NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Sentuhan yang Salah

Arkana masih menahan tubuh Kemuning di depan tangga mansion. Satu tangannya melingkar kuat di pinggang kecil gadis itu. Sedangkan telapak tangannya yang lain tanpa sengaja masih menyentuh paha putih Kemuning di balik kemeja longgar dan sentuhan itu langsung membuat suasana membeku.

Kemuning menahan napas dengan wajah merah padam. Tubuhnya menempel terlalu dekat di dada bidang Arkana sampai ia bisa merasakan detak jantung pria itu samar. Aroma parfum maskulin bercampur udara pagi memenuhi kepalanya. Membuat lututnya terasa lemas tanpa alasan jelas.

Arkana sendiri langsung menegang saat sadar di mana tangannya berada. Tatapan matanya turun sesaat ke paha putih yang terasa hangat di telapak tangannya. Lalu naik kembali ke wajah Kemuning yang panik dan malu.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arkana kehilangan fokus hanya karena satu sentuhan singkat.

Kemuning buru-buru menjauh begitu Arkana melepaskannya perlahan. “Ma-maaf...” ucapnya cepat sambil menunduk dalam. “Aku tidak sengaja.”

Wajahnya merah sampai ke telinga. Padahal jelas bukan salahnya. Namun Kemuning sudah terlalu terbiasa meminta maaf untuk segala hal. Dan kebiasaan itu anehnya membuat Arkana semakin kesal. Terutama pada dirinya sendiri. Karena yang terus mengganggu pikirannya justru sentuhan tadi.

Kulit Kemuning terasa terlalu lembut di tangannya.

Aroma tubuh gadis itu masih tertinggal samar di sekitar Arkana. Dan itu membuat pikirannya tidak tenang. Arkana langsung berbalik menuju mobil sport hitamnya tanpa bicara lagi.

Pria itu membuka pintu mobil dengan wajah datar seperti biasa. Namun rahangnya tampak menegang keras sejak tadi. Sedangkan Kemuning buru-buru mengikuti dari belakang dengan gugup.

Mobil sport itu terlihat terlalu mahal dan mengintimidasi bagi Kemuning. Ia masuk perlahan sambil takut menyentuh apa pun di dalamnya. Jok kulit hitam dan dashboard modern membuatnya semakin kikuk. Kemuning bahkan duduk terlalu tegak seperti murid sekolah.

Arkana menyalakan mesin mobil tanpa menoleh.

Namun beberapa kali matanya diam-diam melirik ke arah Kemuning. Kemeja putih panjang yang dipakai gadis itu sedikit tersingkap di bagian paha saat duduk. Dan Arkana langsung mengutuk dirinya sendiri karena memperhatikannya. Kenapa dirinya jadi terus melihat gadis itu? Padahal Kemuning bukan tipe perempuan yang biasanya menarik perhatian Arkana. Ia terlalu polos, terlalu sederhana, dan terlalu mudah gugup. Namun justru itu yang membuat Arkana sulit mengalihkan pandangan.

Kemuning terus menatap lurus ke depan sambil memeluk tas kecilnya erat. Pikirannya masih kacau mengingat sentuhan Arkana tadi. Setiap kali mengingat telapak tangan pria itu di pahanya, jantungnya langsung berdebar liar. Dan itu membuatnya makin malu sendiri.

Mobil mulai bergerak keluar dari halaman mansion Mahendra. Kemuning refleks memegang sisi kursi saat mobil melaju cepat.

Arkana meliriknya sekilas sebelum menghela napas pelan. “Kau belum pakai sabuk pengaman.”

Kemuning langsung panik melihat sabuk di samping kursi. Ia mencoba memasangnya beberapa kali, tetapi malah makin bingung sendiri. Tangannya gemetar karena gugup. Dan itu membuat Arkana akhirnya kehilangan kesabaran.

“Diam.” Arkana memiringkan tubuh mendekat ke arah Kemuning. Napas pria itu langsung terasa sangat dekat di wajahnya. Kemuning otomatis menahan napas. Tangan Arkana menarik sabuk pengaman melewati tubuh Kemuning perlahan. Jarak mereka terlalu dekat sampai Kemuning bisa melihat jelas garis rahang pria itu. Aroma parfum Arkana kembali memenuhi kepalanya dan membuatnya sulit berpikir.

