Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sekarang giliran Joy yang akan bertarung. Joy kini sudah berdiri tegap di dalam arena. Didepannya berdiri seekor anjing Doberman raksasa yang siap menyerang.
"GRRRR!!"
Setelah mengaung anjing itu berlari ke arah Joy dengan sangat cepat. Joy berhasil menghindari serangan brutal itu. Setelahnya, dengan gerakan cepat dia berpindah tempat. Yang tadinya di depan anjing, kini ia sudah di belakang anjing.
Bugh!
Joy menghantam belakang kepala bintang itu saat dirinya berada di belakang. Hantaman itu mampu membuat Doberman raksasa terkulai lemas.
"AUMMMM!!"
Ia mengaung dengan keras sebelum dirinya pingsan. Hal itu menandakan bahwa pukulan yang didapatnya terasa meyakitkan.
Jenny menatap malas, "Kalian terlalu membosankan! Setidaknya bermain lebih lama sedikit, dong..."
Padahal Kayla dan Joy terlihat sangat kerena dengan gaya bertarung mereka yang cepat dan tepat. Dengan satu hantaman mereka mampu melumpuhkan lawan.
Hal itu justru yang membuatnya sangat bosan.
Baginya, sebuah pertarungan harus dinikmati. Setiap serangan lawan anggaplah seperti alunan musik. Ia sangat suka pertarungan yang durasinya lama namun hasilnya memuaskan.
Akan tetapi, dalam pertarungan yang dihadapkan dengan banyak musuh, kita harus cepat dan tepat.
Begitulah yang dilakukan Jenny. Dia akan bermain-main kalau pertarungannya satu lawan satu. Namun, kalau pertarungannya di hadapkan dengan banyak musuh, gerakannya sangat cepat, ia seperti hembusan angin yang tak terlihat namun bisa dirasakan.
"Aduh!"
Alfian meringis kesakitan. Ia memegangi perutnya seakan-akan sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Kenapa?" Kayla bertanya dengan sedikit nada khawatir.
"Aku belum bisa latihan hari ini, perutku sangat sakit!" Keluhnya seolah-olah sedang menahan rasa yang amat sakit dibagian perutnya.
Sebenarnya Alfian sangat bosan. Dirinya tidak menyukai pertarungan yang tidak menantang ini. Dia ingin melawan musuh yang lebih kuat, musuh yang seimbang.
Kalau dipikir-pikir... Yang sakit hati aku!! Dia membentak diriku demi seekor anjing yang baru dia temui!! Apa aku tidak lebih berharga dari anjing itu?
Kayla memapah Alfian keluar ruangan. Mereka berdua berjalan ke arah UKS yang berada di samping tempat tinggal mereka.
"Mau ku gendong?" Kayla menawarkan diri untuk menggendong Alfian.
"Apakah bisa?" Tanya Alfian tidak percaya.
Bukannya menolak karena dia gengsi, atau karena dia seorang laki-laki. Alfian justru bertanya apakah gadis di depannya ini mampu menggendong dirinya.
"Sangat bisa!" Ucapnya santai penuh keyakinan.
Kayla memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, ia bisa dengan mudah mengangkat barbel seberat 100 Kg.
Jadi, mengangkat Alfian yang hanya seberat 60 kg? Sangat mudah ia lakukan.
"Baiklah." Ucap Alfian pasrah.
Tanpa aba-aba, Kayla menggendong tubuh Alfian ala bridal style. Pemandangan itu terlihat aneh, tapi keren.
Jenny seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pada umumnya cowok yang menggendong cewek! Yang dia lihat adalah cowok di gendong sama cewek! Tubuh Kayla yang terlihat kecil itu sangat tidak etis mengangkat tubuh kekar Alfian. Ibaratnya seperti kelinci yang sedang mengangkat beruang. Sangat aneh kan?
"Ketukar, Woy!" Teriak Jenny.
Matanya membulat, dahinya mengkerut, ia tak percaya melihat adegan itu. Seharusnya cowok yang gendong cewek, bukan cewek yang gendong cowok.
Joy hanya menggelengkan kepala. "Sangat kuat." ucapnya pelan.
Jenny menelisik wajah Joy, ia menyimpulkan matanya, kemudian dia memandangi tubuhnya yang terlihat kecil.
"Kalau kau sakit, jangan memintaku untuk menggendong mu!"Ucapnya seraya memberikan tatapan tajam.
"Lihat ini!" Serunya sambil membentangkan tangan-tangan kecil itu.
"Tubuhku kecil, aku tidak sanggup kalau harus mengangkat tubuhmu yang besar itu!" Lanjutnya.
Joy melirik Jenny sekilas,"Lanjutkan latihanmu!"
