NovelToon NovelToon
THE 100 BILLION SECRETARY

THE 100 BILLION SECRETARY

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit Jakarta yang Sama

Hening menyelimuti lantai 50 setelah badai emosi yang baru saja terjadi. Gisella berdiri mematung di depan meja kerjanya, menatap pintu kamar mandi Arsel yang masih tertutup rapat. Suara gemericik air dari dalam terdengar seperti pengingat betapa kacaunya situasi malam ini.

Gisel melirik jam dinding. Pukul 00.45 WIB.

Ia segera membereskan tasnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ia berhasil membuktikan bahwa Arsel memiliki gairah, namun di sisi lain, ia takut Arsel akan memecatnya besok pagi karena tindakan nekatnya tadi.

Gisel melangkah menuju lift, lalu teringat sesuatu. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Layarnya menunjukkan sisa baterai 2%. Dengan panik, ia mencoba membuka aplikasi transportasi online.

"Ayo, ayo... nyala dong," gumamnya frustrasi.

Nahas, layar ponselnya justru menggelap sepenuhnya. Mati total. Gisel menghela napas panjang, hampir menangis. Gedung ini sudah sangat sepi, hanya ada beberapa petugas keamanan di lobi. Mencari taksi konvensional di kawasan ini pada jam satu pagi adalah hal yang mustahil, apalagi dompetnya hanya berisi uang receh karena sebagian besar uangnya sudah ia pakai untuk biaya sekolah Rian kemarin.

Gisel memutuskan untuk turun ke lobi. Ia berdiri di depan gedung, memeluk tubuhnya sendiri karena udara malam yang sangat menusuk kulit. Rok spannya yang pendek kini terasa sangat tidak membantu dalam menahan dingin.

"Ojek nggak ada, Grab nggak bisa dipesen... Gue harus jalan kaki sampai terminal?" bisiknya ketakutan. Jalanan di depan gedung tampak lengang dan mencekam, hanya sesekali dilewati kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang berat terdengar dari arah parkiran basemen. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan Gisel. Kaca jendela diturunkan perlahan, memperlihatkan sosok Arsel yang sudah berganti kemeja dengan kaos polo hitam yang lebih santai, meski wajahnya masih tampak kaku.

Gisel menegang. Ia sudah bersiap untuk menerima hinaan lagi.

Arsel menatap Gisel yang tampak menggigil. Rasa kesalnya tadi perlahan memudar, berganti dengan sisi kemanusiaan yang jarang ia perlihatkan. Ia tahu betapa bahayanya seorang gadis berdiri sendirian di pinggir jalan selarut ini.

"Sedang apa kamu di situ?" tanya Arsel dingin, namun nada suaranya tidak setajam tadi.

"Nunggu... anu, Pak. Lagi coba cari kendaraan," jawab Gisel jujur, suaranya sedikit bergetar karena kedinginan.

"Masuk," perintah Arsel pendek.

Gisel mengerjap. "Hah? Maksud Bapak?"

"Jangan membuat saya mengulang kata-kata saya, Gisella. Jam segini tidak akan ada taksi yang lewat. Kamu mau mati dirampok di sini?" Arsel membuka kunci pintu mobilnya.

Gisel sempat ragu, namun rasa takut akan jalanan Jakarta yang kejam lebih besar daripada rasa canggungnya. Ia pun membuka pintu dan duduk di samping Arsel. Aroma parfum sandalwood yang mahal langsung memenuhi indra penciumannya, memberikan rasa hangat yang seketika menenangkan.

Suasana di dalam mobil terasa sangat canggung. Arsel hanya fokus menatap jalanan di depannya, tangannya yang kekar memegang kemudi dengan santai.

"Di mana alamatmu?" tanya Arsel singkat.

Gisel menyebutkan sebuah daerah pemukiman padat di pinggiran Jakarta. Arsel sempat mengernyitkan dahi itu adalah daerah yang sangat jauh dari kawasan elit tempat ia tinggal.

