Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan Telak
Langkah kaki Ibu Yooka terdengar terburu-buru di atas lantai marmer ruang makan utama. Di atas meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni mahal, beberapa set piring perak dan menu sarapan mewah berselimut tudung saji masih tertata rapi, sepenuhnya utuh tanpa tersentuh. Namun, kursi beludru yang seharusnya ditempati oleh sang nyonya muda tampak kosong melongpong.
Ibu Yooka menghentikan langkahnya, napasnya sedikit memburu. Firasat buruk mendadak menyergap dadanya. Ia menoleh ke arah dua orang pelayan muda yang sedang merapikan vas bunga di sudut ruangan.
"Kalian melihat Nyonya Sonya?" tanya Ibu Yooka, suaranya terdengar tegas namun menyimpan kecemasan.
Kedua pelayan itu saling pandang sejenak, lalu menundukkan kepala mereka dalam-dalam. "Maaf, Ibu Yooka, kami tidak tahu. Sejak tadi kami berada di area depan dan belum melihat Nyonya muda turun ke ruang makan," jawab salah satu dari mereka dengan suara bergetar.
Ibu Yooka berdecak lidah. Ia melangkah keluar dari ruang makan dan menanyakan hal yang sama kepada setiap pelayan berseragam hitam yang ia temui di koridor tengah. Namun, jawabannya tetap sama, semua pelayan yang ditanya menggelengkan kepala, mengaku tidak mengetahui ke mana Sonya berada. Kebungkaman mereka terasa janggal, seolah ada dinding tak kasat mata yang menyembunyikan keberadaan gadis itu.
Hingga akhirnya, di dekat koridor yang menghubungkan sayap barat, seorang pelayan pria yang bertugas mengurus taman belakang berjalan melintas. Ibu Yooka langsung menghadangnya. "Kau! Apa kau melihat Nyonya Sonya atau Jenna?"
Pelayan pria itu tersentak, melirik ke kanan dan ke kiri dengan takut-takut sebelum berbisik pelan, "Ibu Yooka... tadi saya melihat Jenna menarik tangan Nyonya Sonya dengan kasar. Mereka berjalan ke arah tangga bawah, menuju dapur belakang."
"Apa? Dapur belakang?!" Mata Ibu Yooka membelalak sempurna, suaranya meninggi karena terkejut. "Itu kan dapur khusus pegawai dan pelayan! Kenapa Jenna membawanya kesana?!"
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Ibu Yooka membalikkan tubuhnya dan bergegas menuju tangga bawah tanah. Jantungnya berdegup kencang oleh kemarahan yang mulai membakar. Ia tahu betul bagaimana obsesi Jenna terhadap Batara, dan ia tahu pelayan itu bisa bertindak nekat jika cemburu.
Begitu kakinya menapak di lantai dapur belakang yang pengap, pemandangan di depannya seketika menghentikan aliran darah Ibu Yooka.
Di sana, di tengah ruangan dapur yang luas, Sonya Munic sedang bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Tubuh mungilnya yang mengenakan gaun biru muda tampak bergetar hebat. Dengan tangan yang gemetar dan air mata yang terus menetes membasahi pipinya yang pucat, gadis itu sedang menggosok lantai menggunakan kain pel kusam, mencoba membersihkan sisa-sisa cairan telur mentah yang pecah. Sementara di hadapannya, Jenna berdiri tegak dengan berkacak pinggang, menatap Sonya dari ketinggian dengan senyum kemenangan yang kejam di wajahnya.
"Nyonya Sonya?!" pekik Ibu Yooka, suaranya menggelegar di dalam ruangan dapur yang sunyi.
Suara itu membuat semua orang di dalam dapur tersentak. Sonya mendongak dengan mata sembab yang dipenuhi ketakutan, sementara wajah Jenna mendadak menegang.
Ibu Yooka melangkah maju dengan amarah yang meledak-ledak. Ia menoleh ke arah dua orang pelayan yang berdiri membeku di dekat pintu. "Kalian berdua! Cepat bantu Nyonya Sonya berdiri dan bawa beliau ke atas!" perintahnya tajam. Kedua pelayan itu langsung bergerak cepat, memapah tubuh Sonya yang lemas menjauh dari lantai.
Ibu Yooka kini berdiri tepat di depan Jenna. Matanya yang biasanya teduh kini berkilat laksana belati yang siap menyayat.
Plakk!
Suara tamparan yang sangat keras menggema di dinding-dinding dapur. Telapak tangan Ibu Yooka mendarat dengan telak di pipi kanan Jenna, membuat kepala pelayan muda itu terlempar ke samping. Jenna terkesiap, memegangi pipinya yang seketika memerah dan terasa panas membakar.
"Lancang! Beraninya kamu melakukan perbuatan serendah ini terhadap majikanmu sendiri!" bentak Ibu Yooka, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan di dada. "Apa kamu sudah bosan bekerja di mansion ini, Jenna?! Apa kamu sudah bosan hidup?!"
