NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: FESTIVAL CAHAYA KOTA

Hari itu, markas Delta-7 terasa aneh. Sunyi. Tidak ada teriakan instruktur, tidak ada dentuman latihan, dan tidak ada bau makanan gosong dari dapur Bimo.

Sebabnya sederhana: Hari Libur Tahunan Festival Cahaya.

Untuk pertama kalinya sejak bergabung, Raka dan teman-temannya tidak memakai seragam abu-abu ketat mereka. Mereka memakai pakaian sipil. Bimo mengenakan kemeja Hawai bermotif bunga yang terlalu kecil untuk tubuhnya, membuatnya terlihat seperti raksasa yang tersesat di taman bermain. Kai memakai kacamata hitam besar dan jaket hoodie kebesaran, berusaha terlihat "keren" ala hacker film lama. Elara, yang biasanya rapi sempurna, kali ini memakai dress musim panas berwarna biru muda dengan sandal jepit, rambutnya terurai bebas—sebuah pemandangan langka yang membuat Raka sempat terdiam dua detik lebih lama dari yang seharusnya saat melihatnya turun dari asrama.

"Lo kenapa bengong, Rak?" tanya Elara sambil membetulkan tas selempangnya.

"Nggak, cuma... kaget aja lihat Elara nggak bawa buku peraturan atau penggaris," goda Raka cepat-cepat, menyembunyikan senyumnya.

"Haha, sangat lucu," balas Elara datar, tapi pipinya merona tipis. "Ayo berangkat sebelum Bimo makan semua jajanan di gerbang masuk!"

Benar saja, begitu mereka tiba di alun-alun kota Neo-Solara, suasana sudah pecah. Ribuan lentera hologram melayang di udara, menciptakan langit kedua yang lebih indah dari aslinya. Warna-warni cahaya memantul di wajah-wajah warga yang tersenyum lebar. Ada musik jalanan, aroma manis dari stan kue, dan suara tawa anak-anak yang berlarian mengejar drone-drone kecil berbentuk kupu-kupu.

"Ini surga!" seru Bimo, langsung lari menuju stan takoyaki terbesar. "Raka! Kai! El! Coba ini! Bolanya masih hidup lho!"

"Maksud lo panas, Bim," koreksi Kai sambil membeli es krim cair nitrogen yang asapnya keluar dari telinganya (secara metaforis).

Mereka berkeliling festival seperti anak kecil yang baru dilepas dari kandang. Bimo memenangkan boneka raksasa berbentuk beruang di permainan tembak-menembak (tentu saja, dengan akurasi seorang prajurit, meski wasitnya curiga dia curang). Kai mencoba meretas mesin claw machine buat ambil gantungan kunci, tapi malah bikin mesinnya error dan mengeluarkan semua boneka sampai penjaga stan teriak-teriak. Elara tertawa lepas, sesuatu yang jarang terjadi, sampai-sampai dia harus memegang perutnya karena sakit.

Raka? Dia hanya mengamati.

Dia melihat Bimo yang bahagia membagi-bagikan takoyaki pada orang asing. Dia melihat Kai yang bangga menunjukkan gantungan kunci gagal hack-nya. Dia melihat Elara yang bersinar di bawah lampu lentera, wajahnya tanpa beban tugas atau ekspektasi.

Raka merasakan dada nya sesak, tapi kali ini bukan karena sakit fisik. Itu karena rasa syukur yang begitu besar hingga hampir menyakitkan. Inilah yang aku jaga, batinnya. Bukan kota, bukan teknologi. Tapi momen ini.

"Eh, tunggu!" seru Raka tiba-tiba saat mereka melewati stan barang antik di sudut sepi alun-alun.

Di antara tumpukan robot mainan rusak dan piringan hitam retak, ada sebuah benda kecil berwarna krem dengan lensa bundar hitam. Sebuah kamera instan tua. Model kuno, dari zaman sebelum semuanya menjadi digital dan hologram.

Raka mengambilnya. Berat di tangan. Ada bau kertas dan plastik tua yang khas.

"Apakah itu?" tanya Elara, mendekat.

"Kamera instan," jawab Raka, jarinya mengusap bodi kamera yang sedikit lecet. "Konon, alat ini bisa mencetak foto langsung dalam hitungan menit. Tanpa cloud, tanpa server, tanpa bisa di-edit atau dihapus."

"Kenapa mau beli itu?" tanya Kai bingung. "Kita punya drone 8K yang bisa nyetak foto hologram 3D kapan saja."

"Justru karena itu," kata Raka pelan, menatap lensa kamera itu. "Karena hasilnya nyata. Sekali klik, dia abadi. Nggak bisa diubah. Nggak bisa hilang kalau server mati."

Dia menoleh ke teman-temannya. Mata mereka berbinar penasaran.

"Ayo kita pakai," ajak Raka. "Satu foto. Bareng-bareng. Di sini, sekarang."

