NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Aku melepaskan diri dari pelukan Sherkan secepat mungkin, seolah baru saja tersengat arus listrik. Wajahku terasa panas membara, menjalar hingga ke telinga dan leher, sementara jantungku masih berdetak tidak beraturan, berpacu kencang seolah baru saja berlari jauh.

“Aku… aku mandi dulu,” ucapku tergagap. Suaraku terdengar jauh lebih gugup dan lemah daripada yang aku inginkan, hampir tidak terdengar jelas. Tanpa menunggu jawaban atau reaksi apa pun darinya, aku segera berbalik dan melangkah cepat, hampir terasa seperti berlari menuju pintu kamar mandi.

Namun sebelum pintu itu tertutup rapat, mataku sempat melirik ke belakang. Sherkan masih duduk tegak di atas ranjang, posisinya tidak berubah sejak tadi. Ia hanya menatap ke arahku dengan tatapan yang tenang, datar, dan tanpa ekspresi yang bisa aku baca atau tebak maknanya. Tidak ada tawa, tidak ada ejekan, tidak juga tanda marah. Namun entah kenapa, ketenangan dan keterbatasan ekspresinya itu justru membuatku semakin merasa canggung dan gugup.

Satu jam kemudian, kami berdua sudah siap untuk berangkat ke kantor. Aku telah mengenakan pakaian kerja yang rapi, gaun berwarna krem yang pas di tubuh dengan potongan yang sopan namun tetap terlihat anggun. Sementara itu, Sherkan berdiri di depan cermin besar yang terpasang di dinding dekat lemari pakaian.

Aku harus mengakui satu hal yang tidak bisa dipungkiri: pria itu benar-benar terlihat luar biasa. Setelan jas hitam yang dikenakannya jatuh dengan sempurna menutupi tubuhnya yang tinggi dan tegap, dipadukan dengan kemeja putih bersih yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah. Di pergelangan tangannya tergantung jam tangan bermerek yang sederhana namun terlihat mewah, dan sepatu kulit hitamnya mengilap sempurna seolah baru saja dipoles. Semua pakaian dan aksesori itu terlihat begitu pas, begitu berkelas, dan memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sulit sekali mempercayai bahwa pria yang sekarang berdiri begitu gagah dan berwibawa di hadapanku itu adalah suamiku dan dia orang yang tadi pagi tanpa sengaja aku peluk erat-erat seolah ia hanya guling biasa. Memikirkan kejadian itu saja membuatku ingin menabrakkan kepalaku ke tembok terdekat karena rasa malu yang meluap.

“Kamu baik-baik saja?”

Suara rendah dan beratnya tiba-tiba memecah keheningan, membuatku langsung menoleh kaget. Sherkan masih berdiri menghadap cermin, namun tatapannya kini tertuju padaku melalui pantulan kaca tersebut.

Aku langsung mengerti maksud pertanyaannya. Ia sedang membicarakan kejadian memalukan pagi tadi, atau mungkin juga tentang malam sebelumnya, tentang kebiasaan tidur satu ranjang yang baru saja kami jalani, serta segala kecanggungan dan jarak yang selalu aku tunjukkan sejak pernikahan kami dimulai.

Rasa bersalah langsung menyelimuti hatiku. Mungkin dari sudut pandangnya, aku memang terlihat seperti orang yang terus menghindar dan tidak nyaman berada di dekatnya.

“Aku minta maaf,” ucapku pelan sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Soal kejadian tadi pagi… aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku lupa kalau sekarang kita sudah menikah, dan kebiasaan lama itu masih terbawa.”

Aku tertawa kecil, namun suaranya terdengar kaku karena rasa malu yang masih tersisa. “Dan soal pelukan itu, sungguh, itu murni ketidaksengajaan. Aku hanya belum terbiasa berbagi tempat tidur dengan orang lain.”

Sherkan tidak menyela sepatah kata pun, membiarkanku melanjutkan kalimatku dengan tenang. Ia hanya diam, sesekali menggerakkan tangannya untuk merapikan kerah kemejanya.

“Tapi jangan khawatir,” lanjutku lagi sambil mencoba tersenyum meyakinkan, “lama-kelamaan pasti aku akan terbiasa juga. Aku janji akan berusaha menyesuaikan diri.”

Ia tetap diam, tidak menjawab, hanya melanjutkan kegiatannya merapikan manset kemejanya dengan gerakan yang terlatih dan rapi. Kemudian ia meraih jas hitamnya dan mulai mengenakannya dengan santai namun tegas.

Aku memperhatikannya tanpa sadar. Sulit sekali membaca pikiran pria ini. Aku tidak pernah tahu apa yang sedang ia rasakan, apa yang sedang ia pikirkan, atau apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Mungkin itulah alasan mengapa begitu banyak orang merasa takut dan segan padanya—termasuk Arga di kehidupan lamaku.

Dulu, Arga selalu merasa tidak tenang selama Sherkan masih berdiri tegak. Bahkan kedua orang tua Arga sendiri sangat menghormati dan takut melanggar kehendak pria ini. Memang benar, Sherkan adalah paman dari Arga, namun seluruh kekuasaan dan aset keluarga besar itu sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Perusahaan, tanah, investasi, hingga keuangan keluarga semuanya dikelola olehnya. Karena itulah Arga dan istrinya, Eliana, sangat membutuhkanku. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk menjatuhkan Sherkan, sehingga mereka memilih jalan lain: mengambil apa yang aku miliki—perusahaanku sendiri, harta warisan, bahkan nyawaku sekaligus.

Namun kali ini, aku tidak akan membiarkan sejarah itu terulang kembali. Aku sudah mendapatkan kesempatan kedua, dan aku tidak akan kehilangan segalanya untuk kedua kalinya.

