NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : HARI PERNIKAHAN DALAM KEBOHONGAN

HARI PERNIKAHAN DI KEDIAMAN HARSONO

Hari itu matahari bersinar cerah. Tapi di dalam rumah besar Harsono, tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada karpet merah. Tidak ada panggung bunga setinggi dua meter seperti pernikahan anak konglomerat lainnya.

Hanya ada pelaminan sederhana di ruang tamu utama. Pelaminan itu dihias kain putih dan rangkaian bunga melati. Sederhana. Tapi bersih. Rapi. Penuh ketulusan.

Kirana berdiri di depan cermin dengan gaun putih sederhana. Gaun itu bukan gaun desainer. Hanya gaun polos dengan potongan A-line yang menutupi tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi. Makeup-nya tipis. Hanya bedak dan lipstik merah muda.

Di sebelahnya, Bibi Rina membantu membetulkan kerudung putih Kirana.

"Nona... cantik sekali," bisik Bibi Rina sambil berkaca-kaca. "Pasti Tuan bahagia lihat Nona hari ini."

Kirana tersenyum tipis di depan cermin. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "..Ini hanya sandiwara, Bi. Aku hanya pura-pura bahagia.." ucapnya dalam hati.

DI RUANG TAMU KEDIAMAN HARSONO

Tamu yang hadir tidak lebih dari tiga puluh orang. Hanya keluarga dekat dan beberapa kenalan Pak Harsono. Tidak ada wartawan. Tidak ada fotografer profesional. Tidak ada media sosial yang heboh.

Kirana tidak mau banyak orang tahu kalau dia menikahi supirnya sendiri. Itu harga diri. Itu martabat keluarga Harsono.

Di kursi paling depan, Pak Harsono duduk di kursi roda. Wajahnya masih pucat tapi senyumnya lebar. Matanya berkaca-kaca melihat putri semata wayangnya akan menikah hari ini.

Di sebelah Pak Harsono, Ibu Hana duduk dengan baju kebaya krem sederhana. Dia menggenggam tangan Arga yang gemetar.

"Tenang, Ga," bisik Ibu Hana. "Hari ini hari bahagiamu, Nak."

Arga mengangguk pelan. Dia pakai kemeja putih dan jas hitam sederhana. Rambutnya disisir rapi. Tapi di dalam hatinya ada badai. "..Hari ini aku menikahi Nona Kirana. Tapi bukan sebagai Arga yang dicintai. Tapi sebagai Arga yang disewa.."

DI PELAMINAN SEDERHANA

Akad nikah dimulai.

Pak Ustadz yang sudah sepuh duduk di depan pelaminan dengan kitab suci di depannya. Suaranya pelan tapi tegas.

"Saudara Argantara , saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Kirana Prameswari Harsono binti Harsono Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 10 gram dibayar tunai."

Arga menelan ludah. Tangan kanannya gemetar. Dia melirik Kirana yang duduk di sebelahnya dengan mata tertunduk.

"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Prameswari Harsono binti Harsono Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”,jawab Arga dengan suara yang sedikit bergetar.

Pak Ustadz mengangguk lalu menatap Kirana. "Nona Kirana... apakah Nona bersedia dinikahi oleh Arga Pratama dengan mahar tersebut?"

Kirana tidak langsung menjawab. Dia menatap ayahnya yang tersenyum bangga di kursi roda. "..Papa... maafkan Kirana. Kirana harus berbohong pada Papa.."

Kirana menarik napas dalam. "Saya bersedia."

"SAH!" suara Pak Ustadz menggema di ruang tamu.

TAMU-TAMU BERTEPUK TANGAN.

Pak Harsono meneteskan air mata. Dia mengangkat kedua tangannya ke langit. "Ya Allah... terima kasih... akhirnya aku bisa melihat putriku menikah dengan orang yang tepat...Anastasya kamu juga bahagia kan diatas liat anak kita sekarang sudah menikah" bisiknya pelan seakan ada mendiang istrinya yg ikut menyaksikan pernikahan Putri mereka.

Ibu Hana langsung memeluk Arga dari samping. "Selamat ya, Ga. Semoga kalian berdua langgeng sampai tua."

Arga hanya bisa mengangguk. Dia tidak bisa bicara. Tenggorokannya seperti tercekat.

Kirana tersenyum. Tapi senyum itu palsu. Senyum itu hanya untuk menutupi sandiwara mereka. "..Aku hanya bisa tersenyum dalam kebohongan sepanjang acara ini.."

DI RUANG MAKAN KEDIAMAN HARSONO

Setelah akad selesai, acara dilanjutkan dengan makan-makan sederhana.

Menu yang disajikan juga tidak mewah. Hanya ada nasi kuning, ayam goreng, sambal, dan kue-kue tradisional. Tidak ada kue pengantin bertingkat. Tidak ada champagne.

Tapi semua tamu makan dengan lahap. Suasananya hangat. Kekeluargaan.

Pak Harsono duduk di kepala meja dengan wajah bahagia. Dia menatap Kirana dan Arga yang duduk bersebelahan.

"Arga," kata Pak Harsono pelan. "Jaga Kirana ya, Nak. Jaga dia seperti kamu jaga dirimu sendiri."

Arga langsung berdiri lalu mencium tangan Pak Harsono. "Siap, Tuan. Saya janji."

Kirana menatap adegan itu dari samping. Dadanya terasa sesak. "..Papa... kalau Papa tahu pernikahan ini hanya kontrak... apa Papa akan kecewa sama Kirana?.."

Ibu Hana yang duduk di sebelah Arga memperhatikan Kirana. Dia bisa melihat kesedihan di mata Kirana.

"Nak Kirana," bisik Ibu Hana pelan. "Kamu baik-baik saja?"

