NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Suami Kirana

Suasana kantor yang biasanya tenang mendadak terasa berbeda ketika Rendra melangkah masuk ke area kerja Pradana Group, beberapa karyawan sempat menoleh karena pria itu datang dengan wajah tegang dan langkah tergesa. Sementara itu, Kirana hanya berdiri diam di dekat mejanya sambil menatap suaminya yang kini berada beberapa meter di depan.

"Kirana." Rendra menghentikan langkahnya.

"Kamu ke sini untuk apa?" tanya Kirana.

"Aku ingin bicara," jawab Rendra.

"Kita bisa bicara di rumah."

"Aku tidak bisa menunggu sampai malam."

Aiden yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan semuanya tanpa mengatakan apa-apa, untuk pertama kalinya ia melihat Rendra secara langsung.

Pria itu tampak biasa, terlalu biasa dan entah kenapa hal itu membuat suasana hatinya semakin buruk.

"Kirana, ayo ikut aku." Rendra berusaha mendekat.

"Saya masih bekerja." Kirana tetap menjaga nada suaranya.

"Hanya sebentar."

"Kamu bisa menunggu jam pulang kerja."

Rendra terlihat frustrasi, beberapa karyawan mulai mencuri pandang diam-diam bahkan Gavin yang baru keluar dari ruang CEO langsung berhenti begitu melihat suasana yang tidak biasa.

"Bos." Gavin berdiri di samping Aiden.

"Hm," sahut Aiden pada Gavin.

"Itu suaminya?" tanya Gavin.

Aiden tidak menjawab.

"Itu suaminya ya." Gavin menebak sendiri.

Aiden tetap diam.

"Kalau Bos diam begini biasanya sedang kesal."

"Aku tidak kesal."

"Oh, berarti marah."

"Kirana." Rendra kembali memanggil.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Kirana.

"Aku ingin menjelaskan soal semalam," jawab Rendra pelan.

"Kita sudah membahasnya." balas Kirana.

"Belum selesai."

Kirana menatap suaminya beberapa detik, wajah pria itu terlihat lelah tetapi bukan rasa kasihan yang muncul di hatinya, yang muncul justru pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban sejak tadi malam.

"Siapa Selina?" tanya Kirana.

Rendra langsung membeku, suasana di sekitar mereka seolah ikut berhenti.

"Aku sudah bilang itu hanya rekan kerja," jelas Rendra sedikit gugup.

"Rekan kerja yang ada di apartemenmu?" tanya Kirana dingin.

"Kirana."

"Aku sedang bertanya." Nada suara Kirana tetap tenang.

Namun justru ketenangan itulah yang membuat Rendra semakin sulit bernapas.

.

Dari kejauhan, Gavin menelan ludah.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi." Gavin melirik Aiden. "Tapi saya yakin suaminya sedang dalam masalah besar."

"Kamu bisa diam?" Aiden menyandarkan tubuh ke dinding kaca.

"Bisa."

"Lakukan."

"Oke."

"Tapi saya penasaran." Dua detik kemudian Gavin kembali bicara.

Aiden memejamkan mata kesal.

"Kita bicara di luar." Rendra mencoba meraih tangan Kirana.

Namun wanita itu lebih dulu mundur satu langkah, gerakan kecil, sederhana, tetapi cukup membuat semua orang mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Jangan sentuh saya di kantor." Kirana merapikan map di tangannya.

"Aku hanya ingin memperbaiki semuanya." Rendra langsung menarik napas panjang.

"Kalau begitu mulai dengan berkata jujur."

"Aku jujur."

Kirana tersenyum tipis, untuk pertama kalinya sejak mereka berbicara namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Kalau itu jujur, berarti foto itu bohong," ucap Kirana dingin.

Rendra kehilangan kata-kata.

.

