Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 40
Merasakan beratnya sebuah tuxedo yang dipinjamkan oleh agensi adalah jenis ketidaknyamanan yang berbeda dari dinginnya malam di Paris; kainnya yang halus justru terasa seperti ribuan benang yang siap menjerat leher jika ia salah melangkah. Mahesa berdiri di depan cermin toilet karyawan Hotel Indonesia Kempinski, merapikan dasi kupu-kupunya yang terasa sedikit terlalu ketat. Di bawah cahaya lampu neon yang putih dan steril, wajahnya tampak lebih kaku daripada biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya adalah jejak dari malam-malam tanpa tidur yang ia habiskan di depan layar laptop.
Dia meraba saku jasnya, memastikan ID card fotografer dokumentasi internal sudah ada di sana. Di bahunya, tergantung tas kamera yang berisi peralatan pemberian Pierre. Mahesa merasa seperti seorang aktor yang sedang menunggu aba-aba untuk naik ke panggung drama yang ia benci. Aroma pembersih lantai yang tajam di toilet itu mendadak membuatnya merindukan aroma parfum vanila Felysha yang selalu memberikan rasa tenang di tengah kekacauan.
"Ingat, Hes. Fokus pada brankas di ruang VIP lantai dua."
Suara Pierre kembali terngiang di kepalanya, seperti gema dari sebuah mimpi buruk yang tidak mau berakhir. Mahesa menarik napas panjang, menatap pantulan matanya sendiri di cermin. Dia melihat seorang pria yang sedang berada di persimpangan jalan paling berbahaya dalam hidupnya. Satu langkah ke arah yang salah, dan semua yang ia bangun bersama Felysha di Paris akan hancur menjadi debu Jakarta yang menyesakkan.
Dia melangkah keluar dari toilet, berjalan menyusuri lorong panjang yang berkarpet merah tebal. Suara sayup-sayup orkestra mulai terdengar dari arah ballroom utama. Mahesa menyesuaikan tali kameranya, memastikan lensa 70-200mm miliknya sudah terpasang sempurna. Ini adalah senjatanya malam ini, namun bukan untuk mengambil harta, melainkan untuk merekam bukti.
Lobi hotel dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian yang harganya mungkin setara dengan gaji buruh selama setahun. Gaun-gaun bermanik-manik yang berkilauan di bawah lampu kristal raksasa, aroma cerutu yang mahal, dan suara tawa yang terdengar sangat terlatih. Mahesa bergerak di antara mereka dengan gerakan yang sangat profesional. Dia mengambil beberapa bidikan umum—kerumunan yang sedang berbincang, pelayan yang mengantar sampanye, dan dekorasi bunga yang megah.
Dia melihat Andra.
Pria itu berdiri di dekat pintu masuk utama, tampak sangat gagah dengan setelan jas hitam yang ukurannya sangat pas. Andra sedang tertawa bersama ayahnya, Gunawan. Dan di samping mereka, berdiri Felysha.
Jantung Mahesa seolah berhenti berdetak sesaat. Felysha mengenakan gaun berwarna Midnight Blue yang senada dengan langit kesukaannya. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan kalung emas putih pemberian ayahnya yang berkilau. Wajah Felysha tampak tenang, namun Mahesa tahu, di balik ketenangan itu ada rasa cemas yang sama besarnya dengan yang ia rasakan.
Mahesa segera mengangkat kameranya, menutupi wajahnya di balik jendela bidik. Dia memutar ring fokus, membidik tepat ke arah Felysha. Melalui lensa itu, ia melihat Felysha sedang menoleh ke sekeliling, seolah-olah sedang mencari seseorang di tengah lautan manusia ini. Saat mata mereka hampir bertemu melalui lensa, Mahesa segera menurunkan kameranya dan berbalik arah. Ia tidak boleh ketahuan sekarang.
"Jangan melamun, fotografer. Kerja!" seorang manajer acara menegurnya dengan nada ketus.
Mahesa mengangguk singkat, lalu mulai berjalan menuju lantai dua, area VIP yang menjadi target Pierre. Dia menaiki tangga manual yang lebih sepi, menghindari lift yang penuh dengan tamu. Di lantai dua, suasana jauh lebih sunyi. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga di depan pintu-pintu suite.
Mahesa mulai 'bekerja'. Dia memotret beberapa interaksi di area lounge VIP, namun matanya terus memperhatikan pintu ruang penyimpanan barang berharga yang tadi disebutkan Pierre. Dia melihat seorang pria dengan jas kelabu keluar dari ruangan itu, tangannya memegang sebuah kartu akses berwarna emas. Mahesa dengan cepat mengambil bidikan burst—merekam detail wajah pria itu, kartu aksesnya, dan posisi sidik jarinya saat memegang kartu tersebut.
