara klakson mobil dari arah luar memecah keheningan malam. Detik berikutnya, pintu utama yang menjulang tinggi terbuka, menampakkan sosok Raditya Evan Baskara yang melangkah masuk dengan tubuh lelah namun tetap memancarkan wibawa yang mutlak. Ia masih mengenakan kemeja rapi yang dibalut jas dokter putih kebanggaannya.

"Assalamualaikum," ucap Radit dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.

"Waalaikumsalam," jawab semua orang di ruangan itu secara serentak.

Radit melangkah mendekat ke arah sofa. Ia membungkuk hormat, meraih tangan ibunya, lalu mencium punggung tangan Ambarwati dengan takzim. Setelah itu, ia beralih ke arah Jeng Larasati dan melakukan hal yang sama. "Selamat malam, Tante Laras. Maaf saya terlambat pulang, tadi ada tindakan operasi darurat pasca-rapat direksi yang tidak bisa ditinggalkan."

"Ah, tidak apa-apa, Nak Radit. Dokter spesialis bedah sekaligus direktur utama memang harus mengutamakan nyawa pasien, Tante sangat mengerti," jawab Larasati dengan senyuman sumringah yang lebar, sementara Natasha menatap Radit dengan binar mata yang penuh pujaan dari balik bulu mata lentiknya.

Radit melirik sekilas ke arah kedua adiknya yang sedang duduk di sofa sebelah. Dimas langsung memberikan tatapan meledek sambil menaikkan kedua alisnya, sedangkan Amanda tersenyum jahil menahan tawa melihat abangnya kembali terjebak dalam situasi ini.

"Mommy, Tante Laras, Nona Natasha... kalau begitu saya izin ke kamar dulu untuk membersihkan diri dan ke kamar mandi. Tubuh saya sudah sangat lengket," pamit Radit dengan nada suara yang kaku dan formal.

"Iya, Radit. Cepat bersihkan badanmu, setelah itu langsung turun ke ruang makan ya. Kita semua sengaja menunggumu untuk makan malam bersama," sahut Ambarwati dengan nada yang tidak menerima bantahan.

"Baik, Mom," jawab Radit singkat, lalu melangkah lebar menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.

 

Tiga puluh menit kemudian, Radit turun kembali ke lantai bawah setelah mandi dan berganti pakaian santai—celana kain hitam dan kaus polo putih yang pas di tubuh tegapnya. Ia melangkah menuju ruang makan panjang di mana hidangan makan malam mewah bernuansa Nusantara dan Barat sudah tersaji dengan rapi. Radit menarik kursi lalu duduk tepat di samping adiknya, Dimas.

"Wah, Mas Radit wangi sekali. Habis mandi parfum ya? Sengaja mau pikat bidadari seksi berbaju merah itu?" bisik Dimas dengan nada meledek, menyenggol lengan kakaknya dengan jahil.

Radit mendelik tajam ke arah Dimas, menatap adiknya dengan pandangan sedingin es. "Diam kamu, Dimas. Makan saja nasi gorengmu sebelum aku menyuruh sekuriti kampusmu untuk mengunci ruangan rektormu dari luar."

Dimas langsung terkekeh pelan dan mengangkat kedua tangannya menyerah, sementara Amanda yang duduk di depan mereka berdua menutup mulutnya menahan tawa.

Makan malam itu berlangsung dengan diiringi obrolan hangat antara Ambarwati, Jeng Larasati, Natasha, dan Amanda. Natasha yang duduk berhadapan langsung dengan Radit berkali-kali mencoba membuka percakapan dengan nada suara yang manja. "Dokter Radit, bagaimana perkembangan rumah sakit akhir-akhir ini? Aku dengar RS Harapan Medika mau membuka cabang baru ya? Hebat sekali kamu bisa mengelola semuanya di usia muda."

"Semua berjalan sesuai rencana, Nona Natasha. Terima kasih pertanyaannya," jawab Radit dengan sangat datar, kaku, dan tanpa ekspresi, bahkan tanpa melihat ke arah Natasha. Sifat perfeksionisnya membuat ia tetap membatasi diri dari wanita yang tidak ia sukai.

Selesai menikmati makan malam yang cukup panjang, suasana meja makan perlahan mencair. Radit meletakkan serbetnya di atas meja, lalu berdiri dari kursinya. "Mommy, Tante Laras, makan malamnya sangat luar biasa. Saya izin pamit ke ruang kerja dulu karena masih ada beberapa berkas laporan medis yang harus saya periksa malam ini."

Melihat Radit bersiap pergi, Natasha dengan cepat ikut berdiri dari kursinya, merapikan gaun merah ketatnya yang seksi. "Mommy Ambar, Mama... aku juga izin pamit ya. Ini sudah larut malam, aku dan Mama harus segera pulang karena besok pagi ada jadwal pemotretan majalah fesyen."

Natasha mencium tangan Ambarwati dengan sangat sopan. Namun, alih-alih melangkah menuju pintu depan bersama ibunya, Natasha justru berjalan cepat mengekor di belakang Radit yang sedang melangkah menuju arah pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tengah dengan taman belakang rumah.

"Dokter Radit! Tunggu sebentar!" panggil Natasha dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan saat mereka sudah berada di area taman belakang yang sunyi dan asri, dikelilingi lampu taman yang remang-remang di bawah langit malam Jakarta.

