"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Tiga hari berlalu sejak operasi itu sukses dilakukan. Selama itu pula, Maya tidak pernah pulang. Ia tidur di kursi tunggu rumah sakit, mandi di toilet umum, dan makan seadanya. Arlan sama sekali tidak menghubunginya tidak ada telepon, tidak ada pesan singkat menanyakan keberadaannya, seolah Maya memang sudah benar-benar terhapus dari peradaban pria itu.
Sore itu, saat ibunya sudah mulai stabil di ruang pemulihan, Maya memutuskan untuk kembali ke rumah. Bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk mengambil sisa barang pribadinya dan surat-surat penting. Ia tahu neraka sedang menunggunya di balik pintu besar itu.
Benar saja, baru saja langkah kaki Maya menyentuh ruang tamu, aroma parfum Sarah yang menyengat langsung menyambutnya. Di sana, di sofa ruang tengah, Sarah sedang duduk bersandar pada Arlan. Lengan Sarah masih terbalut perban putih yang bersih, sementara Arlan sedang membacakan buku cerita untuk Dion yang duduk di pangkuannya.
Mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Pemandangan yang menghantam ulu hati Maya hingga ia sesak napas.
"Oh, kau pulang?" Arlan mendongak. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah sedang bicara pada orang asing yang tersesat. "Kupikir kau sudah cukup tahu diri untuk tetap menghilang."
Maya tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju tangga, namun suara Arlan menghentikannya.
"Berhenti di situ, Maya. Aku sudah mengganti kunci kamar utama. Barang-barangmu sudah dipindahkan ke gudang belakang."
Maya berbalik, menatap suaminya dengan tatapan yang kini kosong. "Barang-barangku? Kau membuangnya ke gudang?"
"Sarah butuh ruang lebih besar untuk terapi penyembuhan traumanya. Dan Dion butuh kamar bermain yang dekat dengan ibunya," Arlan berdiri, meletakkan Dion di samping Sarah, lalu berjalan mendekati Maya. "Lagi pula, untuk apa kau butuh kamar mewah? Kau lebih sering menghabiskan waktu di luar atau bersembunyi seperti pengecut."
"Mas, aku di rumah sakit menemani Ibuku yang hampir mati!" suara Maya bergetar.
"Jangan gunakan alasan orang tua untuk menutupi sifat busukmu. Sarah bilang dia melihatmu pergi dengan seorang pria saat keluar dari gerbang hari itu," Arlan mencengkeram rahang Maya, memaksa wanita itu menatap matanya yang penuh kebencian. "Uang operasi itu sudah cukup untuk menebus semua jasamu selama ini. Jangan berharap lebih."
Sarah berdiri, berjalan mendekati mereka dengan langkah yang diseret-seret, seolah kakinya sangat lemas. "Kak Arlan, sudah... jangan bertengkar lagi. Aku tidak apa-apa jika Mbak Maya benci padaku, asal jangan Kak Arlan yang terbebani."
"Kau dengar itu?" Arlan mempererat cengkeramannya pada rahang Maya. "Wanita yang kau lukai ini masih memikirkan ketenanganku. Sedangkan kau? Kau hanya membawa badai di rumah ini."
"Dia berbohong, Mas! Pria yang dia maksud adalah supir taksi online!" teriak Maya, mencoba melepaskan diri.
"Kebohonganmu sudah tidak mempan lagi." Arlan menghempaskan wajah Maya ke samping. "Mulai besok, pengacara akan mengirimkan dokumen. Aku tidak akan menceraikanmu ,karena aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya menjadi tidak terlihat. Kau akan tetap di rumah ini, di gudang itu, melayani kebutuhan Sarah dan Dion sebagai bentuk penebusan dosamu karena telah melukainya."
"Kau gila, Mas! Kau menjadikanku pembantu di rumahku sendiri?"
"Ini bukan rumahmu lagi," bisik Arlan tepat di telinga Maya, dingin dan tajam. "Ini adalah rumah keluarga Dirgantara. Dan kau... kau hanyalah sebuah kesalahan yang tertulis di atas kertas nikah."
Sarah tersenyum dari balik bahu Arlan, sebuah senyuman yang begitu lebar hingga menampakkan deretan giginya. Ia telah berhasil. Ia tidak hanya mencuri perhatian Arlan, ia telah mencuri seluruh hidup Maya.
Maya menatap suaminya, pria yang dulu sangat ia puja. Di detik itu, Maya menyadari bahwa pria di depannya bukan lagi manusia. Ia adalah monster yang diciptakan oleh rasa bersalah dan manipulasi, dan Maya adalah tumbal yang harus disembelih setiap hari di atas altar egonya.
