“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Cukup… atau Sekadar Bertahan?
Pria yang sudah dua kali menikah dan dua kali gagal itu turun dari mobil, lalu berjalan menuju pintu masuk.
Namun, saat jaraknya tinggal beberapa meter—
langkahnya melambat.
Tatapannya tertuju pada satu sosok.
Seorang wanita berhijab… dengan seorang anak laki-laki di sampingnya.
Meski sudah lama tak bertemu, meski wajah wanita itu tertutup cadar…
ia yakin.
Ia tidak mungkin salah.
Ayza.
Mantan istri pertamanya.
Wanita yang ia lepaskan dalam amarah—dan penyesalan itu… tak pernah benar-benar pergi.
Wanita yang hingga kini… diam-diam masih ia harapkan.
“Ayza.”
Panggilan itu keluar begitu saja.
Langkah Ayza terhenti.
Tubuhnya sedikit menegang.
Suara itu… terlalu ia kenal.
Perlahan, ia menoleh.
Alvian ikut menatap ke arah yang sama.
“Umi… itu siapa?”
Ayza tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada pria itu.
“Lama gak ketemu,” ujar Reza, senyumnya perlahan mengembang.
Alvian menarik sedikit lengan baju Ayza.
Ayza akhirnya mengalihkan pandangan.
“Ini Om Reza,” ucapnya pelan. “Kakaknya Om Fahri.”
Alvian mengangguk mengerti.
“Assalamualaikum, Om,” sapanya sopan.
“Waalaikumsalam,” balas Reza.
Tatapannya kembali pada bocah itu. Sedikit lebih lama dari seharusnya.
Lalu kembali ke Ayza.
“Ini putramu… dengan Kaisyaf?” tanyanya.
Ayza mengangguk singkat.
“Iya.”
Sejenak hening.
“Ayza mau belanja?” tanya Reza, mencoba terdengar biasa.
“Sudah,” jawab Ayza tenang. “Kami mau pulang.”
Ia menggenggam tangan Alvian sedikit lebih erat.
“Kalau begitu… silakan,” lanjutnya sopan. “Kami permisi.”
Ayza hendak melangkah.
“Tunggu.”
Suara itu kembali menahannya.
Langkah Ayza terhenti. Ia tidak langsung berbalik. Beberapa detik… sebelum akhirnya ia menoleh perlahan.
“Ada apa?” tanyanya tenang.
Reza menatapnya. Sejenak. Seolah menimbang sesuatu. Lalu ia tersenyum tipis.
“Aku… sempat lihat Kaisyaf beberapa hari lalu.”
Kalimat itu terdengar ringan. Tapi cukup membuat jari Ayza tanpa sadar mengencang di genggaman Alvian.
“Di hotel,” lanjut Reza.
Ayza diam.
“Dengan seorang wanita.”
Waktu seolah berhenti sepersekian detik.
Di balik cadarnya, wajah Ayza berubah. Hanya sesaat. Sangat cepat… nyaris tak terlihat.
Namun cukup bagi seseorang yang memerhatikannya, meski hanya matanya.
Lalu, sorot matanya kembali tenang.
“Di hotel…” ulang Ayza pelan. Ia mengangguk kecil. “Di hotel ada restoran, ruang meeting, ballroom… bahkan acara bisnis sering diadakan di sana.”
Nadanya datar. Terkendali.
“Suami saya seorang pebisnis.” Ia menatap Reza lurus. “Memang kenapa kalau beliau masuk bersama seorang wanita?”
Reza tersenyum. Tipis. Seolah sudah menduga jawaban itu.
“Kamu masih sama,” ujarnya pelan. “Selalu percaya… sepenuh itu.”
Ayza tersenyum di balik cadarnya.
“Saya percaya,” jawabnya. Singkat. Tegas. “Kalau tidak… saya tidak akan bertahan sampai sekarang.”
Kalimat itu terdengar kuat. Namun di dalam dadanya… sesuatu seperti retak… semakin melebar.
Reza menatapnya lebih lama. Ada penyesalan di sana. Jelas.
“Dulu…” ucapnya pelan, “aku yang tidak cukup percaya.”
Ayza tidak menjawab.
“Aku pikir…” lanjut Reza, suaranya merendah, “aku bisa menemukan yang lebih baik.”
Ia tersenyum pahit.
“Ternyata… aku cuma kehilangan yang terbaik.”
Ayza tetap diam. Tangannya masih menggenggam Alvian. Lebih erat dari sebelumnya.
Alvian menatap bergantian antara keduanya. Keningnya sedikit berkerut.
“Umi… kita pulang, ya?” tanyanya pelan.
Suara kecil itu seperti menarik Ayza kembali. Ia mengangguk.
“Iya, Sayang.” Lalu ia kembali menatap Reza. “Kalau tidak ada lagi,” ucapnya sopan, “kami permisi.”
Reza tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Ayza. Seolah ingin mengatakan sesuatu… tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan.
“Silakan.”
Ayza berbalik. Melangkah pergi bersama Alvian.
Namun sebelum benar-benar menjauh—
“Za…”
Langkah itu berhenti lagi. Tanpa menoleh, Ayza menunggu.
Reza menarik napas.
“Kalau suatu hari…” suaranya tertahan, “kamu butuh tempat pulang—”
Kalimat itu menggantung.
Ayza menutup matanya sejenak. Lalu…
“Terima kasih,” ucapnya pelan. Tetap tanpa menoleh. “Semoga saya tidak pernah membutuhkannya.”
Dan kali ini… ia benar-benar pergi.
Reza masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti mobil itu… hingga benar-benar menghilang dari pandangan.
Dada pria itu terasa sesak.
