Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Semakin Baik
Sesampai di kelas 1B Gua masuk bersama Yura,Alvin, dan Erin, Gua nggak tau kenapa bisa sekelas, seperti telah di rencanakan seseorang. Sebenarnya ada acara outbond tapi Gua males banget jadi kabur ke perpustakaan seharian disana nemenin bibi alin. Gua duduk di depan di barisan dekat dengan meja guru, begitu pula Erin duduk di sebelah Gua, untuk Yura dan Alvin duduk di belakang kami, mata Gua menyapu sekeliling, melihat wajah-wajah yang akan jadi teman atau mungkin lawan, karna Gua tau nggak semua manusia bisa di ajak berteman, saat mata Gua terfokus ke arah laki-laki dengan sorot mata dingin namun ia menampilkan senyum yang aneh, begitu pula dengan perempuan dengan senyum ramah yang duduk di sebelahnya terlihat perbedaan yang sangat kontras, anak perempuan tersebut menyapa Gua dengan melambaikan tangannya, sontak Gua reflek membalas sapaan tersebut dengan melambai tangan, Yura memperhatikan interaksi kami lalu ia juga menyapa anak perempuan tersebut.
Mata biru gelap, rambut blonde membuat Gua paham jika ia bukan orang asli pribumi, saat kami sibuk menyapa satu sama lain, langkah kaki sepatu hak tinggi menggema di kelas Gua, guru yang akan jadi wali kelas kami masuk, menggunakan kacamata kotaknya, rambut di ikat ke belakang, menggunakan baju dinas ber name tag "Andini Safitri", ia meletakkan buku yang ia bawa lalu menyapa dengan senyum ramah sambil berkata
"selamat pagi anak-anak Perkenalkan nama ibu Andini Safitri, ibu akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun ini, ibu mohon keja samanya ya anak-anak ibu"ucap ibu Andini dengan nada yang lembut, kami serempak menjawab dengan lugas
"baik buk"ucapan serempak tersebut menggema di kelas, setelah itu sesi perkenalan pun berlanjut, mulai dari sisi kanan, sampai kepada giliran Gua, Gua berdiri dengan mantap memperkenalkan nama dengan lugas, dan duduk kembali dengan tepukan tangan yang menggema, begitu seterusnya sampai urutan barisan paling terakhir, anak perempuan yang menyapa ku namanya adalah Annie Leonhart, dari namanya aja Gua udah tau kalau dia murid pindahan dari sekolah luar negeri, SD Kusuma bangsa adalah sekolah bertaraf nasional, jadi tidak heran kalau ada murid luar negeri.
setelah sesi perkenalan, pelajaran pun di mulai, Ibu Andini menguji kecerdasan murid melalui latihan soal yang ia kasih pada masing-masing murid, semua murid mengeluh karna di hari pertama mereka sekolah sudah harus menghadapi soal yang mereka hindari, namun keluhan tersebut tidak di tanggapi, mereka pun terpaksa mengerjakan soal yang telah di berikan, terlihat beberapa murid kesusahan, namun mata ibu Andini tertuju pada Gua, tentu Gua ngerjain soal ini dengan mudah, toh otak Gua orang dewasa badan Gua aja yang kecil tapi Gua sengaja salahin beberapa agar nggak kelihatan genius bisa bahaya buat keselamatan Gua.
ibu Andini mendekat ke arah meja Gua, kemudian ia mengamati jawaban yang kutulis, ia terkejut akan jawaban yang kutulis, seharusnya jawaban tersebut benar semua tapi ia melihat pola yang Gua buat sengaja, ia juga melihat ke arah Erin, hasilnya sama Erin sama seperti ku walaupun beberapa perhitungan ada yang keliru tapi ia termasuk murid yang cepat setelah Gua, Setelah sesi ujian dadakan tersebut, semua murid di persilahkan istirahat, hal tersebut membuat semuanya senang lalu mereka berhamburan keluar menuju kantin sekolah, ada juga yang ke taman, maupun sekedar keliling melihat sekitaran sekolah, Yura merangkul ku tak lupa ia menggait teman baru, tentu saja teman baru itu adalah Annie, Annie mendekat lalu menatapku sejenak lalu menundukan kepalanya, tingkah malunya itu membuat Gua gemas, Gua mengulurkan tangan, memberi salam pertemanan, begitu pula dengan Erin Alvin hanya memeperhatikan interaksi yang kami lakukan namun matanya menatap tajam Annie. Annie mendongak lalu membalas uluran tangan kami berdua, disitu Gua melihat sifat asli Annie yang ceria, sifat yang sama seperti Yura saat pertama kali bertemu dan sama jahilnya dengan Yura.
Saat langkah Gua menuju ambang pintu keluar, suara lembut menyapa Gua "Yura.... ibu pinjam teman kamu sebentar ya"ucap Ibu Andini tersenyum kepada Yura.
Yura menatap Ibu Andini yang masih tersenyum kepadanya, lalu berkata "Ibu mau pinjam siapa, teman Yura ada banyak"ucap Yura memiringkan kepalanya ke kiri, mengeskpresikan kebingungannya.
Ibu Andini menatap gemas Yura yang tengah kebingungan lalu berkata "Ibu pinjam Qirana sebentar ya, ada yang mau ibu bicarain sama teman kamu"ucap lembut ibu Andini, Yura mengangguk lalu menoleh ke arah ku meminta persetujuan, Gua mengangguk paham lalu mereka meninggalkan ku berdua dengan Ibu Andini.
