Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Setelah mendapatkan omelan panjang dari Zelia semalam, keadaan Zayyan perlahan mulai berubah. Meski luka di hatinya belum benar-benar hilang, setidaknya pikirannya sudah sedikit terbuka.
Ucapan adiknya terus terngiang di kepalanya.
"Kalau abang terus kayak gini, nanti Lollypop malah senang lihat abang hancur."
Kalimat itu seperti tamparan keras baginya.
Sepanjang malam Zayyan banyak berpikir. Untuk apa terus mengurung diri? Untuk apa menghancurkan dirinya sendiri hanya demi seseorang yang bahkan sudah memilih pergi?
Pagi itu, suasana rumah Mahendra terasa jauh lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya.
Pelayan tampak berlalu lalang menyiapkan sarapan. Aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruang makan. Adam sedang membaca berita di tablet miliknya, sementara Kiandra sibuk dengan kutek di kakinya.
Sedangkan Zelia tampak duduk santai dengan wajah penuh kemenangan. Sesekali gadis kecil itu melirik ke arah tangga sambil menyeringai sendiri.
"Aku yakin hari ini abang Zay keluar kamar," gumamnya bangga.
"Tumben pede," sahut Adam tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
"Karena aku yang nyadarin dia."
Adam terkekeh kecil. Namun belum sempat percakapan berlanjut, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Tap... tap... tap...
Semua orang spontan menoleh.
Dan di sana, Zayyan terlihat sedang menuruni tangga. Pemuda itu sudah terlihat jauh lebih rapi dibanding beberapa hari terakhir. Rambutnya tertata, wajahnya segar, bahkan ia mengenakan kemeja hitam dengan celana panjang yang membuatnya terlihat seperti hendak pergi kencan.
Zelia langsung membelalak dramatis.
"MasyaAllah... keajaiban terjadi."
Zayyan langsung melotot kesal.
"Heh."
Adam sampai menurunkan tabletnya karena cukup terkejut melihat perubahan putranya secepat itu.
Kiandra bahkan terlihat lega. Setidaknya putranya sudah kembali menjadi manusia normal.
"Kamu mau ke mana bang?" tanya Kiandra saat Zayyan sudah sampai di ruang tengah.
Zayyan mengambil kunci mobil di atas meja. "Mau pergi dulu sebentar mom, ada urusan."
Kiandra langsung menatap putranya curiga. "Urusan apa?"
"Ya urusan."
"Jangan aneh-aneh Zay."
Zayyan mengernyit bingung.
Kiandra lalu berdiri sambil mendekati putranya.
"Mommy tahu kamu masih galau, tapi nggak harus bunuh diri juga."
Zayyan langsung melongo.
"Hah?"
Bahkan Adam sampai batuk kecil menahan tawanya. Sedangkan Zelia langsung ngakak tanpa dosa.
"HAHAHAHA! Mommy pikir abang mau nyebur jurang?!"
"MOMMY!" protes Zayyan syok.
Kiandra terlihat serius. "Lah siapa tahu. Sekarang orang galau suka aneh-aneh."
Zayyan mengerjapkan matanya beberapa kali. Sumpah, dia masih waras. Tidak mungkin hanya karena perempuan dia langsung ingin mengakhiri hidupnya.
"Aku cuma mau mengembalikan dompet yang aku temukan di bandara, mom," jelasnya akhirnya.
Kiandra langsung berubah canggung.
"Oh..."
Zayyan menatap ibunya tidak percaya.
"Oh?!"
"Mommy kira kamu mau bunuh diri."
"Mommy ini sinetron banget sih."
Adam akhirnya tertawa pelan melihat ekspresi kesal putranya. "Maklumi mommy kamu."
Kiandra langsung mencubit lengan suaminya pelan. "Salah sendiri, Zayyan ngurung diri tiga hari kayak orang depresi."
"Aku cuma butuh waktu sendiri."
"Tiga hari itu bukan sebentar."
Zelia langsung menyela sambil melipat tangan di dada. "Untung ada aku."
"Iya iya, paling hebat sedunia."
"Tentu saja."
Zevanya yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara pelan.
"Bang Zay sekarang ganteng lagi..." Ucapan polos itu membuat semua orang tertawa kecil.
Zayyan mengusap kepala adiknya gemas. "Memangnya kemarin abang jelek?"
"Iya."
"Heh?!"
"Kayak pengemis habis putus cinta," jawab Zelia cepat.
"ZELIA!"
Gadis kecil itu malah lari sembunyi di belakang Adam sambil tertawa puas. Suasana rumah yang beberapa hari terakhir terasa muram kini kembali hangat.
Kiandra tersenyum kecil melihat putranya. Meski masih terlihat menyimpan kesedihan di matanya, setidaknya Zayyan sudah mulai bangkit.
Dan itu jauh lebih baik dibanding terus mengurung diri dalam luka.
"Oh iya," ucap Kiandra lagi. "Dompet siapa memangnya?"
"Nggak tahu."
"Loh?"
"Aku nemu waktu di bandara kemarin"
"Terus?"
"Ada alamatnya."
Adam akhirnya ikut menatap putranya serius.
"Kamu mau antar sendiri?"
"Iya."
"Bagus."
Zayyan mengangguk pelan. Entah kenapa, pagi ini dia memang merasa ingin keluar. Ingin menghirup udara luar lagi setelah terlalu lama terjebak dalam pikirannya sendiri.
