Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PERSIAPAN DI BAWAH AWAN HITAM
Perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat berangkat. Kehadiran Eyang Sastro seolah membawa aura perlindungan yang begitu kuat. Sepanjang jalan, tidak ada satu pun gangguan yang berani mendekat. Kabut tebal yang biasanya menjadi tembok penghalang, kini berpisah sendiri seolah memberi jalan hormat kepada sosok yang dihormati oleh alam.
Matahari sudah lama tenggelam saat mereka sampai di Desa Karang dewo. Langit malam itu tampak aneh dan mencekam. Awan-awan hitam berkumpul rapat di atas desa, menutupi bintang dan bulan sepenuhnya. Suasana terasa berat, sesak, dan sangat lembap. Rasanya seperti sebelum badai besar datang, namun badai itu tak kunjung turun, hanya menahan napas yang menyesakkan dada.
Saat mereka sampai di rumah, suasana di sana sudah berubah. Rumah yang tadinya tampak biasa saja, kini terlihat suram dan gelap meski lampu-lampu sudah dinyalakan. Bayangan-bayangan di sudut ruangan tampak lebih panjang dan lebih gelap dari biasanya, seolah hidup dan menunggu kedatangan mereka.
"Tempat ini... sudah terkontaminasi hawa mereka," komentar Eyang Sastro sambil berjalan masuk dengan langkah tenang. Mata nya mengamati setiap sudut dinding dan lantai. "Mereka sudah menandai rumah ini sebagai wilayah mereka."
Mbah Joyo segera menyiapkan tempat duduk untuk tamu istimewanya itu. "Maafkan keadaan rumah hamba yang sederhana dan berantakan ini, Eyang."
"Tidak apa-apa, Joyo. Yang penting kita punya tempat berpijak yang kokoh. Sekarang, dengarkan baik-baik. Waktu kita sangat sempit. Besok pagi kita harus mulai mempersiapkan segalanya."
Raga duduk bersila di hadapan mereka, mendengarkan dengan seksama. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut dan semangat karena kini mereka tidak sendirian lagi.
"Eyang, apa saja yang harus kami siapkan?" tanya Raga.
Eyang Sastro mengangkat satu jarinya. "Pertama, kita butuh Batu Tulis dan Tinta Darah. Kita akan menulis ulang perjanjian lama di atas kulit kambing hitam, lalu kita coret dan batalkan secara resmi di hadapan para leluhur."
"Tinta darah?" tanya Raga memelan.
"Ya. Darah segar dari hewan persembahan, atau... jika perlu, darah kita sendiri sebagai penjamin," jawab Eyang Sastro datar. "Kedua, kita butuh dupa dan kemenyan kualitas terbaik yang baunya bisa menembus sampai ke alam sana. Ketiga, dan yang paling penting..."
Eyang Sastro berhenti sejenak, menatap mereka serius.
"Kita butuh Api Suci. Api yang tidak boleh padam selama ritual berlangsung, dari awal sampai selesai. Api itu menjadi penerang dan saksi bisu bahwa kita hadir dengan niat yang murni."
"Baik, Eyang. Besok pagi-pagi sekali hamba akan suruh Raga mencari semua bahan itu," kata Mbah Joyo.
"Tidak," potong Eyang Sastro. "Raga tidak boleh pergi jauh dari pandangan kita mulai sekarang. Sejak kita pulang dari gua, Nyi Blorong pasti sudah tahu rencana kita. Dia tidak akan tinggal diam. Dia akan mencoba menangkap Raga atau mencelakai dia sebelum hari H."
Raga merinding. "Jadi... bahaya kalau aku sendirian?"
"Sangat bahaya. Bahkan di siang hari pun dia bisa mengirim maut. Mulai sekarang, kau harus selalu berada di dekatku atau Mbah Joyo. Jangan pisah," tegas Eyang Sastro.
Malam itu, mereka bertiga berjaga sampai larut. Eyang Satro mulai meracik berbagai jenis ramuan dan bunga-bunga tujuh rupa di dalam sebuah wadah tanah liat. Aromanya harum namun tajam, menusuk hidung dan membuat pikiran menjadi sangat jernih sekaligus waspada.
Keesokan harinya, pagi buta.
Matahari sepertinya enggan bersinar terang. Langit tetap mendung kelabu, membuat siang hari terasa seperti senja. Suasana desa tampak aneh. Warga desa terlihat biasa saja beraktivitas, namun ada rasa cemas yang menyelimuti. Anak-anak tidak ada yang bermain di luar, pintu-pintu rumah banyak yang tertutup rapat. Kabar angker tentang rumah Mbah Joyo sepertinya sudah menyebar lewat bisik-bisik tak kasat mata.
Mbah Joyo pergi ke pasar desa ditemani Raga untuk membeli perlengkapan. Eyang Sastro memilih tinggal di rumah, duduk bersila di ruang tengah sambil memejamkan mata, mengeluarkan aura perlindungan agar tidak ada yang berani masuk.
