Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang Tidak Pernah Diakui
Ada satu hal yang sering menghancurkan hubungan.
Bukan karena tidak cinta.
Bukan karena ada orang ketiga.
Tapi karena… ada sesuatu yang disembunyikan terlalu lama.
Setelah malam itu, Nara berhenti bertanya terlalu banyak.
Bukan karena dia tidak peduli.
Tapi karena dia mulai takut… dengan jawaban yang mungkin dia dapatkan.
Dan Arka
tetap seperti itu.
Dekat, tapi tidak benar-benar hadir.
“Lo kenapa akhir-akhir ini sering pulang malam?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Mereka duduk di mobil Arka, mesin menyala, tapi tidak ada yang benar-benar ingin pergi duluan.
Arka tidak langsung menjawab.
“Kerjaan.”
Singkat.
Selalu itu.
Nara mengangguk pelan.
“Kerjaan yang sama kayak dulu?”
Arka meliriknya sekilas.
“Apa maksud lo?”
Nada suaranya berubah.
Lebih waspada.
“Gue cuma nanya.”
“Dan gue udah jawab.”
Cepat.
Terlalu cepat.
Seolah ingin menutup percakapan sebelum terlalu jauh.
Nara tersenyum kecil.
Senyum yang kali ini… jelas tidak tulus.
“Iya. Jawab. Tapi nggak jelas.”
Arka langsung menatapnya.
“Lo kenapa sih sekarang jadi curiga terus?”
Kalimat itu
langsung menusuk.
Nara terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
“Lucu ya.”
“Apaan?”
“Gue nanya… dibilang curiga.”
Arka menghela napas kasar.
“Karena cara lo nanyanya beda.”
“Beda gimana?”
“Kaya… lo nggak percaya gue.”
Dan itu
akhirnya keluar.
Hening.
Nara menatap ke depan.
Tangannya saling menggenggam, sedikit lebih kuat.
“Gue pengen percaya, Ka.”
Pelan.
Jujur.
“Tapi lo nggak kasih gue alasan buat itu.”
Arka langsung menggeleng.
“Gue nggak pernah bohong.”
Nara menoleh cepat.
“Terus kenapa lo nggak pernah cerita?”
Satu pertanyaan.
Tepat sasaran.
Arka membuka mulut.
Tapi tidak ada kata yang keluar.
Karena dia tahu…
diamnya selama ini adalah jawaban.
“Lo lagi sembunyiin apa sih dari gue?”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Dan kali ini… tidak bisa ditarik kembali.
“Gue nggak nyembunyiin apa-apa.”
Jawaban itu datang.
Cepat.
Refleks.
Dan justru itu yang membuatnya terdengar… tidak jujur.
Nara tersenyum.
Pelan.
Tapi matanya mulai berkaca.
“Iya. Semua orang juga bilang gitu.”
Kalimat itu kembali lagi.
Dan kali ini… terasa lebih berat dari sebelumnya.
“Lo nggak percaya gue?” tanya Arka.
Nada suaranya mulai meninggi.
Bukan marah… tapi tertekan.
Nara menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya… dia tidak langsung menjawab.
Karena dia sadar
ini bukan lagi tentang percaya atau tidak.
Tapi tentang sesuatu yang lebih dalam.
“Gue nggak ngerti lo lagi, Ka.”
Akhirnya itu yang keluar.
Lebih jujur dari “nggak percaya”.
Lebih menyakitkan dari apa pun.
Arka terdiam.
Kalimat itu… lebih berat dari tuduhan.
Karena itu berarti
dia sudah berubah sejauh itu.
“Gue masih orang yang sama,” katanya pelan.
Nara menggeleng kecil.
“Nggak.”
Satu kata.
Tapi mutlak.
“Orang yang sama nggak akan bikin gue ngerasa sendirian kayak gini.”
Sunyi.
Dan kali ini… benar-benar tidak ada yang bisa dibantah.
Arka mengusap wajahnya, frustrasi.
“Gue lagi berusaha, Nar.”
“Berusaha apa?”
“Buat semuanya tetap jalan.”
Jawaban itu
tidak menjawab apa-apa.
“Dengan cara ngejauh?” tanya Nara.
Langsung.
Tanpa jeda.
Arka terdiam lagi.
Dan itu… cukup.
Mata Nara akhirnya benar-benar berkaca.
“Tolong jujur sama gue, Ka.”
Suaranya mulai bergetar.
“Tolong… jangan bikin gue nebak terus.”
Arka menatapnya.
Lama.
Seperti sedang berperang dengan sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Ada sesuatu yang ingin dia katakan.
Terlihat jelas.
Tapi tertahan.
“Gue”
Dia berhenti.
Menarik napas.
Mengalihkan pandangan.
“Gue cuma lagi capek.”
Lagi.
Jawaban yang sama.
Dan kali ini… benar-benar menghancurkan sesuatu di dalam Nara.
Karena dia tahu
kalau Arka mau jujur, dia bisa.
Tapi dia memilih untuk tidak.
“Yaudah,” kata Nara pelan.
Terlalu pelan.
Terlalu tenang.
Arka menoleh cepat.
“Yaudah apa?”
Nara tersenyum kecil.
Senyum yang berbeda.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Tapi seperti… mulai menyerah.
“Kalau lo nggak mau cerita… gue juga nggak
akan maksa lagi.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi dampaknya besar.
“Jangan gitu, Nar”
“Gue capek.”
Langsung.
Memotong.
“Capek ngerasa gue doang yang berusaha ngerti.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya…
Arka benar-benar kehilangan kata-kata.
Malam itu, tidak ada penjelasan.
Tidak ada kejelasan.
Hanya dua orang yang sama-sama diam…
tapi dengan jarak yang semakin jauh.
Kereta membawa Nara kembali ke sekarang.
Matanya basah, tapi dia tidak menangis.
Di sampingnya, Arka masih diam.
Tapi kali ini… diam itu penuh arti.
“Waktu itu…”
Suara Arka pelan.
Hampir ragu.
“Gue hampir cerita.”
Nara tidak langsung menoleh.
“Hampir… bukan cerita.”
Jawabannya tenang.
Tapi tajam.
Arka menunduk.
Karena dia tahu
satu momen itu…
mungkin yang mengubah semuanya.
Kereta terus melaju.
Dan di antara mereka…
ada satu hal yang semakin jelas:
bukan hanya cinta yang mereka miliki
tapi juga kebenaran… yang tidak pernah diungkap.