Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah 2 Tahun
Jevi beserta kelompoknya mendekat, membuat kakak tingkat yang berada di sana mulai merespon, menatap ke arah mereka yang terlihat malu-malu dan takut.
"Iya, bener kak Kean anjir," pekik Naura mendesis, tetapi masih bisa didengar jelas oleh Jevi dan yang lain.
Mendengar nama itu kembali disebutkan, rasanya jantung Jevi ingin melompat dari tempatnya. Padahal Jevi belum memastikan sendiri seperti apa orangnya, apa benar masa lalunya atau hanya orang yang kebetulan memiliki nama yang sama.
"Sini dek, mau minta tanda tangan kan?" ujar salah satu kakak tingkat yang duduk tidak jauh dari Kean.
"Nggak usah malu, kalian keren bisa nemui kita di sini, buru kalau mau tanya-tanya," sambung yang lainnya.
Jevi dan kelompoknya semakin gugup, tetapi mau tidak mau melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Permisi ya kak," ujar mereka kompak.
Sebagai adik tingkat yang baru saja akan memasuki universitas jelas saja mereka harus sangat sopan, apa lagi ini masih dalam kegiatan OSPEK, bisa bahaya jika sampai bertindak sedikit saja yang menyinggung kakak tingkat.
"Je, buru, langsung ke kak Vio aja," cicit Sisil.
Jeviza mengangguk setuju, ia tidak ingin berlama-lama di sana, suasananya sangat tegang apa lagi ada nama yang sama dengan masa lalunya. Meski sampai detik ini Jeviza belum berani menoleh untuk melihat, rasanya masih ada perasaan takut dan gugup yang berlebihan.
"Permisi kak, kita dari kelompok 35 mau minta tanda tangan kak Vio dan nanya-nanya sebentar, boleh?" ujar Jevi langsung mengarah pada Vio.
Vio menatap keempatnya, lalu terakhir pada Jevi dengan tatapan sedikit sinis.
Vio dengan gaya persis seperti kakak tingkat yang berkuasa berdiri, tangannya bersidekap di depan dada.
"Kalian datang berempat?" tanyanya angkuh.
"I-iya kak, per kelompok memang berisi 4," jawab Jevi membuat Vio terkekeh sinis.
"Setiap kelompok memang dibebaskan isinya, nggak harus satu jurusan yang sama, tapi bukan berati kalian nggak butuh kakak pembimbing juga."
"Mana kakak pembimbing kalian?"
Jevi dan teman-temannya saling lirik, mereka baru ingat jika disetiap kelompok diwajibkan ada kakak pembimbing, dan bodohnya mereka tadi langsung pergi begitu saja setelah dijelaskan.
"Harusnya, diawal kalian minta tanda tangan kating, kalian langsung minta juga buat jadi kakak pembimbing kelompok, ini malah main pergi gitu aja."
"Udah ngerasa seleb kalian? Cuma karena masuk base kampus?"
"Viralnya kalian itu karena hukuman, bukan prestasi, so nggak usah belaga masih maba juga."
Jevi memejamkan matanya, Jevi tahu ia dan teman-temannya salah, tetapi tidak harus juga Vio sampai mengatai mereka.
"Maaf kak, kami mengaku salah dan ini murni karena kami lupa-"
"Lupa? Semuanya bisa sekompak itu lupa?"
Vio menghela napas dalam. Lalu mengambil bolpoin tang sedari tadi diserahkan Jevi.
"Mana biar gue tanda tangan," ujarnya.
"Vi, nggak usah marah-marah gitu, kasian mereka masih maba, yang ada entar lo dikenal galak sama mereka," ujar Januar yang duduk di sebelah Kean.
"Diem lo Nu, justru mereka harus dikasih paham, biar disiplin," ujar Vio menyerahkan kertas yang sudah ia beri tanda tangannya.
Tidak ada yang protes lagi sampai akhirnya sesi tanya jawab mereka lakukan pasa Vio.
Sementara di ujung meja, seseorang yang sedari tadi hanya mendengar mengeraskan rahangnya, layar laptop masih menyala di depannya, tetapi pikirannya tidak pasa kegiatannya, melainkan pada seorang gadis yang kini berada tidak jauh darinya. Tetapi sangat asing untuk disebut pernah dekat dan bahkan pernah mengambil ciuman pertamanya dulu.