“Kalau begitu, aku bisa tidur di sofa malam nanti.”

Suara Sherkan kembali terdengar, memecah lamunanku yang melayang jauh.

Aku tersentak kaget, mataku langsung membelalak. “Hah?”

Sherkan sudah siap dengan jasnya yang rapi, dan kini ia menatapku langsung dengan tatapan yang tetap tenang. “Kalau tidur di ranjang yang sama membuatmu merasa tidak nyaman atau terganggu, aku bisa tidur di sofa. Tidak masalah.”

Aku benar-benar terkejut mendengar kalimat itu. Pria yang dikenal keras, tegas, dan tidak pernah mengalah itu justru menawarkan diri untuk mengorbankan kenyamanannya demi perasaanku? Ia benar-benar memikirkan kenyamananku?

“Tidak!”

Jawabanku keluar begitu saja, cepat, bahkan terlalu cepat sebelum aku sempat memikirkan alasan yang tepat.

Kami berdua langsung terdiam mendengar jawaban spontan itu. Dan baru sesaat kemudian aku menyadari apa yang baru saja aku ucapkan. Wajahku kembali terasa panas, dan rasa gugup itu muncul lagi dengan cepat.

Untuk mengalihkan perhatian dan menutupi rasa maluku, aku segera memalingkan wajah dan melangkah menuju meja kecil di samping lemari. Di sana tergeletak beberapa pilihan dasi yang tergantung rapi. Tanganku secara refleks mengambil satu di antaranya—dasi berwarna gelap dengan motif garis halus yang terlihat elegan. Menurutku, itu adalah pilihan yang paling cocok dengan penampilan Sherkan hari ini.

Aku mengangkat dasi itu sedikit ke atas, lalu menatapnya dengan tatapan ragu. “Boleh aku memasangkannya untukmu?” tanyaku pelan.

Sherkan menatap dasi di tanganku, lalu mengangkat pandangannya menatap wajahku. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan memberi izin.

Aku pun melangkah mendekat, berniat membantu memasangkan dasi itu. Namun baru beberapa langkah saja aku menyadari masalah yang cukup besar: Sherkan terlalu tinggi. Bahkan dengan posisiku berdiri tegak, aku harus mendongak cukup jauh hanya untuk bisa menjangkau kerah kemejanya. Posisi itu terasa tidak nyaman dan membuatku harus menegangkan leher terlalu keras.

Aku baru saja hendak mengurungkan niat dan meminta bantuan pelayan saja, ketika tiba-tiba kedua tangan Sherkan bergerak. Salah satu tangannya dengan lembut namun mantap meraih pinggangku, sementara tangan yang lain menyentuh bahuku untuk menstabilkan posisiku.

“Hah?”

Aku terkejut, mataku membelalak lebar. Namun sebelum sempat bereaksi atau mengucapkan protes apa pun, ia sudah membimbingku melangkah maju sedikit dan berdiri tepat di atas ujung sepatunya. Bukan mengangkat tubuhku, hanya menaikkan posisiku sedikit agar tinggiku sejajar dengan lehernya.

Namun meski hanya sedikit, jarak antara kami langsung menjadi sangat dekat—terlalu dekat. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang menyelimuti diriku, dan napasku terasa tertahan seketika.

Aku membeku di tempat. Sherkan tampak tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah hal ini adalah hal yang biasa saja. Entah ia benar-benar tidak menyadari efek kedekatan ini, atau ia menyadarinya namun sengaja tidak mempedulikannya—aku tidak tahu.

Yang aku tahu saat ini hanyalah: aku bisa mencium aroma sabun mandi dan parfum maskulin yang samar namun menenangkan dari tubuhnya. Aku bisa melihat garis rahangnya yang tegas dan sempurna dari jarak sedekat ini. Aku bisa melihat jelas warna matanya yang gelap dan dalam, serta menyadari sekali lagi betapa tampan dan mengagumkannya pria ini.

Tanganku yang memegang dasi itu mulai terasa kaku dan gemetar. Jantungku kembali berdetak semakin cepat, sangat cepat hingga aku takut suaranya akan terdengar jelas di seluruh ruangan. Sementara itu, Sherkan tetap berdiri tegak dan tenang, seolah situasi ini sama sekali tidak memengaruhi ketenangannya sedikit pun.

“Kau akan memasangnya atau hanya diam saja?” tanyanya akhirnya, suaranya tetap datar namun terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya.

Pertanyaan sederhana itu berhasil menyadarkanku dari lamunan yang melayang. Aku menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir rasa gugup itu.

“Oh… iya, maaf,” jawabku terbata-bata.

Dengan susah payah dan konsentrasi yang terbagi, aku mulai melingkarkan dasi itu di lehernya dan menyusun simpulnya dengan hati-hati. Aku berusaha memusatkan perhatian sepenuhnya pada gerakan tanganku, berusaha mengabaikan betapa dekatnya wajah kami, berusaha mengabaikan rasa gugup yang meluap, dan juga berusaha mengabaikan satu hal yang baru kusadari: untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke masa lalu ini, jantungku berdebar bukan karena rasa takut atau waspada, melainkan hanya karena seseorang yang berdiri begitu dekat di hadapanku.

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kan kan kan kena jawaban sendiri
vj'z tri
kedekatan iniiiiii janganlah cepat berlalu uuu ...kedekatannn iniii ingin ku kenang selaluuuu ,hati ku damai jiwa ku tenang di samping muuuu ahayyyyy aselole🤭🤭🤭
vj'z tri
wes langsung termo jari ku 🤣🤣🤣🤣🤣
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!