“Aku capek nunggu kamu, Rak.”
Itu kalimat terakhir Lala… sebelum dia benar-benar pergi.
Raka selalu percaya satu hal: semua bisa ditunda.
Pekerjaan bisa nanti. Mimpi bisa nanti. Bahkan cinta… bisa nanti.
Tapi kali ini, satu kata “nanti” membuatnya kehilangan orang yang paling ia cintai.
Saat Raka akhirnya ingin memperbaiki semuanya, masa lalu justru datang menghancurkan kesempatan terakhirnya.
Kini, Raka harus memilih tetap menjadi pria yang selalu menunda…
atau berjuang sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Karena dalam cinta, tidak semua orang akan menunggu.
Dan tidak semua “besok”… masih memberi kesempatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam yang Terlalu Nyata
Restoran itu perlahan kembali ramai setelah keheningan aneh yang sempat terjadi beberapa menit lalu.
Namun bagi Raka, waktu terasa berjalan sangat lambat.
Ia menatap piring makanannya, tapi pikirannya jelas tidak ada di sana.
Yang ada di kepalanya hanya satu hal.
“Kapan kalian menikah?”
Kalimat ayah Bayu tadi seperti masih bergema di telinganya.
Ia melirik ke arah Nadia.
Nadia sedang tersenyum sopan sambil berbicara dengan ibu Bayu.
Dan Bayu…
Bayu terlihat seperti orang yang baru selamat dari kecelakaan pesawat.
"Minum air… minum air…" gumam Bayu pelan sambil meneguk es teh.
Raka menunduk sedikit ke arahnya.
"Kau hampir punya anak barusan."
Bayu menatapnya panik.
"Jangan bercanda!"
Raka mengangkat bahu.
"Aku tidak bercanda. Ayahmu sudah sampai ke cucu."
Bayu memegang kepalanya.
"Aku cuma mau menghindari perjodohan…"
Raka menepuk bahunya.
"Selamat. Sekarang kau hampir menikah."
Di sisi lain meja, ibu Bayu masih memperhatikan Nadia dengan penuh minat.
"Kamu kerja di mana tadi, Nadia?"
Nadia menjawab dengan tenang.
"Di perusahaan konstruksi, Tante."
"Oh ya?"
"Iya, bagian administrasi proyek."
Ibunya Bayu mengangguk.
"Pekerjaan yang serius."
Ayah Bayu menambahkan,
"Kamu terlihat dewasa untuk seusiamu."
Nadia tersenyum.
"Terima kasih, Om."
Raka bergumam pelan dari ujung meja,
"Iya… terlalu dewasa untuk ikut drama ini."
Nadia melirik ke arahnya.
Tatapan itu cukup untuk membuat Raka langsung diam.
Setelah makan hampir selesai, ibu Bayu tiba-tiba berkata,
"Kami sebenarnya menginap di hotel dua malam."
Bayu langsung kaku.
"Dua… malam?"
"Iya."
Ayahnya menambahkan,
"Kami ingin mengenal Nadia lebih jauh."
Bayu menelan ludah.
Raka menatap langit-langit lagi.
"Ini semakin bagus."
Ibunya Bayu lalu berkata dengan santai,
"Besok malam kami ingin makan malam keluarga."
Bayu hampir menjatuhkan gelasnya.
"Makan malam?"
"Iya."
Ia menatap Nadia sambil tersenyum.
"Kamu datang ya."
Nadia mengangguk sopan.
"Tentu, Tante."
Raka hampir berdiri dari kursinya.
"Apa?!"
Semua orang menoleh lagi.
Raka tersenyum kaku.
"Maksud saya… tentu saja bagus."
Bayu berbisik panik.
"Raka… aku mati."
Raka menjawab datar,
"Belum. Tapi hampir."
Setelah makan selesai, mereka keluar dari restoran.
Orang tua Bayu masuk ke mobil mereka.
Sebelum masuk, ayah Bayu berkata,
"Bayu."
"Iya Yah."
"Jangan membuat kami kecewa."
Bayu mengangguk cepat.
"Iya Yah."
Ibunya Bayu tersenyum pada Nadia.
"Sampai besok malam."
"Sampai besok, Tante."
Mobil itu akhirnya pergi.
Begitu mobilnya menghilang di tikungan…
Bayu langsung berteriak.
"AAAAAA!"
Raka menutup telinganya.
"Tolong jangan jadi sirine ambulans."
Bayu memegang kepala.
"Aku dalam masalah besar!"
Raka mengangguk.
"Aku tahu."
Bayu menunjuk Nadia.
"Kita harus bagaimana?!"
Nadia terlihat jauh lebih tenang daripada mereka berdua.
Ia berkata santai,
"Kita lanjutkan saja."
Bayu menatapnya seperti melihat malaikat penyelamat.
"Serius?"
Nadia mengangguk.
"Cuma satu malam lagi."
Raka menyilangkan tangan.
"Satu malam lagi katanya."
Nadia menoleh ke Raka.
"Kau tidak mau membantu?"
Raka menghela napas panjang.
"Aku sudah terlalu jauh masuk dalam cerita ini."
Bayu langsung memegang bahu Raka.
"Kau sahabat terbaikku!"
Raka mendorong tangannya.
"Aku menyesal mengenalmu."
Nadia tertawa kecil.
Untuk beberapa detik, suasana menjadi lebih ringan.
Tapi saat Bayu pergi membeli minuman di minimarket dekat sana…
Raka dan Nadia akhirnya berdiri berdua di trotoar.
Angin sore bertiup pelan.
Lampu jalan mulai menyala.
Raka memandang jalanan.
Lalu berkata pelan,
"Kau terlalu serius menjalani sandiwara ini."
Nadia menatapnya.
"Apa maksudmu?"
Raka mengangkat bahu.
"Kau terlihat… nyaman."
Nadia menyipitkan mata.
"Kau cemburu?"
Raka langsung menjawab cepat.
"Tidak."
"Yakin?"
"Iya."
Nadia tersenyum tipis.
"Padahal kau terlihat seperti orang yang baru kehilangan motor."
Raka tertawa kecil.
"Itu karena aku merasa jadi figuran."
Nadia menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
"Raka."
"Iya?"
"Kalau tadi di kafe… kau sebenarnya mau bilang apa?"
Pertanyaan itu membuat Raka diam.
Ia menatap Nadia.
Beberapa detik.
Mungkin ini saatnya.
Mungkin ini momen yang ia tunggu.
Raka membuka mulut.
"Aku sebenarnya—"
Tiba-tiba suara Bayu terdengar dari jauh.
"AKU BELI ES KRIM!"
Raka langsung menutup mata.
"Kenapa hidupku begini…"
Nadia tertawa.
Dan momen itu… sekali lagi hilang.
Malam itu Raka pulang dengan perasaan yang semakin tidak jelas.
Ia duduk di kamar kosnya.
Menatap ponselnya.
Nama Nadia muncul di layar chat.
Ia mengetik sesuatu.
Lalu menghapusnya.
Mengetik lagi.
Hapus lagi.
Akhirnya ia hanya menulis satu kalimat.
Raka:
"Besok hati-hati ya."
Beberapa detik kemudian Nadia membalas.
Nadia:
"Tenang saja."
Lalu satu pesan lagi muncul.
Nadia:
"Ini cuma sandiwara."
Raka menatap pesan itu lama.
Lalu bergumam pelan,
"Iya… semoga."
Karena semakin lama…
Ia tidak yakin mana yang sandiwara.
Dan mana yang mulai menjadi nyata.