NovelToon NovelToon
Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Showbiz / Reinkarnasi
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: ILikeAll9

Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.

Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.

Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.

Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C007: Suat Izin Usaha Baru

...Selamat Baca...

Pukul 06.00 WAZ pagi, tanggal 29 Maret

Sinar matahari musim semi sudah mulai menyinari kompleks Apartemen Sentral Adelia Blok C saat Felix tiba dengan beberapa tas kecil berisi barang pribadinya.

Sebuah bingkisan kecil dari ibunya, buku catatan berisi lirik lagu, dan foto keluarga yang ditempelkan pada sampul buku.

Evan yang sudah tinggal di sana selama 2 hari menyambutnya dengan senyum ramah, sambil mengusap keringat setelah berlatih gerakan tari di ruang tamu gedung.

“Selamat datang di tempat tinggal baru kita, Felix,” ujar Evan sambil membantunya membawa barang.

“Kamar kamu ada di sisi kanan—sudah saya siapkan kasur dan meja belajarnya. Kak Ethan sudah menyewa beberapa peralatan rumah tangga dasar untuk kita, mulai dari kompor kecil hingga kulkas yang cukup untuk menyimpan makanan kita.”

Felix melihat kamar yang bersih dan rapi dengan tirai warna biru muda yang menyaring sinar matahari dengan lembut.

“Terima kasih banyak, Kak Evan. Rasanya seperti memiliki rumah baru yang nyaman. Besok saya akan bawa beberapa buku tentang teori musik yang saya bawa dari desa untuk dibaca bersama.”

“Sekarang kita bisa berlatih bersama setiap hari juga,” tambah Evan sambil mengambil tas latihannya.

“Saya sudah mulai berlatih gerakan baru sejak jam 05.00 pagi. Kalau kamu sudah siap, bisa ikut bergabung setelah menata barangmu—kita bisa berangkat ke perusahaan bersama.”

Sementara itu, Ethan sudah berada di perusahaan sejak jam 05.30 pagi. Dia duduk di ruang kantor yang sudah mulai diperbaiki—meja kerja kayu yang sudah dibersihkan dan kursi yang baru saja diperbaiki kontraktor.

Di atas meja, dua berkas izin kanal Metube tersusun rapi, disertai dengan surat resmi dari pihak Metube Aurelia yang menjelaskan perbedaan antara kanal perusahaan dan perorangan.

“Kita akan membuat dua kanal berbeda,” jelas Ethan saat Evan dan Felix masuk ke ruangan.

“Yang pertama bernama ‘Lucifer Entertainment Official’—untuk konten perusahaan resmi seperti cover lagu yang sudah mendapatkan izin hak cipta, pengumuman penting, kolaborasi dengan pihak lain, dan juga konten tentang perkembangan perbaikan gedung."

"Yang kedua bernama ‘Trainees’ Daily Journey’—untuk konten harian kalian: proses latihan, membersihkan perusahaan, atau kegiatan kecil yang bisa menunjukkan sisi asli kalian kepada calon penggemar.”

Evan menarik kursi dan duduk di hadapan Ethan. “Kak Ethan, bagaimana perbedaan aturan antara kanal perusahaan dan perorangan di Metube?”

“Di Metube, kanal perusahaan harus mendaftarkan nama perusahaan dan memiliki izin usaha yang sah agar bisa mengunggah konten komersial atau cover lagu dengan hak cipta resmi,” jelas Ethan sambil menunjukkan surat izin dari Metube.

“Kita juga harus melampirkan surat persetujuan dari pemilik hak cipta setiap kali mengunggah cover lagu."

"Sedangkan kanal perorangan lebih fleksibel tapi tidak bisa menggunakan konten yang memiliki hak cipta tanpa izin."

"Nanti setelah grup kita terbentuk—yang akan terdiri dari 5 orang: kalian berdua, Adrian yang akan datang sebentar lagi, dan dua orang lagi yang kita akan cari nanti—kita akan buat kanal khusus lagi bernama sesuai nama grupnya.”

Pukul 08.00 WAZ pagi

Adrian datang tepat waktu dengan membawa tas kerja hitam dan beberapa barang pribadinya. Dia mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung dan celana chino coklat.

Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh semangat setelah mendapatkan persetujuan dari manajer restoran dan keluarganya kemarin sore, ibunya bahkan membuat makanan bekal khusus untuknya.

“Selamat pagi, Tuan Ethan,” ucap Adrian dengan sopan saat masuk ke lobi perusahaan yang sudah mulai terlihat lebih rapi dengan lantai yang sudah dibersihkan dan beberapa tanaman hias baru di sudut ruangan.

“Saya sudah siap untuk menandatangani kontrak dan memulai latihan.”