Tubuhnya langsung menegang kaku.

Klik. Sabuk pengaman akhirnya terpasang dengan sempurna. Namun Arkana tidak langsung menjauh beberapa detik. Tatapan mata mereka bertemu terlalu dekat. “Kalau gugup terus, aku tidak akan bisa menyetir dengan tenang.” Nada suara Arkana rendah dan datar. Tetapi justru itu membuat pipi Kemuning makin panas.

“Maaf...” bisiknya pelan.

Arkana langsung kembali fokus ke jalan sambil mengusap pelan tengkuknya kesal. Ia benar-benar mulai terganggu oleh reaksi gadis itu. Setiap ekspresi malu Kemuning justru membuatnya semakin sulit tenang. Dan itu bukan pertanda baik.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan mall mewah pusat kota. Kemuning langsung membelalak melihat gedung besar penuh lampu dan kaca itu.

Orang-orang berpakaian mahal berlalu-lalang dengan percaya diri. Sedangkan dirinya merasa seperti orang asing. Kemuning turun dari mobil dengan langkah kecil gugup. Ia refleks merapikan kemeja panjang yang dipakainya.

Tatapan beberapa orang langsung mengarah pada mereka. Dan itu membuat Kemuning ingin menghilang saja.

Arkana berjalan lebih dulu memasuki butik elit langganannya. Pegawai butik langsung menyambut pria itu dengan senyum lebar dan hormat. Namun senyum mereka sedikit berubah saat melihat Kemuning di belakang Arkana. Tatapan meremehkan mulai muncul perlahan.

“Silakan, Pak Arkana.”

“Sudah lama tidak datang." Salah satu pegawai wanita tersenyum terlalu manis pada Arkana.

Lalu matanya melirik Kemuning dari atas sampai bawah.

Kemuning langsung menunduk malu. Ia sadar dirinya terlihat sangat sederhana dibanding perempuan-perempuan di tempat itu. Bahkan lantai butik yang mengilap terasa terlalu bersih untuk diinjaknya. Ia jadi semakin tidak percaya diri.

Arkana duduk santai di sofa butik sambil memainkan ponselnya. “Pilih pakaian yang dia butuhkan.” Nada suaranya tenang tetapi sulit dibantah.

Pegawai butik langsung mengangguk cepat. Mereka mulai membawa banyak dress mahal ke depan Kemuning. Namun Kemuning langsung panik melihat harga di label pakaian tersebut.

Gaun-gaun itu bahkan lebih mahal dari biaya hidupnya selama bertahun-tahun. Tangannya sampai gemetar kecil. “Aku tidak butuh yang mahal.”

Kemuning buru-buru menggeleng panik. “Yang biasa saja tidak apa-apa.” Ia merasa dirinya sama sekali tidak pantas memakai semua itu.

Salah satu pegawai butik terkekeh pelan. “Pak Arkana biasanya datang bersama model atau artis. Baru kali ini membawa tipe seperti ini.” Nada suaranya terdengar merendahkan.

Pegawai lain ikut berbisik pelan sambil melirik Kemuning. “Mungkin perempuan baru. Gadis desa murahan juga bisa beruntung ternyata.”

Kemuning langsung pucat mendengar itu. Ia menunduk semakin dalam sambil memegang ujung bajunya erat. Dadanya terasa sesak dan malu luar biasa. Mungkin memang benar dirinya hanya mempermalukan Arkana di tempat ini.

Kemuning langsung ingin pergi saja. Namun suara Arkana tiba-tiba terdengar dingin dari belakang mereka. “Mulai sekarang, jaga ucapan kalian kalau masih ingin bekerja di sini.”

Seluruh butik langsung sunyi seketika.Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Tatapan Arkana sangat tajam saat menatap para pegawai tersebut. Aura dinginnya langsung membuat wajah mereka pucat.

“Maaf, Pak...” Mereka buru-buru membungkuk panik.

