Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Darurat Tentang Skripsi vs PRT***
RAPAT DARURAT LEVEL SIAGA 1*
Ruang tamu rumah Griya Asri malam itu terang. Lampu kuning 15 watt nyala semua. Di atas meja panjang ada martabak manis tiga varian. Coklat keju, kacang wijen, sama green tea yang dibeli Pak Arya sore tadi waktu pulang kerja. Ada keripik singkong balado sisa kemarin. Ada kacang kulit yang kulitnya udah berantakan di piring. Ada teh manis di gelas kaca yang berkeringat.
Tapi ini bukan nonton Netflix. Ini rapat. Rapat darurat level siaga 1. Semua anggota keluarga hadir. Lengkap. Nggak ada yang izin.
Pak Arya duduk di kursi kayu paling ujung. Di tangannya ada berkas invoice, nota listrik, sama rekap saham perusahaan. Dia baca pelan. Kayak tiap angka itu bisa kabur kalau dia kedip.
Aya duduk di lantai. Main puzzle unicorn. Kadang nyanyi “Let It Go” versi ngaco. Ara di sebelahnya. Main lego. Bikin mobil yang rodanya kebalik.
Arbil duduk di sofa. Headset di kepala. Jari lincah pencet tombol. Suara tembakan kecil-kecil keluar dari HP-nya. Tapi telinganya nggak ketutup. Dia dengerin semua.
Bailla baru selesai cuci piring. Tangan masih basah. Dia lap pakai celemek. Terus duduk pelan di samping Pak Arya. Jaga jarak 10 cm. Biar nggak keliatan terlalu berani.
Dia liat berkas di tangan Pak Arya. Angka-angka. berkas. List belanja bulan depan. Keripik singkong di mulutnya udah jadi remahan basah. Dia telan pelan-pelan.
“Om... boleh ngomong sebentar nggak?” tanyanya pelan.
Setelah diem 10 detik. Kayak lagi minta izin presentasi skripsi.
Pak Arya angkat kepala. Meletakkan berkas di meja. “Iya... boleh dong, Bailla. Ada apa?”
Bailla tarik napas. “Om... sepertinya saya bersedia mengambil pembantu.” Dia berhenti. Ngeliatin reaksi suaminya. Takut ditolak. Takut dibilang manja.
Pak Arya nggak kaget. Dia angguk pelan. “Bagus. Om setuju.
Selama ini saya lihat kamu cukup kerepotan.”
Bailla lega. Tapi belum selesai. “Akhir-akhir ini saya akan sibuk, Om. Skripsi masuk bab akhir. Saya takut nggak bisa ngurus anak-anak. Melihat kejadian Aya kemarin... itu salah satu keteledoran saya.” Suara Bailla turun. Bersalah.
Pak Arya ngerti. Dia genggam tangan Bailla pelan. “Bailla, kejadian Aya kemarin bukan keteledoran kamu. Memang Aya rentan sakit. Dia gampang demam kalau kecapean. Jangan nyalahin diri ya.”
Bailla angguk. Tapi hatinya masih nyangkut. “Aku ngerasa belum jadi kakak yang baik aja, Om. Tapi aku janji, aku bakal belajar lebih giat lagi. Biar nanti bisa jadi wonder mom!” Dia angkat lengan. Gaya binaraga. Aya ketawa ngak.
Pak Arya senyum. “Om sih terserah Bailla aja. Gimana baiknya.
Karena dari awal pun Om kepikiran buat ngerekrut ART. Bailla aja yang belum mau.”
Bailla diem. Iya. Dulu dia nggak mau. Takut dianggap nggak mampu. Takut dianggap manja. Takut dianggap gagal jadi istri.
Tapi sekarang... dia lelah. Lelah secara fisik. Lelah secara mental.
“Iya Om. Sekarang skripsi Bailla udah masuk bab akhir. Pak Budi dosen pembimbing bilang, ‘Kesimpulannya masih tersimpul-simpul, kayak mie keriting."Bailla bikin muka sedih.
Lebay.
Arbil yang dari tadi fokus game langsung nyamber. Sambil ngunyah keripik. “Kak Bailla kalau wisuda mundur, nanti Aya yang TK nya lulus duluan.”
