Zhu Xuan: Santai, acuh tak acuh terhadap konflik dunia (kecuali jika mengganggu keluarganya), dan sangat memanjakan anaknya (daughter-slave).
Zhu Xuan mendapatkan reward berupa Cincin Jiwa (Soul Rings) berusia jutaan tahun, Tulang Jiwa (Soul Bones) tingkat dewa, dan ramuan langka setiap kali ia menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan kesejahteraan putrinya.
Tidak seperti novel aslinya yang penuh ketegangan, novel ini lebih condong ke arah slice-of-life dengan bumbu aksi. Fokusnya adalah bagaimana Zhu Xuan membangun "Dinasti" atau wilayah kekuasaan yang aman dan mewah demi masa depan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ule Lau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Badai dari Pulau Dewa Laut
Efek dari pesta ulang tahun keempat Zhu Ling'er menyebar seperti wabah tak kasat mata di kalangan eselon atas Benua Douluo. Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan, dokumen rahasia berkode "Merah Mutlak" mendarat di meja kerja para penguasa tertinggi. Di Aula Roh (Spirit Hall), Paus Bibi Dong menatap laporan dari utusan bercadarnya dengan cengkeraman tangan yang begitu kuat hingga takhta batunya retak menjadi debu halus. Di Sekte Tujuh Harta Karun, Ning Fengzhi secara resmi mengeluarkan perintah internal: Siapa pun anggota sekte yang berani membuat keributan di dekat Hutan Star Dou atau Paviliun Bulan akan langsung dicabut cincin jiwanya dan diusir dari sekte.
Namun, di Lembah Mirakel, gejolak dunia itu seolah terhalang oleh dinding tak kasat mata. Bagi Zhu Xuan, tidak ada yang lebih penting daripada rutinitas pagi: memastikan susu roh Ling'er berada pada suhu yang tepat, tidak terlalu panas hingga melukai lidah kecilnya, dan tidak terlalu dingin hingga membuat perutnya kembung.
"Ayah! Kelinci gendut tidak mau makan wortel lagi!"
Suara nyaring Ling'er memecah keheningan pagi. Bocah perempuan kecil itu berlari keluar dari halaman belakang dengan cemberut, tangan kecilnya menarik telinga kelinci putih yang kini ukurannya sudah menyamai seekor anak anjing besar. Kelinci Tulang Lunak itu hanya mendengkur malas, matanya berkedip sayu, tampak terlalu kenyang setelah berbulan-bulan mengonsumsi sisa sayuran energi tinggi dari dapur Zhu Xuan.
Zhu Xuan meletakkan cangkir porselen berisi susu, lalu berlutut untuk menyeimbangkan tingginya dengan Ling'er. Ia mencubit hidung kecil putrinya dengan gemas. "Itu karena Ling'er terus memberinya makan biskuit susu kemarin malam. Kelinci juga bisa kekenyangan, Sayang. Biarkan dia melompat-lompat di kebun sayur Kakek Dugu untuk membakar lemaknya."
"Tapi Kakek Rumput sedang pergi semenjak subuh, Ayah. Katanya ada tamu aneh di gerbang luar," ucap Ling'er polos sambil meminum susu rohnya hingga menyisakan kumis putih di atas bibir mungilnya.
Zhu Xuan menyipitkan matanya sedikit. Persepsi jiwanya, yang kini ditopang oleh pembukaan segel Pedang Langit Abadi sebesar 80%, langsung meluas melewati batas lembah. Benar saja, di gerbang bambu terluar, Dugu Bo sedang terlibat dalam konfrontasi energi yang cukup sengit. Yang mengejutkan, lawan dari Dugu Bo memancarkan aura yang sangat asing—bukan aroma darah dari Aula Roh, bukan pula aroma kemewahan dari kekaisaran.
Aura itu... membawa bau garam, ombak besar, dan badai laut yang murni.
Di gerbang luar Lembah Mirakel, suasana tampak sangat tegang.
Dugu Bo berdiri dengan jubah hijau tuanya yang berkibar kencang, sembilan cincin jiwa (Kuning, Kuning, Ungu, Ungu, Hitam, Hitam, Hitam, Hitam, Hitam) berputar di sekeliling tubuhnya. Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah biru laut yang dihiasi sulaman jangkar perak. Pria itu memegang sebilah tombak bermata tiga, dan sembilan cincin jiwanya juga berkilau dengan kombinasi yang jauh lebih mengerikan daripada milik Dugu Bo.
