NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 - Petir Melawan Ruang

GONGGGG!!! Dentang keras itu menggema di seluruh pusat Sekte Pedang Langit, suaranya bergetar di antara bangunan megah dan empat arena yang berdiri kokoh, seolah menandai dimulainya sesuatu yang tidak bisa lagi dihentikan. Dalam sekejap, seluruh peserta menghentikan aktivitas mereka dan memfokuskan pandangan ke depan, tidak ada lagi percakapan, tidak ada lagi gangguan, hanya perhatian penuh pada apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di udara, tepat di atas arena, cahaya perlahan berkumpul membentuk formasi, lalu satu per satu nama mulai muncul dengan jelas, tersusun rapi dalam barisan yang teratur, setiap nama bersinar dengan energi yang stabil. Nama-nama itu kemudian bergerak, saling mendekat, dan dipasangkan dengan lawan masing-masing, menciptakan daftar pertarungan yang akan menentukan siapa yang layak melanjutkan ke tahap berikutnya.

Long Chen menatap daftar nama yang melayang di udara dengan fokus penuh, matanya bergerak cepat hingga akhirnya berhenti pada satu baris yang membuat napasnya sedikit tertahan. “…itu dia namaku,” gumamnya pelan, lalu ia membaca dengan jelas, Long Chen vs Xu Yuanzhi dari Divisi Pedang Ruang, dan dalam sekejap ekspresinya berubah lebih serius karena ia tahu lawan dari divisi itu bukanlah seseorang yang bisa diremehkan.

Di sampingnya, Ye Fan, Han Li, dan Xiao Yan juga mulai mencari nama mereka masing-masing di antara deretan yang bersinar.

Tiba-tiba Han Li bersuara dengan nada terkejut, “Eh… tunggu…” matanya langsung melebar saat menemukan namanya sendiri. “Loh?! Aku melawan… dari Divisi Pedang Petir?!” katanya tidak percaya sambil menunjuk ke arah daftar.

Han Li vs Shi Hao.

Long Chen sedikit terdiam saat melihat pasangan itu, karena ia tahu betul seberapa kuat Shi Hao.

Di sisi lain, Ye Fan langsung tertawa kecil, jelas menikmati situasi tersebut. “Wah… nasib sial nih,” ujarnya santai. “Kamu bakal berhadapan dengan seniornya Long Chen.”

Han Li menghela napas panjang, bahunya sedikit turun meskipun masih mencoba tersenyum. “Sepertinya aku bisa kalah nih kalau melawan seniornya Long Chen…” katanya setengah bercanda, namun tetap ada nada serius di dalamnya.

Tiba-tiba sebuah aura besar turun dari langit, bukan sekadar tekanan biasa, melainkan kekuatan yang membuat seluruh pelataran seakan membeku dalam sekejap, memaksa semua peserta secara refleks mendongak ke atas dengan ekspresi terkejut dan waspada. Di langit yang cerah itu, delapan sosok muncul perlahan, duduk megah di tempat kehormatan yang terbentuk dari formasi energi, posisi mereka lebih tinggi dari seluruh arena, seolah memandang keseluruhan turnamen dari sudut yang tak tersentuh.

Mereka adalah para pemimpin divisi yang menguasai masing-masing cabang kekuatan di Sekte Pedang Langit, sosok-sosok yang berdiri di puncak kekuatan generasi saat ini. Di antara mereka terlihat Meng Wu dengan aura petir yang tenang namun dalam, Shen Yuan yang dikelilingi hembusan qi ringan seperti angin, Bai He yang kokoh seperti gunung tak tergoyahkan, dan Qin Tian yang memancarkan aura hangat namun kuat seperti matahari.

Tidak jauh dari mereka, Shan Que duduk dengan aura dingin yang membekukan, Wei Wuxian yang aura gelapnya tenang namun dalam, serta Lan Wangji yang kehadirannya terasa samar namun sangat berbahaya.

Di pusat dari semuanya, berdiri Ketua Sekte Pedang Langit, sosok yang memegang otoritas tertinggi, auranya luas dan menekan namun tetap terkendali dengan sempurna.

Dan di sampingnya berdiri Huang Quan, sosok yang kehadirannya tak perlu diumumkan, karena hanya dengan berdiri di sana saja, ia sudah cukup untuk membuat seluruh pelataran menjadi sunyi.

Ketua Sekte Pedang Langit berdiri dari tempatnya, gerakannya tenang namun langsung menarik seluruh perhatian, seolah seluruh pelataran secara alami terpusat padanya. Aura yang ia pancarkan tidak meledak, namun cukup dalam untuk membuat semua peserta tanpa sadar menegakkan tubuh mereka.

Suaranya menggema luas, menjangkau setiap sudut arena tanpa perlu ditinggikan. “Dengan ini, Turnamen Tujuh Divisi…” ucapnya perlahan, memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, “…akan dimulai.”

Suasana menjadi semakin hening, tidak ada satu pun yang berani berbicara.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang tetap tenang namun tegas. “Namun sebelum itu, aku akan menjelaskan format turnamen ini.”

Tatapannya menyapu seluruh peserta yang berdiri di bawah. “Formatnya sederhana. Yang kalah akan langsung gugur, dan yang menang akan melaju ke babak enam belas besar.”

Beberapa peserta terlihat menelan ludah, menyadari bahwa tidak ada ruang untuk kesalahan.

