Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Pagi itu, Butik Griya Anggun bersolek melampaui batas kewajaran. Karpet merah membentang angkuh dari pintu masuk hingga ke deretan koleksi eksklusif yang dipajang di atas manekin porselen.
Aroma bunga lili segar memenuhi ruangan, berbaur dengan denting gelas kristal dan tawa renyah para sosialita yang mulai berdatangan. Hari ini adalah peluncuran koleksi 'Glitzy Glamour', acara tahunan paling bergengsi milik Bu Sarah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh berpengaruh dan awak media lokal.
Arumi berdiri di sudut ruangan, mengenakan seragam putihnya yang paling rapi. Meski batinnya masih berdenyut karena ancaman Dinda tempo hari, ia tetap bergerak lincah.
Tangannya sibuk merapikan lipatan kain dan memastikan tidak ada seutas benang pun yang mencuat. Ia butuh pekerjaan ini. Ia butuh gaji terakhirnya untuk membayar uang muka sewa kamar yang sedikit lebih manusiawi bagi Kirana.
"Arumi, pastikan semua bros di koleksi utama terpasang sempurna," perintah Bu Sarah tanpa menoleh.
Suaranya dingin, setajam gunting potong kain. Jelas sekali, kepercayaan wanita itu sedang berada di ujung tanduk setelah serangkaian fitnah yang beredar di luaran.
Di tengah keriuhan tamu, Dinda melangkah masuk dengan gaya seorang ratu. Ia mengenakan gaun kuning emas yang menyilaukan, didampingi Reni yang terus memegang ponsel, seolah siap mendokumentasikan setiap inci panggung sandiwara mereka.
Dinda berjalan mendekati Arumi yang sedang merapikan manekin di dekat area kerja karyawan. Area itu sedikit tersembunyi dari pandangan tamu utama, namun sangat dekat dengan tas-tas milik staf yang digantung di bawah meja.
"Masih di sini, Arumi? Gigih sekali ya," bisik Dinda sambil berpura-pura membenarkan letak selendang di manekin.
Arumi tidak menyahut. Ia membungkuk untuk mengambil peniti yang terjatuh. Pada detik itulah, tangan lincah Dinda bergerak secepat kilat.
Dengan gerakan yang terlatih, ia menjatuhkan sebuah cincin berlian bermata besar ke dalam tas kain milik Arumi yang tergantung sedikit terbuka.
Semua itu terjadi dalam hitungan detik. Dinda segera mundur tiga langkah, lalu tiba-tiba wajahnya berubah panik. Ia mulai memegang jemarinya yang kosong dengan ekspresi histeris yang dibuat-buat.
"Cincinku! Berlian warisan mertuaku hilang!" teriak Dinda.
Suara itu membelah keriuhan pesta. Musik berhenti. Semua tamu menoleh. Bu Sarah bergegas mendekat dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa, Jeng Dinda?" tanya Bu Sarah gemetar.
"Cincinku hilang! Tadi masih ada di jariku saat aku berdiri di dekat sini," Dinda menunjuk area tempat Arumi berdiri. "Aku tidak mau tahu, Bu Sarah! Cincin itu harganya ratusan juta. Cari sekarang juga!"
Reni segera menyambar kesempatan itu. "Bukankah tadi Arumi yang paling dekat dengan Dinda? Bahkan dia sempat membungkuk di dekat tasnya sendiri tadi!"
"Saya tidak mengambil apa pun!" Arumi menyahut. Ia berdiri tegak, namun tangannya yang mencengkeram kain manekin menunjukkan gejolak hebat di dadanya.
"Kalau begitu, periksa semua barangnya! Termasuk tas lusuh itu!" tunjuk Dinda pada tas kain Arumi.
Bu Sarah menatap Arumi dengan tatapan penuh kebencian. "Arumi, berikan tasmu."
"Bu, tolong percaya saya... ini jebakan..."
"Berikan!" bentak Bu Sarah, suaranya menggelegar di seantero butik.
Dengan tangan gemetar, Arumi menyerahkan tasnya. Bu Sarah membalikkan isi tas itu di atas meja pajangan kaca.
Beberapa potong roti sisa, botol minum plastik, dan sebuah dompet kecil terjatuh. Namun, di antara benda-benda kemiskinan itu, sesuatu berdenting keras dan berkilau terkena lampu kristal.
Sebuah cincin berlian.
Seluruh ruangan mendesah kaget. Arumi terpaku, matanya menatap cincin itu dengan tatapan kosong. Bukti fisik itu seolah mengunci mati semua kebenaran yang ia miliki.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Arumi. Kepala Arumi tersentak ke samping, rasa panas segera menjalar di wajahnya.
"Dasar tidak tahu diri!" maki Bu Sarah. "Saya memberikanmu pekerjaan karena kasihan! Saya pikir kamu adalah janda malang yang jujur, tapi ternyata kamu adalah ular berbisa!"
"Bukan saya, Bu... Dinda yang menjatuhkannya..." Arumi mencoba membela diri, namun suaranya tenggelam oleh sorakan hinaan dari para tamu.
"Sudah ketahuan masih mau memfitnah?" seru seorang tamu. "Benar kata orang, sekali pencuri, selamanya tetap sampah!"
