NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Dilema Didepan Ustadz.

Setelah Maghrib, aku tidak langsung pulang.

Duduk di saf paling belakang masjid, setelah semua orang pergi, setelah suara sandal yang keluar satu per satu itu berhenti dan masjid kembali sunyi. Lampu neon di atas masih menyala. Sajadah yang tertata rapi di depan. Bau kayu dan karpet lama yang sudah jadi bau masjid ini dari sebelum aku lahir mungkin.

Ustadz Arifin keluar dari ruang kecil di sisi kanan, melihatku masih duduk, dan berhenti.

"Satria."

"Ustadz." Aku berdiri.

"Ada apa?"

Aku tidak langsung menjawab. Tapi mungkin wajahku menjawab lebih cepat karena Ustadz Arifin kemudian duduk di saf depanku dan mengangguk pelan.

"Duduk. Cerita."

Jadi aku cerita.

Semuanya.

Dari awal. Dari ludah di kaki. Dari teras rumah Pak Hendra. Dari adonan di teras luar dalam dingin pagi buta. Dari uang Ibu yang ludes kena tipu togel. Dari piring yang melayang dan kepala yang berdarah. Dari kata-kata anjing dan babi dan setan yang sudah aku hapal nadanya seperti hapal adzan.

Dan dari jembatan.

Yang ini paling berat keluar. Tapi aku ceritakan juga, karena Ustadz Arifin adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu malam itu dari sisinya, dan rasanya tidak jujur kalau aku cerita panjang lebar tapi melewati bagian itu.

Ustadz Arifin tidak menyela satu kali pun.

Hanya duduk. Mendengarkan. Dengan cara mendengarkan yang sudah langka, cara yang membuat orang yang bicara merasa didengar bukan sekadar ditunggu giliran selesai bicaranya.

Selesai aku cerita, ruangan sunyi beberapa saat.

Lalu aku bilang yang paling menyiksa.

"Ustadz, apa aku berdosa? Karena tidak bisa mendidik istri. Karena dia seperti ini dan aku tidak berhasil mengubahnya. Apa aku gagal sebagai suami?"

Ustadz Arifin menatapku.

Lama.

"Kamu sudah berusaha, Satria."

"Tapi hasilnya—"

"Hasil bukan di tangan kamu. Hidayah bukan di tangan kamu." Suaranya pelan tapi tidak ada yang bisa menyangkalnya. "Kamu ingat kisah Nabi Nuh?"

Aku diam.

"Istrinya kafir. Anaknya menolak naik bahtera. Nabi Nuh sudah berdakwah ratusan tahun. Dan Allah tidak mengatakan Nabi Nuh berdosa. Tidak. Karena tugasnya adalah menyampaikan, mengingatkan, mengajak. Bukan memaksakan hasil."

Sesuatu di dadaku bergerak.

"Kamu sudah mengingatkan Nirmala? Dengan cara yang baik, dengan kata-kata yang benar?"

"Sudah. Berkali-kali."

"Maka kamu tidak berdosa." Ustadz Arifin mengangguk pelan. "Allah berfirman dalam surat At-Tahrim, ayat enam. Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naara. Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Tugasmu adalah menjaga, mengingatkan. Bukan menentukan pilihan orang lain."

Mataku panas.

"Dan ada satu hal yang perlu kamu tanya pada dirimu sendiri, Nak." Ustadz Arifin bicara lebih pelan. "Apakah Aini tumbuh sehat dalam lingkungan seperti ini?"

Aku tidak bisa menjawab.

Pertanyaan itu tidak butuh jawaban keras-keras karena jawabannya sudah ada, sudah lama ada, hanya belum aku izinkan diri sendiri untuk menghadapinya penuh.

Aini tiga tahun. Tumbuh di rumah yang suaranya paling keras adalah teriakan. Yang paling sering terdengar adalah kata-kata yang tidak seharusnya ada di telinga anak kecil. Yang belajar bahwa laki-laki dewasa bisa dipukul dan diludahi dan tidak boleh melawan.

Apa yang sedang dia pelajari tentang dunia.

Apa yang sedang dibentuk di dalam dirinya yang kecil itu tanpa dia sadari.

"Saran saya, Satria." Ustadz Arifin berdiri pelan. "Perbanyak shalat malam. Minta petunjuk dari Allah. Bukan minta yang kamu inginkan. Tapi minta ditunjukkan jalan yang benar. Ada bedanya."

Aku mengangguk.

Kami keluar masjid bersama. Di depan pintu, Ustadz Arifin menepuk bahuku satu kali.

"Kamu bukan laki-laki yang gagal, Satria. Kamu laki-laki yang sedang sangat lelah. Itu berbeda."

Dia pergi.

Aku berdiri di halaman masjid yang sepi, di bawah lampu teras masjid yang kuning, dengan kalimat itu masih menggantung di udara.

Kamu laki-laki yang sedang sangat lelah. Bukan laki-laki yang gagal.

Aku tidak cerita soal Sonia.

Itu privasi yang belum siap aku buka ke siapapun, bahkan ke Ustadz Arifin. Bukan karena menutup-nutupi sesuatu yang memalukan, tapi karena aku sendiri belum selesai memahaminya dan menceritakan sesuatu yang belum dipahami hanya akan membuatnya makin kusut.

Pulang ke rumah, aku langsung ke kamar.

Gelar sajadah.

Shalat Isya empat rakaat.

Dan di sujud terakhir, aku tidak bangkit.

Dahiku di sajadah Bapak yang sudah tipis itu. Tangan di kiri dan kanan kepala. Dan dari tempat itu, dari sudut yang paling sunyi di dalam rumah yang tidak pernah benar-benar sunyi ini, sesuatu di dalam dadaku yang sudah lama dikunci mulai retak.

Bukan meledak.

Tidak ada suara.

Tapi air mata itu keluar dengan cara yang berbeda dari semua tangis sebelumnya. Bukan dari kesedihan yang tiba-tiba. Bukan dari momen yang memicu. Tapi dari kelelahan yang sudah sangat dalam, dari orang yang sudah berdiri terlalu lama di tempat yang tidak memberinya ruang untuk berdiri, yang akhirnya menyerah bukan ke bawah tapi ke atas.

Ke sajadah ini.

Ke tempat yang tidak pernah menolak siapapun yang datang.

Ya Allah. Tunjukkan aku jalan yang benar. Bukan yang aku mau. Yang benar.

Itu saja.

Satu kalimat.

Aku tahan di sana sampai air matanya berhenti sendiri. Sampai napasnya kembali ke ritme yang tenang. Sampai yang tersisa hanya sunyi dan bau sajadah yang sudah aku kenal seperti mengenal nama sendiri.

Lalu aku duduk.

Di luar kamar, suara televisi sudah mati.

Rumah sunyi.

Langit-langit kamar yang sama. Retak di sudut kiri yang sama.

Aku berbaring.

Memejamkan mata.

Dan untuk malam ini, setelah semua yang sudah terjadi, ada sesuatu yang aneh namun nyata di dalam dadaku.

Sesuatu yang terasa seperti pasrah.

Bukan menyerah.

Tapi pasrah. Yang artinya berbeda. Yang artinya aku tidak lagi mencoba menanggung semuanya sendiri.

Dan itu terasa seperti istirahat yang pertama kali benar-benar terasa seperti istirahat dalam waktu yang sangat lama.

1
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!