“Selamat pagi, Adrian,” jawab Ethan dengan senyum hangat sambil menyerahkan berkas kontrak.

Setelah Adrian menandatangani kontrak dan menerima salinannya, Ethan memberikan sebuah amplop putih. “Ini adalah surat izin resmi untuk mengcover lagu ‘Rise Up’ oleh Stella Maris,” jelas Ethan.

“Selain surat persetujuan hak cipta dari label rekaman, ada juga surat izin dari pihak Metube untuk mengunggah konten tersebut sebagai konten perusahaan."

Setelah itu, Adrian bergabung dengan Evan dan Felix untuk mulai membersihkan halaman perusahaan. Ethan mengambil kamera mirrorless yang sudah dia siapkan untuk merekam aktivitas mereka untuk konten kanal pertama.

Mereka bekerja bersama-sama memotong rerumputan liar, menyusun tanaman bunga di sekitar gerbang, dan membersihkan area sekitar plakat nama perusahaan yang sudah dicat ulang sebagian hingga huruf “LUCIFER ENTERTAINMENT” kembali bersinar.

Pukul 10.30 WAZ pagi

Tuan Henry Blackwood datang ke perusahaan dengan membawa tas kulit coklat yang penuh berkas. “Selamat pagi, Tuan Ethan,” ujarnya dengan senyum yang hangat sambil menyerahkan berkas berwarna merah muda dan putih.

“Semua izin perusahaan sudah diperbarui—izin usaha, izin untuk beroperasi di industri hiburan, dan juga izin resmi untuk membuat dua kanal Metube yang Anda rencanakan."

"Untuk cover lagu ‘Rise Up’, dan surat izin cover setiap penyanyi lainnya, selain surat persetujuan dari pemilik hak cipta, saya juga sudah mendapatkan surat konfirmasi dari Metube bahwa konten tersebut bisa diunggah tanpa hambatan,"

"Selama kita mencantumkan nama pencipta lagu dan memberikan royalti sesuai dengan jumlah tayangan.”

“Terima kasih banyak, Tuan Henry,” jawab Ethan dengan lega sambil menyimpan berkas tersebut dengan hati-hati di dalam laci meja.

“Ini adalah langkah penting agar kita bisa bekerja secara legal dan profesional. Apakah ada urusan lain yang perlu kita siapkan untuk waktu mendatang?”

“Untuk sementara ini sudah tidak ada, Tuan Ethan,” jawab Tuan Henry. “Saya akan menghubungi Anda jika ada hal yang perlu diperbarui lagi. Semoga perusahaan Anda berkembang dengan baik.”

Setelah Tuan Henry pergi, Ethan memberi tahu ketiga trainee untuk mulai berlatih secara sederhana di lobi.

Evan memimpin latihan dasar tari dengan gerakan yang kuat dan presisi, Adrian memberikan ide variasi gerakan untuk bagian tengah koreografi.

Sementara Felix duduk di sudut ruangan mencoba menyusun harmoni vokal dengan bantuan buku catatannya.

Pukul 13.00 WAZ siang

Setelah makan siang bersama—makanan bekal dari ibu Adrian dan makanan yang dibeli Ethan.

Ethan berangkat ke Akademi Teater Astra untuk mencari calon anggota tim belakang layar, seperti yang sudah direncanakan.

Dia bertemu dengan Bu Margaret di ruang kerjanya yang penuh dengan poster pertunjukan teater masa lalu.

“Tuan Ethan, saya sudah memilih beberapa murid yang berpotensi untuk bekerja di belakang layar,” ujar Bu Margaret sambil mengambil berkas tebal dari laci meja.

“Namun ada satu murid yang saya rasa sangat cocok—dia berbeda dengan yang lain, seperti Felix saat pertama kali Anda datang ke sini.”

Mereka pergi ke ruang produksi yang terletak di lantai bawah akademi, di mana suara mesin jahit dan percakapan tentang desain panggung terdengar lembut.

Di sudut ruangan paling dalam, seorang pemuda berusia 17 tahun sedang duduk sendiri di depan meja kerja yang penuh dengan kertas gambar dan kain berwarna-warni.

Rambutnya coklat muda sedikit acak-acakan, dia mengenakan kacamata bulat hitam dan baju kerja dengan banyak kantong yang penuh dengan pensil warna dan alat ukur.

“Namanya Noah Alvaro,” jelas Bu Margaret dengan suara pelan agar tidak mengganggunya.

“Usia 17 tahun, tanggal lahir 15 November. Dia ahli dalam desain kostum, makeup karakter, dan juga bisa mengatur pencahayaan panggung."

"Namun karena dia lebih suka bekerja sendirian dan ide-idenya sering dianggap terlalu berbeda dari standar, dia jarang mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam pertunjukan resmi.”