Ibu Andini menuntun Gua menuju meja kebesaran guru, disana aku duduk berhadapan langsung dengannya, kegugupan menyelimuti Gua, tangan ku sedikit gemetar, apa ketahuan pola yang Gua buat? namun Gua berfikir kesalahan tersebut seharusnya tingkat guru senior pun nggak sadar. Ibu Andini mengetahui kegugupan Gua tersenyum lalu berkata
"santai aja kok nak ibu cuma penasaran kamu belajar selama liburan? kenapa kamu nyembunyiin kecerdasan kamu?"tanya Ibu Andini, Gua mengangguk, masih menyembunyikan wajah denga menunduk takut, melihat respon Gua Ibu Andini berdiri di sebelah kiri Gua dengan mensejajarkan tubunya denga tempat Gua duduk, lalu berkata
"ibu nggak marah kok, justru ibu kagum dengan kamu sayang, tapi ibu takut pengajaran ibu tidak membuahkan hasil untuk kamu, jadi ibu mau berbicara pada kamu tentang masalah ini"
"Qirana... kau tau? kamu murid spesial, jarang banget loh anak seusia kamu bisa mengerjakan soal yang seharusnya untuk anak kelas 3 sampai kelas 6 , ibu hanya takut nanti ilmu yang di sampaikan ibu tidak membuat mu puas, justru membuat kamu bosan dengan pelajaran ibu"
perkataan Ibu Andini membuat Gua tertegun sekaligus membuka pandangan Gua soal tanggung jawab, pertama kalinya Gua ngerasa di hargai sama seperti ketika Gua menggambar lukisan lalu Bunda memujiku, perasaan tersebut terasa menenangkan, akhirnya Gua buka suara
"bu guru nggak perlu merasa begitu.... ibu hanya perlu bersikap biasa saja, lagian lana nggak bosen kok sama ibu terus"ucap Gua membuat Ibu Andini tersenyum, ia lalu berkata
"ibu mau kamu bisa berteman baik dengan semua anak-anak tanpa membedakan satu sama lain, ibu akan memberikan pelajaran tambahan khusus untuk memaksimalkan potensi kamu"ucap Ibu Andini.
Setelah itu Ibu Andiri menceritakan kalau ia adalah guru khusus yang mengajarkan anak anak menuju jenjang olimpiade di semua mata Pelajaran, baik tingkat SD sampai tingkatan SMA, Ibu Andini menawarkan pada Gua pendidikan khusus tersebut untuk masa depan Gua, jujur hal ini di luar ekspetasi Gua, sebab tujuan Gua di dunia ini adalah untuk bersantai menikmati kehidupan baru Gua lalu menjadi pelukis bayangan, tapi kesempatan ini tidak boleh hilang begitu saja.
***
Sejak saat itu selepas pulang sekolah, Gua pasti nyempetin waktu buat belajar bareng ibu Andini, namun karna insting kakak pertama Gua yang kuat, semua orang terdekat Gua tau kalau Gua tengah belajar dengan tekun bersama bu Andini, yang awalnya aku sendiri sekarang semua orang hadir termasuk para kakak Gua, setiap jam istirahat ibu selalu menyempatkan waktu untuk mengantar bekal kami berempat, ada juga ibunya Yura, Erin, Alvin, bahkan teman baru Gua Annie, disitu Gua melihat tawa kebersamaan antar ibu-ibu, terlihat ibu Gua yang begitu anggun, kalem dan pembawaanya yang tenang, berbeda dengan ibu Yura yang sangat sembrono dan juga blak-blakan.
Masa SD Gua nggak beda jauh ama waktu Gua TK, tapi di Masa ini pertama kalinya Gua menjadi penengah dari kasus pembullyan, namun yang Gua kaget, cara sekolah menanggapi kasus tersebut, mereka bilang "Ah mereka masih kecil, jadi wajar" wajar kepala kau, justru hal ini bisa membunuh jati diri dari korban, hadeh nggak dunia ini atau dunia Gua sebelumnya sama aja dah, namun berbeda dengan ibu Andini, ia menangani kasus ini sampai tuntas, hal tersebut membuat Gua makin kagum pada beliau, karna tidak membandingkan murid dari status orang tuanya.
perubahan Gua kian terasa, mulai dari postur, tinggi sampai pada titik penampilan Gua sangat berubah jauh dari kehidupan Gua sebelumnya, ini berkat Bunda yang selalu mempertimbangkan gizi Gua supaya sama dengan anak-anak lain, nilai Gua tidak pernah turun sehingga Bu Andini selalu memberiku beberapa hadiah sebagai bentuk apresiasi, bukan hanya Gua aja murid lain juga dapat, itu sebenarnya permintaanku agar tidak terjadi ketidak adilan antar para murid, selama Kelas 1, Bunda selalu menemani Gua, karna ia sekarang membuka usaha, itu juga berkat ide yang Gua sarankan padanya, Bunda membuka usaha kue kecil-kecilan, ayah Gua?? entah Gua nggak peduli, tapi yang Gua liat dari interaksi mereka, tidak ada keharmonisan rumah tangga, thats why i dont care about him tapi Gua tetap waspada sekaligus ngumpulin beberapa bukti untuk perceraian Ibu nanti, ngapain Gua pikirin tuh orang, untuk kelas 2, kelasnya tetap sama bedanya di tingkatan doang, murid yang menjadi korban bully sekarang berteman dekat dengan Alvin, begitu pula anak laki-laki yang sempat Gua liat pertama kali, nama korban dari korban bully adalah Edwar Rayhan , begitu pula anak laki-laki itu adalah Max, Cowok yang selalu menatap Gua sampai Gua risih.
Nyahoo heheh maaf banget ya author kemarin libur weekend, up hari biasa weekend author libur