NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Manifes di Atas Meja Kayu

Matahari pagi belum sepenuhnya menembus lapisan polusi dan kabut tipis yang menyelimuti kawasan industri Jakarta Utara, namun alarm dari jam tangan digital murah Doni Salman sudah berbunyi nyaring.

Suara pip-pip-pip

 yang cempreng dan bernada tinggi itu memecah keheningan fajar di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter tersebut.

Doni membuka sepasang matanya seketika, tanpa ada sedikit pun rasa kantuk, kebingungan, atau kemalasan yang biasanya menggelayuti tubuh seorang pemuda berusia dua puluh enam tahun yang kelelahan akibat kerja rodi.

Selama belasan tahun memimpin Salman Group di kehidupan pertamanya, Doni sudah melatih tubuh dan otaknya untuk beroperasi dengan pola tidur yang sangat minim namun memiliki efisiensi yang luar biasa tinggi.

Kesadaran mentalnya langsung sinkron dengan otot-otot mudanya.

Ia segera bangkit dari kasur kapuk usangnya, menyambar selembar handuk loak yang tergantung di balik pintu triplek, dan melangkah menuju kamar mandi komunal yang berada di ujung koridor luar kos-kosan tersebut.

Bau karbol murahan yang menyengat, lantai semen yang licin berlumut, dan air sumur bor yang dingin beraroma besi menyambut tubuh polosnya.

Saat air dingin itu mengguyur kepalanya, Doni tidak merenung atau mengeluh.

Setiap tetes air yang mengalir di kulit kencangnya justru memperkuat fokus mentalnya.

Di dalam benaknya, sebuah rencana besar sedang berputar layaknya roda gigi mesin yang presisi.

Setelah berpakaian rapi menggunakan kemeja lengan pendek berwarna biru yang sudah agak pudar di bagian kerah seragam resmi staf operasional lapangan PT Mitra Kilat Doni melangkah keluar dari area kos-kosan.

Saat berjalan menyusuri gang sempit, beberapa penghuni kos lain yang mengenakan seragam pabrik atau buruh pelabuhan menyapanya dengan lambaian tangan santai.

"Awal banget, Don? Tumben gak nunggu si Joko?"

tanya seorang pria paruh baya tetangga kosnya.

Doni hanya menoleh pelan, memberikan sebuah anggukan yang sangat formal tanpa ada senyuman ramah yang biasanya ia tunjukkan di masa lalu.

"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan lebih cepat," jawab Doni,

suaranya terdengar datar, berat, dan memiliki nada otoritas yang membuat tetangganya itu mengernyitkan dahi, merasa agak asing dengan pembawaan Doni yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan kaku.

Tepat pukul enam lewat tiga puluh menit pagi, Doni sudah menapakkan kakinya di area gudang distribusi utama PT Mitra Kilat.

Lingkungan kerja ini adalah sebuah kawasan yang bising, berdebu, dan penuh dengan aroma maskulin yang kasar.

Bau asap knalpot hitam dari mesin-mesin diesel truk kontainer tua yang sedang dipanaskan bercampur dengan debu tanah kering dan bau besi berkarat.

Di kehidupan pertamanya dulu, Doni muda selalu merasa tertekan, cemas, dan lelah setiap kali menginjakkan kaki di tempat ini.

Ia menganggap pekerjaan sebagai staf manifest logistik rendahan ini sebagai bentuk perbudakan modern yang menjemukan dan tidak memiliki masa depan.

Namun kini, saat sepasang mata tajam Doni memandangi tumpukan peti kemas besi yang tersusun acak di area bongkar muat, sudut bibirnya justru berkedut sedikit.

Bagi seorang maestro logistik masa depan yang pernah memonopoli lima pelabuhan utama di Indonesia, tempat kumuh ini bukan lagi sebuah penjara yang menyiksa; tempat ini telah berubah menjadi taman bermainnya yang sangat mudah untuk dikendalikan.

Doni berjalan melewati deretan palet kayu, menuju ke sebuah meja kayu panjang yang terletak di sudut gudang, tepat di bawah sebuah kantor semi-permanen berkaca nako yang buram.

Di atas meja itu, tumpukan kertas manifest pengiriman barang, surat jalan, dan nota logistik berantakan seperti tidak pernah diatur dengan benar.

Sistem manajemen PT Mitra Kilat saat ini benar-benar primitif dan penuh dengan celah kebocoran anggaran.

"Hei, Doni! Malah melamun di sana!"

"Cepat periksa manifest truk fuso yang baru datang dari Surabaya itu!"

"Barangnya harus segera diturunkan dan dipindahkan ke armada kecil sebelum jam delapan pagi, atau kita kena denda keterlambatan dari vendor!"

sebuah suara parau, keras, dan penuh intimidasi berteriak dari arah tangga kantor atas.

Doni membalikkan tubuhnya dengan tenang.

Pria yang berteriak itu adalah Subagja, kepala gudang operasional PT Mitra Kilat.

Pria bertubuh tambun, berkulit legam karena sering terpapar matahari, dengan sebatang rokok kretek yang selalu terselip di sudut bibirnya yang menghitam.

Di kehidupan masa lalunya, Doni selalu gemetar, menundukkan kepala, dan membungkuk takut setiap kali Subagja membentaknya seperti itu.

Subagja terkenal sebagai atasan yang tiran, suka memotong uang lembur karyawan rendahan untuk dimasukkan ke dalam kantong pribadinya sendiri, dan sering melemparkan kesalahan operasional kepada staf lapangan.

Doni tidak menunjukkan gestur takut sedikit pun.

