NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:970
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Aroma Maskulin Perancis dan Cemburu di Balik Meja Pola

Kemenangan besar di atas kapal pesiar The Golden Horizon membawa atmosfer baru bagi kediaman Adiguna. Paman Hendra dan antek-anteknya kini sedang menjalani proses pemeriksaan intensif, memberikan waktu bagi Devan dan Nika untuk benar-benar bernapas. Namun, bagi Nika, "istirahat" adalah kata asing. Pagi itu, ruang tengah butik "Arunika" meledak dengan jeritan histeris Maya.

"Mbak Nika! Mbak! Lihat ini!" Maya berlari sambil menggoyang-goyangkan tabletnya. "Surel dari komite Fédération de la Haute Couture et de la Mode! Koleksi 'Reborn' kita... mereka mengundang kita untuk tampil di Paris Fashion Week musim depan!"

Nika tertegun, menjatuhkan gunting kainnya ke lantai marmer dengan denting nyaring. Paris. Puncak dari segala impian setiap desainer di seluruh dunia. Namun, kejutan itu tidak berhenti di sana.

"Dan Mbak, mereka mengirimkan seorang mentor sekaligus kolaborator untuk membantu kita menyesuaikan standar pasar Eropa," lanjut Maya dengan mata yang kini berubah menjadi bentuk hati. "Namanya Julian de Luca. Dia adalah mantan direktur kreatif rumah mode ternama di Paris. Dan dia... sudah ada di lobi depan."

Nika segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Saat pintu butik terbuka, aroma parfum kayu cendana dan citrus yang sangat elegan langsung memenuhi ruangan. Seorang pria dengan tinggi badan yang hampir menyamai Devan, mengenakan syal sutra yang diikat longgar dan blazer linen warna navy, melangkah masuk. Rambutnya pirang gelap, sedikit berantakan dengan gaya messy yang terencana, dan matanya biru cerah.

"Ah, voilà! Anda pasti sang jenius itu," ucap Julian dengan aksen Perancis yang kental dan berat. Ia meraih tangan Nika, membungkuk sedikit, dan mengecup punggung tangannya dengan sangat lama. "Enchanté, Nika. Mon Ange... Malaikatku. Desainmu di kapal pesiar itu telah sampai ke telinga kami di Paris."

Tepat pada saat itulah, pintu utama butik terbuka kembali. Devan masuk dengan membawa buket bunga tulip favorit Nika dan sekotak camilan—niat hatinya ingin memberikan kejutan makan siang romantis. Namun, langkah Devan terhenti seketika saat melihat seorang pria asing sedang "menghisap" punggung tangan istrinya sambil menyebutnya "Malaikat".

Buket tulip di tangan Devan seolah berubah menjadi senjata tumpul. Rahangnya mengeras, dan matanya menyipit tajam.

"Siapa ini?" suara Devan terdengar seperti suara guntur di kejauhan, sangat rendah dan penuh tekanan.

Nika buru-buru menarik tangannya, merasa ada suhu dingin yang mendadak menyerang ruangan. "Mas! Kenalkan, ini Julian de Luca. Dia desainer dari Paris yang dikirim komite Fashion Week untuk membantuku!"

Julian berbalik, tersenyum dengan gaya yang sangat menawan—yang justru di mata Devan terlihat seperti tantangan perang. "Ah, Anda pasti sang suami yang beruntung itu. Julian," ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Devan menjabat tangan Julian dengan kekuatan yang mungkin cukup untuk meremukkan beton pracetak. Julian meringis sedikit, namun tetap mempertahankan senyumnya.

"Devan Adiguna. CEO Adiguna Group. Dan ya, aku memang sangat beruntung... dan sangat protektif terhadap 'Malaikat'-ku," balas Devan dengan penekanan pada kata terakhir.

Sesi kerja siang itu berubah menjadi ajang perang dingin. Devan, yang seharusnya kembali ke kantor untuk rapat anggaran, justru memutuskan untuk "bekerja dari butik". Ia menarik sebuah kursi ke pojok ruang pola, membuka laptopnya, namun matanya sama sekali tidak menatap angka-angka. Matanya tertuju pada Julian yang kini sedang berdiri sangat dekat di belakang Nika, membantu mengarahkan potongan kain di atas manekin.

"Sedikit lebih rendah di bagian bahu, Mon Ange. Kita ingin menunjukkan tulang selangka yang elegan," bisik Julian sambil jemarinya nyaris bersentuhan dengan leher Nika.

BRAKK!

Devan menutup laptopnya dengan keras, membuat Maya terjingkat kaget.

"Nika, aku rasa sirkulasi udara di sini buruk. Kenapa pria ini harus berdiri menempel padamu seperti lem?" tanya Devan, bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat.

"Mas, Julian sedang mengajariku teknik draping Perancis!" protes Nika dengan bisikan tertahan.