“Hore! Aku duluan!” teriak Aya. Dia angkat puzzle unicornnya tinggi-tinggi.
Ara pun ikut nimbrung. “Kak Bailla jangan kalah sama Aya!”
“Hah... jangan keroyokan dong!” Bailla pura-pura mau nangis.
Padahal ketawa dalam hati.
Pak Arya ikut ketawa. “Untuk sementara, sebelum ada ART,
biar saya aja yang nyuci pakaian. Ara sama Aya biar Arbil yang urus. Kamu fokus skripsi.”
Pak Arya ngomong serius. Tapi matanya nakal.
“Pak, kamu sungguh Bapak-bapak idaman sekali ya. Kalau bisa kasih rating, Bailla kasih bintang 5 deh.” Pujian penuh modus.
Arbil nggak mau kalah. “Yakin Pak? Terakhir Bapak nyuci, kolor Bapak jadi pink. Kena kaos merah Ara.”
Semua diem. Terus meledak ketawa. Pak Arya nutup muka pakai berkas. “Eh... itu kan... itu kan kecelakaan kerja!”
“Aku setuju sewa PRT,” kata Arbil. Suaranya serius sekarang.
“Dengan syarat: dia nggak cerewet kayak Bu RT.”
“Aku setuju!” seru Aya. “Asal dia mau main boneka!”
“Aku setuju!” Ara ngangkat tangan. “Asal dia bisa bikin kuncir dua!”
Pak Arya geleng-geleng. “Ini rapat keluarga apa rapat minta THR sih.”
Bailla ketawa. Pertama kali hari ini dia ketawa lepas. ?“Jadi... sip ya, Pak?”
Pak Arya garuk kepala. “Boleh. Tapi... tapi Bapak ikut seleksi.
Takut dapet yang malah bikin rumah tambah rame.”
“Deal. Bapak yang jadi HRD. Aku yang jadi... yang jadi bos kecilnya.” Bailla senyum licik. “Cuma... Bailla mau yang usianya jangan yang muda. Jangan yang cantik. Jangan yang centil. Apalagi seksi.”
Pak Arya ternganga. “Ha...?
Mulai ada drama cemburu ini.Kayak anak ABG aja.” Arbil ngoda.
“Oke, Bapak setuju,” kata Pak Arya. “Berarti kriterianya udah ditentukan. Pertama, tidak terlalu muda. Tidak terlalu tua. Jangan seksi. Jangan cantik. Jangan centil. Ada tambahan lagi nggak?”
Bailla mikir. “Eeee... udah itu aja dulu untuk PRT-nya. Yang penting... Bapak yang jangan kecentilan ya. Jangan sampai ada drama perselingkuhan majikan dan pembantu.” Dia kasih peringatan lampu merah. Matanya nyala.
Pak Arya cuma bisa garuk-garuk kepala. Istri kecilnya ini, kalau udah mode cemburu, bisa lebih galak dari dosen pembimbing.
*JAM 20.15 WIB. MISI TELEPON.*
Rapat bubar. Tapi misi belum selesai.
Bailla ambil HP. Buka kontak Yu Lastri. Yu Lastri itu tetangga lama Mami. Kerjaannya nyariin ART buat komplek Griya Asri.
“Yu, ada info PRT yang bagus nggak? Yang rajin, amanah, nggak banyak TikTokan.”
Suara Yu Lastri di seberang langsung nyaring. “Ada, Neng!
Namanya Mpok Mur. Umur 52. Tenaga kuda. Mulut... mulutnya radio. Tapi hatinya emas. Mau?”
Bailla bingung. “Radio? Maksudnya?”
“Cerewet, Neng. Tapi kalau dia udah sayang, anakmu dijagain kayak anak sendiri. Dia janda tanpa anak. Jadi butuh keluarga.”
Bailla mikir. Cerewet nggak masalah. Asal nggak nyolong. Asal sayang anak-anak.
“Boleh, Yu. Besok suruh dateng ya. Sekalian interview langsung hehe.”
Dia matiin telepon. Nengok ke Pak Arya. Pak Arya lagi ngelonin Aya di tempat tidur. Aya udah ngantuk. Matanya setengah merem.
“Pak, besok ada yang dateng. Namanya Mpok Mur.”