“Aku terlambat…” gumamnya pelan. "Terlalu terlambat untuk memperbaiki semuanya."
Tangannya mengepal perlahan.
“Dan sekarang… aku bahkan gak punya hak apa-apa.”
Ia tertawa kecil. Hambar. Yang bisa ia lakukan… hanya melihat. Dari jauh.
Di dalam mobil.
Ayza menggenggam setir. Terlalu erat.
Matanya lurus ke depan. Fokus. Seolah tidak terjadi apa-apa..Namun napasnya… sedikit lebih berat.
Di sampingnya, Alvian duduk diam. Tangannya memeluk biskuit yang tadi ia pilih.
“Umi…”
Ayza menoleh sekilas.
“Iya, Sayang?”
“Umi bilang, Om Reza kakaknya Om Fahri."
"Benar."
Alvian terdiam sebentar seolah sedang memilih kata. "Om Fahri baik. Berarti... Om Reza juga baik, ya?”
Ayza tersenyum. Tipis. “Iya. Baik.”
Jawaban yang sederhana. Namun pikirannya… tidak sesederhana itu.
Suara itu kembali terngiang.
“Aku lihat Kaisyaf… di hotel. Dengan seorang wanita.”
Jemarinya di setir semakin mengencang.
Hotel. Wanita.
Dan—
“Minum dulu.”
Suara itu. Begitu dekat. Begitu… wajar.
Seolah bukan orang asing.
Napas Ayza tertahan sejenak.
"Siapa dia…? Sejauh apa…?"
Dadanya terasa seperti ditekan sesuatu yang tak terlihat. Ia menelan ludah.
Tidak. Ia tidak boleh seperti ini. Tidak di depan Alvian.
“Umi…”
Suara kecil itu lagi.
Ayza kembali menoleh. “Ya?”
“Abi pasti datang, 'kan?” tanya Alvian pelan. “Kan kemarin bilang iya…”
Ayza tersenyum lagi. Dipaksakan. “Iya. Abi datang.”
Alvian mengangguk. Wajahnya kembali cerah. “Al senang…”
Ayza mengangguk kecil. Namun pandangannya kembali lurus ke jalan.
Dan saat itu, sesuatu di dalam dirinya… perlahan runtuh.
"Kalau benar…
Kalau semua ini benar…
Apa yang harus aku lakukan…?"
Matanya mulai terasa panas. Namun ia mengedip cepat. Menahannya.
Ia tidak boleh menangis. Tidak sekarang. Tangannya sedikit gemetar di atas setir… tapi ia tetap melaju.
Di sampingnya, Alvian mulai bercerita tentang acara sekolahnya.
Tentang lomba. Tentang ayah dan anak. Tentang betapa ia ingin Abi ada di sana.
Ayza mendengarkan. Sesekali menjawab. Sesekali tersenyum. Seolah semuanya baik-baik saja.
Padahal di dalam hatinya... pertanyaan itu terus berputar.
"Apakah aku masih istrinya…
atau hanya seseorang yang belum sempat digantikan sepenuhnya…?"
***
Malam telah larut.
Ayza baru saja keluar dari kamar Alvian, memastikan bocah itu tidur dengan nyaman.
Langkahnya pelan saat masuk ke kamarnya sendiri.
Ia duduk di sofa sudut kamar. Tanpa suara… tangannya meraih bagian bawah gaunnya, lalu perlahan melepaskan kaki palsunya.
Gerakannya sudah terbiasa. Namun tetap terasa berat. Kaki itu ia letakkan di sampingnya.
Ayza menunduk. Menatap kakinya yang tak lagi sempurna.
Beberapa detik..Lalu lebih lama. Napasnya terasa tertahan. Pikirannya mulai berjalan ke arah yang… selama ini ia hindari.
"Apa… ini alasannya?"
Jemarinya perlahan menyentuh bagian yang hilang itu.
Dingin. Kosong.
Dulu… Kaisyaf tidak pernah mempermasalahkannya. Tidak pernah menyinggung. Tidak pernah membuatnya merasa kurang.
Bahkan sebaliknya… pria itu selalu membuatnya merasa utuh. Berharga. Dicintai.
Namun sekarang…
Ayza menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
"Atau… selama ini dia hanya bertahan?"
Pertanyaan itu muncul. Pelan. Tapi menghantam. Matanya mulai memanas.
"Dan sekarang… dia memilih pergi?"
Ayza memejamkan matanya. Satu titik air jatuh. Tanpa suara.
"Kalau benar begitu… "
Napasnya bergetar.
"Sejak kapan… aku berhenti cukup untuknya?
Atau… memang sejak awal, yang ia pertahankan… bukan aku sepenuhnya?"
Tiba-tiba—
Layar ponsel di atas meja menyala.
Ayza tersentak. Napasnya tertahan sejenak saat matanya menangkap satu nama di layar itu.
Kaisyaf.
Jemarinya bergerak cepat, meraih ponsel itu tanpa berpikir. Seolah… masih ada sesuatu yang bisa ia pertahankan. Seolah… masih ada jawaban.
Pesan itu terbuka.
Dan— mata Ayza terpaku pada layar.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang yang paling menyakitkan bukan dikhianati, tapi merasa tak lagi cukup untuk orang yang dulu membuatmu merasa utuh."...
..."Kepercayaan itu tetap berdiri… bahkan saat hati diam-diam mulai retak."...
..."Tidak semua perempuan pergi saat disakiti. Ada yang memilih bertahan sambil perlahan kehilangan dirinya sendiri."...
..."Yang paling sulit bukan mencintai, tapi tetap percaya saat semuanya mulai terasa berbeda."...
..."Ia tidak takut kehilangan… ia hanya takut, dirinya sudah tidak lagi berarti."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.