Kemuning membelalak kecil menatap Arkana.

Ini sudah kedua kalinya pria itu membelanya. Padahal Arkana terlihat seperti orang yang tidak peduli pada siapa pun. Dan itu membuat jantung Kemuning berdebar aneh lagi.

Setelah suasana kembali tenang, Arkana mulai memilih pakaian sendiri. Tanpa sadar pria itu mengambil dress warna krem lembut dan menyerahkannya pada Kemuning.

“Coba yang ini.” Nada suaranya tetap datar seperti biasa.

Kemuning menerima dress itu dengan gugup. Jemarinya sampai menyentuh tangan Arkana sebentar tanpa sengaja. Sentuhan kecil itu langsung membuat keduanya diam sesaat. Lalu Kemuning buru-buru masuk ke fitting room.

Arkana menghela napas pelan sambil kembali duduk di sofa. Ia mencoba fokus pada ponselnya lagi.

Namun pikirannya terus tertinggal pada gadis di balik fitting room tersebut. Dan itu membuatnya semakin kesal sendiri.

Beberapa menit kemudian, tirai fitting room terbuka perlahan. Arkana refleks mengangkat kepala tanpa sadar. Dan untuk beberapa detik, pria itu benar-benar kehilangan fokus.

Kemuning berdiri di sana dengan dress krem sederhana yang jatuh lembut di tubuhnya. Rambut hitam panjangnya terurai indah di bahu. Kulit putihnya terlihat semakin bersih di bawah cahaya butik. Tubuh mungil dan wajah polosnya justru terlihat sangat menggoda secara alami. Cantik tanpa perlu berusaha.

Arkana langsung terdiam beberapa detik terlalu lama. Sampai Kemuning mulai salah tingkah di bawah tatapannya.

“A-apa jelek?” tanya gadis itu pelan.

Arkana buru-buru memalingkan wajah. “Tidak.” Jawabannya singkat dan cepat. Namun rahangnya kembali mengeras seperti sedang menahan sesuatu.

Kemuning malah makin gugup mendengarnya. Saat Kemuning kembali ke fitting room, dua wanita sosialita baru masuk ke butik. Mereka langsung mengenali Arkana Mahendra dan mulai berbisik pelan. Namun bisikan itu cukup jelas terdengar oleh Kemuning yang baru keluar.

“Jadi itu gadis desa murahan yang sedang memancing Arkana?”

Kemuning langsung membeku.

Wanita lain tertawa kecil sambil melirik sinis.

“Mungkin sekarang laki-laki kaya memang suka main-main dengan perempuan polos.”

Kalimat itu terasa menusuk tepat di dada Kemuning.

Sejak saat itu, Kemuning jadi jauh lebih diam. Ia hanya menunduk sepanjang perjalanan pulang.

Bahkan tidak lagi berani menatap Arkana seperti sebelumnya.

Dan perubahan itu langsung disadari pria tersebut.

Arkana beberapa kali melirik Kemuning selama menyetir. Gadis itu terlihat terus menggenggam ujung dress baru di pangkuannya. Wajahnya murung dan penuh rasa bersalah. Hal itu anehnya membuat Arkana semakin kesal.

“Kalau ada yang ingin dibicarakan, bicara.” Nada suara Arkana terdengar dingin memecah keheningan mobil.

Kemuning langsung menggeleng cepat. “Maaf...”

Lagi. Kata itu lagi. Arkana akhirnya menginjak rem mendadak di pinggir jalan karena kesal. Kemuning langsung terkejut dan menatapnya panik.

Pria itu memalingkan tubuh menghadap Kemuning perlahan. Tatapan matanya tajam dan sulit ditebak.

Lalu untuk pertama kalinya, Arkana mengangkat dagu Kemuning dengan jarinya sendiri. Sentuhan itu membuat napas Kemuning tercekat.

“Berhenti meminta maaf seolah kau serendah itu.” Suara Arkana terdengar rendah tepat di depan wajahnya.

Tatapan mereka bertemu sangat dekat di dalam mobil yang sunyi. Dan jantung Kemuning kembali kehilangan kendali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!