Ethan mendekatinya dengan lembut, melihat desain kostum yang sedang dia edit di atas meja—kostum dengan sentuhan tradisional Aurelia yang dicampur dengan gaya modern yang unik.

“Halo Noah, saya Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment. Saya melihat desain kostum yang kamu buat—sangat kreatif dan unik. Apakah itu untuk pertunjukan apa?”

Noah sedikit terkejut, tapi segera mengangkat kepalanya dengan mata yang bersinar saat melihat desainnya. “Ini desain untuk pertunjukan teater klasik ‘Ratu Hutan’ yang kita rubah dengan sentuhan modern, Pak."

"Saya berpikir kostum seharusnya tidak hanya cantik tapi juga bisa membantu pemain mengekspresikan karakter dengan lebih baik—misalnya bagian rok yang bisa terbuka saat karakter menunjukkan kekuatannya.”

“Kemampuanmu sangat berharga untuk industri hiburan saat ini,” ucap Ethan dengan senyum.

“Apakah kamu berminat untuk bergabung dengan perusahaan saya sebagai anggota tim kreatif belakang layar?"

"Kamu akan mendapatkan kesempatan untuk mendesain kostum, mengatur makeup, dan mengelola pencahayaan untuk grup idol yang akan kita bentuk."

"Kita juga akan memberikan tempat tinggal dan biaya pendidikan tambahan jika kamu mau melanjutkan belajar tentang desain.”

Noah melihat ke arah Bu Margaret yang mengangguk mendukung, kemudian mengangguk dengan senyum yang tulus.

“Ya Pak, saya mau. Saya sudah lama ingin bekerja di industri hiburan tapi tidak punya kesempatan yang sesuai dengan kemampuan saya. Saya bisa mulai bekerja minggu depan setelah menyelesaikan tugas akhir di akademi.”

Setelah menyetujui semua detail dan menyampaikan jadwal untuk mulai bekerja pada tanggal 5 April mendatang, Ethan kembali ke perusahaan dengan hati yang penuh semangat.

Ketiga trainee masih sibuk berlatih di lobi—gerakan mereka sudah mulai terlihat lebih sinkron dan suara Felix yang menyatu dengan nada yang dibawakan Evan dan Adrian semakin harmonis.

“Saya sudah menemukan calon anggota tim belakang layar kita,” ucap Ethan sambil menghampiri mereka.

“Nama dia Noah Alvaro—dia akan membantu kita dengan desain kostum dan semua hal tentang penampilan grup kita."

"Kita akan menjadi tim yang kuat dengan anggota yang memiliki bakat berbeda-beda.”

Mata ketiga trainee bersinar dengan harapan. Ethan kemudian duduk bersamanya di area ruang tunggu yang sudah diberi kursi plastik yang rapi.

“Ada satu hal lagi yang ingin saya bicarakan,” ujar Ethan dengan tatapan yang serius namun hangat.

“Seperti yang saya katakan tadi, grup kita akan terdiri dari 5 orang. Selain kalian berdua dan Adrian, masih ada dua orang lagi yang akan kita cari."

"Saya mendapatkan informasi bahwa besok tanggal 30 Maret-4 April, akan ada Festival bunga, dan besok seluruh mall akan ramai dalam acara tantangan tari dan vokal di Mall Central Adelia.”

“Besok, saya ingin mengajak kalian berempat untuk pergi ke mall tersebut untuk mencari calon trainee lainnya,” lanjut Ethan. “Apakah kalian setuju untuk ikut pergi besok?”

“Tentu saja, Kak Ethan!” jawab Evan dengan senyum lebar. “Kita akan sangat senang membantu mencari teman-teman baru kita.”

Felix dan Adrian juga mengangguk dengan antusias. “Saya ingin melihat kemampuan peserta, Kak,” ujar Felix dengan suara yang lebih mantap. “Mungkin kita bisa berbagi pengalaman dan belajar dari mereka.”

Sinar matahari mulai miring ke arah barat saat pukul 17.30 WAZ sore hari tiba. Ketiga trainee menyusun kembali kursi dan meja di lobi, sementara Ethan memeriksa kamera yang sudah merekam aktivitas mereka seharian.

Foto-foto mereka bekerja bersama di halaman perusahaan dan berlatih di lobi sudah siap untuk dijadikan konten awal kanal mereka.

Mereka keluar dari perusahaan bersama-sama, melihat gedung Lucifer Entertainment yang sudah mulai terlihat lebih hidup dengan tanaman baru dan plakat nama yang bersinar kembali di bawah sinar matahari sore.

Semua orang tahu bahwa besok akan menjadi hari baru dengan tantangan baru—mencari dua calon trainee terakhir yang akan melengkapi grup mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!