Radit menghentikan langkah kaki tegapnya tepat di dekat kolam ikan koi. Ia membalikkan tubuh jangkungnya yang setinggi 185 sentimeter, menatap Natasha dengan kening berkerut. "Ada apa lagi, Nona Natasha? Saya rasa semua pembicaraan kita sudah selesai di ruang tamu siang tadi."

Tanpa diduga oleh Radit, Natasha melangkah maju dengan cepat. Dengan gerakan yang sangat berani, ia langsung melingkarkan kedua lengan lentiknya di sekeliling pinggang kekar Radit, memeluk tubuh tegap sang direktur utama dengan sangat erat. Natasha mendongakkan wajah cantiknya yang dipenuhi riasan tebal, menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit dengan pandangan mata yang penuh dengan kabut asmara yang mendalam.

"Radit, tolong jangan panggil aku Nona Natasha lagi... panggil aku Natasha," bisik Natasha dengan suara yang bergetar penuh perasaan. "Aku mohon, dengarkan aku malam ini saja. Aku benar-benar mencintaimu, Radit! Sejak pertama kali Mama menunjukkan fotomu tiga bulan yang lalu, jantungku rasanya mau copot. Aku sudah langsung jatuh cinta padamu pada pandangan pertama! Aku tidak peduli dengan rumor kalau kamu kaku atau dingin, aku tetap mau menjadi istrimu dan mendampingi hidupmu sampai kapan pun!"

Mendengar pernyataan cinta yang begitu menggebu-gebu, Radit tidak merasa tersentuh sedikit pun. Rasa tidak nyaman justru menjalar di benaknya. Dengan gerakan yang tegas namun tetap menjaga kesopanan agar tidak kasar, Radit memegang kedua pergelangan tangan Natasha, lalu perlahan-lahan melepaskan pelukan erat wanita itu dari pinggangnya. Pria berusia 29 tahun itu mundur satu langkah untuk memperlebar jarak di antara mereka.

"Nona Natasha, tolong dengarkan saya dengan saksama dan gunakan logikamu," jawab Radit dengan nada suara yang diusahakan sehalus dan selembut mungkin, namun tetap terdengar dingin dan penuh dengan penekanan yang telak. "Saya sangat menghargai perasaanmu, dan terima kasih karena sudah menyukai saya. Namun, saya tidak bisa menerima cintamu. Hubungan yang dipaksakan melalui perjodohan orang tua tidak akan pernah berakhir baik. Di luar sana masih banyak pria yang jauh lebih baik dan cocok untuk model papan atas sepertimu, bukan pria kaku seperti saya."

Natasha menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak mentah-mentah penolakan Radit. "Tidak! Aku tidak mau pria lain, Radit! Aku cuma mau kamu! Aku tetap mencintaimu dan aku akan melakukan apa saja agar pernikahan kita bulan depan tetap terlaksana! Kenapa kamu begitu keras kepala menolak aku, hah?!"

Detik berikutnya, pertahanan Natasha runtuh. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang mulus, merusak riasan bedak tebalnya. Ia menangis tersedu-sedu di depan Radit dengan bahu yang berguncang hebat.

Radit seketika terperanjat, matanya yang tajam membelalak kecil melihat air mata yang tumpah di depannya. Sebagai seorang dokter bedah yang genius di ruang operasi, Radit adalah pria yang sangat gagap dan tidak tahu bagaimana cara menghadapi atau menangani wanita yang sedang menangis histeris. Ia mendadak merasa sangat panik dan kikuk di tempatnya berdiri.

"N-Nona Natasha... kenapa malah menangis? Tolong berhenti menangis," ucap Radit dengan nada suara yang mendadak gugup, tangannya bergerak kaku di udara, bingung harus berbuat apa.

Namun, Natasha justru semakin menangis pilu. Ia kembali menghambur maju dan memeluk dada bidang Radit, menyembunyikan wajahnya yang basah di sana. "Hiks... kamu jahat, Radit... kamu menyakiti hatiku... hiks..."

Melihat kondisi Natasha yang semakin tidak terkendali dan takut jika suara tangisan ini terdengar oleh ibunya di dalam rumah, Radit akhirnya mengalah. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan kepanikannya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, tangan kanan Radit terangkat, lalu ia mulai mengelus punggung Natasha dengan gerakan naik-turun yang lembut untuk menenangkan emosi wanita itu.

"Sudah... tolong tenanglah, Natasha," ucap Radit dengan nada suara yang melunak, mencoba membujuk. "Jangan menangis seperti ini lagi. Menangis tidak akan mengubah kenyataan yang ada."

Radit memegang bahu Natasha, mendorongnya sedikit menjauh agar pelukan mereka terlepas. Ia merogoh saku celananya, mengambil selembar saputangan kain bersih, lalu dengan gerakan tangan yang sangat lembut—kelembutan yang biasa ia gunakan saat merawat luka pasiennya—Radit perlahan-lahan menghapus sisa air mata yang membasahi pipi Natasha.

"Hapus air matamu. Kamu seorang model terkenal, wajahmu terlalu berharga untuk dirusak oleh air mata karena pria kaku seperti saya," hibur Radit dengan senyuman tipis yang sangat dipaksakan, sekadar untuk menenangkan situasi malam itu.

Natasha menatap Radit dengan pandangan sayu setelah air matanya dihapus, merasa ada secercah harapan karena perlakuan lembut sang dokter. Namun di dalam lubuk hati Radit yang terdalam, pikiran pria itu sama sekali tidak berada di taman belakang ini. Pikirannya justru melayang jauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!