NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi itu, bengkel Andi masih berbau tajam; campuran antara karet ban yang terbakar, oli bekas, dan logam dingin. Bau yang biasanya membuatku mual, kali ini terasa kalah oleh rasa sesak yang lebih besar di dadaku.

"Ini kunci mobilnya, Kak. Sudah lunas semuanya," ucap Akmal sembari meletakkan benda mungil itu di telapak tanganku.

Duniaku rasanya berhenti berputar sejenak.

"Sudah lunas? Siapa?"

"Mas Ghani. Beliau menitipkan pesan agar Kakak tidak perlu memikirkan biayanya. Katanya, anggap saja ini bantuan antar teman lama."

Aku mematung di tengah hiruk pikuk suara mesin yang menderu. Bukannya rasa syukur yang membuncah, melainkan sebuah amarah yang dingin dan tajam. Bagiku, bantuan finansial dari seorang pria asing—yang bahkan belum genap dua hari kutahu namanya—adalah sebuah benang halus yang bisa menjerat langkahku kapan saja. Aku bukan bunga rapuh yang butuh diselamatkan oleh ksatria berkuda besi; aku adalah wanita yang telah bersusah payah membangun tembok kemandirianku sendiri. Membiarkan dia membayar tagihanku sama saja dengan membiarkan dia perlahan menginjakkan kakinya di wilayah kedaulatanku. Aku benci merasa rapuh, dan aku lebih benci lagi merasa berutang budi.

Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, jemariku menari dengan gelisah di atas layar ponsel. Cahayanya menyilaukan mata yang sudah lelah, namun pikiranku menolak untuk terpejam sebelum utang ini terbayar. Aku mengirim pesan padanya, menuntut nomor rekening seolah itu adalah satu-satunya cara untuk menebus kemerdekaanku yang baru saja ia "beli".

Dering balasan masuk tepat pukul sebelas malam, disaat kesunyian mulai merayap di sela-sela jendela Galaxy Residence. Sebuah nomor rekening singkat masuk, diikuti oleh sebuah kalimat yang membuat seluruh saraf di tubuhku menegang.

"Aku tunggu di depan gerbang utama Galaxy Residence pukul 07.30."

Aku membeku. Ponsel itu hampir saja terlepas dari genggamanku. Bagaimana mungkin? Nama perumahanku disebut dengan begitu mudah, seolah rahasia yang kupenjarakan rapat-rapat itu hanyalah mainan di tangannya. Aku ingat betul malam itu aku telah memastikan ia tidak mengikutiku. Aku bahkan telah memeriksa rekaman CCTV rumah selama berjam-jam, mencari bayangan atau sorot lampu motor yang mungkin membuntuti, namun tak ada apa-apa. Bagaimana pria itu bisa tahu di mana aku membaringkan tubuhku setiap malam?

Rasa takut dan penasaran beradu di dadaku, menggerogoti ketenangan malamku. Namun, aku tak membiarkan kecemasan itu menghentikan langkahku. Dengan jari yang masih gemetar, aku mentransfer sejumlah uang—mengembalikan setiap keping kemandirianku. Setelah angka-angka itu berpindah secara digital, aku baru bisa menarik napas lega. Kini, aku tidak berutang apa pun padanya. Setidaknya secara materi.

Keesokan paginya, udara Pantai Pinus masih menyisakan sisa embun yang menusuk kulit. Aku berdiri di bawah pohon akasia yang rindang, menatap sosok Ghani yang nampak menyatu dengan keteduhan bayangan pohon itu. Ia memakai kaos hitam yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna, nampak begitu tenang di atas motor trailnya yang nampak garang. Ada aura yang berbeda darinya hari ini; bukan lagi pria dingin yang menarikku di tengah kerusuhan, melainkan sosok yang sepertinya sudah lama mengenalku.

"Kenapa tidak memberitahuku kalau sudah sampai?" tanyaku pelan, mencoba menetralkan degup jantung yang kian tak beraturan saat ia menoleh.

Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang sepertinya enggan membagi terlalu banyak rahasia, namun cukup hangat untuk mencairkan sedikit kewaspadaanku. "Aku juga baru sampai," sahutnya rendah sembari menyerahkan sebuah helm hitam.

Perjalanan menuju bibir pantai terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda. Di atas motor itu, aku bisa merasakan angin laut yang membelai wajahku dan kekuatan yang memancar dari punggungnya yang kokoh. Ghani bukan pria dengan skuter matik yang biasa kulihat berjejer di lampu merah; ia adalah pria yang sepertinya selalu siap menerjang jalan berbatu dan aspal yang berakhir. Ia adalah tipe orang yang lebih memilih jalur sulit demi sebuah kepastian.