Dia adalah salah satu dari Tujuh Ksatria Suci dari Pulau Dewa Laut (Sea God Island), Sea Seahorse Douluo (Judul Douluo level 93).
"Dugu Bo, minggirlah!" seru Sea Seahorse Douluo, suaranya berdentang seperti deburan ombak yang menghantam tebing. "Aku datang atas perintah langsung dari Yang Mulia Imam Besar Bo Saixi. Kami mendeteksi adanya fluktuasi energi tingkat tinggi yang tidak sah di benua ini yang berpotensi mengganggu keseimbangan laut dan daratan. Jika pemilik tempat ini adalah dalangnya, dia harus ikut bersamaku ke Pulau Dewa Laut untuk diadili!"
Dugu Bo tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh dengan ejekan dan rasa jijik. "Adili? Pulau Dewa Laut kalian memang sudah terlalu lama mengisolasi diri hingga otak kalian membeku oleh air garam! Jangankan kau, Sea Seahorse, bahkan jika seluruh Tujuh Ksatria Suci beserta Bo Saixi datang berlutut di sini, kalian tidak akan punya hak untuk berbicara tentang 'mengadili' Tuan Zhu Xuan!"
"Lancang!" Sea Seahorse Douluo murka. Tombak bermata tiganya dihentakkan ke tanah, memicu gelombang air roh raksasa yang langsung membentuk pusaran badai di udara, siap menghancurkan gerbang bambu Lembah Mirakel.
Namun, sebelum gelombang air itu sempat menyentuh jalinan bambu terkecil, sebuah suara yang sangat tenang namun membawa beban yang seolah-olah bisa meremukkan seluruh lautan terdengar dari arah dalam lembah.
"Dugu Tua, aku menyuruhmu menjaga gerbang agar tidak ada lalat yang berisik. Mengapa kau justru membiarkan seekor ikan asin membuat genangan air di sini?"
WUSH—!
Pusaran badai air setinggi tiga puluh meter yang dipanggil oleh Sea Seahorse Douluo seketika membeku menjadi es, lalu hancur berkeping-keping menjadi butiran salju halus yang menguap sebelum menyentuh tanah.
Zhu Xuan berjalan keluar dengan santai. Tangan kirinya menggandeng Ling'er yang sibuk mengunyah biskuit, sementara tangan kanannya berada di dalam saku jubah putihnya. Penampilannya begitu santai, namun begitu ia melangkah keluar dari batas gerbang, Sea Seahorse Douluo merasakan lututnya tiba-tiba bergetar hebat.
Wuhun milik Sea Seahorse—Kuda Laut Suci—adalah makhluk laut tingkat tinggi, namun pada detik ini, Wuhun tersebut meringkuk di dalam tubuhnya, menolak untuk memberikan energi seolah-olah sedang menghadap Dewa Pencipta yang sejati.
"K-Kau... Tuan Zhu Xuan?" Sea Seahorse Douluo menahan tekanan di dadanya, mencoba mempertahankan harga diri sebagai utusan Pulau Dewa Laut. "Yang Mulia Bo Saixi mendeteksi bahwa kekuatanmu telah melanggar hukum Benua Douluo. Daratan dan lautan memiliki batasnya, dan eksistensimu adalah ancaman—"
"Ancaman?" Zhu Xuan menghentikan langkahnya, menatap Sea Seahorse dengan pandangan acuh tak acuh. "Aku hanya seorang ayah yang sedang membesarkan anak perempuan di pondok kayu ini. Aku tidak tertarik dengan lautanmu yang penuh ikan, tidak tertarik dengan Pulau Dewa Lautmu, dan sama sekali tidak peduli dengan Bo Saixi-mu itu. Namun..."
Zhu Xuan memajukan langkahnya sedikit, dan pada saat itu, sebuah proyeksi pedang raksasa yang seolah-olah menembus awan surgawi muncul di belakang punggungnya secara samar. Itu adalah bentuk nyata dari Pedang Langit Abadi.