"Makasih kak Vio sudah menyempatkan waktunya untuk kelompok kami, kita permisi," ujar Jevi hanya diangguki oleh Vio.
"Maju Je, langsung terobos ke kak Kean aja," cicit Sisil.
Jevi menoleh bingung, ia menggeleng dan menyerahkan kertasnya pada Sisil, orang yang paling berpotensi mengahadapi Keandra, dibanding dirinya yang masih sangat gelisah dan belum berani sama sekali untuk melirik apa lagi menoleh.
"Mau minta tanda tangan gue? Sini-sini," ujar Januar dengan percaya diri.
"Anu kak, maaf, kita mau minta tanda tangan yang di sebelah kakak," ujar Sisil berani.
Januar terkesiap beberapa detik, lalu melirik pada Kean yang masih sama posisinya seperti tadi, fokus dengan layar laptop seakan tidak tertarik dengan kegiatan di sekitarnya.
"Dia? Nggak gue aja yang ready?"
Sisil menggeleng dengan senyum canggung. Mungkin jika mereka belum mendapat 3 tangan pertama tadi. Januar salah satu yang akan dimintai tanda tangannya, tetapi karena tinggal satu, sudah pasti Sisil akan meminta tanda tangan Keandra apapun caranya.
Sudah sejauh ini dan mereka menemukan orangnya tidak mungkin dilewatkan begitu saja.
"Emm, oke kalau gitu." Januar menganggukan kepalanya, menatap para maba yang terlihat gugup dan tidak berani untuk sekedar meminta tanda tangan Kean.
Januar mengulum senyum, menyenggol siku Kean yang terlihat masih sibuk dengan kegiatannya.
"Ke, tuh pada mau minta tanda tangan lo, kasian jangan ditolak lagi," ujar Januar seketika membuat nyali Sisil dan yang lain menciut.
Jadi sudah ada yang meminta tanda tangan Keandra dan ditolak. Sisil melirik ke arah ketiga temannya.
"Gimana?" tanyanya tanpa suara.
Hilang sudah nyali Sisil yang tadi menggebu-gebu. Ia memikirkan cara bagaimana agar tetap bisa mendapatkan tanda tangan Keandra.
Entah bagaimana caranya ide gila terlintas dari otak Sisil. Ia dengan secepat kilat menarik Jeviza agar berdiri paling depan di antara mereka, membuat Jeviza melotot dan menatap Sisil kesal.
"Please Je, lutut gue tiba-tiba lemes," ujarnya tanpa suara.
Jeviza memejamkan matanya, ini diluar rencana mereka, hanya karena mendengar satu kata 'penolakan' dari salah satu kakak tingkatnya membuat Sisil mengorbankan dirinya. Padahal jelas-jelas tadi mereka begitu menggebu ketika menyebutkan nama Keandra.
"Yang lain aja kalau gitu," lirih Jevi mendapat gelengan kepala Sisil dan Naura.
Sementara Tevi terus komat-kamit seakan sedang berdoa untuk kesuksesan mereka.
"Kak Kean, maaf minta waktunya sebentar."
Itu bukan suara Jevi, tetapi Sisil dengan tangan mendorong tubuh Jevi maju ke depan.
1 detik
2 detik
3 detik
Hingga detik ke 7 Keandra mendongak, lalu menoleh pada gadis yang juga sedang menatapnya.
Wajah terkejut gadis di depannya sangat kentara, wajah cantik yang sudah 2 tahun lebih tidak ia lihat, terakhir Keandra dengan akun palsunya melihat postingan Jeviza yang sudah naik kelas 12, dan itu sekitar 1 tahun lalu.
Sekarang gadis itu berdiri di satu ruangan yang sama dengannya, dengan jarak yang bisa dikatakan cukup dekat.
Mata itu, mata itu masih sama seperti dulu indahnya, hanya saja Keandra melihat ada sorot kekecewaan di sana.
"Je, jangan diam aja," cicit Naura melihat jeviza yang hanya diam di tempatnya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!