NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Aini Tiga Tahun, Satu-satunya Cahaya.

Aini mulai bisa bicara dengan jelas.

Bukan tiba-tiba. Pelan-pelan, seperti bunga yang tidak kamu perhatikan proses mekarnya tapi suatu pagi sudah mekar sepenuhnya dan kamu berdiri di depannya tidak tahu kapan itu terjadi.

Kata-katanya sudah tidak secadel dua bulan lalu. Sudah bisa mengucapkan huruf R dengan benar meskipun kadang masih agak gulung. Sudah bisa bikin kalimat panjang meskipun urutannya kadang terbalik dan dia sendiri tidak peduli kalau terbalik.

Dan setiap pagi, tanpa diajari siapapun, tanpa aku pernah minta, tanpa ada yang menyuruh, dia datang.

Tidak peduli aku sedang apa. Tidak peduli aku sedang menguleni adonan atau masih setengah sadar baru bangun atau duduk diam menatap lantai. Dia datang, memeluk kakiku atau tanganku atau apapun yang bisa dia jangkau, dan bilang,

"Ayah, Aini sayang Ayah."

Setiap pagi.

Tanpa gagal.

Aku tidak tahu dari mana dia belajar itu. Tidak dari Nirmala, itu aku tahu pasti. Tidak dari Wida yang sudah lama berhenti melihatku dengan cara yang normal. Mungkin dari caranya mengamati. Mungkin dari sesuatu yang hanya bisa dirasakan anak kecil yang belum belajar untuk tidak merasakan.

Pagi itu aku duduk di dapur.

Adonan sudah diuleni, sudah siap, tapi aku tidak langsung membentuknya. Hanya duduk di kursi kecil dengan tangan di atas meja dan kepala yang kosong dengan cara yang tidak enak. Kosong tapi berat. Seperti ada sesuatu yang sangat penuh tapi tidak punya bentuk.

Aku memikirkan malam di jembatan itu.

Masih sering memikirkannya. Tidak setiap hari, tapi di momen-momen tertentu, di pagi yang terlalu sunyi, di saat tubuh terlalu lelah untuk menahan pikiran supaya tidak pergi ke tempat-tempat yang gelap, momen itu muncul kembali.

Kalau tangan Ustadz Arifin tidak menarik lenganku malam itu.

Kalau satu detik lebih lambat.

Aini sekarang sedang main di kamarnya sendirian. Aku dengar suaranya dari dapur, suara anak kecil yang bermain sendiri dengan bonekanya, bicara sendiri, tertawa sendiri dengan cara yang murni dan tidak punya beban.

Kalau malam itu aku tidak kembali, pagi ini tidak ada suara itu.

Pagi ini Aini akan bangun dan mencari wajahku dan tidak menemukannya. Dan tidak akan pernah menemukannya lagi. Dan tidak ada yang akan menjelaskan ke anak tiga tahun itu kenapa Ayahnya tidak ada, karena tidak ada penjelasan yang cukup untuk usia itu, tidak ada kata-kata yang bisa mengisi tempat yang ditinggalkan.

Aku menutup mata.

Menarik napas.

Langkah kaki kecil.

Aini masuk dapur dengan bonekanya di tangan kiri, rambutnya berantakan karena baru bangun dan belum disisir, matanya masih sedikit sembab dari tidur. Dia melihatku duduk diam dan berhenti sebentar di ambang dapur.

Lalu dia taruh bonekanya di lantai.

Berjalan ke arahku.

Memeluk kakiku dengan kedua tangannya. Kepalanya di lututku. Tidak bilang apa-apa dulu. Hanya memeluk, dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tidak tahu cara berpura-pura, yang merasakan sesuatu dan langsung bergerak ke arahnya tanpa berpikir dua kali.

"Ayah jangan sedih."

Bisiknya. Pelan. Dengan lidah yang masih sedikit cadel di huruf tertentu.

Sesuatu di dadaku runtuh.

Aku turun dari kursi, berlutut di depannya, dan memeluknya. Tanganku melingkar di punggung kecilnya yang hangat. Kepalaku di bahunya yang tidak cukup lebar untuk menopang kepala orang dewasa tapi tetap aku taruh di sana karena tidak ada tempat lain yang lebih tepat malam-malam ini.

Aku menangis.

Diam-diam. Tidak ada suara. Hanya air mata yang mengalir di pipi dan jatuh ke baju tidurnya yang bergambar bintang warna kuning.