"...jika kau berani mengarahkan tombakmu ke arah gerbang rumahku lagi, aku akan memastikan bahwa Pulau Dewa Lautmu itu tenggelam ke dasar samudra terdalam sebelum matahari terbenam hari ini."
[Ding! Perwakilan dari faksi Pulau Dewa Laut mencoba melakukan intimidasi wilayah.]
[Misi: Berikan efek jera yang mutlak agar wilayah lautan tidak berani mencampuri urusan domestik Anda.]
[Hadiah: Poin Daddy +4.000, Item 'Mutiara Penjinak Samudra' (Item tingkat Dewa: Memberikan kekebalan mutlak terhadap semua Master Jiwa berelemen air/laut untuk putri Anda).]
Sea Seahorse Douluo merasakan keringat dingin bercampur air garam mengalir dari dahinya. Sebagai seorang master level 93, ia telah melihat banyak orang kuat, termasuk Bo Saixi yang berada di level 99. Namun, tekanan yang dipancarkan pemuda di hadapannya ini sama sekali berbeda. Ini bukan kekuatan jiwa (spirit power) biasa; ini adalah Hukum Dunia yang murni.
"Tuan Zhu Xuan... Pulau Dewa Laut tidak berniat mencari musuh, namun perintah Imam Besar adalah mutlak..." Sea Seahorse mencoba mengangkat tombaknya, namun tangannya bergetar begitu hebat hingga senjata itu hampir terlepas.
Zhu Xuan tidak ingin membuang waktu. Ling'er harus segera mandi pagi, dan ia tidak ingin suasana hati putrinya rusak karena perdebatan bodoh ini.
"Dugu Tua, pinjamkan aku pedangmu sebentar," ucap Zhu Xuan.
Dugu Bo dengan cepat menyerahkan sebilah belati tulang racun miliknya. Zhu Xuan menerima belati itu, tidak melepaskan satu pun cincin jiwa, namun ia mengalirkan sedikit saja niat pedang dari Pedang Langit Abadi yang telah terbuka 80% ke dalam bilah belati tersebut.
Zhu Xuan mengayunkan belati itu ke arah langit terbuka secara horizontal, gerakan yang begitu lambat dan santai seolah sedang memotong udara kosong.
SRET—!!!
Tidak ada suara ledakan besar. Namun, semua orang di tempat itu—termasuk Sea Seahorse Douluo—membelalakkan mata mereka hingga hampir keluar.
Awan hitam legam yang menutupi langit akibat pusaran badai laut tadi seketika terbelah menjadi dua bagian yang sangat simetris. Tarikan garis tebasan itu begitu bersih hingga memanjang ratusan kilometer ke arah selatan, menembus batas atmosfer daratan, dan secara langsung memotong ombak besar di lautan luar yang jaraknya ribuan mil dari tempat mereka berdiri.
Langit di atas Lembah Mirakel seketika menjadi biru bersih, membiarkan cahaya matahari pagi yang hangat menyinari wajah Ling'er.
"Kembalilah ke pulaumu," ucap Zhu Xuan sambil melemparkan kembali belati milik Dugu Bo yang kini telah retak karena tidak kuat menahan energinya. "Katakan pada Bo Saixi... tebasan tadi adalah peringatan pertama dan terakhir. Jika ada kaki dari Pulau Dewa Laut yang melangkah ke daratan ini dengan niat buruk lagi, tebasan berikutnya tidak akan membelah awan, melainkan membelah pulau kalian menjadi dua."
Sea Seahorse Douluo jatuh terduduk di atas tanah. Seluruh keberaniannya, keangkuhannya sebagai ksatria suci, runtuh total berkeping-keping. Tebasan tanpa menggunakan cincin jiwa, tanpa memanggil Wuhun resmi, namun mampu membelah cuaca dunia... ini adalah ranah Dewa Sejati!
"S-Saya mengerti... Tuan Zhu Xuan..." Sea Seahorse Douluo merangkak bangun dengan tubuh yang masih gemetar, mengambil tombaknya yang kini terasa sangat berat, dan berlari melarikan diri ke arah pantai secepat yang ia bisa, bahkan tidak berani menengok ke belakang satu kali pun.
[Ding! Misi berhasil diselesaikan dengan tingkat intimidasi: Sempurna!]
[Hadiah 'Mutiara Penjinak Samudra' telah dikirim ke ruang penyimpanan.]