Bu Sarah menarik paksa tas Arumi. "Kamu tidak akan mendapatkan gaji terakhirmu! Anggap itu sebagai ganti rugi atas kerusakan reputasi butikku! Pergi kamu dari sini sebelum saya panggil polisi!"
"Tapi Bu, itu uang makan anak saya..."
"Saya tidak peduli! Keluar!" Bu Sarah mendorong Arumi dengan kasar.
Arumi tersungkur di lantai marmer. Dinda berdiri tepat di depan wajahnya, tersenyum penuh kemenangan sambil menerima kembali cincinnya. Dua petugas keamanan butik menyeret Arumi keluar melewati karpet merah yang kini terasa seperti jalan menuju eksekusi.
Di depan pintu masuk, di hadapan orang banyak yang sedang berlalu-lalang, Arumi didorong hingga jatuh terjerembap di atas aspal yang panas. Tas kainnya yang sudah kosong dilemparkan ke arahnya.
Dinda dan Reni berdiri di ambang pintu butik. Reni tertawa lebar sambil mengarahkan ponselnya, merekam Arumi yang sedang duduk bersimpuh di trotoar dengan pakaian kotor dan rambut berantakan.
"Lihat ini!" seru Reni ke arah kamera ponselnya. "Si janda pencuri akhirnya mendapat balasan. Jangan lupa di-share, ya!"
Dinda mendekat, membungkuk sedikit agar suaranya hanya terdengar oleh Arumi. "Inilah tempatmu yang sebenarnya, Arumi. Di bawah kakiku. Di atas tanah. Jangan pernah bermimpi untuk terbang lagi."
Mereka berdua berbalik masuk ke dalam butik yang harum, meninggalkan Arumi sendirian di tengah cemoohan orang-orang.
Arumi berjalan pulang dengan kaki telanjang karena salah satu sandalnya putus. Ia tidak punya uang sepeser pun. Bahkan untuk membeli sepotong roti untuk Kirana malam ini, ia harus memutar otak.
Sesampainya di depan gudang Pak Salim, ia melihat Kirana sedang duduk di atas karung goni, memegang sebuah gambar yang ia buat.
"Ibu! Lihat, Kirana gambar Ibu pakai mahkota!" seru bocah kecil itu dengan wajah ceria.
Arumi menatap gambar itu, lalu menatap wajah polos anaknya yang mungkin sudah menahan lapar sejak siang. Arumi tidak menangis. Ia menarik napas panjang, menelan semua rasa sakit yang tersisa di kerongkongannya.
Ia masuk ke dalam gudang tanpa suara. Ia berjalan ke arah sudut tempat ia menyimpan semua pola-pola baju yang ia buat selama ini. Pola-pola yang ia rancang dengan penuh idealisme dan kejujuran.
Arumi mengambil sebatang korek api kayu.
Satu per satu, pola-pola baju itu ia sulut api. Ia menatap lidah api yang melahap setiap sketsa yang dulu ia banggakan.
"Ibu... kenapa dibakar?" tanya Kirana takut-takut.
Arumi menoleh. Ia memegang bahu Kirana dengan genggaman yang mantap, tidak lagi gemetar. "Karena pola-pola ini tidak bisa memberimu makan, Kirana. Orang jujur tidak punya tempat di dunia yang kotor ini."
Arumi berdiri, menatap sisa abu yang mulai dingin. Ia berjalan menuju kotak alat jahitnya, mengambil gunting paling tajam yang ia miliki. Dengan gerakan dingin, ia memotong sehelai kain hitam sisa produksi, lalu mengikatnya di lengan kirinya.
"Dinda... Reza... Bu Sarah..." Arumi menyebut nama-nama itu pelan, nyaris seperti bisikan doa yang mengerikan. "Kalian telah menghancurkan rasa kasihan yang tersisa dariku."
Arumi berdiri tegak di kegelapan gudang. Ia mengambil sepotong arang dari sisa pembakaran pola tadi, lalu mulai menggambar skema baru di dinding gudang. Bukan skema gaun yang indah, melainkan skema jaringan bisnis tekstil yang ia hafal dari obrolan-obrolan di butik dan kantor Reza.
Ia menandai titik-titik kelemahan mereka, pemasok kain yang tidak puas, karyawan yang merasa tertekan, hingga rahasia kualitas bahan yang sering dimanipulasi.
"Mulai besok, kita akan bermain dengan aturan mereka, Kirana," ucap Arumi sambil menajamkan ujung guntingnya dengan batu asahan.
Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, Arumi tidak lagi menjahit dengan air mata. Ia menjahit dengan ketenangan yang mematikan.
Ia tahu, butik Laksmi sedang menanti koleksi barunya. Dan koleksi kali ini tidak akan mengandung "jiwa" yang lembut, melainkan ambisi yang haus akan kekuasaan.
Arumi menatap ke luar jendela gudang, ke arah pusat kota yang berkilau. Ia tahu perjalanannya untuk menghancurkan mereka akan panjang, namun ia telah siap. Jika dunia menginginkannya menjadi ular, maka ia akan menjadi ular yang paling berbisa.
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi