NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Takdir yang Direncanakan

Mobil yang membawa mereka melaju menembus malam, tidak ada yang berbicara sejak meninggalkan kawasan pergudangan. Suara mesin dan desiran ban di atas aspal menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam kabin.

Rania duduk memandang ke luar jendela, pikirannya kacau terlalu banyak kejadian yang menimpanya dalam waktu singkat. Penculikan, ledakan, kemunculan Leonard, dan rahasia tentang ibunya, namun yang paling mengganggunya adalah sikap Bintang. Pria itu tahu sesuatu dan sengaja menyembunyikannya.

"Bawa aku pulang," ucap Rania akhirnya.

"Tidak bisa." Bintang yang sejak tadi menatap jalan langsung menoleh.

"Aku tidak sedang meminta izin," ujar Rania.

"Kau masih dalam bahaya." balas Bintang.

"Aku tidak peduli."

"Rania."

"Aku bilang bawa aku pulang!" Suara Rania meninggi.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia benar-benar marah. Rangga yang duduk di kursi depan memilih diam, ia tahu ini bukan waktunya ikut campur.

"Leonard sedang mengincarmu." Bintang mengembuskan napas pelan.

"Kenapa?"

"Itu yang sedang kucari tahu."

"Bohong. Kau tahu alasannya."

Tatapan Bintang mengeras.

"Kau tahu sesuatu tentang ibuku." Rania menoleh. Matanya mulai memerah.

Bintang tidak menjawab hanya diam dan diam itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

"Katakan padaku."

"Aku belum bisa."

"Belum bisa atau tidak mau?"

Rahang Bintang mengeras, ia lebih suka menghadapi puluhan pria bersenjata daripada melihat Rania menatapnya seperti itu.

"Aku hanya tidak ingin kau terluka."

"Sudah terlambat." Rania tertawa pahit.

Setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah rumah besar yang berada di kawasan elit kota. Gerbang besi tinggi terbuka perlahan saat mobil memasuki halaman.

"Aku tidak akan tinggal di sini." Rania langsung mengernyit.

"Malam ini kau harus di sini," jawab Bintang.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Kalau begitu kenapa kau bisa diculik?"

Kalimat itu langsung membuat Rania terdiam.

Bintang menyesal sesaat setelah mengatakannya, tetapi ia tidak menarik ucapannya. Saat ini emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Mereka turun dari mobil, beberapa petugas keamanan langsung menyambut kedatangan mereka.

"Pastikan penjagaan diperketat," perintah Bintang.

"Siap, Bos."

Rania menatap sekeliling rumah, tempat itu lebih mirip benteng daripada rumah tinggal.

"Berapa banyak penjaga yang kau punya?" tanya Rania.

"Cukup."

"Cukup untuk apa?"

"Cukup untuk memastikan tidak ada yang bisa masuk tanpa izinku."

Rania menatapnya beberapa detik. Semakin lama, semakin ia sadar bahwa kehidupan Bintang jauh lebih rumit daripada yang pernah dibayangkannya.

Di lantai dua rumah itu, seorang wanita paruh baya berdiri di depan jendela sambil memegang secangkir teh hangat, wajahnya terlihat tenang tetapi matanya langsung membesar saat melihat Rania turun dari mobil.

Ia segera berjalan keluar kamar, langkahnya cepat , hampir berlari.

"Ibu." Bintang yang baru memasuki rumah langsung menghentikan langkahnya saat melihat wanita itu.

Ratna Prakasa menatap Rania tanpa berkedip, wajah wanita muda itu, matanya, bahkan bentuk senyumnya, semua terasa begitu familiar.

"S-siapa dia?" tanyanya pelan.

"Ibu?" Bintang langsung menyadari ada sesuatu yang aneh.

Ratna tidak menjawab, ia terus menatap Rania seolah sedang melihat seseorang dari masa lalu.

"Maaf... apakah kita pernah bertemu?" Rania menjadi tidak nyaman.

"Tidak." Ratna tersadar dari lamunannya.

Jawaban itu terlalu cepat, terlalu dipaksakan dan Bintang menyadarinya.

Malam semakin larut, Rania akhirnya ditempatkan di salah satu kamar tamu. Setelah memastikan wanita itu aman, Bintang turun ke ruang kerja pribadinya. Rangga sudah menunggu di sana.

"Ada sesuatu yang harus kau lihat." Rangga menyerahkan sebuah map tua.

"Apa ini?" tanya Bintang.

"Dokumen yang berhasil kita ambil dari gudang sebelum ledakan."

Bintang langsung membuka map tersebut di dalamnya terdapat beberapa foto lama.dan salah satu foto membuat tubuhnya membeku. Foto ayahny, floto ibunya dan seorang wanita lain, wanita yang sangat dikenalnya, ibunya Rania.

"Bagaimana bisa..."

"Itu belum semuanya." Rangga menggeleng.

Ia menyerahkan lembar berikutnya, Bintang membacanya perlahan, semakin banyak yang dibaca, semakin gelap ekspresinya karena dokumen itu menjelaskan sesuatu yang selama ini tidak pernah diketahuinya, sesuatu yang mungkin menjadi alasan Leonard mengincar Rania.

"Ini tidak mungkin."

"Aku juga berpikir begitu."

Bintang menatap foto itu lagi lalu menutup map dengan keras.

"Tidak ada yang boleh tahu tentang ini."

"Termasuk Rania?" tanya Rangga.

Bintang terdiam.

"Itu terutama berlaku untuk Rania."

.

Di sisi lain rumah, Rania sama sekali tidak bisa tidur bayangan wajah Leonard terus muncul di pikirannya, begitu pula ucapan pria tua itu.

"Kalian tidak bertemu secara kebetulan."

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Akhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar, koridor rumah sudah sepi sebagian besar lampu dimatikan. Saat berjalan melewati sebuah ruangan, ia mendengar suara orang berbicara. Suara Bintang dan Rangga, tanpa sadar langkahnya berhenti.

"Rania tidak boleh mengetahui hal ini," ujar Bintang dari dalam ruangan.

"Apa kau yakin bisa menyembunyikannya terus?" tanya Rangga.

"Aku harus. Kalau dia tahu siapa dirinya sebenarnya..."

Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat. Siapa dirinya sebenarnya? Apa maksudnya? Ia mendekat perlahan ke arah pintu yang sedikit terbuka.

"Tidak sekarang," ucap Bintang tegas. "Kalau Leonard berhasil lebih dulu mengatakan yang sebenarnya, semuanya akan hancur."

Napas Rania tercekat, tangannya mulai gemetar karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar yakin bahwa semua yang dikatakan Leonard bukan kebohongan dan yang lebih menyakitkan... Bintang sudah mengetahui sebagian jawabannya, namun memilih merahasiakannya darinya.

Rania menahan napas dan mengintip melalui celah pintu, lalu matanya jatuh pada foto yang sedang dipegang Bintang. Sebuah foto lama, foto yang menampilkan ayah Bintang, ibunya dan seorang anak perempuan kecil, anak perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!