Pak Arya ngangkat kepala. “Mur? Kayak nama alat-alat pertukangan?”
Bailla ketawa. “Kata Yu Lastri, dia pahit-pahit tapi nyembuhin.”
Pak Arya angguk. “Yaudah. Bismillah. Yang penting kamu bisa lulus. Bapak rela pakai headset tiap hari.”
*MALAM ITU. SEBELUM TIDUR.*
Bailla duduk di pinggir kasur. Ngeliatin Aya yang udah bobok.
Nafasnya pelan. Tenang.
Pak Arya duduk di sampingnya. “Nggak nyesel kan, Bailla?” tanyanya pelan.
Bailla geleng. “Nggak. Aku cuma takut gagal. Takut nggak jadi ibu yang baik.”
Pak Arya genggam tangannya. “Kamu udah jadi ibu yang baik. Ibu yang nggak nyerah. Ibu yang mau belajar.”
Bailla nggak jawab. Dia cuma sandarin kepala ke bahu Pak Arya.
“Besok kita interview Mpok Mur ya,” katanya pelan. “Kalau dia cerewet, kita kasih earphone.”
Pak Arya ketawa kecil. “Setuju. Tapi kalau dia cerewetnya kebangetan, kita kirim ke komplek Bu RT. Biar seimbang.”
Mereka ketawa pelan. Nggak mau bangunin Aya.
*PAGI BERIKUTNYA. JAM 08.00 WIB.*
Mpok Mur datang. Pakai daster batik. Bawa tas kresek hitam.
Isinya baju ganti sama keripik tempe. Orangnya kecil. Tapi auranya besar. Matanya tajam. Suara lantang.
“Assalamualaikum! Saya Mpok Mur! Saya datang bawa niat baik dan tenaga!” teriaknya dari depan pintu.
Pak Arya yang buka pintu langsung mundur selangkah. “Eh... iya, Mpok. Silakan masuk.”
Interview dimulai di ruang tamu.
Bailla jadi HRD. Pak Arya jadi asisten HRD. Ara dan Aya jadi tim pengawas. Arbil... Arbil pura-pura nggak peduli. Tapi dia dengerin dari kamar.
Pertanyaan pertama: “Kalau Aya nangis tengah malam,
Mpok ngapain?”
Mpok Mur jawab cepat. “Ngajiin, Neng! lTerus bikinin susu!
Kalau nggak mempan, Mpok gendong keliling rumah sambil nyanyi dangdut!”
Semua diem. Terus ketawa.
Pertanyaan kedua: “Kalau Ara minta kuncir dua, bisa?”
Mpok Mur angkat tangan. “Bisa! Mpok dulu pernah jadi tukang konde di pasar! Rambut kriting aja bisa lurus!”
Pertanyaan ketiga: “Kalau Pak Arya godain Mpok, ngapain?”
Pak Arya langsung batuk. Bailla nyubit pelan.
Mpok Mur ketawa. l“Wah, Pak! Kalau Bapak godain Mpok, Mpok pukul pakai sapu! Mpok udah tua, Pak! Nggak mau dosa!”
Pak Arya lega. Bailla lega. Arbil di kamar ketawa ngak.
*HASIL INTERVIEW.*
Mpok Mur diterima. Mulai kerja besok. Gaji 3 juta. Libur hari Minggu. Tugas: masak, nyuci, beresin rumah, jagain anak kalau Bailla kuliah. Tinggal dirumah Arya ada bonus kalau kerjaan bagus.
Bailla merasa beban di pundaknya berkurang 20 kilo. Dia bisa napas. Dia bisa fokus skripsi.
Malam itu, dia nulis di diary.
_Hari ke-7.
Aku baru sadar,
jadi ibu itu bukan tentang kuat sendirian.
Tapi tentang berani minta tolong.
Terima kasih, Pak Arya.
Terima kasih, anak-anak.
Terima kasih, Mpok Mur yang belum datang tapi udah bikin aku tenang._
Besok,
Mpok Mur datang.
Doakan ya...
semoga sesuai ekspektasi.
Semoga dia nggak cerewetnya kayak Bu RT.
Semoga dia beneran punya hati emas.
Karena kalau iya,
rumah ini...
bakal makin lengkap.
-----------------