"Ok! Aku akan tunjukan bagaimana cara menikmati pertarungan!" Ucapnya sambil mengepalkan tangan dan tersenyum lebar.
Kini Jenny sudah sudah berada di depan anjing Doberman Raksasa. Anjing itu menatapnya tajam, tapi ia malah tersenyum lebar.
"AUUUUUU!!"
"GRRRRRR!!"
"AU...Au...AU..."
Anjing Doberman telah mengaung dengan suara yang amat keras, sehingga siapa yang mendengarnya akan merasa ketakutan.
. Namun, wanita di depannya ini sama sekali tidak terlihat takut. Ia mengibaskan rambutnya dengan elegant. Salah satu tangannya dimasukkan ke dalam jaring-jaring besi lalu berpose layaknya model profesional.
"Aku tidak takut dengan nyanyianmu itu!" Ucapnya Seraya mengibaskan rambutnya dan berpose ala model profesional.
"Huh! Anak ini memang sangat menjengkelkan!" Ucap Joy sambil menghela nafas kasar.
Joy greget melihat tingkah Jenny, ia ingin sekali masuk ke dalam cage dan menyadarkan Jenny akan bahaya.
Walaupun begitu, kemampuan Jenny tidak bisa diragukan. Ia sangatlah lincah, sangat mudah baginya mengacaukan musuh.
Anjing Doberman itu berlari sangat kencang. Matanya tertuju pada satu titik, yaitu tempat dimana Jenny berada. Tatapan matanya sangat tajam seolah-olah baru saja mendapatkan buruan.
Saat posisi anjingnya sudah sangat dekat, ia membuka mulutnya seakan mau menerkam Jenny saat itu juga.
Namun, yang dilakukan Jenny di luar dugaan. Jenny melompat dan mendarat tepat di tubuh sang anjing.
Bug!
Ia memukul Pantat hewan buas itu sedikit lembut, seperti sedang bermain. Padahal lambat sedikit saja, nyawa jadi taruhan.
Sebelum hewan itu sadar, Jenny langsung melompat ke arah depan. Lompatannya sangat jauh beberapa meter dari tempat anjing berdiri.
Anjing Doberman ini menggelengkan kepala kecepatan Jenny yang melebihi dirinya itu membuatnya sedikit pusing.
Setelah kesadarannya pulih, anjing itu berbalik ke belakang. Ia melihat seorang wanita sedang melambaikan tangannya seolah berkata "Hai Aku disini!"
"GRRRRRR!!!"
Anjing itu kembali mengaung. Setelah mengaung ia kembali berlari ke arah Jenny.
Saat posisi anjing jaraknya tinggal 2 meter Jenny melakukan salto sebanyak dua kali. Melihat hal itu anjing Doberman menambah kecepatannya.
Jenny dengan posisi handstand langsung mendarat di tubuh hewan buas itu dengan gagah.
Kini posisinya berada di atas punggung anjing seperti sedang menunggangi seekor kuda.
"AU...AU...AU..."
Anjing Doberman itu terlihat panik. Ia mencoba meraih kaki Jenny, tapi selalu saja gagal.
"JENNY STOP!" Teriak Joy.
Wajah yang tadinya ceria langsung berubah lemas. Dua kata dari Joy mampu membuat Jenny berhenti bermain-main.
Bugh!
Jenny segera menghantam belakang kepala anjing itu dengan satu hantaman. Melihat sang anjing sudah terbaring Jenny segera berdiri.
Kalau marah dia terlihat seram! Aku lebih takut padanya ketimbang Kak Alfian.
Baru kali ini Jenny mendengar Joy marah. Sebelumnya pria itu selalu dingin dan datar. Ia tidak pernah terlihat marah.
"Gimana aku hebat kan?" Tanya Jenny antusias.
Matanya berbinar-binar, senyumnya melebar. Namun kata pujian yang ia harapkan tak kunjung terdengar. Yang di dapatnya bukan pujian, melainkan tatapan tajam.
Jenny yang sudah tahu maksud dari tatapan tajam itu berdecak kesal. Ia tak mengerti kenapa pria itu selalu jijik kalau bersentuhan dengannya.
Dia selalu merasa tubuhnya kurang steril kalau berdekatan dengan Joy. walaupun sering membersihkan diri, Jenny selalu merasa dirinya kurang bersih.
"Biasa aja kali! Emang dia pikir aku kuman?" Umpat Jenny.
Kekesalan itu semakin menjadi-jadi. apalagi sikap Joy yang terlihat biasa, seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Hmm..."
Jenny mengekori Joy dari belakang. Jarak mereka sekitar 2 meter. Jenny selalu menendang setiap benda yang menghalangi jalannya.