Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUJAN DI MALAM HARI
Hujan turun sejak sore. Awalnya hanya gerimis tipis yang membasahi kaca jendela kantor Yayasan Cakrawala Budaya. Namun menjelang jam pulang, hujan justru semakin deras tanpa tanda akan berhenti. Air turun deras tanpa jeda, disertai angin kencang yang membuat pepohonan di halaman bergoyang kuat.
Kirana berdiri di depan pintu utama gedung sambil memeluk map di dadanya, menatap lurus ke arah pelataran yang mulai tergenang.
"Mobil jemputannya belum datang, Kak?" tanya Rani yang berdiri di sampingnya sembari memakai jaket.
Kirana menggeleng pelan. "Katanya terjebak macet total di jalur utama."
"Kalau begitu tunggu di dalam saja, di luar anginnya kencang."
"Iya, sebentar lagi mungkin sampai."
Namun setengah jam berlalu dan hujan justru semakin lebat. Beberapa pegawai satu per satu sudah pulang menerobos badai, membuat halaman kantor perlahan sepi. Ponsel di genggaman Kirana bergetar, menampilkan pesan singkat dari sopir langganannya.
Maaf, Bu Kirana. Jalan di depan flyover banjir parah. Mobil tidak bisa lewat. Saya mungkin terlambat sekitar satu jam lagi atau lebih.
Kirana menghela napas pelan. Ia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Ketika intensitas air sedikit mereda menjadi rintik-rintik, Kirana akhirnya memutuskan berjalan cepat menuju halte yang berada tidak jauh dari gerbang kantor. Pikirnya, mungkin akan lebih mudah mencari taksi atau ojek daring dari sana.
Namun perkiraannya keliru. Baru beberapa langkah keluar dari area gedung, langit kembali menumpahkan air dengan masif. Payung lipat yang dibawanya nyaris tidak berguna karena angin kencang meniup air dari segala arah. Ujung kain jarit dan lengan kebayanya mulai basah kuyup. Rambut yang sejak pagi tertata rapi pun perlahan berantakan dan menempel di pipinya yang mulai mendingin.
Kirana hanya bisa mengulas senyum pasrah di bawah deru hujan. Hari ini benar-benar bukan harinya.
Saat langkahnya menapak di lantai teras rumah hampir pukul delapan malam, seluruh tubuh Kirana sudah terasa menggigil. Mbak Siti yang bergegas membuka pintu langsung terkesiap melihat penampilannya.
"Astaga, Nduk! Kok bisa basah kuyup semua begitu?"
"Kehujanan di jalan tadi, Mbak. Sopir langganan terjebak banjir," jawab Kirana.
"Itu bukan kehujanan lagi namanya, tapi mandi badai. Ayo cepat masuk, langsung mandi air hangat."
Kirana terkekeh lemah. "Iya, Mbak. Aku ke atas dulu."
Malam itu berjalan dengan ritme yang lambat. Danendra pulang sedikit lebih lambat dari biasanya, kemungkinan besar karena kemacetan parah akibat genangan air di beberapa titik kota. Saat mereka duduk di meja makan, Kirana berusaha keras untuk bersikap normal. Ia tidak ingin suaminya mengira ia mengeluh.
Namun, setelah beberapa suap, kepalanya mulai terasa berdenyut. Semakin malam, kepalanya terasa semakin berat. Sendok di tangannya terasa lebih berat dari biasanya.
"Aku ke kamar duluan ya, Mas," pamit Kirana setelah meletakkan cangkir tehnya yang baru diminum sedikit.
Danendra yang sedang menatap tablet di tangan hanya mendongak sekilas, mengamati garis wajah istrinya yang tampak layu. "Istirahat."
"Iya."
Sekitar pukul sebelas malam, Danendra baru melangkah masuk ke dalam kamar tidur mereka. Ruangan itu sudah diselimuti kegelapan, hanya menyisakan pendar redup dari lampu tidur di sudut nakas yang menciptakan suasana tenang.
Laki-laki itu meletakkan beberapa dokumen kerja di atas meja kecil, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ranjang. Langkah kakinya tertahan. Kirana sudah terlelap, namun posisi tidurnya tidak seperti biasa. Perempuan itu meringkuk agak dalam di balik selimut tebal, dan suara napasnya terdengar pendek-pendek serta berat.