Di pasar, suasana terasa canggung. Saat Mbah Joyo dan Raga lewat, para pedagang dan pembeli menatap mereka dengan pandangan aneh, campuran antara takut dan hormat.
"Itu lho... cucu Mbah Joyo..."
"Katanya rumahnya sering kedatangan... itu lho..."
"Kasihan, kayaknya kena kasihan atau guna-guna..."
Bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Raga. Ia merasa tidak nyaman, namun ia mencoba mengabaikannya. Ia ingat pesan Eyang Sastro bahwa ini adalah bagian dari tekanan psikologis yang dilakukan oleh pihak lawan untuk melemahkan mental mereka.
"Mbeling saja, Rag. Anggap angin lalu," bisik Mbah Joyo.
Mereka membeli kulit kambing yang sudah disamak halus, tinta China khusus, dupa wangi, dan yang paling sulit adalah mencari ayam jantan bangkok yang bulunya hitam legam tanpa satu pun bulu warna lain, dan kambing hitam yang masih muda dan sehat.
Beruntung, Mbah Joyo memiliki stok sendiri di kandang belakang rumah yang memang dipelihara untuk keperluan ritual adat.
Siang harinya, persiapan mulai dilakukan di halaman belakang rumah, di tempat yang tertutup dan tersembunyi.
Eyang Sastro mengambil alih. Dengan tangan yang cekatan dan hati-hati, ia mulai menulis di atas kulit kambing itu menggunakan pena bambu yang dicelupkan ke dalam campuran tinta dan darah segar. Tulisan itu bukan huruf latin, melainkan huruf Jawa Kuno dan aksara Arab-Melayu yang saling bersambung membentuk mantra-mantra sakti mandraguna.
Raga menyaksikan itu dengan takjub. Setiap kali Eyang Sastro menulis satu baris, udara di sekitar mereka bergetar pelan. Hewan-hewan di kandang seperti ayam dan kambing menjadi gelisah, berkokok dan mengembik keras seakan merasakan bahaya yang besar.
"Sudah selesai," kata Eyang Sastro setelah hampir dua jam bekerja. Ia mengangkat lembaran kulit itu. Tulisan di atasnya tampak basah dan mengkilap, memancarkan aura merah keemasan.
"Ini adalah Surat Pembatalan Ikatan. Nanti malam Jumat, kita akan membacanya dengan lantang di Punden Berdiri, lalu kita bakar di atas api suci. Saat asapnya naik ke langit, saat itulah ikatan itu putus."
"Eyang," tanya Raga ragu. "Bagaimana jika... mereka menyerang saat kita sedang sibuk berdoa? Kita tidak bisa melawan dan berdoa sekaligus."
Eyang Sastro tersenyum tipis. "Itu tugasku. Aku yang akan menjadi tameng dan penahan serangan mereka. Tugas mu hanya satu: Fokus. Jangan biarkan pikiranmu kemana-mana. Jangan biarkan rasa takut menguasaimu. Selama suaramu terus membaca mantra dan matamu tidak terpejam karena ketakutan, mereka tidak akan bisa menyentuhmu."
Mbah Joyo menambahkan, "Dan Kakek akan bertugas menjaga api. Api tidak boleh mati. Jika api mati, berarti kita kalah dan harapan hilang."
Pembagian tugas sudah jelas.
- Eyang Sastro: Penahan serangan & Pengatur energi.
- Mbah Joyo: Penjaga Api & Pembantu ritual.
- Raga: Pembaca Mantra & Inti dari pembatalan itu sendiri.
Malam mulai menjelang. Ini adalah malam terakhir sebelum hari penentuan. Suasana di luar semakin mencekam. Angin berhembus kencang disertai suara lolongan aneh yang menusuk telinga. Seolah-olah seluruh isi hutan sedang berteriak marah.
Tiba-tiba, lampu listrik di seluruh rumah berkedip-kedip lalu padam total. Gelap gulita.
Namun sebelum sempat panik, Eyang Sastro menyalakan sebuah lilin kecil. Cahayanya kecil namun sangat stabil, tidak bergoyang meski angin kencang bertiup masuk melalui celah dinding.
"Mereka mencoba mengintimidasi kita," kata Eyang Sastro tenang. "Besok malam... adalah malam terpanjang dan tergelap dalam sejarah desa ini. Bersiaplah, Raga. Besok malam, kau harus berhadapan langsung dengan dia. Tatap matanya... dan katakan bahwa kau bebas."
Raga mengangguk mantap. Ia mengepalkan tangannya, merasakan dinginya Manik Wajik di jarinya dan beratnya keris pusaka di pinggang nya.
"Aku siap, Eyang. Apapun yang terjadi, aku tidak akan mundur."
Di kejauhan, guntur bergemuruh keras meski tidak ada hujan. Suaranya seperti auman raksasa yang marah. Pertarungan final semakin dekat. Dan kali ini, tidak ada jalan untuk berdamai.