Sepanjang perjalanan, Gisel hanya menunduk, memainkan jari-jarinya. Sifat ceriwisnya seolah terkunci rapat. Ia merasa bersalah sekaligus bingung dengan sikap Arsel yang tiba-tiba "baik" ini.

"Pak..." panggil Gisel lirih.

"Hmm."

"Soal yang tadi di kantor... saya bener-bener minta maaf. Saya ceroboh," ucap Gisel, mencoba mencari aman.

Arsel terdiam sejenak. Ia teringat kembali bagaimana sentuhan Gisel tadi hampir membuatnya kehilangan kendali. "Lupakan saja. Anggap itu tidak pernah terjadi. Tapi jangan harap saya akan membiarkanmu melakukan hal bodoh seperti itu lagi."

Gisel mengangguk pelan. "Baik, Pak."

"Dan satu lagi," Arsel melirik Gisel sekilas. "Besok-besok, bawa powerbank. Jangan merepotkan orang lain hanya karena ponselmu mati."

Gisel ingin sekali membalas, 'Ya saya kan nggak punya uang buat beli powerbank mewah, Pak!', tapi ia menahan diri. Kali ini, ia lebih memilih untuk diam dan menikmati kenyamanan mobil Arsel yang sangat empuk.

Mobil Arsel mulai memasuki gang-gang sempit menuju rumah Gisel. Jalanan yang berlubang dan jemuran warga yang melintang di atas membuat Arsel harus berhati-hati membawa mobil mewahnya.

"Rumah saya yang cat biru itu, Pak. Berhenti di depan tiang listrik saja, mobil Bapak nggak bakal masuk kalau lebih jauh lagi," tunjuk Gisel.

Arsel menghentikan mobilnya. Ia menatap ke luar jendela. Sebuah rumah kecil yang tampak sangat sederhana, jauh dari kemewahan gedung yang mereka tempati tadi siang. Ia melihat seorang anak remaja Rian sedang duduk di teras sambil belajar dengan lampu yang remang-remang.

Rasa iba muncul di hati Arsel. Selama ini ia menganggap semua wanita yang mendekatinya hanya menginginkan hartanya. Tapi melihat tempat tinggal Gisel, ia sadar bahwa gadis ini memang hidup di dunia yang sangat berbeda.

"Terima kasih banyak ya, Pak Arsel. Bapak mau mampir dulu? Eh, tapi udah malem banget ya," Gisel mencoba berbasa-basi.

"Tidak perlu. Masuklah," ujar Arsel.

Gisel turun dari mobil. Sebelum ia menutup pintu, ia menatap Arsel sekali lagi. "Hati-hati di jalan ya, Pak. Jangan ngebut-ngebut, nanti kemeja Bapak yang baru bisa kena tumpahan kopi lagi kalau Bapak kaget."

Arsel hanya mendengus, namun sudut bibirnya hampir saja tertarik membentuk senyum tipis yang tak terlihat oleh Gisel.

Gisel melambai saat mobil Arsel perlahan meninggalkan gang sempit itu. Ia masuk ke rumah dengan perasaan yang campur aduk.

"Lho, Kak? Pulang dianter siapa? Mobilnya bagus banget," tanya Rian yang kaget melihat kakaknya pulang dengan sedan mewah.

"Bos Kakak, Rian. Orangnya... ya gitu deh, dingin tapi ternyata masih punya hati," jawab Gisel sambil mengusap kepala adiknya.

Malam itu, Gisel tidur dengan sebuah pemikiran baru. Arsel bukan hanya target 100 miliar. Arsel adalah manusia yang punya luka, sama seperti dirinya. Dan entah kenapa, memikirkan Arsel membuat jantung Gisel berdetak sedikit lebih kencang, bukan karena kontrak, tapi karena sesuatu yang ia sendiri belum mengerti.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
kok cepet banget bacanya kak😅😅🙏🙏
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
10 jam 🤣🤣🤣
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
yeeeeee tetap semangat kak 💪💪❤️❤️
makacih udah update 🙏
Nessa
hai kak… aku mampir ceritanya seruuu.. di tunggu up brikutnya… semangat 😍👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!