Danendra berjalan mendekati sisi ranjang Kirana. Sambil menahan napas, ia mengulurkan tangan dan menempelkan punggung jemarinya ke dahi perempuan itu. Hangat yang menjurus panas. Kulit dahi Kirana terasa kering dan suhu tubuhnya jelas berada di atas batas normal. Danendra mengerutkan keningnya dalam kegelapan, menatap wajah istrinya yang tampak berkerut tidak nyaman dalam tidurnya.
Keesokan paginya, Kirana terbangun dengan rasa pening yang langsung menghantam bagian belakang kepalanya. Saat membuka mata perlahan, pandangannya agak kabur akibat efek demam. Namun, sepasang matanya menangkap pemandangan yang tidak biasa di atas meja nakasnya.
Di sana telah berjejer segelas air putih hangat yang masih menguapkan asap tipis, sebungkus obat penurun demam dari klinik, dan secarik kertas kecil berperekat.
Kirana meraba kertas tersebut dan membacanya. Tulisan tangan di sana tampak tegas, tegak, dan sangat rapi.
Minum setelah sarapan.
Hanya tiga kata. Tidak ada embel-embel kalimat penanya kabar, tidak ada ucapan semoga cepat sembuh, apalagi emotikon manis. Sangat kaku dan sangat mencerminkan seorang Danendra. Namun, Kirana mendapati dirinya terpaku menatap lembar kertas kecil itu untuk waktu yang cukup lama. Ada kehangatan aneh yang perlahan menjalar di dadanya.
Ketika ia memaksakan diri turun ke ruang makan dengan langkah agak lemas, aroma gurih kaldu ayam langsung menyapa indra penciumannya. Kirana mengernyit bingung. Biasanya Mbak Siti hanya menyiapkan roti panggang atau nasi goreng sederhana untuk sarapan mereka.
"Mbak Siti?" panggil Kirana, suaranya terdengar agak serak.
Mbak Siti muncul dari balik sekat dapur membawa mangkuk porselen berisi kerupuk, wajah paruh bayanya merekah senang. "Eh, sudah bangun, Nduk? Bagaimana badannya? Masih lemas?"
"Sudah mendingan, Mbak. Ini... tumben ada bubur ayam pagi-pagi?"
"Oh, ini tadi Pak Danendra yang minta sebelum berangkat kantor, Nduk," jawab Mbak Siti bersemangat. "Bapak bilang Bu Kirana sedang kurang enak badan, jadi dapurnya diminta buatkan sarapan yang hangat dan lembut saja."
Jantung Kirana memberikan respons yang ganjil. Ritmenya mendadak tidak beraturan. "Mas Danendra... bilang begitu?"
"Iya, Nduk. Tadi subuh Bapak sempat ke dapur sebelum olahraga."
"Aku kira Mas belum berangkat."
"Sudah dari jam tujuh tadi, katanya ada janji temu dengan klien pagi-pagi sekali."
"Oh." Kirana mengangguk pelan, lalu menarik kursi makan untuk duduk. Jawaban pendek itu keluar begitu saja untuk menutupi gemuruh kecil di dalam kepalanya yang masih mencoba mencerna informasi tersebut.
Siang harinya, demam Kirana rupanya belum sepenuhnya menyerah. Karena seluruh dokumen yayasan bisa diakses dari laptop, ia akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti sakit satu hari dan bekerja secara santai dari atas ranjang.
Tepat pukul satu siang, ponsel di atas kasurnya bergetar lama. Nama Danendra berkedip di layar digital. Kirana sempat terpaku beberapa detik sebelum menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, Mas?"
"Sudah makan?" Suara bariton Danendra terdengar dari seberang sambungan, berlatar belakang sayup-sayup suara bising khas ruang kantor.
Pertanyaan itu membuat Kirana terdiam sesaat, lidahnya mendadak kaku. "Sudah, Mas. Tadi dibuatkan bubur ayam sama Mbak Siti."
"Obatnya diminum?"
"Iya, baru saja."
"Habis makan?"
"Iya, Mas. Tepat setelah makan."
"Hm."
Dan setelah itu, hanya ada suara napas mereka yang terdengar di speaker ponsel. Kirana menahan senyum tipis agar tidak menimbulkan suara. Interaksi telepon mereka ternyata tidak jauh berbeda dengan obrolan di meja makan.