Mereka berkumpul di depan stan kamera itu. Latar belakangnya adalah lautan lentera cahaya yang berkelap-kelip indah.

"Bimo, jangan makan dulu!" tegur Elara sambil merapikan rambut Bimo yang acak-acakan.

"Kai, lepas kacamata hitamnya, nanti matanya nggak kelihatan," tambah Raka.

"Oke, oke," sahut mereka serempak, akhirnya berpose alami. Bimo melingkarkan lengan besarnya di bahu Kai dan Raka. Elara berdiri di tengah, tersenyum manis, tangannya secara tidak sengaja menyentuh lengan Raka.

"Siap?" tanya Raka, mengarahkan kamera.

"Siap!"

Klik.

Suara mekanis yang khas terdengar. Whirrrr...

Selembar kartu putih keluar dari slot bawah kamera. Raka mengambilnya, menggoyang-goyangkannya pelan sesuai instruksi manual tua yang masih menempel di samping lensa.

Perlahan, gambar mulai muncul.

Warna-warna pudar muncul先从 tepi, lalu semakin jelas di tengah. Wajah Bimo yang sedang menyeringai lebar, Kai yang memberikan tanda damai canggung, Elara yang tersenyum anggun, dan Raka... Raka yang menatap kamera dengan mata yang penuh cerita, seolah dia tahu ini adalah momen yang harus dibekukan selamanya.

"Wah, keren," gumam Bimo, mengambil foto itu dari tangan Raka. "Kelihatan... nyata banget ya? Beda sama hologram."

"Iya," sahut Elara, menyentuh permukaan foto itu. "Hangat."

Raka tersenyum, menyimpan sisa gulungan film di saku jaketnya. "Ini bakal kita simpan baik-baik. Biar nanti kalau kita udah tua, atau kalau dunia udah berubah gila, kita masih punya bukti bahwa hari ini pernah ada. Bahwa kita pernah sebahagia ini."

Ada nada sedih yang halus di suara Raka, tapi teman-temannya terlalu asyik mengagumi foto itu untuk menyadarinya. Atau mungkin mereka sadar, tapi memilih untuk mengabaikannya, takut merusak suasana.

"Mari kita taruh di bingkai terbaik di markas!" usul Bimo semangat.

"Setuju," kata Kai. "Foto pertama Squadron Aurora yang asli!"

Mereka melanjutkan festival, kini dengan harta karun baru di tangan Bimo. Mereka mencoba roller coaster gravitasi nol yang membuat perut mereka melompat-lompat, memakan permen kapas raksasa yang lengket di mana-mana, dan menonton pertunjukan kembang api hologram yang meledak di langit kubah, mengubah malam menjadi siang selama beberapa detik.

Di tengah keramaian itu, Raka sempat berhenti sejenak di pinggir sungai buatan. Dia melihat pantulan dirinya di air. Di sana, di ujung jari-jarinya yang membasahi permukaan air, butiran emas itu kembali muncul. Lebih banyak dari kemarin. Saat dia menarik tangannya, partikel-partikel itu beterbangan seperti kunang-kunang kecil, menghilang sebelum sempat menyentuh tanah.

Dia mengepalkan tangan, menyembunyikannya lagi.

Tinggal berapa lama lagi? tanyanya pada diri sendiri. Minggu? Hari?

"Raka! Ayo!" teriak Elara dari kejauhan, melambaikan tangan sambil memegang cotton candy. "Kita mau ikut lomba makan mie pedas! Bimo butuh partner!"

Raka menoleh, melihat senyum lebar Elara yang disinari cahaya festival. Rasa sakit di dadanya mereda, digantikan oleh tekad baja.

Apa pun yang terjadi, janji Raka dalam hati. Aku akan pastikan kenangan ini tetap utuh. Bahkan jika aku harus hancur untuk itu.

Dia berlari kecil mendekati teman-temannya, senyumnya kembali terpasang, menutupi segala ketakutan di balik topeng kebahagiaannya.

"Aku datang! Tapi ingat, aku nggak bakal kalah sama Bimo!"

Malam itu berakhir dengan mereka pulang dengan langkah goyah karena kekenyangan dan kelelahan yang menyenangkan. Foto instan itu ditaruh di atas meja ruang rekreasi, menjadi pusat perhatian, saksi bisu dari hari di mana dunia terasa sempurna.

Mereka tidur dengan mimpi indah, tidak menyadari bahwa di luar kubah, di kegelapan ruang angkasa yang jauh, badai merah mulai mengumpulkan energinya. Dan di dalam tubuh Raka, proses disolusi semakin cepat, seiring dengan bertambahnya cinta dan ikatan yang harus dia tinggalkan suatu hari nanti.

Tapi untuk malam ini, biarkan mereka tidur. Biarkan mereka percaya bahwa fajar akan selalu terbit besok.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!