Mungkin benar kata Zelia. Hidupnya tidak berhenti hanya karena satu orang pergi.
Kiandra merapikan kaos putranya seperti saat Zayyan masih kecil dulu.
"Hati-hati di jalan."
"Iya mom."
"Kalau sedih lagi jangan ngurung diri."
Zayyan menghela napas pasrah.
"Iya mom."
"Kalau mau nangis bilang mommy aja."
"Mommy..."
Adam kembali terkekeh. Sedangkan Zelia sudah sibuk merekam abangnya diam-diam memakai ponsel.
"Nanti kalau abang galau lagi aku upload."
"ZELIAAA!"
Rumah itu kembali dipenuhi suara ribut khas keluarga Mahendra. Dan setelah beberapa hari, Zayyan benar-benar merasa sedikit lebih ringan.
Meski hatinya belum sepenuhnya sembuh, setidaknya sekarang dia sudah mau melangkah lagi.
*******
Di sebuah kawasan yang cukup ramai di pinggir kota, berdiri sebuah rumah sederhana berwarna krem dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman bunga. Rumah itu memang tidak terlalu besar, namun juga jauh dari kata sempit. Terlihat hangat dan nyaman untuk ditinggali.
Pagi itu suasana rumah tampak cukup tenang. Suara televisi terdengar samar dari ruang tengah, sementara aroma mie rebus memenuhi udara dari arah dapur.
Namun ketenangan itu tidak berlaku bagi seorang gadis yang sedang terduduk lemas di meja makan.
Di depannya berserakan berbagai berkas, fotokopi identitas, formulir bank, dan beberapa kartu baru yang masih terbungkus plastik.
Rambut gadis itu diikat asal, wajahnya tampak kusut karena lelah, sementara mulutnya terus mengomel pelan sejak tadi.
"Sangat merepotkan, huh..." keluhnya frustasi sambil menjatuhkan kepalanya ke meja.
Sudah tiga hari ini hidupnya terasa jungkir balik hanya karena satu benda kecil yang bernama dompet.
Dompet cokelat kesayangannya hilang saat dirinya berada di bandara beberapa hari lalu. Awalnya ia pikir hanya terselip di tas atau tertinggal di mobil. Namun setelah dicari ke mana-mana, hasilnya nihil.
Yang membuatnya semakin stres bukan uang di dalamnya. Melainkan kartu-kartu penting yang ikut hilang.
Dan sekarang, selama tiga hari terakhir, ia harus bolak-balik mengurus semuanya sendirian. Belum lagi antrean panjang yang membuat kesabarannya hampir habis.
Gadis itu mengacak rambutnya frustrasi.
"Aku bersumpah kalau ketemu pencurinya bakal aku kutuk tujuh turunan."
"Tiga hari ngomel terus nggak capek?" sahut seseorang dari dapur.
Seorang wanita tua keluar sambil membawa segelas teh hangat. Wajahnya terlihat geli melihat cucunya yang sejak pagi terus mengeluh.
"Gimana nggak kesel sih nek? Ribet banget ngurus beginian."
Wanita tua itu meletakkan teh di depan putrinya.
"Makanya lain kali jangan ceroboh."
"Aku nggak ceroboh."
"Lalu dompetnya hilang karena apa?"
Gadis itu langsung terdiam.
"...karena semesta membenciku."
Neneknya langsung geleng-geleng kepala.
"Dramatis sekali."
Gadis itu mendesah panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Jujur saja, beberapa hari ini energinya benar-benar terkuras. Mengurus kehilangan dokumen ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.
Kemarin saja ia hampir menangis saat harus mengantre hampir dua jam hanya untuk mengurus kartu ATM baru. Belum lagi petugas yang bicara terlalu cepat membuat kepalanya pening sendiri.
"Besok masih harus urus SIM..." gumamnya lirih.
Lagi-lagi sang nenek menahan tawa.
"Wajahmu kayak orang habis ditinggal nikah."
"Lebih parah dari itu."
"Halah."
Gadis itu mengambil salah satu formulir lalu membacanya dengan tatapan kosong. Seumur hidup, baru kali ini ia merasa dompet adalah benda paling berharga di dunia. Padahal biasanya dompet itu hanya dilempar sembarangan ke dalam tas.
Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi.
Ting!
Gadis itu melirik malas ke layar.
Nomor tidak dikenal. Ia mengernyit sebentar sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
Suara laki-laki terdengar dari seberang sana.
"Selamat pagi, apa benar ini pemilik dompet atas nama Alin." suara itu menyebut namanya dengan jelas.
Mata gadis itu langsung membulat.
Ia spontan duduk tegak.
"I-Iya! Benar! Ini saya!"
"Syukurlah."
Jantung gadis itu langsung berdegup cepat.
Jangan bilang—
"Dompet anda ada di saya."
"ASTAGAAA!"
Teriakannya menggema satu rumah sampai membuat neneknya kaget.
"Ada apa?!"
Gadis itu berdiri panik sambil memegangi kepalanya sendiri.
"DOMPETKU DITEMUKAN!" Wajah frustrasinya yang sejak tadi kusut langsung berubah cerah dalam sekejap.
Sedangkan di seberang telepon, seseorang tanpa sadar tersenyum kecil mendengar suara heboh gadis itu.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