"Mas... lagi istirahat makan siang?" tanya Kirana, mencoba memperpanjang durasi pembicaraan mereka.
"Ada jeda lima belas menit sebelum rapat berikutnya," jawab Danendra jujur. Laki-laki itu terdiam sejenak sebelum kembali bersuara. "Kamu istirahat yang cukup. Jangan membuka laptop dulu."
Kirana menunduk, memainkan ujung selimut abu-abunya dengan jemari bebas. Kirana tidak merasa diperintah. Justru ada rasa hangat yang sulit dijelaskan merayap di telinganya. "Baik, Mas. Ini sudah mau tidur lagi."
"Kalau demamnya naik lagi, segera bilang."
"Iya, Mas."
Danendra tidak langsung memutuskan sambungan. Ada jeda beberapa detik yang sunyi sebelum ia mengucapkan kalimat penutupnya yang pendek. "Aku tutup."
"Iya. Hati-hati di jalan nanti, Mas."
Sambungan terputus. Kirana meletakkan ponselnya kembali di atas dada, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada tadi pagi.
Malam harinya, kondisi fisik Kirana sudah jauh lebih membaik berkat obat dan istirahat total. Ia sedang duduk bersandar di sofa ruang keluarga sembari menonton acara televisi dengan volume rendah ketika suara klik pada selot pintu depan terdengar.
Danendra melangkah masuk. Jasnya sudah tersampir di lengan kiri, sementara tangan kanannya membawa sebuah kantong plastik kecil berlogo apotek terkenal.
Kirana menegakkan posisi duduknya, memperhatikan langkah kaki suaminya yang mendekat. "Mas baru pulang? Kok bawa kantong apotek, Mas sakit?"
Danendra tidak segera menjawab. Ia meletakkan jasnya di sandaran kursi tunggal, lalu menaruh kantong plastik kecil itu tepat di atas meja kopi di hadapan Kirana. "Vitamin dan suplemen daya tahan tubuh."
Kirana mengerjapkan mata. "Buat siapa?"
"Buat kamu," jawab Danendra pendek sembari mulai melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan, gerakan yang selalu terlihat kasual namun tegas. "Diminum setelah makan malam ini. Kata apotekernya bisa membantu memulihkan energi setelah demam."
"Mas..." Kirana menatap kantong vitamin itu beberapa saat.
Mendadak ia teringat segelas air hangat di atas nakas pagi tadi. Bubur ayam yang muncul saat sarapan. Telepon singkat saat jam makan siang. Dan vitamin yang sekarang tergeletak di atas meja. Entah sejak kapan Danendra mulai memperhatikan semua itu.
"Terma kasih, Mas," ucap Kirana, senyum tulusnya mengembang sempurna.
Danendra sempat menunjukkan ekspresi sedikit heran, seolah apa yang dilakukannya adalah hal biasa yang tidak memerlukan ucapan terima kasih yang begitu dalam. Laki-laki itu hanya mengangguk pelan. "Sama-sama. Aku ke atas dulu untuk mandi."
Namun baru beberapa langkah Danendra melewati sofa tempat Kirana duduk, langkah kaki suaminya kembali berhenti di koridor dekat tangga. Tanpa membalikkan tubuhnya, ia kembali bersuara. "Besok kalau badanmu masih terasa berat, jangan dipaksakan masuk kerja dulu. Biar aku yang meminta Pak Budi untuk mengantar surat izin atau dokumen ke yayasanmu."
Setelah kalimat itu selesai diucapkan, sosok tinggi Danendra kembali melangkah menaiki undakan tangga, menghilang di balik kelokan lantai atas.
Kirana masih bergeming di atas sofa, menatap lorong tangga yang kini kosong dengan senyuman kecil yang tidak bisa lagi ia sembunyikan dari wajahnya. Di luar jendela, sisa-sisa air hujan masih menetes pelan dari dedaunan, menciptakan irama monoton yang menenangkan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka mengikat janji suci setahun yang lalu, Kirana mulai memahami cara kerja dunia suaminya. Danendra bukan tipe pria yang akan menghujaninya dengan kata-kata manis, melainkan pria yang menunjukkan kehadirannya lewat tindakan nyata yang senyap. Dan malam itu, di tengah sisa hujan yang masih menetes pelan di luar jendela, sebuah bagian kecil dalam hati Kirana mulai terasa hangat.