Inilah yang diinginkan Pierre. Foto-foto detail yang bisa digunakan untuk menduplikasi kartu akses atau mengidentifikasi pemegang kunci. Mahesa merasakan tangannya sedikit bergetar. Dia merasa kotor. Dia merasa sedang mengkhianati kepercayaan Felysha yang sedang menunggunya di bawah sana.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di saku jas. Sebuah pesan dari Pierre: “Sudah dapat foto kartu aksesnya? Kirimkan sekarang juga.”
Mahesa tidak membalas. Dia justru mematikan ponselnya. Dia melangkah menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah lobi utama di bawah. Dari sana, dia bisa melihat Felysha yang sedang berdiri di dekat meja prasmanan bersama Andra. Andra mencoba merangkul pinggang Felysha, namun Felysha dengan halus menghindar, pura-pura mengambil segelas jus.
Mahesa merasakan amarahnya kembali memuncak. Dia ingin sekali turun ke bawah, menarik Felysha keluar dari tempat itu, dan membawa gadis itu pergi ke tempat di mana tidak ada Andra, tidak ada Pierre, dan tidak ada tuntutan apa pun. Namun, dia tahu itu mustahil. Saat ini, dia bukan pahlawan. Dia adalah umpan yang sedang dimainkan oleh dua pihak yang sama-sama ingin menghancurkannya.
Dia kembali menatap kameranya. Di dalam memori kamera itu, sudah tersimpan bukti rencana Pierre. Mahesa menyadari bahwa dia tidak bisa hanya memberikan foto-foto itu pada Pierre. Dia harus melakukan sesuatu yang lebih berani.
Mahesa berjalan menuju sebuah ruangan kecil yang merupakan ruang operator CCTV hotel, tempat yang ia identifikasi sebagai titik lemah kedua. Sebagai fotografer internal, dia punya akses untuk memotret area teknis sebagai bagian dari dokumentasi safety procedure hotel. Dia masuk ke dalam, disambut oleh deretan monitor yang menampilkan setiap sudut gedung.
"Hanya mau mengambil beberapa bidikan untuk laporan tahunan, Pak," ucap Mahesa pada petugas operator dengan senyum yang sangat meyakinkan.
Petugas itu hanya mengangguk, sudah terbiasa dengan fotografer dokumentasi. Mahesa mulai memotret, namun bukan memotret monitornya. Dia memotret label pada kabel-kabel jaringan dan model dari alat penyimpan data mereka. Di sela-sela itu, dia menyelinapkan sebuah alat kecil yang tadi diberikan Pierre—sebuah sinyal jammer yang bisa mengganggu frekuensi tertentu—namun Mahesa sudah memodifikasinya agar alat itu justru mengirimkan log aktivitas ilegal ke server agensinya di London.
Ini adalah pertaruhan nyawa. Jika Pierre tahu, Mahesa tidak akan selamat malam ini. Jika polisi tahu, ia akan kembali ke sel.
Mahesa keluar dari ruang operator, napasnya terasa berat. Dia berjalan kembali ke arah balkon, menatap ke bawah sekali lagi. Kali ini, matanya benar-benar bertemu dengan mata Felysha. Felysha mendongak, menatap ke arah balkon lantai dua. Gadis itu tertegun sejenak, mengenali sosok pria dengan kamera di atas sana.
Felysha memberikan isyarat kecil dengan tangannya, menyentuh kalung emas putihnya—sebuah kode rahasia yang mereka buat di Paris yang berarti "aku percaya padamu".
Mahesa memejamkan matanya sejenak, merasakan sebuah kekuatan baru merayap di tubuhnya. Dia tidak akan menjadi pencuri malam ini. Dia akan menjadi saksi. Dia akan merekam setiap langkah Pierre jika pria itu benar-benar berani muncul di hotel ini nanti malam.
Dia berbalik, berjalan menuju pintu keluar darurat untuk bertemu Pierre sesuai janji. Di tangannya, kamera itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Bukan berat karena beban peralatan, tapi karena beban kebenaran yang kini ia bawa. Di bawah lampu kristal Kempinski yang mewah, Mahesa mulai berjalan menuju kegelapan untuk satu tujuan terakhir: memastikan cahaya Felysha tetap bersinar, meskipun ia sendiri harus terbakar di dalamnya.
Malam baru saja dimulai, dan di antara ribuan piksel warna yang ia tangkap, ada satu titik kecil kejujuran yang sedang ia perjuangkan agar tidak hilang ditelan bayang-bayang Jakarta.