"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Nafas Kematian di Ruang VVIP
Kegelapan menyelimuti lantai VVIP RS Medika, Sistem keamanan yang canggih mendadak lumpuh total
Para pengawal yang berjaga di depan pintu kamar ibu Vandiko jatuh satu per satu tanpa sempat mengeluarkan suara—leher mereka tersayat dengan presisi bedah yang mengerikan
Di dalam kamar, Ibu Vandiko masih terlelap, tidak menyadari sosok tinggi besar dengan kulit sepucat mayat dan mata merah menyala berdiri di samping ranjangnya.
Itu adalah subjek dari Proyek X, manusia yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menjadi mesin pembunuh tanpa rasa sakit
Tepat saat tangan monster itu hendak menyentuh leher sang ibu, udara di dalam ruangan mendadak membeku
Sring!
Sebuah belati hitam melesat dari kegelapan sudut ruangan, tertancap tepat di pergelangan tangan sang pembunuh. Darah berwarna hitam pekat menetes ke lantai marmer
"Menyentuhnya berarti memesan tiket ke neraka paling dalam," sebuah suara dingin terdengar dari arah jendela
Vandiko Elhaz berdiri di sana, Ia tidak datang sendiri
Di belakangnya, Gia dan dua anggota Black Sentinel yang telah diperkuat serum muncul seperti hantu
[Ting! Misi Darurat: Lindungi Ibu Tuan Vandiko!]
[Musuh Terdeteksi: 'Chimera-01' — Level Kekuatan: Tingkat Tinggi.]
[Saran Sistem: Gunakan 'Mode Otoritas Dewa' selama 60 detik!]
"Gia, amankan Ibuku, Biar aku yang mengurus sampah genetik ini," perintah Vandiko
Matanya kini bersinar biru elektrik yang mengintimidasi
[Mode Otoritas Dewa Aktif!]
Dalam pandangan Vandiko, gerakan Chimera-01 yang tadinya secepat kilat mendadak menjadi sangat lambat
Vandiko melesat maju, Pukulan pertamanya menghantam dada monster itu hingga terdengar bunyi tulang rusuk yang hancur berkeping-keping
Monster itu meraung, mencoba mencakar wajah Vandiko, namun Vandiko menangkap lengannya dan memelintirnya hingga putus dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
"Kalian para Naga mengira bisa menyentuh kelemahanku?" Vandiko mencengkeram leher monster itu, mengangkat tubuh seberat 150 kg itu dengan satu tangan
"Katakan pada tuanmu, mulai malam ini, perburuan naga secara resmi dibuka."
Dengan satu hentakan, Vandiko mematahkan leher subjek Proyek X tersebut
Tubuh monster itu ambruk, mulai mencair menjadi cairan hitam karena sistem penghancur diri otomatis yang tertanam di tubuhnya
Vandiko mengatur napasnya, Ia menoleh ke arah ibunya yang masih tertidur berkat efek bius sistem yang ia pasang sebelumnya agar sang ibu tidak trauma
"Tuan," Gia mendekat dengan wajah serius "Kami menemukan pelacak di tubuh monster ini. Frekuensinya mengarah langsung ke Menara Naga di pusat kota. Mereka sedang memantau kita sekarang."
Vandiko menatap kamera CCTV yang sudah mati di pojok ruangan
Ia tahu, para naga di bunker mereka sedang menatap layar hitam dengan penuh kemarahan
"Bagus," ucap Vandiko datar
"Gia, pindahkan Ibuku ke fasilitas rahasia 'Sektor Nol' yang kita bangun di bawah tanah SCBD
Dan siapkan seluruh unit Black Sentinel."
"Kita akan menyerang mereka sekarang
Tuan?" tanya Gia
"Tidak sekarang," Vandiko tersenyum dingin, senyum yang akan menghantui mimpi buruk siapapun yang melihatnya"
Menghancurkan mereka sekaligus terlalu cepat itu membosankan, Aku akan membuat saham mereka jatuh ke titik nol besok pagi, lalu saat mereka jatuh miskin dan putus asa
barulah aku akan datang untuk mengambil nyawa mereka satu per satu
Vandiko berjalan keluar dari rumah sakit
Di luar, puluhan mobil hitam telah berbaris rapi
Seluruh kota seolah menahan napas
Namun, saat Vandiko hendak masuk ke mobilnya, sebuah pesan masuk ke ponsel pribadinya
Bukan dari sistem, bukan dari Isabella
"Vandiko, kau pikir kau satu-satunya yang punya Sistem? Jangan terlalu sombong, adik kelasku."
Vandiko tertegun, Jantungnya berdegup kencang
Ada pengguna sistem lain di kota ini? Dan dia mengenalnya?