Zahra tak menyangka, rumahtangga yang dia jaga selama enam tahun itu, sekarang sedang diambang kehancuran, karena pengkianatan sang suaminya, yang baru dia ketahui.
Zahra yang tengah hamil itu syok melihat sang suami menduakannya, hingga ia nyaris kehilangan calon anaknya.
"Aku tidak akan melabrakmu sekarang, tapi tunggu nanti, saat aku sudah menemukan semua bukti perselingkuhanmu, akan aku buat kamu tidak bisa mengelak, mas!"
"Dirumah seperti suami idaman, tapi ketika kamu di luar, kamu melakulan hal menjijikan seperti ini, mas!"
Lalu bagaimana sikap Zahra, ketika tahu sang suami sudah menduakannya, apa dia akan bertahan karena anak, atau memilih bercerai?!
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukacoretan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melahirkan
Setelah perceraian dengan Roki, Zahra melakukan aktivitas seperti biasanya, meskipun lukanya belum sembuh, tapi Zahra tidak mau berlarut terlama lama.
"Bagaimana kalo mamah dengan papah tahu, kalo aku sudah bercerai dengan mas Roki," batin Zahra.
Karena orangtua Zahra belum tahu, prihal perceraian Zahra dengan suaminya, karena mereka sedang ada kerjaan diluar negri.
"Kenapa kamu bengong?" tanya Sisil.
"Kak Sisil, hampir saja aku jantungan," ujar Zahra, mengatur napasnya.
Sisil tertawa mendengar ucapan Zahra, "Makanya jangan melamun."
"Aku tidak melamun, hanya saja sedang memikirkan mamah dan juga papah," jawab Zahra.
"Memangnya ada apa dengan mereka?" tanya Sisil.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku tidak sanggup menjelaskan semua ini," jawab Zahra.
Sisil tersenyum, lalu memegang tangan Zahra.
"Kamu tenang saja, aku dengan mas Irpan akan membantu menjelaskannya," kata Sisil.
Zahra tersenyum, lalu dia mengangguk.
"Hari ini jadwal periksa kandungan kamu, siap-siap gih," titah Sisil.
"Oh ya'ampun, aku lupa," ujar Zahra, menepak jidatnya.
"Tuh kan, sekarang ayo cepat, siap-siap," kata Sisil.
Zahra masuk kedalam kamarnya, guna akan siap-siap berganti baju.
"Perutku sudah besar, sebentar lagi aku akan bertaruh nyawa."
"Asal kamu tahu nak, kehadiranmu sebuah anugrah di hidup bunda, atas kesalahan ayahmu, bunda tidak akan membawa dirimu kedalam penyesalan bunda."
Zahra mengelus perutnya, lalu setelah bersiap-siap, Zahra keluar dari kamarnya.
"Ayo," ajak Sisil.
"Maaf kak, aku merepotkan kakak," ucap Zahra.
"Tidak sama sekali, kamu itu adiknya mas Irpan, berarti adik aku juga," jawab Sisil,
"Tadi kata mas Irpan, maaf tidak bisa mengantarkan kamu kontrol," lanjut Sisil.
"Tidak apa-apa," jawab Zahra tersenyum.
Sisil membawa mobilnya hati-hati, karena dia sadar membawa Zahra yang sedang hamil besar.
"Kak, bolehkan aku curhat dengan kakak?" tanya Zahra,
"Tapi ini rahasia kita," lanjut Zahra.
"Apa? Kakak janji akan menjaga rahasia," ujar Sisil.
"Aku menikah dengan mas Roki sudah enam tahun lamanya, kenapa tidak ada rasa cinta sedikitpun dari mas Roki," ucap Zahra, matanya menatap kosong kedepan,
"Saat aku tahu mas Roki selingkuh, hatiku tidak terlalu sakit, tapi saat aku mendengar dengan telingaku sendiri, kalo dia tidak pernah mencintai aku, rasanya hatiku benar-benar remuk, bagaimana bisa kak, ENAM TAHUN kami hidup bersama, kenapa dia tidak pernah mencintai aku?"
"Kenapa dia bisa berpura-pura mencintai aku selama ini, kenapa dia begitu jahat.."
Lidahnya terasa kaku, kalimatnya terputus, butuh waktu sekitar satu menit, untuk melanjutkan ucapannya.
"Dia benar-benar tidak punya hati."
Sisil menepi sebentar, lalu Sisil memeluka Zahra yang sedang rapuh.
"Kamu kuat, kamu bisa melalui semuanya," ucap Sisil mengelus Zahra.
"Awhh sshht perutku sakit sekali kak," rintih Zahra sembari memegang perutnya.
"Kamu tahan sebentar, ya. Sebentar lagi kita akan sampai ke RS," ujar Sisil.
Sisil melajukan mobilnya, dengan kecepatan sedikit tinggi.
"Kak, perutku sakit sekali," rintih Zahra lagi.
Sisil mencari ponselnya, lalu dia menghubungi Ipran.
[Mas, perut Zahra kesakitan, kami sedang di jalan, kamu susul kami ke RS ya] ucap Sisil dengan suara panik.
[Oke, mas kesana sekarang] balas Irpan.
Tut.
Setelah menutup telponnya, Sisil kembali fokus membawa mobil.
"Kamu yang sabar dek," ucap Sisil.
Sedangkan Zahra, dia benar-benar merasa kesakitan perutnya.