Aini tidak bergerak. Tidak pergi. Tidak tanya kenapa. Tangannya yang kecil itu mengusap punggungku dengan gerakan yang tidak sempurna, gerakan anak kecil yang sedang meniru sesuatu yang pernah dilihatnya dilakukan orang dewasa ke orang lain, gerakan yang tidak terlatih tapi sangat sungguh-sungguh.

Tiga tahun.

Tiga tahun dan dia sudah tahu bahwa waktu seseorang yang kamu sayangi sedang hancur, kamu tidak pergi. Kamu tetap di sana. Kamu peluk. Kamu usap punggungnya meskipun tanganmu terlalu kecil dan meskipun kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Tidak ada yang mengajarinya itu.

Dia hanya tahu.

Aku tidak tahu berapa lama kami di lantai dapur itu. Lama cukup untuk air mataku berhenti sendiri. Lama cukup untuk dadaku yang tadi sesak mereda sedikit. Lama cukup untuk aku ingat bahwa ada alasan aku masih ada pagi ini.

Alasan itu sedang memelukku di lantai dapur dengan baju bergambar bintang kuning dan rambut berantakan yang belum disisir.

Aku lepas pelukan, melihat wajahnya.

Dia menatapku balik dengan mata yang tidak bertanya apa-apa. Tidak butuh penjelasan. Tidak butuh keterangan. Cuma ada, dan menatap, dengan cara yang membuat aku merasa dilihat sepenuhnya tanpa dihakimi.

"Ayah sudah menangis?" tanyanya.

Aku tersenyum. "Sudah."

"Sekarang jangan sedih lagi ya."

"Iya."

Dia mengangguk serius seperti urusan besar baru saja diselesaikan. Lalu mengambil bonekanya dari lantai dan berjalan keluar dapur dengan langkah yang masih agak goyang ke kiri ke kanan.

Aku duduk kembali di kursi.

Menatap adonan yang sudah menunggu dibentuk.

Menarik napas.

Dan mulai bekerja lagi.

Dua hari kemudian ada pesan masuk di ponselku.

Ustadz Arifin.

Aku dua kali baca pesannya sebelum yakin tidak salah baca. Pesanan cilok empat ratus biji untuk acara pengajian di rumahnya minggu depan. Bayar di muka separuhnya, sisanya waktu diantar.

Empat ratus biji.

Pesanan terbesar yang pernah aku dapat.

Aku berdiri di dapur dengan ponsel di tangan, menatap pesan itu, dan ada sesuatu di dadaku yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak aku rasakan.

Ustadz Arifin. Laki-laki yang menarik tanganku di jembatan itu, yang menemani aku duduk di trotoar gelap dan membacakan doa di atas air mineral, yang mengantarku pulang jalan kaki tanpa bertanya lebih dalam dari yang perlu. Laki-laki itu sekarang memberiku pesanan.

Bukan karena kasihan. Aku tidak mau percaya itu kasihan. Aku mau percaya ini adalah cara rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka, seperti yang selalu aku baca tapi belum pernah benar-benar merasakan buktinya sedekat ini.

Aku bilang ke Nirmala malam itu.

Dia mendengarkan. Tidak langsung berkomentar tajam. Tidak langsung soal uang atau soal ini tidak cukup atau soal hal-hal lain yang biasanya keluar.

"Aku bantu."

Tiga kata. Dari Nirmala.

Aku menatapnya sebentar, tidak yakin aku mendengar dengan benar.

"Buat empat ratus biji butuh banyak tangan. Aku bantu nguleni atau bentuk." Dia tidak menatapku waktu bilang itu, matanya ke meja. "Kalau kamu mau."

Aku tidak tahu apa yang ada di balik tawaran itu. Tidak tahu apakah ini tulus atau ada sesuatu yang lain. Tidak tahu apakah ini akan bertahan satu hari atau lebih.

Tapi untuk sekarang, untuk pesanan ini, untuk empat ratus biji yang harus selesai sebelum minggu depan,

"Mau," aku bilang.

Dan kami masuk dapur bersama.

Pertama kalinya dalam waktu yang sudah sangat lama, kami berada di ruang yang sama dengan tujuan yang sama, tanpa kata-kata yang menyakiti, tanpa yang perlu berdiri di sudut gelap gang setelahnya.

Hanya tepung, air, dan tangan yang bekerja.

Untuk malam itu saja, itu cukup.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!