Jenna menggertakkan giginya. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa malu dan harga dirinya yang runtuh di depan pelayan lain. Ia mendongak, mencoba membela diri dengan suara yang menuntut. "Nyonya?! Majikan, Ibu Yooka katakan?! Bukankah dia hanya seorang wanita tawanan yang Tuan Batara bawa dari Laviata untuk pelunas utang?! Dia bukan siapa-siapa di sini!"
Plakk!
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi kiri Jenna, kali ini bahkan lebih kuat hingga sudut bibir Jenna sedikit robek dan mengeluarkan darah.
"Jaga omongan kamu, Jenna! Kamu sudah bertindak jauh di luar batas!" desis Ibu Yooka, wajahnya berada hanya beberapa inci dari wajah Jenna yang kini mulai pucat karena ketakutan. "Sonya Munic adalah istri sah dari Tuan Batara Moretti! Dia adalah Nyonya di mansion ini, hidup atau mati! Jika Tuan Batara tahu kamu memperlakukannya seperti binatang dan menyentuhnya dengan tangan kotormu itu, nyawamu tidak akan bisa lagi dipertahankan di Wilayah Maldav ini! Tuan akan menguliti kamu hidup-hidup!"
Mendengar nama Batara disebut bersamaan dengan ancaman kematian, seluruh keberanian Jenna runtuh seketika. Bayangan tentang bagaimana kejamnya sang ketua mafia mengeksekusi orang-orang yang mengusiknya langsung berputar di otaknya. Lutut Jenna melemas. Ia langsung menjatuhkan dirinya, bersimpuh di atas lantai marmer, tepat di depan kaki Ibu Yooka.
"Maaf, Ibu Yooka... Maafkan saya... Saya mohon ampuni saya," isak Jenna, suaranya kini berubah menjadi rintihan ketakutan. "Saya benar-benar tidak tahu... Saya khilaf... Saya mengaku bersalah, Ibu..."
Ibu Yooka menatap pelayan di bawahnya dengan pandangan dingin tanpa belas kasihan. "Kali ini saya maafkan kamu demi masa kerjamu, Jenna. Tetapi ingat kata-kata saya! Jika kamu masih memperlakukan Nyonya Sonya dengan buruk, atau jika saya mendengar kamu bersikap kasar lagi, tidak akan ada lagi ampunan bagimu! Apalagi jika Tuan Batara sampai tahu... Aku tahu apa saja yang telah kamu lakukan di belakangku selama ini, Jenna. Jangan coba-coba menguji kesabaranku."
"Baik, Ibu Yooka... Baik... Terima kasih atas kemurahan hati Anda... Saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Jenna sembari menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai.
Ibu Yooka membalikkan badannya, mengabaikan Jenna yang masih bersimpuh ketakutan. Ia melangkah mendekati Sonya yang sedang duduk di kursi dapur dengan tubuh yang ditenangkan oleh dua pelayan lain. Ibu Yooka mengambil tangan Sonya yang gemetar, menggenggamnya dengan penuh rasa bersalah.
"Nyonya... maafkan saya, Nyonya. Saya telah teledor dalam mengawasi pelayan di sini, hingga membuat Anda mendapatkan perlakuan yang sangat tidak pantas dan kejam seperti ini," ucap Ibu Yooka dengan mata yang berkaca-kaca.
Sonya menggelengkan kepalanya perlahan. Ia mengusap air matanya menggunakan punggung tangan, mencoba tersenyum kecil meski bibirnya pucat. "Tidak apa-apa, Ibu Yooka... Jangan menyalahkan diri sendiri. Lagipula... apa yang dikatakan Jenna memang benar. Saya hanya seorang tawanan di sini... bukan istri sejati dari Tuan Batara."
Mendengar ucapan Sonya, Ibu Yooka terdiam sejenak. Ia menatap mata gadis itu yang dipenuhi kepasrahan dan luka yang mendalam. Ibu Yooka menarik napas panjang, lalu memutuskan untuk tidak lagi banyak bicara. Ia tahu, percuma saja ia mendebat atau meyakinkan Sonya saat ini, trauma dan rasa takut gadis itu terhadap Batara terlalu besar untuk bisa dihapus hanya dengan kata-kata.
"Mari, Nyonya, kita kembali ke atas. Saya akan mengobati luka di kepala Anda dan menyiapkan sarapan yang baru di kamar," ucap Ibu Yooka dengan lembut, memapah Sonya keluar dari dapur bawah tanah yang mencekam itu.
...****************...
Jevan Romano telah berdiri tegap di samping meja rapat yang terbuat dari kaca hitam tebal. Wajah asisten pribadi Batara itu tampak mengeras, dengan dokumen bersampul merah di tangannya. Begitu pintu ganda ruang rapat terbuka dan sosok tinggi tegap Batara Moretti melangkah masuk, Jevan langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat.
"Tuan," sapa Jevan dengan suara baritonnya yang tegas.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