Di pantai, aku membiarkan diriku larut dalam tarian sapu lidi di atas pasir putih yang masih lembab. Angin laut bertiup kencang, menerbangkan helai-helai rambutku yang terlepas dari ikatan dan daun-daun kering yang coba kukumpulkan. Namun, mataku seolah memiliki magnet tersendiri yang selalu kembali pada satu titik. Sesekali, aku mencuri pandang ke arahnya.

Cahaya matahari pagi menyentuh pelipisnya, membiarkan butir keringat di sana berkilau seperti kristal kecil. Ghani bekerja dalam hening yang dalam, namun setiap gerakannya adalah sebuah puisi tentang kekuatan yang terjaga. Ia memasukkan sampah ke dalam kantong-kantong besar dengan efisiensi seorang profesional. Ia tampak seperti pahlawan yang lahir dari fajar; kuat, tangguh, namun memiliki kelembutan yang tak terduga saat ia membantuku mengangkat tumpukan daun yang berat.

"Lelah, Ghe?" Suaranya rendah, menyentuh rungu selembut desau angin di sela-sela pohon pinus.

Aku hanya menggeleng, meski di dalam sini, jantungku sedang memainkan simfoni yang riuh. Pertanyaannya yang sederhana itu terasa seperti sebuah pengakuan bahwa ia memperhatikanku. Ada rasa aman yang diam-diam merayap masuk ke dalam relung hatiku, membuatku lupa sejenak akan pisau lipat dan semprotan merica yang kusembunyikan di dalam tas kecilku sebagai bentuk pertahanan diri.

Sesaat kemudian, teman-teman Ghani bergabung. Mereka riuh, penuh tawa, dan tampak sangat mengenal Ghani. Aku terheran melihat bagaimana Ghani tetap menjadi dirinya sendiri di tengah keramaian itu—irit bicara, banyak bekerja, namun kehadirannya menjadi poros bagi teman-temannya. Ia tidak berusaha menjadi yang paling menonjol, tapi entah kenapa, semua mata seolah tertuju padanya. Termasuk mataku.

"Ghe, mau ke Pulau Re? Perahunya sudah siap di dermaga kecil sana," ajaknya setelah teman-temannya mulai berpamitan untuk pulang.

"Boleh," jawabku singkat, meski hatiku berteriak penuh keraguan.

Di atas perahu kecil yang mulai membelah ombak biru menuju Pulau Re, aku menatap laut lepas yang membentang tanpa batas. Angin membawa bau garam dan petualangan yang tak terelakkan. Aku ingin mengenal kota Tora-Tora lebih jauh, menelusuri setiap sudut sejarahnya, tapi entah kenapa, keinginanku untuk mengenal pria di depanku ini jauh lebih besar.

Aku menatap profil samping wajahnya saat ia menatap cakrawala. Ada misteri yang tertanam dalam di garis rahangnya yang tegas. Aku ingin tahu apa yang ia sembunyikan di balik tatapan matanya yang terkadang setajam elang namun bisa selembut sutra. Bagaimana ia bisa menemukan rumahku seolah ia adalah bayangan yang mengikutiku dalam diam? Apakah ia adalah malaikat pelindung yang dikirim masa lalu, ataukah ia adalah badai yang sedang menunggu waktu untuk menghancurkan ketenangan yang baru saja kubangun?

Pulau Re mulai nampak di kejauhan, sebuah daratan kecil dengan pasir putih yang berkilau di bawah terik matahari. Perahu kami bergoyang pelan mengikuti irama ombak, seirama dengan hatiku yang mulai tidak menentu. Di pulau itu nanti, hanya akan ada aku, dia, dan rahasia yang mungkin akan mulai terungkap.

Aku menyadari satu hal, meskipun aku telah mengembalikan uangnya, meskipun aku telah menegaskan kemandirianku, ada sesuatu yang tidak bisa kutransfer kembali. Ketertarikanku padanya telah menjadi utang baru yang tidak bisa dilunasi dengan angka di layar ponsel. Angin laut membawa kami menuju pulau yang tenang itu, sementara di dalam hati, aku mulai meruntuhkan satu per satu tembok beton yang kubangun selama bertahun-tahun. Mungkin, tak apa sesekali membiarkan seseorang masuk ke dalam labirin hidupku, meski ia adalah sebuah misteri yang mungkin akan mengubah segalanya selamanya.

"Sudah sampai," ucap Ghani sembari mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari perahu.

Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut. Aku meraih tangannya, membiarkan jemari kasarnya memandu langkahku menuju pasir putih Pulau Re. Di sini, di tengah samudra yang luas, sandiwara nama palsu dan rumah kosong itu terasa sangat jauh. Yang ada hanyalah Ghea, dan pria bernama Ghani yang perlahan-lahan mulai memenangkan perang yang bahkan aku sendiri tidak tahu kapan dimulainya.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!