Zahra terus menarik napas dan membuang napas secara perlahan, sesekali dia mengelus perutnya, lalu berkata. "Kalo kamu mau lahir sekarang, bunda sudah siap nak, lahirlah dengan keadaan sehat dan selamat. Tidak kurang apapun."
***
Setelah menempuh 30 menit lamanya, akhirnya Sisil berhasil membawa Zahra ke RS.
"Suster, ada yang mau melahirkan," teriak Sisil.
Suster dengan sang dokter langsung berdatangan, lalu mendekat kearah mobil, dan membawa Zahra ke dalam ruangan persalinan.
Setelah suster dan dokter membawa Zahra ke dalam ruangan persalinan, Sisil mondar-mandir diluar, menunggu kabar dari dokter.
"Sayang, bagaimana dengan Zahra?" tanya Ipran dengan raut wajah panik.
"Zahra sedang ditangani mas, aku takut Zahra kenapa-kenapa, soalnya sedari tadi dia mengalami sakit," jawab Sisil tidak kalah paniknya.
"Kamu tenang, Zahra tidak akan kenapa-kenapa ya," ucap Irpan, menenangkan sang istri.
Sisil mengangguk, dia mencoba menenangkan dirinya.
***
Sedangkan didalam ruang persalinan, Zahra sedang bertaruh nyawa akan melahirkan anaknya ke dunia.
"Tarik napas lalu buang secara perlahan-lahan mbak Zahra," ucap sang bidan, memberikan arahan.
Zahra mengikuti arahan dari sang bidan.
"Bu bidan, saya sudah tidak kuat lagi," ucap Zahra menahan kesakitan.
"Mbak bisa, anak mbak sudah tidak sabar melihat ibunya yang cantik ini." Ucapnya.
Dengan sedikit tenaga yang Zahra punya, dia terus berusaha mengeluarkan bayinya.
"Sedikit lagi mbak, kepalanya sudah terlihat," katanya.
Setelah beberapa detik, terdengar suara tangisan bayi, Zahra tersenyum meskipun rasanya sakit, sakit yang tidak bisa di ceritakan.
"Selamat ya mbak, anaknya laki-laki, sehat dan sempurna," ucap sang bidan.
Lalu bidan memelukan bayi yang baru saja Zahra keluarkan itu, ke tubuh Zahra. Sebelum suster membawanya untuk di bersihkan.
Zahra menarik napas lega, saat mendengar tangis bayinya.
Lalu, setelah proses melahirkan itu, Zahra langsung di pindahkan ke ruangan inap.
"Selamat ya, kamu sudah menjadi ibu," ucap Sisil menangis terharu.
"Aku yang kesakitan, kenapa kakak yang menangis?" tanya Zahra aneh.
"Kakamu ini dari tadi mencemaskan kamu, makanya dia menangis," sahut Irpan.
"Kakak, aku sudah tidak apa-apa, karena setelah melihat bayiku sehat dan sempurna, lalu mendengar suara tangisnya, rasa sakitku sudah hilang," ujar Zahra.
Lalu Sisil memeluk adik iparnya itu, lahir sebagai anak tunggal, cukup membuat Sisil kesepian sebelum menikah, karena tidak mempunyai adik ataupun kakak. Tapi, setelah menikah dengan Irpan, kehidupan Sisil berubah, karena dia jadi mempunyai adik.
Saat suasana harus memenuhi ruangan itu, suster membawa bayi Zahra yang baru lahir itu.
"Silahkan di adzani dulu bayinya," ucap sang suster.
"Kak, adzani bayiku," titah Zahra.
"Kamu yakin, kakak yang adzani?" tanya Irpan.
"Papah kan tidak ada, kak. Jadi sudah seharusnya kakak yang mengazani," jawab Zahra tersenyum.
Irpan langsung meng-iyakan keputusan Zahra, karena Irpan tidak mau kalo sang adik sedih, kala mengingat mantan suaminya.
"Kalo saja kamu tidak bertingkah, mungkin sekarang kita sedang merasakan kebahagiaan yang kita impikan sedari lima tahun yang lalu," batin Zahra.
"Tapi mungkin tidak juga, karena kamu tidak mencintai aku," lanjut Zahra membatin.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Sisil, membuyarkan lamunan Zahra.
Lalu Zahra menyusut air matanya saat mendengar suara Sisil, "Ah, aku tidak apa-apa kak, hanya terharu saja, sekarang aku sudah mempunyai anak."
Sisil mengelus pundak Zahra, dia tahu apa yang sedang Zahra rasakan sekarang.
"Semoga kelak, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang setimpal," batin Sisil.
***
pntsn aja dia mksa bgt,trnyta pnya pnykt mntal....
dr awl udh bhong,tar jd kbiasaan...lgian xavier ga cnta sm zahra,tp krna wjhnya mrip aluna....hdpnya ga bkln bhgia kl b slesai sm msa lalunya...
Alur ceritanya bagus dan konfliknya tidak begitu terlalu rumit...
pemilihan kosakata sangat baik dan mudah untuk dipahami...
terimakasih buat kk othor,
semoga sukses ❤️
dan andrea tanpa sadar bilang bahwa zahra mirip dengan seseorang??? nah, bisa menjadi petunjuk masalah xavier.
tkut bgt kl mreka nyktin zahra ....
trs knp jg dia mksa buat nkah sm zahra????🤔🤔🤔
yg 1 aja msih ngejar,nongol lg yg baru....
mga zahra dpt yg trbaik deh,jgn smp ky yg onoh.....
Zahra bkln jd rbutan nih....tp mga dia dptn jdoh trbaik,jgn smp ky yg onoh.....