Kirana tersenyum tipis ke arah Ibu Hana. "Iya, Bu. Kirana baik-baik saja."

Tapi suara Kirana sedikit bergetar.

Ibu Hana mengangguk. "..Anak ini... dia juga berjuang. Dia juga sakit. Tapi dia berusaha kuat demi ayahnya.."

DI HALAMAN BELAKANG KEDIAMAN HARSONO

Setelah makan selesai, tamu-tamu mulai berpamitan satu per satu.

Rumah besar Harsono kembali sepi. Hanya tinggal keluarga inti dan Ibu Hana.

Pak Harsono dipapah Raka masuk ke kamar. Sebelum masuk, Pak Harsono menoleh ke arah Kirana dan Arga.

"Kirana... Arga... Papa bahagia lihat kalian berdua," kata Pak Harsono dengan suara bergetar. "Papa doakan kalian berdua semoga langgeng. Semoga rumah tangga kalian diberkahi Allah."

Kirana langsung berlari memeluk ayahnya. "Papa... jangan nangis ya. Kirana akan jaga Papa. Kirana akan bahagia."

Pak Harsono mengusap punggung Kirana. "Papa percaya, Nak. Papa percaya sama Arga."

Arga berdiri beberapa langkah di belakang. Dia menatap adegan itu dengan mata berkaca-kaca. "..Tuan... saya tidak akan mengecewakan Tuan. Saya akan jaga Nona Kirana sampai kapanpun.."

Setelah Pak Harsono masuk kamar, Ibu Hana menghampiri Arga dan Kirana.

"Nak Arga... Nak Kirana..." kata Ibu Hana lembut. "Ibu titip kalian berdua ya. Jaga satu sama lain. Saling mengerti. Saling menyayangi."

Arga mengangguk pelan. "Siap, Bu."

Kirana hanya bisa tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu Hana."

Ibu Hana memeluk Kirana sebentar. "Kamu kuat ya, Nak. Ibu lihat kamu tegar sekali hari ini."

Kirana mengangguk. Tapi air matanya hampir jatuh.

MALAM HARI DI KAMAR PENGANTIN KEDIAMAN HARSONO

Jam menunjukkan pukul 21.00.

Kamar pengantin itu sederhana. Hanya ada kasur besar dengan seprai putih. Di atas meja ada kue kecil dan dua gelas jus.

Kirana duduk di pinggir kasur dengan gaun pengantinnya yang belum dilepas. Rambutnya sudah terurai. Wajahnya pucat tanpa makeup.

Pintu kamar terbuka pelan.

Arga masuk dengan kemeja putih yang sudah diganti. Dia tidak pakai jas lagi.

Kirana menoleh. Jantungnya langsung berdebar kencang. " Kirana tenang kamu harus percaya padanya... dia tak akan melanggar kontrak nya. "

Arga berhenti beberapa langkah di depan Kirana. Dia tidak berani menatap mata Kirana.

"Non... aku..." Arga tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

Kirana berdiri dari kasur. Dia berjalan mendekati Arga dengan langkah pelan.

"Arga... kita sudah sah," kata Kirana pelan. Suaranya datar. "Tapi ingat... ini hanya kontrak. Satu tahun. Lalu kita berpisah."

Arga mengangguk pelan. "Aku tahu, Nona. Aku tidak akan pernah lupa.."

Kirana menatap Arga dalam-dalam. "Jangan berharap lebih dari aku, Arga. Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu."

Kata-kata itu seperti pisau yang menghantam dada Arga. Tapi Arga hanya mengangguk.

"Saya mengerti, Nona."

Kirana menunjuk kasur. "Kamu tidur di sofa saja. Aku tidur di kasur. Jangan sentuh aku. Jangan dekati aku kalau tidak ada Papa."

Arga mengangguk lagi. "Baik, Nona."

Kirana berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh lagi.

"Aku harus kuat. Aku harus bisa. Ini hanya satu tahun. Setelah itu aku bebas "

DI DALAM KAMAR MANDI

Kirana mengunci pintu kamar mandi lalu bersandar di pintu.

Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya akhirnya jatuh.

"Kenapa... kenapa aku harus melakukan ini, Papa?" bisik Kirana pelan. "Kenapa aku harus menikahi Arga?"

Dia teringat wajah Arga yang tadi gemetar saat mengucapkan ijab kabul. Tangan Arga yang dingin saat menyentuh tangannya. Mata Arga yang penuh ketulusan saat menatapnya.

"Arga... maafkan aku. Maafkan aku karena aku tidak bisa mencintaimu"

Kirana mencuci wajahnya lalu menarik napas dalam. Dia harus kuat. Demi Papa. Demi perusahaan Papa.

Di dalam kamar,

Arga duduk di sofa dengan bantal kecil di pangkuannya. Dia tidak bisa tidur.

Dia menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

"Nona Kirana... aku tidak berharap kamu mencintaiku. Aku hanya ingin menjaga kamu. Hanya itu"

Arga membuka ponselnya. Di galeri ada foto Ibu Hana yang tadi memeluknya.

"Bu... doakan aku ya. Doakan aku kuat melewati satu tahun ini"

Arga menutup mata. "Selamat tidur, Nona Kirana. Besok... kita mulai sandiwara kita.."

DI KAMAR PAK HARSONO

Pak Harsono tidak bisa tidur. Dia duduk di kursi roda sambil menatap foto Kirana kecil yang ada di meja nakas.

"Kirana... semoga kamu bahagia, Nak," bisik Pak Harsono pelan. "Papa tenang kalau kamu bersama Arga."

Dia menatap pintu kamar Kirana yang tertutup rapat. "..Kirana... Arga... semoga satu tahun itu menjadi seumur hidup.."

[BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!