"Aku bisa mengajarimu teknik draping konstruksi kalau kamu mau. Lebih kokoh dan tidak berisiko terjadi kontak fisik yang tidak perlu," sahut Devan sambil menyelipkan tubuhnya di antara Nika dan Julian, secara harfiah memisahkan mereka.

Julian hanya mengangkat bahu dengan santai. "Cemburu adalah bumbu cinta yang menarik, Monsieur Adiguna. Tapi dalam seni, kita butuh kebebasan."

"Dalam pernikahanku, kita butuh batasan," balas Devan telak.

Kericuhan memuncak saat sore hari. Nika sedang mencoba mendesain sebuah gaun malam baru. Julian, dengan gaya "artis"-nya yang dramatis, mengambil sebuah kain panjang dan mulai melilitkannya ke tubuh Nika untuk menunjukkan ide desainnya.

"Bayangkan gaun ini mengalir seperti air di Sungai Seine, Nika..." ucap Julian sambil menarik kain itu hingga Nika harus berputar dan berakhir tepat di pelukan Julian.

Devan yang baru saja kembali dari dapur membawa air minum, menjatuhkan gelasnya (untungnya plastik). Tanpa bicara, Devan langsung menyambar ujung kain sifon tersebut dan menariknya dengan satu sentakan kuat.

"Cukup!" seru Devan. Ia kemudian melakukan hal yang sangat random. Ia mengambil sebuah gulungan besar lakban kertas dari meja kerja Maya, lalu ia menarik garis lurus di lantai marmer, tepat di sekeliling meja kerja Nika.

"Apa yang kamu lakukan, Mas?" Nika melongo.

"Ini adalah 'Zona Larangan Terbang'. Julian, Anda boleh bicara, Anda boleh menggambar, tapi kaki Anda tidak boleh melewati garis lakban ini jika ingin pulang ke Paris dengan utuh," ucap Devan dengan wajah paling serius yang pernah Nika lihat.

Julian tertawa terbahak-bahak. "Anda sangat menghibur, Monsieur! Seperti singa yang menjaga wilayahnya."

"Ini bukan hiburan. Ini SOP perusahaan," jawab Devan kaku.

Nika yang awalnya kesal, kini justru melihat betapa konyolnya suaminya yang perkasa itu. Devan Adiguna, sang penakluk bisnis, baru saja menggunakan lakban kertas untuk mengamankan istrinya dari desainer Perancis.

Nika mendekati Devan, yang masih berdiri tegak di samping garis lakban dengan tangan bersedekap. Nika melingkarkan lengannya di leher Devan, mengabaikan tatapan Julian.

"Mas... kamu cemburu ya?" bisik Nika sambil mencium pipi Devan.

"Tidak. Aku hanya sedang melakukan manajemen risiko terhadap gangguan asing," jawab Devan, meski telinganya mulai merona merah.

"Bohong. Kamu cemburu sampai garis lakban ini bergetar," Nika tertawa, lalu ia berbalik ke arah Julian. "Julian, kurasa kita cukupkan untuk hari ini. Mas Devan butuh... konsultasi intensif denganku."

Julian membungkuk hormat, matanya berkilat jenaka. "Tentu, Mon Ange. Sampai jumpa besok di garis perbatasan."

Setelah Julian pergi, Devan masih diam, menatap garis lakban itu seolah-olah itu adalah mahakarya seni. Nika kemudian melakukan keranduman berikutnya. Ia mengambil sisa kain sifon biru tadi, lalu melilitkannya ke kepala Devan hingga suaminya terlihat seperti memakai turban besar.

"Sekarang kamu adalah Syekh Devan, penjaga butik 'Arunika'. Mana senyumnya?" goda Nika.

Devan menatap pantulan dirinya di cermin—seorang CEO berjas mahal dengan turban kain sifon biru dan plester ayam di bahu (yang ternyata belum dilepas sejak pagi). Ia akhirnya menyerah dan tertawa.

"Nika, kamu benar-benar membuatku kehilangan seluruh wibawaku hanya dalam waktu satu jam," ucap Devan sambil menarik Nika ke dalam dekapan erat.

"Wibawa itu membosankan, Mas. Aku lebih suka suamiku yang cemburuan dan hobi main lakban," jawab Nika. "Tapi janji ya, jangan galak-galak pada Julian. Dia tiket kita ke Paris."

"Aku tidak janji. Tapi aku akan pastikan lakbannya lebih tebal besok," gumam Devan.

Malam itu, mereka duduk di lantai butik yang berantakan, makan martabak sisa kemarin sambil merencanakan keberangkatan ke Paris. Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Devan berdering. Sebuah pesan dari Siska yang berisi lampiran foto paspor seseorang yang baru saja mendarat di Jakarta.

Wajah Devan kembali menegang. "Ni... sepertinya Paris bukan satu-satunya masalah kita. Mantan tunangan Julian, yang juga merupakan kritikus mode paling kejam di Eropa, baru saja mendarat di Jakarta. Dan dia punya sejarah buruk dengan keluarga Batubara."

Nika menghela napas, menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Sepertinya kita butuh lebih banyak lakban, Mas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!