"Baik," ucap Maya lirih, namun matanya menatap tajam ke arah Sarah. "Jika ini neraka yang kau inginkan, Mas... aku akan mengikutimu sampai ke dasarnya. Tapi ingat, monster tidak pernah hidup tenang selamanya."
Maya berbalik, berjalan menuju gudang gelap di belakang rumah, meninggalkan "keluarga bahagia" itu dalam keheningan yang mencekam. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, Maya tidak akan menggunakan air mata sebagai senjatanya.
Gudang di belakang rumah itu pengap, berdebu, dan hanya diterangi satu lampu kuning yang berkedip-kedip. Di sana, Maya menemukan kopernya tergeletak begitu saja, terbuka dengan isinya yang berhamburan seolah sengaja diacak-acak. Beberapa pakaian mahalnya tercampur dengan tumpukan kardus bekas.
Maya tidak menangis. Matanya kering, namun dadanya terasa seperti terbakar. Ia memungut sebuah bingkai foto kecil yang kacanya sudah retak foto pernikahannya dengan Arlan tiga tahun lalu. Di foto itu, Arlan tersenyum. Senyum yang kini terasa seperti fiksi.
"Prak!"
Maya sengaja menjatuhkan bingkai itu kembali ke lantai. Ia tidak butuh kenangan. Ia butuh strategi.
Tengah malam, saat seluruh rumah sudah sunyi, pintu gudang terbuka sedikit. Maya yang sedang duduk di atas dipan tua langsung waspada. Namun, yang muncul bukanlah Arlan, melainkan Sarah.
Wanita itu melangkah masuk dengan angkuh, tidak ada lagi akting lemah atau perban yang terlihat menyakitkan. Ia menutup pintu gudang rapat-rapat.
"Bagaimana rasanya, Mbak?" Sarah berbisik, suaranya mengandung racun yang mematikan. "Tidur di tempat yang seharusnya untuk tikus?"
Maya menatapnya datar. "Kau berisiko besar kemari, Sarah. Bagaimana kalau Arlan bangun dan melihatmu sehat walafiat tanpa bantuan pundaknya?"
Sarah tertawa rendah. "Arlan sudah meminum teh yang aku buatkan. Dia akan tidur nyenyak sampai pagi. Dia percaya padaku sepenuhnya, Maya. Apapun yang kukatakan, itulah kebenarannya bagi dia. Termasuk saat aku bilang kau yang membunuh suamiku kalau saja aku mau."
"Kau gila," desis Maya.
"Aku tidak gila, aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku. Suamiku meninggal karena menyelamatkan Arlan. Jadi, wajar saja kalau Arlan menjadi penggantinya, bukan? Harta ini, perhatian ini, semuanya adalah bayaran untuk nyawa suamiku."
Sarah mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Maya. "Besok pagi, siapkan sarapan favorit Dion. Dan ingat, panggil aku 'Nyonya' jika ada tamu yang datang. Arlan sendiri yang memerintahkannya."
Pagi harinya, Maya melakukan apa yang diminta. Ia berdiri di dapur dengan celemek kumal, sementara Arlan dan Sarah duduk di meja makan utama. Arlan bahkan tidak melirik saat Maya meletakkan piring di depannya.
"Kak Arlan, aku ingin mengadakan pesta kecil besok malam," ucap Sarah sambil mengelus lengan Arlan. "Hanya beberapa kolega bisnismu dan teman-temanku. Aku ingin mereka tahu kalau aku dan Dion sudah baik-baik saja."
Arlan mengangguk tanpa ragu. "Atur saja. Gunakan kartu kreditku."
"Tapi... siapa yang akan menyiapkan semuanya? Aku tidak ingin menyewa katering, aku ingin suasana yang lebih private." Mata Sarah melirik ke arah Maya yang sedang mencuci piring di wastafel.
Arlan mengikuti arah pandang Sarah. "Maya yang akan mengurusnya. Dia tidak punya pekerjaan lain selain menebus kesalahannya padamu. Dia akan memasak dan melayani tamu sebagai pelayan."
Tangan Maya berhenti di tengah busa sabun. Melayani kolega bisnis Arlan? Mereka semua mengenal Maya sebagai istri direktur Dirgantara Group. Ini bukan sekadar hukuman; ini adalah upaya Arlan untuk menghancurkan harga diri Maya secara publik.
"Kau mendengarku, Maya?" suara Arlan meninggi, dingin dan menuntut.
Maya berbalik pelan. Ia menatap Arlan tepat di matanya ,tatapan yang kini tidak lagi menyimpan cinta, melainkan api yang tersembunyi.
"Aku dengar, Mas," jawab Maya dengan nada yang sangat tenang.
Arlan sedikit mengernyit melihat ketenangan Maya yang tidak biasa, namun egonya terlalu besar untuk merasa curiga. Ia hanya mendengus, lalu kembali mengabaikan keberadaan istrinya.