Ketua Sekte lalu mengangkat tangannya perlahan, menunjuk ke arah empat arena besar di tengah pelataran. “Terdapat empat arena yang akan digunakan secara bersamaan,” jelasnya.

Ia berhenti sejenak, lalu suaranya kembali menggema dengan lebih tegas.

“Peserta yang mendapat giliran pertama… silakan naik ke arena.”

Long Chen menatap ke arah empat arena yang mulai bersinar dengan formasi pelindung, lalu matanya bergerak mencari daftar giliran pertama yang melayang di udara, dan dalam sekejap ia menemukan namanya sendiri tertera dengan jelas di salah satu arena.

Arena 2 — Long Chen vs Xu Yuanzhi

Arena 4 — Ye Fan vs …

Tatapannya sedikit mengeras, napasnya ditarik pelan, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di pelataran ini, ia benar-benar merasakan bahwa pertarungan itu sudah di depan mata, bukan lagi sekadar bayangan.

Di sampingnya, Han Li menepuk bahunya dengan cukup keras, ekspresinya penuh semangat. “Kau pasti bisa, Long Chen,” ucapnya tanpa ragu.

Belum sempat Long Chen menjawab, Ye Fan langsung protes dengan wajah tidak puas. “Eh?!” katanya dengan nada tinggi. “Kenapa cuma Long Chen yang disemangatin? Aku juga akan bertarung, tahu!”

Han Li mendengus pelan, jelas tidak terlalu peduli dengan keluhannya. “Kau tidak perlu disemangati,” balasnya santai. “Kau itu terlalu menyebalkan.”

Ye Fan langsung membalas tanpa menahan diri. “Dasar bodoh!” katanya, wajahnya sedikit memerah karena kesal.

Di tengah pertengkaran kecil itu, Xiao Yan hanya tertawa kecil, tampak sudah terbiasa dengan tingkah mereka. “Kalian berdua…” ucapnya sambil menggeleng ringan, lalu menatap mereka bertiga dengan ekspresi yang lebih serius.

“Lakukan yang terbaik.”

Long Chen dan Ye Fan saling melirik sejenak, tidak ada kata yang terucap namun keduanya memahami bahwa momen ini bukan lagi untuk bercanda, lalu tanpa ragu mereka berpisah langkah, masing-masing berjalan menuju arena yang telah ditentukan, melewati kerumunan peserta yang kini memberi ruang dengan diam, sementara aura di sekitar semakin terasa berat.

Sebelum Long Chen benar-benar melangkah naik ke arena, sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang, membuatnya berhenti sejenak dan menoleh.

Itu adalah Mo Fan.

Tatapan Mo Fan terlihat serius, berbeda dari biasanya yang santai, seolah ia benar-benar menaruh harapan pada murid di depannya. “Junior, lakukan yang terbaik,” ucapnya dengan suara tenang namun tegas. “Aku yakin kau pasti bisa.”

Kata-kata itu sederhana, namun mengandung kepercayaan yang nyata.

Long Chen tersenyum, bukan senyum santai, melainkan senyum yang dipenuhi keyakinan. “Terima kasih, Senior,” jawabnya.

Long Chen melangkah mantap menaiki arena, kakinya menapak di permukaan batu yang dipenuhi formasi pelindung, dan dalam sekejap ia bisa merasakan aura di sekelilingnya berubah, lebih padat, lebih fokus, seolah seluruh dunia di luar arena mulai terpisah dari tempat ia berdiri sekarang. Angin tipis berhembus melewati arena, membawa keheningan yang menekan sebelum pertarungan dimulai.

Di hadapannya, seorang pemuda sudah berdiri dengan tenang, tubuhnya tegak dan stabil, pedang berada di tangannya tanpa sedikit pun goyah. Aura coklat samar menyelimuti tubuhnya, berat dan kokoh, seperti tanah yang tak tergoyahkan.

Xu Yuanzhi.

Ia menatap Long Chen dengan senyum tipis, bukan senyum ramah, melainkan penuh percaya diri. “Aku akan memenangkan pertarungan ini, peserta Divisi Pedang Petir,” ucapnya dengan nada datar namun tegas.

Long Chen membalas tatapan itu tanpa mundur sedikit pun, ekspresinya tenang namun matanya tajam. “Kita lihat saja,” jawabnya ringan.

Tangannya menggenggam pedangnya lebih erat.

“Aku tidak akan kalah semudah itu.”

Di bawah arena, Mo Fan dan Shi Hao berdiri dengan ekspresi serius, mata mereka tidak pernah lepas dari Long Chen yang sudah berada di atas arena, setiap gerakan kecil diperhatikan dengan cermat, seolah mereka menilai bukan hanya hasil pertarungan, tetapi juga perkembangan tekniknya.

Tidak jauh dari mereka, Han Li berdiri dengan tangan terlipat, tatapannya fokus ke depan, jelas ia juga ingin melihat sejauh mana kekuatan sahabatnya setelah delapan tahun.

Sementara itu, di sampingnya, Xiao Yan melirik ke arah arena lain yang juga mulai dipenuhi peserta. “Han Li, aku ke arena empat dulu,” katanya santai. “Aku mau lihat pertarungan Ye Fan juga.”

Han Li mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari arena. “Baiklah,” jawabnya singkat. “Aku tetap di sini saja, mau lihat pertarungan Long Chen.”

Xiao Yan pun berbalik dan berjalan menjauh, langkahnya tenang namun cepat, menuju arena lain di mana pertarungan lain juga akan segera dimulai.

End Chapter 33

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!