[Poin Daddy Anda bertambah 4.000.]
Zhu Xuan menghela napas lega, mengeluarkan mutiara berwarna biru jernih dari sistem, lalu memasangkannya sebagai liontin pada kalung gaun pelangi Ling'er. Mutiara itu memancarkan cahaya sejuk yang langsung membuat tubuh Ling'er terasa sangat segar di bawah terik matahari pagi.
"Wah, Ayah! Kalung baru lagi! Warnanya seperti air laut!" Ling'er melompat-lompat gembira, memegangi liontin mutiaranya dengan tangan mungilnya.
"Iya, Sayang. Dengan kalung ini, jika nanti Ling'er ingin bermain air di pantai, air lautnya tidak akan berani membuat baju Ling'er basah," ucap Zhu Xuan lembut, mengangkat putrinya ke dalam gendongan yang kokoh.
Dugu Bo berjalan mendekat dengan wajah yang masih dipenuhi sisa-sisa keterkejutan. "Yang Mulia... Pulau Dewa Laut itu dipimpin oleh Bo Saixi, seorang master level 99 yang konon tidak tertandingi di lautan. Apakah Anda benar-benar tidak khawatir mereka akan membalas dendam dengan kekuatan penuh?"
Zhu Xuan berjalan kembali menuju pondok kayu dengan langkah santai. "Dugu Tua, level 99 di mata orang lain mungkin adalah puncak dunia. Tapi di mataku... itu hanyalah angka fana yang belum melampaui batas dimensi. Selama mereka tahu cara membaca tanda peringatan di langit tadi, mereka tidak akan sebodoh itu untuk menantang seorang ayah yang hanya ingin ketenangan."
Zhu Xuan menoleh sedikit, menatap Dugu Bo dengan senyuman tipis. "Lagipula... sup iga hari ini hampir matang. Jika kau terlalu banyak bertanya, supnya akan menjadi terlalu asyik karena kuahnya menyusut."
Dugu Bo seketika tersentak, wajah tuanya langsung berubah menjadi penuh semangat. "Ah! Sup iga buatan Yang Mulia! Saya akan segera menyiapkan mangkuk dan membersihkan meja makan!" Pria tua beracun yang ditakuti seluruh kekaisaran itu langsung berlari mendahului Zhu Xuan menuju dapur dengan kecepatan yang bahkan mengalahkan master tipe ketangkasan.
Di dalam kamar makan yang hangat, Ling'er duduk di kursi tingginya, memegang sendok kayu kecil dengan penuh semangat sementara kelinci putih gemuknya duduk manis di bawah kakinya, menunggu sisa tulang yang mungkin jatuh.
Zhu Xuan menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk kecil putrinya, memastikan tidak ada potongan tulang tajam yang tersisa. "Makan yang banyak, Ling'er. Setelah ini, kita akan pergi ke Paviliun Bulan untuk belajar musik dengan Bibi Yuehua."
"Siap, Ayah! Ling'er akan makan banyak agar nanti jarinya kuat memetik senar kecapi!" ucap Ling'er sebelum melahap supnya dengan lahap, wajahnya dipenuhi kepuasan yang murni.
Zhu Xuan bersandar di kursinya, menatap putrinya dengan pandangan yang penuh dengan kedamaian. Di luar sana, Benua Douluo mungkin sedang mempersiapkan diri menghadapi perang besar antar faksi, dan Pulau Dewa Laut mungkin sedang gempar menerima laporan ketakutan dari Sea Seahorse Douluo. Namun di dalam ruang makan kecil ini, yang ada hanyalah suara kecapan mulut seorang anak kecil yang sedang menikmati masakan ayahnya.
Bagi Zhu Xuan, menjaga senyum polos itu adalah kultivasi tertingginya.
Selama dunia ini tetap ramah pada putrinya, ia akan membiarkan dunia ini berjalan apa adanya. Namun jika ada yang mencoba mengusik kedamaian itu—apakah itu sekte besar, kekaisaran, Aula Roh, atau bahkan para Dewa dari ranah ilahi sekalipun—Zhu Xuan akan memastikan bahwa pedangnya akan menghapus mereka dari halaman sejarah dunia tanpa sisa.
bukan nya udh di lv 95 segel pedang nya knpa ditambah mlah stuck di 95 ???