Ia melangkah mendekati Subagja dengan langkah kaki yang tegap, dada membusung, dan pandangan mata yang lurus mengunci sepasang mata atasannya tersebut.

Gestur tubuh Doni yang memancarkan kepercayaan diri tingkat tinggi dan aura intimidasi yang kuat secara tidak sadar membuat Subagja menelan ludah, merasa ada yang salah dengan atmosfer di sekitar bawahannya pagi ini.

Doni mengulurkan tangan kanannya, menyerahkan sebuah papan klip besi berisi lembaran kertas laporan manifest yang sudah ia rapikan dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan sistematis.

"Ini dokumen manifest untuk armada Surabaya, Pak Subagja."

"Semuanya sudah saya klasifikasikan berdasarkan kode area pengiriman di Jakarta, jadi tim bongkar muat tidak perlu membuang waktu memilah barang di lantai gudang,"

kata Doni.

Suaranya terdengar sangat datar, penuh penekanan yang presisi, dan tidak memiliki getaran gugup sedikit pun.

Subagja menerima papan klip itu dengan dahi yang mengkerut dalam.

Ia memeriksa lembaran kertas itu, lalu menatap Doni dari atas ke bawah dengan tatapan penuh selidik.

"Kamu... kesurupan apa semalam? Kenapa hari ini cara bicaramu beda sekali? Dan sejak kapan kamu membuat laporan sebersih ini?"

Doni menarik napas pelan, wajahnya tetap sedatar papan marmer.

"Saya hanya berpikir bahwa efisiensi adalah kunci dari keuntungan, Pak."

"Dan berbicara soal keuntungan..."

Doni sengaja menggantung kalimatnya, lalu melangkah satu jengkal lebih dekat ke arah Subagja, menurunkan volume suaranya hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua di antara bisingnya suara mesin truk.

"Jika saya menjadi Anda, Pak Subagja... saya akan segera menelepon oknum perwakilan dari PT Agung Perkasa sekarang juga."

"Batalkan rencana pengiriman muatan garmen dan tekstil ilegal tanpa manifes resmi yang dijadwalkan masuk ke dalam truk fuso nomor polisi B 9021 UQ besok malam."

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Doni, Subagja seketika membeku.

Rokok kretek yang membara di sudut bibirnya terlepas, jatuh ke atas lantai semen gudang tanpa ia sadari.

Wajah pria tambun yang tadinya kemerahan akibat amarah pagi hari langsung berubah menjadi seputih kertas puskesmas.

Matanya melotot lebar, menatap Doni seolah-olah pria muda di depannya ini adalah seorang hantu yang tahu rahasia terdalamnya.

Rencana penyelundupan tekstil ilegal itu adalah proyek rahasia tingkat tinggi yang baru saja disepakati oleh Subagja dengan seorang importir gelap tadi malam pukul sebelas melalui telepon seluler pribadinya di dalam rumahnya yang terkunci.

Tidak ada satu orang pun di perusahaan ini yang tahu, bahkan direktur utama PT Mitra Kilat sekalipun tidak mencium aroma transaksi kotor tersebut.

"Ka... kau... dari mana kau tahu soal rencana itu?!"

bisik Subagja dengan suara yang bergetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat. Tangannya yang memegang papan klip mulai gemetar, membayangkan ancaman jeruji besi yang tiba-tiba membayangi pelupuk matanya.

Doni tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung.

Ia hanya menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang sangat dingin, misterius, dan penuh dengan kepuasan emosional yang tertahan.

Tentu saja Doni tahu.

Di kehidupan pertamanya, kasus penangkapan truk bernomor polisi B 9021 UQ oleh pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok pada besok malam jam sepuluh adalah berita megah yang menghancurkan reputasi PT Mitra Kilat hingga nyaris bangkrut, dan menyeret Subagja ke dalam sel penjara selama lima tahun penuh.

Doni sengaja memanfaatkan rekaman memori masa depannya ini untuk menancapkan kuku kendali pertamanya di tempat ini. Ia membutuhkan kontrol penuh atas gudang ini sebelum ia melangkah lebih jauh.

"Dari mana saya tahu, itu sama sekali tidak penting untuk dibahas, Pak Subagja,"

bisik Doni, suaranya terdengar bagai desisan angin malam yang mematikan di telinga atasannya.

"Yang penting sekarang adalah pilihan yang ada di tangan Anda."

"Batalkan penyelundupan bodoh itu sekarang juga, selamatkan leher Anda dari kejaran aparat hukum, dan mulai detik ini..."

"Anda akan mendengarkan, mematuhi, dan mengeksekusi setiap instruksi operasional yang saya berikan di gudang ini."

"Apakah saya sudah berbicara dengan cukup jelas, Pak Kepala Gudang?"

Subagja hanya bisa berdiri terpaku, keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengalir deras dari pelipisnya menuju lehernya yang gempal.

Di bawah tekanan tatapan mata Doni Salman yang begitu dominan dan tidak menyisakan ruang untuk negosiasi, sang kepala gudang yang biasanya bertindak seperti raja kecil itu akhirnya hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan pasrah, tak ubahnya seperti seekor kerbau yang hidungnya telah dicocok oleh tali kendali.

Di hari pertamanya kembali bekerja di masa lalu, Doni Salman telah berhasil menjinakkan atasannya sendiri dan merebut kendali bayangan atas operasional gudang logistik tersebut tanpa perlu mengeluarkan modal uang sepeser pun.

Langkah pertama dari cetak biru balas dendamnya telah berhasil ditanamkan dengan sangat rapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!