Satu jam kemudian, Kirana akhirnya kembali bekerja. Ia menolak semua ajakan Rendra untuk berbicara lebih lanjut dan memilih masuk ke ruang arsip demi menyelesaikan pekerjaannya namun bahkan di sana pun pikirannya tetap kacau. Foto itu masih tersimpan di ponselnya, setiap kali melihatnya dadanya kembali terasa sesak.

"Kirana." Aiden berdiri di depan pintu.

"Iya, Tuan?" Wanita itu menoleh.

"Kamu menghilang."

"Saya bekerja."

"Selama empat puluh menit." Sebenarnya Aiden ingin menggombal.

"Karena pekerjaan saya banyak." Kirana mengangguk.

Aiden melangkah masuk, ruangan itu mendadak terasa sempit.

"Saya baik-baik saja." Kirana langsung mendahului.

"Saya belum bertanya." ucap Aiden sedikit kesal.

Kirana terdiam.

"Kalau suatu hari kamu mau cerita, aku bisa mendengar." Aiden menatapnya beberapa saat sebelum menghela napas pelan.

"Saya tidak punya cerita."

"Itu bohong."

"Saya tidak suka membahas masalah pribadi."

"Aku tahu."

Keheningan muncul beberapa detik, namun kali ini tidak terasa canggung hanya sunyi.

"Kirana."

"Iya?"

"Kalau ada orang yang membuatmu menangis, orang itu bodoh."

"Apa Tuan mengatakan itu ke semua orang?" Wanita itu langsung mengalihkan pandangan.

"Tidak," jawab Aiden cepat dengan gelengan kepala.

"Kenapa?" tanya Kirana santai.

"Karena tidak semua orang penting."

Kirana tidak menjawab, untuk pertama kalinya sejak pagi ada sesuatu yang terasa hangat di dalam dadanya dan itu membuatnya tidak nyaman karena kehangatan itu datang dari pria yang seharusnya ia hindari.

.

Saat jam kerja berakhir, Kirana segera mengambil tasnya. Ia ingin pulang lebih cepat dan menghindari kemungkinan bertemu Rendra lagi, namun begitu keluar dari gedung ia langsung menghentikan langkah. Rendra masih ada di sana, pria itu berdiri di dekat mobilnya sejak siang.

"Kamu belum pulang?" tanya Kirana.

"Aku menunggumu," jawab Rendra.

"Untuk apa?" tanya Kirana lagi.

"Aku tidak mau pulang sebelum kita bicara."

Kirana menatap wajah suaminya cukup lama, dulu pemandangan seperti ini mungkin akan membuatnya terharu tapi sekarang tidak lagi.

"Ayo masuk mobil." Rendra membuka pintu.

"Kita bicara di sini."

"Kirana."

"Di sini saja."

Rendra mengusap wajahnya dengan frustrasi.

"Aku memang mengenal Selina." Rendra akhirnya mengaku.

"Dia rekan kerja."

"Lalu?" Kirana tidak menunjukkan reaksi apa pun.

"Kami sering mengerjakan proyek bersama."

"Lalu?" Kirana menunggu.

Rendra terdiam, namun semakin lama keheningan itu justru menjadi jawaban yang lebih jelas daripada kata-kata.

"Kamu menyukainya?" tanya Kirana.

"Aku..." Rendra langsung mengangkat kepala.

Satu kata itu tidak pernah selesai karena ponsel Kirana tiba-tiba bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama. Nomor milik Selina, Kirana membuka pesan itu perlahan lalu membeku. Wajahnya yang selama ini selalu tenang perlahan berubah pucat.

"Ada apa?" tanya Rendra.

Kirana tidak menjawab, wanita itu hanya mengangkat layar ponselnya dan menunjukkan isi pesan tersebut. Detik berikutnya, wajah Rendra kehilangan warna karena foto kedua yang dikirim Selina jauh lebih jelas daripada foto pertama dan kali ini... tidak ada lagi alasan yang bisa menyelamatkannya.

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!