Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baik-Baik Saja
"Kakek... Nenek... tunggu!"
Deana bergegas mengejar Nicolas dan Aletha yang hendak keluar melalui pintu utama. Di belakangnya, Vivian mengikuti sembari menggendong Elvano.
Seminggu telah berlalu sejak kemunculan mendadak Kayden. Kini, Aletha tengah bersiap menjalani pengobatan intensif untuk kedua matanya. Demi bisa melihat kembali wajah Deana dan bertekad melindungi sang cucu dari ancaman Kayden, Aletha memantapkan hati untuk naik ke meja operasi.
"Kenapa, Deana sayang?" sahut Aletha, menoleh pelan ke arah suara.
“Nenek sama Kakek mau pelgi mana? Mau ke lumah Papa?”
Jantung Vivian rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Kakinya mendadak kelu. Meski Deana pernah menegaskan benci dan tak mau melihat ayahnya lagi, kenyataan tak bisa berbohong. Sejak kemarin, sang putri terus menanyakan Kayden, sosok yang selama seminggu ini memang tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi.
Apa dia sudah menyerah? Tapi… baguslah. Dengan begitu, putriku tidak akan lagi terkurung seperti dulu.
Vivian menghela napas lega. Namun, begitu melihat kerinduan yang tersirat dari tatapan putrinya, hatinya mendadak terasa perih.
“Maaf ya, Sayang… Nenek sama Kakek mau ke rumah sakit dulu. Mau operasi mata. Deana doain operasi Nenek berjalan lancar, ya,” kata Aletha dengan senyum lembut yang menenangkan.
“Amin,” sahut Nicolas, mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung sambil melihat Deana yang tertunduk lesu.
Nicolas kemudian beralih menatap Vivian dengan pandangan penuh harap. “Tolong jaga baik-baik cucu kami. Mungkin kami di sana akan tinggal dua atau tiga Minggu,” pesan Nicolas sekali lagi melihat Vivian.
Sebenarnya, ia ingin menanyakan perkataan Vivian yang mengaku sebagai putrinya, tetapi tetap saja ia merasa itu hal gila sehingga Nicolas tidak lagi ingin memikirkannya. Ia menganggap perkataan Vivian itu hanya untuk mengelabuhi Kayden.
“Baik, Tuan,” ucap Vivian sambil mengangguk takzim.
Nicolas pun menuntun istrinya pergi, meninggalkan Deana yang kian menunduk murung di depan pintu.
“Ayo, Deana, kita masuk,” ajak Vivian sambil mengulurkan sebelah tangannya yang bebas.
Namun, Deana hanya diam. Detik berikutnya, suara tangisnya pecah begitu saja.
“Eh… kenapa sedih, Sayang?” tanya Vivian panik. Ia langsung berlutut untuk menyamakan tinggi mereka.
Deana mendongak menatap Vivian dengan air mata yang sudah membasahi pipi tembamnya.
“Auntie… apa Deana sudah jahat?”
“Jahat? Tentu saja tidak. Kenapa bicara begitu, Nak?” tanya Vivian lagi, cukup terkejut karena putrinya akan menanyakan hal seberat itu.
“Soalnya Papa nda pelnah datang lagi gala-gala Dea suluh pelgi. Dea kan nda selius. Dea cuma kesal lihat Papa sakiti olang lagi. Papa pasti sangat benci Dea sampai nda mau beltemu Dea lagi. Apa Dea sudah jahat, Auntie?”
Vivian menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dengan satu tangan yang menggendong Elvano, ia merosot dan membawa tubuh mungil putrinya ke dalam pelukan hangat.
“Jangan sedih, Papamu baik-baik saja. Dia tidak mungkin membencimu,” bisik Vivian parau sembari membelai penuh kasih rambut putrinya.
Deana buru-buru mengusap air matanya. Sebuah senyuman lugu langsung terbit di wajahnya yang masih basah.
“Kalau begitu, ayo ke lumah Papa, Auntie! Dea takut Papa sakit di sana sendilian. Kasihan Papa, Auntie.”
Anakku… empat tahun lamanya kamu terkurung di sana, sekarang kamu justru ingin kembali? Apa begitu besar rasa sayangmu sampai bisa menghapus semua rasa sakitmu selama ini, Nak?
Rasanya air mata Vivian ingin ikut menetes saat itu juga. Ada rasa haru sekaligus sesak yang berbaur menjadi satu di dadanya. Namun, melihat putrinya yang begitu mengharapkan pertemuan itu, Vivian tahu dia tidak akan pernah tega untuk menolak.
“Auntie….”
“Hmm?” sahut Vivian, menatap lembut sepasang mata bulat yang kini juga tengah memandangnya dalam-dalam.
“Boleh nda Dea panggil Auntie… Mama?”
Mendengar permohonan polos itu, air mata Vivian menetes deras tanpa bisa dibendung lagi. Dadanya bergemuruh hebat mendengar kata yang sudah lama ia rindukan itu. Sambil terisak pelan, ia mengangguk kuat-kuat dan kembali menarik tubuh mungil putrinya ke dalam pelukan hangat.
“Panggil saja, Sayang. Panggil sepuasmu kalau itu bisa membuat Deana senang,” bisik Vivian parau. Ia menghujani pipi kiri dan kanan Deana dengan kecupan penuh kasih sayang.
Deana tersenyum sangat lebar, lalu mengalungkan kedua lengan kecilnya ke leher Vivian.
“Dea senang sekali, Mama. Makasih…”
“Sama-sama, anakku sayang.” Vivian mengusap sisa air matanya, mencoba tegar demi sang putri. “Nah, sekarang Deana tunggu Mama di depan gerbang dulu, ya? Dekat pos satpam. Mama mau ganti baju sebentar.”
Deana mengangguk patuh dan segera melangkah riang menuju tempat yang ditunjuk ibunya.
Tak lama berselang, sebuah taksi tampak menepi tepat di depan pintu gerbang utama. Deana sempat berjingkat, mengira bahwa itu adalah ayahnya yang datang. Namun, senyumnya agak surut begitu melihat Alex yang turun dari mobil dengan seragam sekolahnya. Mulai hari ini, bocah laki-laki itu memang sudah resmi diangkat menjadi bagian dari Klan Marvis sekaligus kakak angkat Deana.
“Kenapa cemberut begitu? Kamu tidak senang ya aku pulang?” tanya Alex langsung menghampiri adiknya. Namun sebelum Deana sempat menyahut, mata Alex menyipit curiga. “Pakai baju rapi begitu, mau ke mana?”
“Mana-mana aja boleh!” jawab Deana ketus sembari memalingkan muka.
“Serius! Kamu mau ke mana?” desak Alex semakin penasaran.
“Mau ke lumah Papanya Dea. Napa emang? Mau ikut?” tantang Deana.
“Boleh!” sahut Alex cepat sambil mengangguk mantap.
“Nda boleh!” tolak Deana tak kalah cepat.
Alex mengernyitkan keningnya heran.
“Kenapa tidak boleh?”
“Kamu kan balu pulang sekolah. Pasti badannya bau!” ejek Deana sembari mencubit hidungnya sendiri, berpura-pura mencium bau tidak sedap.
Alex memutar bola matanya malas. Malas berdebat, ia menoleh ke arah koridor rumah saat mendengar suara langkah kaki. Vivian baru saja keluar setelah berganti pakaian. Alex sempat tertegun sesaat. Wanita itu tampak sangat berbeda hari ini, terlihat jauh lebih segar, anggun, dan cantik.
Tanpa membuang waktu, Alex berlari mendekati Vivian dan merengek agar diperbolehkan ikut.
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